Road To #2ThGandjelRel

Februari 28, 2017

Jangan salah sangka dulu ya, baca judulnya udah kayak promo yang dibikin oleh EO gitu ya? hehe.. Bukan, ini bukan cerita tentang persiapan sebuah event dengan hiruk pikuknya. Tapi ini cerita perjalananku menuju gelaran ulang tahun Gandjel Rel sabtu kemarin.

Sejak mbak admin Gandjel Rel  mengumumkan undangan bahagia ini beberapa minggu sebelumnya, aku sudah langsung melingkari tanggal keramat itu di kalender. Apapun yang terjadi, selama hayat masih di kandung badan, aku berjanji harus berangkat. Betapa tidak? seingatku pertemuan terakhirku dengan para saudara seperguruan *tsaaahh.. sekitar setahun lalu waktu kunjungan ke Penerbit Bentang Jokja. Jadi tidak ada alasan apapun untuk tidak hadir. Fix.

Akhirnya tibalah hari yang ditunggu tunggu, 25 Februari 2017. Bangun pagi lalu aktifitas pagi yang dipercepat. Rencana aku mau keluar rumah jam 6 tepat. Kalau bisa jam 6 kurang malah. Karena perkiraanku lama perjalanan Temanggung-Semarang sekitar 1,5-2 jam an. Jadi nanti misal ada molor-molornya di jalan tidak terlalu kemrungsung (galau) dan bisa datang awal di tekape. Soalnya selalu terngiang di telingaku pesan mbak Uniek The Founder untuk bisa datang on time jam 9 pagi.
Dan sekitar pukul setengah enam aku sempetin wasap dedek unyu Winda Oetomo, kali kali aja bisa nebeng dia dari Banyumanik. Dan Winda pun setuju, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. :) yaitu ketemu di seputaran halte Sukun atau Ada Banyumanik jam 7.30. Gasik memang, karena sekalian mengantar duo jagoannya ke sekolah. okelah kalau begitu...

Etapiii, rencana tinggallah rencana. Yang tadinya mau berangkat jam 6 jadi mundur mundur tampan sampai jam 6.30 lebih. Lebihnya banyak pula, hahaa
Yaudah deh, aku wasap Winda lagi, kubilang ditinggal aja.. Deal.
Dan dimulailah perjalanan itu....

Dari Temanggung ke Banyumanik
Dari depan rumah aku naik bis ke Secang. Maksud hati dari Secang mau naik bis patas Ramayana atau Nusantara ke Semarang. Tapi ternyata sesampai aku di Secang, kata orang di halte, bis yang kumaksud baru saja berangkat. Waktu sudah pukul 07.25. Kalau aku memaksa naik bis patas berikutnya, kira kira ya seperempat samai setengah jam lagi. Tapi kalau aku naik bis ekonomi yang sedang mangkal itu, ya kira kira akan lebih lama lagi sampai di Semarang nanti.

Ah, aku tak mau terburu buru mengambil keputusan. Aku lalu duduk di sebuah bangku di depan warung makan yang belum buka. Aku memohon pertolongan pada Allah seperti yang selalu kulakukan sejak keluar rumah tadi. Minta dimudahkan perjalanan ini. Dan belum lima menit aku duduk, ada sebuah bis patas Damri berhenti di depanku. Menurunkan seorang penumpang. Aku bertanya pada kernetnya kemana jurusan bis itu. Semarang! Ahaa... aku langsung lari dan lompat naik bis itu. Sempat ragu sebenarnya, beneran gak ni bis patas ac? Damri lagi. Terakhir naik bis Damri belasan tahun lalu, itu pun bis kota di Semarang yang kondisinya begitulah...
Tetapi sampai di dalam bis itu aku patut bersyukur. Hanya ada empat penumpang termasuk aku. Kursinya standar, yang penting bersih. AC nya juga dingin. Supir dan kernetnya ramah. Cara nyetirnya pun hati hati meski tetap cepat. Alhamdulillah... Dan yang bikin lebih bersyukur adalah, bayarnya murah. Cuma 20 ribu rupiah saja! Lebih murah 10 ribu dibanding patas yang lain. :) dan aku diantar dengan selamat sampai di pertigaan patung kuda Jalan Setiabudi. (Bisnya ga masuk tol, ternyatah...) 

