Sendiri

Januari 11, 2015

Kawans,
ada yang beda di rumah kami sejak delapan belas hari yang lalu. Perbedaan yang sangat drastis kami rasakan, terutama bagi saya dan dua anak terkecil kami. Tak lain tak bukan adalah pada tanggal 24 Desember 2014 kemarin ibunda mertua saya dipanggil menghadap Allah SWT.
Rumah tua nan besar dan lapang yang biasanya kami tempati berempat kini berkurang satu penghuninya. Ya, kemarin-kemarin memang hanya saya dan dua anak saya yang terkecil yang tinggal di rumah ibu menemani ibu. Suami bekerja di lain kota. sedangkan anak sulung saya tinggal dan belajar di sebuah pondok pesantren.
Saat awal-awal kepergian ibu yang mendadak memang belum terasa betul kesepiannya. Karena suami dan anak sulung pulang. Dan masih banyak saudara-saudara, sepupu dan bude-bude baik dari dalam maupun luar kota berdatangan. Sebagian menginap di rumah sambil turut mendoakan arwah ibu.
Namun setelah beberapa hari saudara mulai pulang ke rumah masing-masing dan kembali ke pekerjaan mereka. Setelah tujuh hari pun suami harus kembali ke luar kota untuk pekerjaannya. Dan si sulung juga kembali menyantri ke pondoknya.  aku dan dua krucil pun harus kembali ke kenyataan.
Kami bertiga harus melanjutkan hidup di rumah besar ini. Hanya bertiga. Bisa kalian bayangkan betapa sepinya. Apalagi rumah besar ini terletak di tepi jalan desa yang tetangga rumah pun berselang jarak lumayan jauh.
Awalnya saya sempat takut membayangkan harus melanjutkan hidup di rumah ini. Saat suami berangkat kerja ke luar kota saya sempat kepikiran ingin ikut saja. Tapi mengingat dua anak kecil kami harus sekolah, maka niat itu saya urungkan.
Akhirnya saya harus kenyataan untuk tetap tinggal dan melanjutkan hari-hari kami di sini, di rumah besar ini. Meskipun rasa kehilangan dan sepi menyertai hari-hari kami.
Tak saya pungkiri bahwa rasa takut pasti ada. Namun iman dan agama kami  mengajarkan bahwa kami tak boleh takut akan apa pun, selain padaNya. Dan berbekal iman kepada Allah inilah kami melanjutkan hidup kami.
Untuk mengurangi rasa sepi, aku beruntung sekali karena ada beberapa anak usia sekolah dasar yang tiap petang habis maghrib selalu belajar di rumahku. Lumayan  untuk tidak membuat malam terasa lebih panjang. Kedua anakku pun senang banyak teman.
Lalu untuk membiasakan diri dengan rasa kehilangan akan ibu atau eyang putri anak-anak, kami sepakat untuk menganggap ibu sedang bepergian ke luar kota, atau sedang berkunjung ke rumah saudara. Jadi tidak terlalu 'nglangut' memikirkan beliau.
Alhamdulillah kami bertiga bisa melewati beberapa hari terakhir dengan baik dan tenang. Hanya iman kepada Allah lah kekuatan kami. Bahwa ibu sudah tenang di alam keabadian itulah harapan kami.
Dan satu hal yang harus selalu kami trangkan ke anak-anak, bahwa Allah menyayangi eyang putri, itu sebabnya Allah memanggil beliau supaya tidak merasakan sakit terlalu lama. Dan beliau yang telah meninggal sudah berbeda alam dengan kita, sudah terputus hubungan, kecuali tiga hal. Yaitu ilmu yang diamalkan, amal jariyah dan doa anak yang soleh. Maka tugas kami pun untuk selalu mengajak mereka mendoakan eyangnya.
Terakhir, semoga beliau wafat dalam khusnul khotimah, selalu diampuni dosanya dan diterima semua amal ibadah beliau. Semoga pula dijauhkan dari siksa kubur dan siksa api neraka. Amin.
Dan satu hal kawans, satu catatan yang harus selalu saya ingat dan pegang. Tak boleh kita merasa takut sendiri dan sepi di dunia ini, karena kelak kita juga akan menghadapi kesendirian yang abadi. Hanya berteman amal.
Semoga ini akan selalu menjadi peringatan bagi saya dan kawans.

You Might Also Like

0 komentar