Langsung ke konten utama

Piala Pertama Shofi

Kawans,
mau cerita tentang Shofi si bontot nih. 

Pada suatu hari di bulan Januari lalu,  Shofi pulang sekolah sambil cerita tergopoh-gopoh.  Dia bilang kalau ditunjuk gurunya untuk maju lomba. Lalu aku tanya, "Lomba apa, dek?" Dia tak menjawab dengan jelas. "mm, pokoknya kata bu guru aku disuruh bikin puisi."

Jadilah keesokan harinya saat mengantar Shofi sekolah aku sekalian menemui wali kelasnya, dan lalu mendapat jawaban bahwa Shofi diminta mewakili sekolah untuk lomba cipta dan baca puisi dalam rangka Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional 2016. Sebagai tahap awal lomba di tingkat Kecamatan.

Mendengar penjelasan bu guru seperti itu malah deg-deg an akunya. Habisnya, Shofi baru kelas 3, biasanya kan yang ikut lomba itu kelas 4 ke atas. Terus, Shofi itu meski lincah di rumah tapi pemalu di luar. Bahkan kata ibu gurunya sendiri, Shofi kalau disuruh membaca atau mengaji suaranya sangat lembuuut...hampir hampir tak kedengaran. 

Nah, lo, kenapa malah Shofi yang ditunjuk, Bu Guru?? 
Karena menurut pengamatan bu guru, Shofi itu suka nulis. Terus, sekalian minta tolong mbak Dini buat ngajarin baca puisinya, biar bisa lebih intens, gitu. #bu guru modus hehe..

Tapi baiklah, kami terima tantangan itu. Mengerti dan memahami kelebihan dan kekurangan Shofi, aku harus bisa mengajak dia untuk siap menghadapi lomba itu.
Pertama sekali aku tanya keyakinan dia sendiri tentang lomba tersebut, aku ingin tahu seberapa antusias dia. Ternyata dia sangat ingin sekali mengikuti lomba, tapi ada juga rasa malu dan takut.
Baguslah, setidaknya dia jujur dengan perasaannya.

Selanjutnya, setelah menerima tema yang ditentukan, mulailah kami, aku dan Shofi berdiskusi. Ada dua tema yang diberikan, yaitu tentang cinta lingkungan dan tentang narkoba. Shofi memilih tema cinta lingkungan. 

Dalam proses penulisan, aku bebaskan dia menemukan kata-katanya sendiri. Dia memilih sungai sebagai ide pokok. Aku hanya memancing keluar perasaan, pikiran dan pengetahuannya dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan memberi beberapa pilihan kata yang sekiranya tepat untuk dipakainya.

Masalah penulisan dan memahami isi puisi berjalan lancar. Puisi juga sudah di acc ibu guru. 
Tibalah saatnya berlatih membaca. Pada awalnya Shofi tak punya cukup keberanian untuk membuka suara keras, padahal ini masih latihan di rumah. 
Aku beri penjelasan ke Shofi, bahwa salah satu hal yang membuat orang mau mendengar puisimu adalah suara yang lantang. Tak perlu berteriak, tapi cukup lantang dan jelas. "Dan jika kamu berani, ibu yakin juri  akan terkesan," bisikku selalu.

Saat berlatih di sekolah pun begitu. Shofi masih belum terlalu yakin dengan suaranya. Lalu bu guru menyemangati dengan mengatakan, "Anggap saja semua yang di depanmu itu patung, jadi kamu tidak perlu malu."

Perlahan dan bertahap keberanian Shofi tumbuh. Dia tak sungkan lagi membaca sekeras-kerasnya. Juga belajar intonasi dan memperjelas artikulasi. Belajar menjiwai setiap kalimat. Aku mendampingi sambil sesekali memberi arahan. Hari-hari berikutnya dia belajar sendiri. Dia menyemangati dirinya sendiri.

Hingga hari perlombaan tiba, 22 Februari 2016. 
"Pak, doain aku ya," pamitnya pada suamiku. "Ya, kamu pasti menang." bapaknya menjawab singkat.
"Ibuk nanti boleh lihat, gak, Dek?" godaku. "Nggak usah, Buk," tolaknya.

Jadilah aku mengantar Shofi seperti biasa. Ya, lomba ini pun adalah hal biasa. Bukan hanya Shofi yang hari itu akan menghadapi lomba. Tapi puluhan bahkan ratusan anak se kecamatan ini akan menghadapi lombanya. Jadi, ini biasa.

Aku pun kembali ke rutinitasku yang biasa. Hanya mengucap doa sederhana, semoga Shofi menikmati harinya. 

Hingga di ujung jam sekolahnya hari itu, Shofi dijemput bapaknya.  Sesampai rumah aku tak sabar menanyakan bagaimana lombanya tadi. Shofi hanya menjawab kalem, "Juara satu..."
Kyaaa.... Horee.... malah aku dan Dio si tengah yang heboh jingkrak-jingkrak..  hehe, tapi terus kalem lagi kaya Shofi.
eh, tapi.. mana pialanya? "Masih disimpen di sekolahan..." Shofi nyengir. Oh, oke deh...

Selamat, ya, Dek... kamu hebat! Akhirnya kamu punya piala.. *pelukin Shofi
eits... tapi jangan cepat puas dulu. Masih ada tahap lanjut yang harus kamu siapkan. Mungkin April depan kamu lomba tingkat Kabupaten. Berlatih menulis dan membaca yang lebih giat lagi, ya...

kecil-kecil cabe rawit



bareng bu guru dan temen-temen. iih...pinter-pinter ya pada juara :)







Komentar

  1. Selamat mbk Shofi, paling membahagiakan kalo anak berhasil di bidang apapun, selamat buat ibunya jg...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.. makasih, semoga shofi makin semangat belajar...

      Hapus
  2. kagum ma opi.. peluk dari Sumowono :)

    BalasHapus
  3. Barakallah Kak Shofi... keren deh.
    Nurun ibuk ya pinter nulisnya? :)

    BalasHapus
  4. Wah selamat yahh
    Asik kalau uda punya anak gitu yah mbak
    Bisa terus mendampingi aktifitas anak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya. Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri. Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku. Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut. KLEPON Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini. Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari , ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema

ABATA, Pesantren Tuna Rungu Gratis di Temanggung

Di antara riuh deras hujan yang mengguyur Temanggung menjelang petang, ada sebuah dunia sunyi di salah satu sudut kotanya. Dunia tanpa suara yang tersembunyi dalam sebuah rumah kontrakan sederhana. Meski sunyi, namun tak membuat hati anak anak itu lantas sepi. Lantunan zikir terlahir dari mulut mulut mungil. Meski dalam pengucapan yang kurang jelas, tapi mereka tak pernah lelah.