Langsung ke konten utama

Sendiri

Kawans,
ada yang beda di rumah kami sejak delapan belas hari yang lalu. Perbedaan yang sangat drastis kami rasakan, terutama bagi saya dan dua anak terkecil kami. Tak lain tak bukan adalah pada tanggal 24 Desember 2014 kemarin ibunda mertua saya dipanggil menghadap Allah SWT.
Rumah tua nan besar dan lapang yang biasanya kami tempati berempat kini berkurang satu penghuninya. Ya, kemarin-kemarin memang hanya saya dan dua anak saya yang terkecil yang tinggal di rumah ibu menemani ibu. Suami bekerja di lain kota. sedangkan anak sulung saya tinggal dan belajar di sebuah pondok pesantren.
Saat awal-awal kepergian ibu yang mendadak memang belum terasa betul kesepiannya. Karena suami dan anak sulung pulang. Dan masih banyak saudara-saudara, sepupu dan bude-bude baik dari dalam maupun luar kota berdatangan. Sebagian menginap di rumah sambil turut mendoakan arwah ibu.
Namun setelah beberapa hari saudara mulai pulang ke rumah masing-masing dan kembali ke pekerjaan mereka. Setelah tujuh hari pun suami harus kembali ke luar kota untuk pekerjaannya. Dan si sulung juga kembali menyantri ke pondoknya.  aku dan dua krucil pun harus kembali ke kenyataan.
Kami bertiga harus melanjutkan hidup di rumah besar ini. Hanya bertiga. Bisa kalian bayangkan betapa sepinya. Apalagi rumah besar ini terletak di tepi jalan desa yang tetangga rumah pun berselang jarak lumayan jauh.
Awalnya saya sempat takut membayangkan harus melanjutkan hidup di rumah ini. Saat suami berangkat kerja ke luar kota saya sempat kepikiran ingin ikut saja. Tapi mengingat dua anak kecil kami harus sekolah, maka niat itu saya urungkan.
Akhirnya saya harus kenyataan untuk tetap tinggal dan melanjutkan hari-hari kami di sini, di rumah besar ini. Meskipun rasa kehilangan dan sepi menyertai hari-hari kami.
Tak saya pungkiri bahwa rasa takut pasti ada. Namun iman dan agama kami  mengajarkan bahwa kami tak boleh takut akan apa pun, selain padaNya. Dan berbekal iman kepada Allah inilah kami melanjutkan hidup kami.
Untuk mengurangi rasa sepi, aku beruntung sekali karena ada beberapa anak usia sekolah dasar yang tiap petang habis maghrib selalu belajar di rumahku. Lumayan  untuk tidak membuat malam terasa lebih panjang. Kedua anakku pun senang banyak teman.
Lalu untuk membiasakan diri dengan rasa kehilangan akan ibu atau eyang putri anak-anak, kami sepakat untuk menganggap ibu sedang bepergian ke luar kota, atau sedang berkunjung ke rumah saudara. Jadi tidak terlalu 'nglangut' memikirkan beliau.
Alhamdulillah kami bertiga bisa melewati beberapa hari terakhir dengan baik dan tenang. Hanya iman kepada Allah lah kekuatan kami. Bahwa ibu sudah tenang di alam keabadian itulah harapan kami.
Dan satu hal yang harus selalu kami trangkan ke anak-anak, bahwa Allah menyayangi eyang putri, itu sebabnya Allah memanggil beliau supaya tidak merasakan sakit terlalu lama. Dan beliau yang telah meninggal sudah berbeda alam dengan kita, sudah terputus hubungan, kecuali tiga hal. Yaitu ilmu yang diamalkan, amal jariyah dan doa anak yang soleh. Maka tugas kami pun untuk selalu mengajak mereka mendoakan eyangnya.
Terakhir, semoga beliau wafat dalam khusnul khotimah, selalu diampuni dosanya dan diterima semua amal ibadah beliau. Semoga pula dijauhkan dari siksa kubur dan siksa api neraka. Amin.
Dan satu hal kawans, satu catatan yang harus selalu saya ingat dan pegang. Tak boleh kita merasa takut sendiri dan sepi di dunia ini, karena kelak kita juga akan menghadapi kesendirian yang abadi. Hanya berteman amal.
Semoga ini akan selalu menjadi peringatan bagi saya dan kawans.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya.
Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri.
Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku.
Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut.

KLEPON
Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi tersendiri saat menyeplus si…

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)
Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 
Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 
Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka k…

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini.
Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari, ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema yang pas…