Dari Patung Kuda ke Pool BlueBird Taxi
Dari sini mau ke pool taxi Blue Bird tempat acara ada beberapa pilihan yang bisa diambil.  Ada bis jurusan terminal Penggaron, ada angkot dengan resiko gonta ganti jalur, ada BRT yang nyaman dengan catatan muter dulu ke dalem kota dan transit untuk ganti jalur, ada Go-jek yang aku belum donlot aplikasinya, ada banyak taxi termasuk Blue Bird yang bisa mengantar dengan aman, ada juga pilihan nebeng teman. Hah!

Disitu aku bilang ke diriku sendiri, aku akan naik apapun yang berhenti duluan di depanku. Tak lama, sebuah bis kecil jurusan terminal Penggaron berjalan pelan. Kucegat dan kucolek, eh.. Aku sudah masuk di dalamnya. Bercampur dengan seorang ibu sepuh dan dua gadis muda. Isi bis bertambah lagi saat berhenti di depan pasar Jatingaleh. Bau belanjaan pasar campur obrolan logat Semarangan ini sudah lama banget tak kurasakan. Dan aku menikmatinya. Tak peduli dengan waktu yang terus memburu. Kunikmati sekali lagi. Alhamdulillah lagi lagi kuucapkan, karena meskipun bis ini alon alon waton kelakon, dia mengantaku dengan suka cita di Pool Taxi Blue Bird beberaa menit menjelang jam 10. telaattt... lariii....

Di Venue Acara Ultah Gandjel Rel
Baru saja kakiku melangkah di pelataran pool sekaligus kantor Blue Bird, seorang bapak menyambut ramah, lalu menggandeng  mengarahkanku untuk langsung ke ruangan di lantai 2. "Ibu naik saja ke lantai 2, lalu belok kiri," katanya ramah. Begitu sampai di atas aku pun menuruti perintahnya untuk belok kiri. Eh, sebelum belok kusempatkan menoleh ke kanan, ternyata hanya ada satu ruangan bertuliskan TOILET! ya iyalah pak, masak mau ulang taunan di toilet :))

Selanjutnya pemirsah, aku hepi banget yang ada. Kenapaa? Ya karena banyak makanan dong! *lalu dikeplak wedges. Ya pastinya karena ketemu mbak mbak blogger yang cantik jelita ramah menawan penuh semangat sepanjang masa.   
Di sini, di Gandjel Rel, aku menemukan sebuah keluarga baru yang hangat dan menyenangkan. Meskipun kami datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, tapi aura positif yang selalu saling mendukung -terutama dalam urusan ngeblog- sangat terasa. Tidak ada yang lebih atau pun kurang satu sama lain, yang ada kami saling belajar dan saling memberi semangat. 

Acara yang penuh informasi, bertabur hadiah dan (lagi-lagi) makanan ini nanti aku tulis terpisah aja ya... biar lebih fokus, hehe. 
Akhirnya waktu jualah yang memisahkan kami. Pukul 14.30 acara selesai. Aku harus buru buru pulang kalau tidak ingin kemalaman di jalan. Bersyukur aku dapat teman jalan pulang meski beda arah.
Ada Inung yang mau pulang ke kosannya di Semarang dan mbak Tanty yang pulang ke Kudus.

