Mesra dengan Mertua (2); Tips Meredam Konflik

Mei 08, 2016

sumber foto: akhwatindonesia.net

Dear Kawans,
Ini adalah bagian ke-2 tulisan dengan tema ini.

Maksud hati sih udah dari kemarin-kemarin posting lanjutan tulisan ini, tapi apalah daya waktu dan tenaga sudah terkuras untuk kegiatan lain *alesan! :)

Kawans,
kalau kemarin kita sudah mencari tahu tentang hal-hal yang sering jadi penyebab munculnya konflik mertua-menantu, nah, sekarang simak yuk bagaimana cara meredam konflik tersebut.

Sesuai pengalamanku jadi menantu, 8 hal berikut sangat keren untuk dilakukan sebagai pendingin konflik. Apa saja?
  1. Tidak ikut emosi dan mengalah.
    Saat gesekan melanda, jangan sekali kali kita larut dan menuruti emosi untuk melawan. Mundur sejenak dan mengalah tidak ada salahnya. Menuruti emosi bukan hanya tidak menyelesaikan masalah, tapi juga malah bisa menambah masalah baru.
  2. Menahan diri dan menghindari banyak bicara.
    Masih berkaitan  dengan poin 1, berusahalah menahan diri untuk tidak bereaksi secara negatif  sehingga berpotensi melukai hati mertua. Salah satu hal yang aman adalah batasi bicara kita. Tidak untuk niat mendiamkan beliau, melainkan supaya tidak berkata hal yang tak perlu saja. Boleh membela diri, boleh berargumen, tapi sampaikan dengan lemah lembut.
  3. Menghargai pendapat dan berprasangka baik.
    Sebenar apapun kita, tetaplah hargai buah pikir mertua. Sebagai orang tua, pastilah beliau lebih kaya pengalaman dibanding kita. Cobalah selalu untuk berpikir positif yang bisa mendatangkan prasangka baik. Prasangka baik ini akan mempengaruhi suasana hati pemiliknya menjadi lebih adem dan selow :)
  4. Perkecil masalah.
    Ini tentang sudut pandang kita tentang masalah. Jika dipandang besar, tentu akan berat menjalani. Tapi jika dipandang kecil, pastinya juga akan ringan. Ingat, masalah itu diciptakan sepaket dengan solusinya. Jadi yakin deh, gak ada masalah yang gak ada solusinya.
    Udah, yakin aja. Jangan banyak nanya gimana bisa yakin. :)
  5. Jangan malu minta maaf.
    Masak sih kudu minta maaf duluan, kan aku gak salah! Justru salah kalau mikirnya gitu.
    Jika ada dua pihak yang sedang berseteru, hampir bisa dipastikan bahwa masing-masing pihak merasa dirinya paling benar dan pihak lainlah yang salah. Nah, di sini yang sering lupa. Bahwa jika ada suatu masalah, tentunya sedikit banyak ada peran dari kedua belah pihak hingga tercipta masalah tersebut. Maka gak ada salahnya, dong, kita sebagai yang muda minta maaf dulu pada beliau. Terlepas dari siapa yang salah atau pun nanti maaf kita diterima atau tidak, kebesaran hati kita melakukan itu akan membuat kesan tersendiri di hati  beliau.
  6. Pahami pribadi dan latar belakang mertua kita.
    Dengan mengetahui bagaimana sifat dan kepribadian mertua, tahu apa saja kesukaan dan ketidaksukaan beliau, serta tau latar belakang beliau, kita bisa menyesuaikan dalam bersikap dan mahfum atas sikap beliau.
  7. Beri pelukan dan pujian.
    Kadang sikap atau ucapan mertua yang kita rasa kurang enak tanpa kita sadari justru karena beliau merasa kurang diperhatikan, lho. Nah, disini kita kudu peka melihat situasi. Jangan baperan. Beri deh beliau sebuah pelukan hangat atau pujian kecil tapi tulus. Dijamin hatinya lumer deh.. :)
  8. Ikhlas.
    Ini sangat utama. Memang tidak mudah, tapi bisa diusahakan. Selalu ingat, tanpanya tak mungkin terlahir lelaki yang menjadi suami kita. Mertua adalah orang tua kita juga. Menghormati, menjaga dan menyenangkan hati beliau adalah kewajiban kita pula. Sebuah kewajiban yang tak diragukan lagi perintah maupun imbalannya. Dengan memelihara ikhlas di hati, maka semuanya tak lagi menjadi beban. 
Jadi gitu, biasanya aku lakukan itu. Eh, tapi jangan dikira aku makhluk sempurna yang tak pernah tergoda hawa napsu, lo, ya.

Pernah suatu kali aku dan ibu mertua mengalami friksi. Aku yang merasa tidak berbuat salah kok dianggap salah dan selalu disudutkan. Saat itu aku merasa harus membela diri. Sekalimat ucapannya kubalas sekalimat. Setinggi nada bicaranya setinggi itu pula nadaku. Kami saling adu argumen namun tanpa kontrol emosi.
Saat itu aku merasa puas dan lega karena berhasil membela diri dan mengeluarkan unek-unekku. Namun apa yang kuterima sejurus kemudian? Beliau tenggelam dalam isak dan air mata di sudut ranjangnya. Ya. Aku berhasil membuat wanita sepuh itu menangis. Disitu aku bahkan tak ingin mengampuni diriku sendiri.
So, jangan ditiru, ya.

Lalu, cukupkah hanya kita sebagai istri dan menantu yang harus meredam dan mengantisipasi konflik sendirian? Tentu tidak. Kita pasti butuh dukungan pasangan. Dan peran suami pun menjadi kunci penentu mesra tidaknya hubungan kita dengan mertua. Nanti ya, aku bahas di bagian selanjutnya tulisan ini.

Semoga tips di atas cukup jitu. Tetap cantik dan jadi menantu keren, ya, Kawans.

Salam.









You Might Also Like

4 komentar

  1. Uhum, lengkip banget Mbak Dini, makasih tipsnya nih keren sangaddd :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. misami mbak Wahyu.. makasih dah mampir mbakku yg keren..

      Hapus
  2. sudah berapa kali kamu minta maaf?

    BalasHapus
  3. iya kalau sama mertua memang paling baik berbaik sangka ya mbak dini

    BalasHapus