tips

Mesra dengan Mertua (1); Kenali Penyebab Konflik

April 19, 2016

sumber foto: http://www.muslimahcorner.com

Dear, Kawans,

Beberapa waktu lalu di medsos sempat ramai oleh postingan sebuah 'surat cinta' dari seorang menantu perempuan kepada ibu mertua. Aku sebagai seorang perempuan yang pernah berstatus sebagai menantu dan kelak juga akan menyandang status sebagai ibu mertua tentu saja miris membacanya. Tapi, ah, sudahlah, semoga mereka kini telah berdamai.

Sekarang cerita tentang pengalamanku saja. Semoga nggak bosan membacanya :) agak panjang soalnya.
Begini Kawans, sejak 16 tahun lalu aku mulai merasakan punya mertua (terhitung sejak menikah berarti ya?hihi..) Dan intens bergumul dengan ibu mertua sejak Juli 2011, karena di saat itu aku dan anak-anak pindah ke kediaman mertua dan menemani ibu yang tinggal sendiri sejak bapak mertua meninggal.

Dan kebersamaanku yang penuh liku bersama ibu mertua harus terpisah di 24 Desember 2014 tatkala beliau wafat. Waktu tiga setengah tahun adalah waktu yang sangat singkat bagi mereka yang merindu surga, namun bisa jadi waktu  yang sangat panjang jika tak mampu menikmati setiap prosesnya.

Tentu perjalanan kebersamaan kami tidaklah mulus manis di setiap jengkalnya. Gesekan dan konflik selalu ada. Apalagi kami, aku dan ibu mertua, adalah dua pribadi berbeda yang dipertemukan saat keduanya sudah dewasa (dalam hal umur) dengan karakteristik masing-masing yang jauh berbeda.

Banyak hal kecil yang bisa jadi pemicu konflik. Sebut saja perbedaan kebiasaan. Saya yang mandi paginya setelah pekerjaan rumah beres tentu saja bertolak belakang dengan ibu yang ketika pagi hari keluar kamar sudah  mandi plus berdandan rapi. Hal yang bagi saya bukanlah masalah tentu beda dalam pandangan ibu. 
Dan masih banyak pula contoh lain.Belum lagi jika menyangkut keuangan atau tentang suami, yang notabene anak kesayangan beliau. Hal sensitif ini sangat rentan menjadi sumber masalah.

Kalau begitu, bisa gak sih konflik kita ubah menjadi kemesraan? Kan enak tuh kalau mesra.. Bisa saja, say.. asal tahu tipsnya. 
Tapi sebelumnya, ada baiknya kita cari tahu dulu sebab-sebab munculnya konflik, khususnya antara menantu (perempuan) dan mertua (perempuan), yaa

Nah, menurut pengalamanku, nih, beberapa hal yang biasanya menjadi penyebab konflik mertua-menantu adalah sebagai berikut:
  1. Adanya perasaan cemburu. Kedua perempuan ini mencintai lelaki yang sama. Dan keduanya merasa lebih berhak atas lelaki itu. Dan biasanya sang ibu merasa anak lelakinya ketika sudah menikah menjadi tidak lagi sedekat dulu dengannya. ehem...
  2. Adanya persamaan kepentingan. Kedua perempuan ini merasa sebagai ratu rumah tangga, yang paling tahu dan paling bisa mengatur seluruh urusan. Padahal nobody's perfect, kan?
  3. Sang ibu merasa paling tahu anaknya.Ya pastilah, ibu yang melahirkan tentu sangat tahu tentang anaknya, Tapi kadang lupa bahwa anaknya kini telah menjadi pribadi baru dengan peran baru yang tidak hanya sebagai anak, tapi berlaku pula sebagai suami dan bahkan ayah.
  4. Sifat dasar perempuan itu sendiri yang butuh diayomi, diperhatikan, dimengerti, dihormati dan diteguhkan hatinya. Hal ini pula yang sering membuat perempuan menjadi lebih sensitif dan mudah terbentur konflik dengan sesamanya.
  5. Adanya perbedaan latar belakang budaya, kebiasaan dan karakter. Ini yang biasanya paling sering bikin adem panas. Contohnya tuh di atas, masalah mandi, heuheu.
Jadi, setelah tahu apa-apa saja yang bisa memicu terjadinya konflik, hal selanjutnya yang harus kita pahami adalah bagaimana cara meredamnya supaya konflik tidak meledak lebih hebat.
Tapi sabar, ya, tunggu di postinganku berikutnya. :)
Tetap cantik dan tetap jadi menantu hebat, ya kawans...  