Dari Pool Blue Bird ke Banyumanik
Rencananya aku mau naik bis jurusan Penggaron-Pudakpayung saja seperti waktu berangkat. Tapi entah kenapa aku jadi tergoda bujuk rayu mbak Tanty yang mengajak naik BRT bareng mbak Inung. "Enak, mbak, bisnya AC, gak sumuk, murah pula," rayu mbak Tanty. Akhirnya aku pun gabung mereka duduk manis di halte BRT. Tapi aslinya bukan karena itu ding, alasan jujurnya karena aku masih gak rela berpisah dengan mereka, masih pengen berlama-lama tukar cerita sama mba Inung yang anggun dan mbak Tanty yang kocak bin ngocol :)

BRT yang ditunggu datang juga. Menepi dengan indahnya. Hup! kami bertiga meloncat ke dalam  kabin. Meski duduk terpisah kami tetap ngobrol, meski hanya tatap mata dan senyum penuh makna. tsaahh...
Iya bener, naik BRT ini cukup nyaman. Apalagi tempat duduk pria dan wanita dipisah. 
Mbak Inung yang baik hati membayar tiket untuk kami bertiga. Rp 3.500,00 per orang. Murah, ya?
 
Mbak Tanty turun duluan karena harus ganti jurusan ke terminal Terboyo. Sedang mbak Inung berpesan padaku untuk turun di halte balaikota dan melanjutkan dengan BRT jurusan Ungaran. 
Aku berisah dengan mbak Inung di halte Balaikota. Mbak Inung akan turun di halte selanjutnya.

Di halte depan Balaikota ternyata penuh calon penumpang. Deretan tempat duduk yang disediakan tak cukup menampung orang orang itu. Malahan lebih banyak orang yang berdiri ketimbang mereka yang kebagian tempat duduk. Sebagian berdiri di gerbang untuk masuk BRT. Cukup membahayakan memang, karena mereka berdiri menggerombol rapat tepat di tepi.

Mungkin karena waktu itu adalah jam pulang sekolah dan kerja, makanya ramai sekali. Bahkan 2 bis jurusan Ungaran terpaksa aku lewatkan karena aku tak mampu berdesakan dengan mereka, selain karena memang bis sudah sangat penuh. 

Namun aku tak mau melewatkan kesempatan ketiga jika bis jurusan Ungaran datang lagi. Aku pun melipir maju dan bersandar di tiang penyangga. Betul saja, beberaa menit kemudian saat bis menepi dan pintunya membuka, aku dengan mudah bisa melompat masuk, meskiii... tempat duduk penuh semua dan aku harus berdiri berdesakan dengan gadis-gadis SMA yang ceria.  Oiya, di bis yang kedua ini aku tak perlu lagi membayar, lho..
Alhamdulillah kedua kaki ini kuat menoang tubuhku yang atletis ini sampai di halte Banyumanik.

Dari Banyumanik menuju rumah     
Halte BRT Banyumanik letaknya di dekat pom bensin, namun sayangnya agak jauh dari agen bis atas Nusantara maupun shelter Sumber Alam. Dalam keadaan gerimis dan ingin buang air kecil aku memutuskan untuk mampir dulu ke toilet pom bensin. Sudah hampir jam setengah lima sore. Mengingat itu hari Sabtu dimana biasanya bis bis penuh penumpang, aku merasa khawatir juga bagaimana nanti kalau tidak kebagian bis. Kembali aku berdzikir, mengingat kebesaran Allah yang sedari pagi selalu memberi kemudahan. Kurapalkan lebih rapat dan pasrah. Apa pun yang terjadi jika itu kehendakNya, pastilah itu yang terbaik. 

Aku berdiri di sudut depan pom bensin. Ujung atap warung rokok menjadi peneduhku dari gerimis. Satu dua bis jurusan Solo lewat, kuabaikan. Ujung pandanganku menatap lurus di kejauhan, di kaca depan sebuah bis yang melaju ke arahku tertulis; JOKJA. Tanpa banyak pikir tanganku melambai dan bis pun berhenti. (sakti ya aku, hihi)

Dalam sekejap aku sudah duduk di kursi bagian belakang bis Nusantara patas jurusan Jokja. Kuselonjorkan kaki, kuregangkan badan, dan kutarik napas, lega.... Langit di luar yang terang perlahan meredup dan gelap. Malam mulai menyelimuti dunia, memberi kesempatan mahkluk Allah untuk beristirahat. Sempat kutuntaskan beberapa bab buku jeng Dedew yang kubeli tadi. Lalu kusudahi dan buku itu kusimpan di dalam tas.