Salam.

cerita si bocah

Wisuda Takhfidz SDIT Kartika

April 15, 2016





Rabu pagi, 13 April 2016, pelataran kantor Kelurahan Kranggan Temanggung dipenuhi puluhan anak berseragam hijau. Wajah-wajah sumringah ditingkah polah yang lincah menghias pagi yang cerah. Sebuah perhelatan besar yang kelak akan menjadi sejarah hidup mereka akan terjadi. Adalah Wisuda Takhfidz Al Quran.

SDIT Kartika adalah sebuah sekolah dasar yang masih sangat belia jika ditilik dari segi umur. Muridnya pun belum mencapai angka ratusan. Namun semangat dan prestasinya tak bisa dianggap remeh. SD yang baru meluluskan siswanya sebanyak delapan kali ini telah pula berhasil meluluskan siswa siswi dengan hapalan Quran minimal satu juz, yaitu juz 'amma.

Ini adalah wisuda takhfidz angkatan ke 8. Ada dua hal istimewa pada wisuda kali ini. 
Pertama, wisuda kali ini ada dua anak yang berhasil menuntaskan 2 juz hafalan, yaitu juz 29 dan 30; yang pada wisuda sebelumnya hanya juz 30 saja.
Kedua, pada wisuda ini ada dua wisudawati yang baru duduk di kelas 3 dan baru berumur 8 tahun. Ini berarti di tahun ini siswa yang diwisuda berusia lebih muda dibanding tahun tahun sebelumnya.
Ada 19 siswa siswi yang diwisuda, meliputi 17 siswa siswi hafal juz 30 dan 2 siswi hafal juz 29.

para wisudawan sedang menghafal Quran

Diungkapkan oleh kepala sekolah, Ibu Ainiyatul Masruroh, bahwa wisuda ini diselenggarakan untuk memberi apresiasi bagi siswa siswi yang telah menuntaskan hafalannya. Selain itu juga untuk memotivasi siswa lain untuk segera menuntaskan dan bisa menyusul untuk diwisuda.

Acara diawali dengan pembacaan hafalan para wisudawan dan wisudawati, dilanjut dengan acara inti wisuda. Acara diisi pula dengan pembacaan hafalan surah oleh siswa siswi kelas 1-4.

Wisuda takhfidz ini tidak hanya membuat bangga mereka yang diwisuda. Namun rasa bangga, bahagia dan haru juga dirasakan oleh para guru, wali wisudawan dan wali murid lainnya, juga seluruh hadirin. Terlebih menyaksikan para siswa yang masih anak-anak telah mampu menghafal surah Al Quran dengan fasih.
Ustad Qoid Surawan sebagai pengajar hafalan di SDIT Kartika mengungkapkan rasa syukur dan harapannya. Beliau berharap para siswa bisa membawa hafalan minimal 2 juz dengan bacaan yang benar dan fasih sesuai tajwid jika lulus SD. Dan bisa menjadi penjaga Quran serta selalu mengaplikasikan Quran di keseharian mereka.

Seorang wali wisudawan, Hj. Anisah Indriati, yang putrinya hafal 2 juz, mengisahkan, "Saya sangat bersyukur atas pencapaian anak saya. Al Quran adalah partner kami dalam membersamai tumbuh kembang anak-anak kami."
Beliau merasakan ada perkembangan positif yang pesat antara hafalan Quran terhadap kemampuan intelegensia anak dan perilaku sehari-hari mereka. Ketiga hal tersebut bejalan seimbang.

bersama segenap ustad ustadzah

Bisa jadi di luar sana banyak anak yang hafalannya lebih banyak dan bagus dibanding anak-anak ini, namun setidaknya mereka dan para asatidz telah berjuang sungguh-sungguh untuk menjaga dan menambah hafalan mereka.

Semoga kelak mereka selalu menjadi penjaga Al Quran. Dan Al Quran menjadi jiwa mereka. 
Dan pastinya mereka telah menjadi pencambuk semangatku untuk menambah hafalanku yang hanya 3 Qul itu. :)

Wassalam.