Perutku mulai menggeliat, antara lapar dan mual. ah, asam lambung ini selalu ikut kemana aku pergi. Lalu kupaksa mataku untuk memejam sejenak untuk meredam gejolak di dalam perut. Kutarik napas panjang dan hembuskan perlahan. tiga kali saja. Perut kupegang sambil pikiranku terpusat untuk tidak merasakan mual lagi. alhamdulillah mual itu perlahan sirna.

Perjalanan pulang malam itu lancar. Saat aku turun di pertigaan Secang, sebuah bis jurusan Wonosobo sedang ngetem di sana. Langsung saja aku naik dan bis pun melaju. Finally, sampai juga aku kembali di kampung. Turun bis, mampir warung beli capcay sekadar untuk buah tangan sekaligus makan malam anak-anak. :)

  

Perjalanan dua belas jam lebih di hari itu memang melelahkan. Tapi rasa lelah itu tak sebanding dengan semua kenikmatan yang kuterima. Pergi dan kembali ke rumah dengan selamat, segala kemudahan dalam perjalanan, bertemu dengan teman-teman yang lama tak berjumpa dan semua dalam kondisi sehat, bisa berbagi cerita dan kesenangan dengan teman-teman, mendapat banyak ilmu dan pengalaman baru, bisa me time, serta suami dan anak-anak yang sangat pengertian. Lalu apa lagi? Apakah ada alasan untuk merasakan lelah? No. 

Perjalanan separuh hari itu mengingatkanku tentang satu hal. Allah Maha Baik, Allah Maha Asik. Tak pernah aku dibiarkanNya bingung sendiri. Kemudahan demi kemudahan diberikan padaku. Meski aku malah sering mengabaikanNya. *menyesal.

Malam makin larut. Kubenamkan tubuhku dalam selimut, memeluk Shofi yang terlelap sejak aku bercerita tadi.






  

 

   



   

kuliner

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Februari 15, 2017

Hai...,
Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)

Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :))
Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 

Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 

Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka kubujuk anak-anak dan suami  siang kemarin berburu bakso di kota Temanggung tercintah..

Sebetulnya di dekat rumah pun bertaburan kios bakso. Tapi kami ingin mencoba warung bakso milik seorang teman yang menawarkan menu bakso dan mie yang unik. Unik dari nama maupun rasa dan penyajian. Seperti appaaahhh??? cekidot...

selalu penuh sampai luar

Tuu kan,, namanya saja sudah nancep, Mie Mangap-Bakso Jimat. ih, kedengarannya ngeri, ya.. kesannya klenik gimanaa, hehe.. Jangan khawatir... Konon ceritanya, nama 'Jimat' adalah kependekan dari siji mangatus :) yang artinya, satu butir bakso harganya lima ratus rupiah. Sedangkan mie mangap menandakan mie yang sangat pedas sehingga si penyantap sampai mangap mangap saking pedasnya. begitu...

Lokasinya sangat mudah ditemukan. Berada di depan kantor Samsat Temanggung, atau di sebelah barat terminal Temanggung.(eh, barat apa selatan, ya? *bingung) Pokoknya kalau dari arah Secang atau Krangan, begitu masuk kota Temanggung dan nemu perempatan Terminal, belok kiri saja. Langsung ketemu kiosnya.

Nah, setelah parkir, masuk saja ke pintu kios yang sebelah kanan, yang digunakan sebagai dapur. Di depan pintu kita bisa ambil kertas menu di keranjang merah dan pilih pesanan kita.

catet hari dan jam prakteknya yaa..

Menu yang ditawarkan nampak sama seperti umumnya. Bakso kuah, mie kuah dan mie goreng. Tapi ada satu menu unggulan di sini yaitu bakso bakar dengan berbagai tingkat kepedasan.

dipilih dipilih....

 Setelah memilih pesanan, kita tukarkan kertas menu dengan kartu nomor urut. Dah macem antri dokter aja ya, hihi

dapet nomer segini pas udah lewat jam makan siang

Oya, di sini kita bisa pesan mie dalam berbagai ukuran porsi. Dari S, M, L sampai XL. Sebagai gambaran aja, porsi ukuran S kira-kira wadahnya berdiameter 16 cm.

yang XL itu seukuran wajan di rumah :)

Pengunjung siang kemarin sangat banyak. Jadilah kami menunggu pesanan lumayan lama. Anak-anak hampir kehilangan mood. Untung saja sebelum mereka protes menuntut gratisan, pesanan sudah datang.   

bakso bakar level 3
mie mangap level 3 size M

Daaann... benar saja, baru beberapa suapan rasa pedas dan panas sudah merajai seluruh rongga mulut. Gimana enggak, level tiga artinya ada tiga sendok makan sambel yang dicampur ke bumbu mie ini. Dan cabe yang dipakai pun cabe rawit setan yang harganya selangit itu.. hih, ga rugi apa yak?
Cara penyajiannya pun unik, kan? Iya, langsung dimasak dan disajikan dalam wajannya. Hot pan, hihi..

Baidewei, kalau level 3 saja sudah bikin mangap ngap ngap, ada lo bocah yang entah lidahnya terbuat dari apa sehingga dia menjadi pemegang rekor mangap dengan menaklukkan level 62! nah, apa enggak sewajan penuh sambel doang, yak? secara isi 62 sendok sambal, gituh. eduuunnn....

pic: FB Erryn Dyah Pitaloka

Kalau soal harga, saya bilang sih ramah kantong, ya. Bakso bakar per tusuk isi 4 butir hanya Rp 2.000,00 saja. Kan Jimat, siji mangatus... :)
Sedangkan  mie mangapnya antara Rp 7.000,00 sampai Rp 12.500,00. Piye, murah kaan?? 

si adek galau, mie masih banyak eh tapi minum udah habiss... :(

Eh iya, kemarin aku juga sempat dibisikin mbak-e pramusaji, besok-besok kalau mau ke sana supaya tidak terlalu lama nunggu pesanan, bisa pesan via telpon dulu ke 085729355450 sebelum meluncur ke sana. Sip deh mbak...

Jadi gitu, kalau lagi lewat Temanggung jangan ragu mampir ke Bakso Jimat ya.. kalau masih bingung tempatnya dimana dan butuh guide, boleh lah inbox daku... 
Tapi kalau bingung kok hari gini masih jomblo, ya  usaha dong... hehe.. boleh inbox juga ding :) siapa tahu ketemu jodoh di sini.

Yuk, ah... mari mangap. Salam huhah!!










kegiatan

Serunya New Star Celebration 2017

Februari 09, 2017

Yelah..., ceritanya ada yang penasaran lihat tampang emak kalau dandan nih. Enaknya kasih tahu gak ya? :)
Baiklah, nanti pasti emak aplod deh potonya, tapi ni emak mau cerita dulu asal usulnya kenapa kok tiba-tiba emak  mau dandan. Secara kan emak hari hari cuma dasteran tanpa riasan. Mau antar jemput anak ya gitu doang.  Pakai bedak ya paling kalau arisan RT, itupun pakai talek bayi :)
Boro-boro ke salon untuk perawatan, potong rambut aja potong sendiri. Ini beneran :) eh, sekalinya ke salon nagih duit. Salonnya ngontrak di kios emak soalnya, hihi

Jadi gini, minggu lalu emak dapet kabar bahagia dari ibu menejer Tupperware unit Amalia, ibu Nurjanah, unit dimana emak bernaung sebagai konsultannya.  Bu Nur bilang kalau emak lolos untuk ikut acara New Star Celebration 2017 yang dihelat oleh PT. Dewisri Prathama Mukhyasa (Distributor Tupperware Magelang), atau disingkat NSC. Apa itu NSC?

penampakan undangannya

NSC adalah acara tahunan yang diadakan oleh Tupperware sebagai bentuk penghargaan kepada para konsultan atau sales force-nya. Apakah ada syaratnya? Tentu ada. Undangan NSC hanya berhak bagi konsultan yang berhasil meraih full activity di bulan Nopember-Desember 2016 dan omset penjualannya mencaai 20 juta rupiah. wow... target yang cukup tinggi, ya. Tapi semangat temen temen konsultan sangat hebat, pencapaian mereka ternyata jauh melampaui target yang ditentukan. prok..prok..prok..

Kabar gembira itu diiringi kabar kebingungan. Karena apa? Dress code yang ditentukan adalah negeri di atas awan dan atau dongeng seribu satu malam. Nah. Gimana ceritanya ini? Padahal acara tinggal beberapa hari. Selain bingung mau pakai baju model apa, bingung juga beli atau pinjamnya dimana.

Akhirnya Bu Nur usul gimana kalau kita pakai dress nya anak-anak Qasima aja? oya, Qasima ini grup qasidah dan irama melayu dari Magelang yang personelnya gadis gadis cantik itu lho. Grup ini sudah  terkenal di Jateng-Jatim. Kalau belum kenal, lain kali deh daku tulisin profilnya Qasima.
Singkat cerita, daripada  pusing pusing mikirin baju, kita manut saja sama Bu Nur. Kebetulan putrinya Bu Nur gitaris Qasima, jadi bisa pinjam kostumnya dengan gampang, hihi.
Ga nyambung dengan tema yang ditentukan ga apa deh, yang penting kostum kita samaan, :))

bu Nur yang kiri, cantik yaa :)


 laah..., kok udah narsis duluan? trus, acaranya ngapain aja?
Acaranya padat hadiah. maksudnya dari awal sampai akhir ya isinya cuma bagi-bagi hadiah. Asik kaann?

Saat kami para jamaah konsultan memasuki Prambanan Hall Hotel Puri Asri Magelang, kami disambut dengan tarian ala padang pasir oleh para ibu menejer, ibu general manager dan ibu distributor.
Kostum para hadirin keren-keren deh. Ada beberapa yang sesuai tema, tapi banyak juga yang enggak, termasuk yang nulis, hihi

Rangkaian acara yang berisi pemberian hadiah kepada konsultan dengan penjualan terbanyak, pencapaian terbaik, inagurasi menejer baru, pemilihan kostum terbaik dan juga lucky draw berjalan lancar. Semua bertabur hadiah dan keceriaan. Seakan terlupakan semua lelah dan hutang (kalau ini aku sih hehe)

Akhirnya NSC yang berkesan ini selesai tepat jam 15.00. Menyisakan hadiah, persahabatan baru dan semangat baru. Selamat buat PT. Dewisri Prathama Mukhyasa yang sukses menyelenggarakan acara ini. Pesan saya, besok hadiahnya dibanyakin, ya Bu Win.. :)  Selamat juga pada ibu GM, para menejer dan rekan konsultan. Kalian kereen... sesuai dengan tagline kita, "TUPPERWARE HEBAT, KITA JUGA LOH..."

pemenang kostum terbaik. sumber foto fb: Yati Alfa Rezza

 
bareng ibu GM Sri Wahyuti (baju putih)
semeja dengan konsultan dari wonosobo yang cantiks
mba Ayu dan MC kocak Putri Jasmine Agustine :) foto dari FB: Ayu Tupperware Parakan


gandeng tangan nyanyi kemesraan
aih...punggung siapa tuu #pongpongdance
thanks to NSC 2017, see you next year

cerita si bocah

Apa yang Mereka Lakukan Tanpa Emak

Februari 06, 2017

Emak, Bunda, Ibu sekalian, pasti pernah kan punya acara dan keperluan sendiri yang mengharuskan untuk meninggalkan keluarga tersayang. Sama, dong, kaya aku kemarin Minggu, 5 Februari 2017.
Emak dapat undangan menghadiri acara New Star Celebration dari Distributor Tupperware PT. Dewisri Mukhyasa Magelang, yang agendanya dari jam 10 pagi sampai 4 sore.

Meskipun acara hanya setengah hari, tapi sebagai emak yang solehah (aamiin...) aku wajib memastikan bahwa keperluan anak-anak dan suami beres dulu. Terutama kebutuhan makan mereka. Kalau urusan bersih bersih rumah dan cucian sih alhamdulillah mereka bisa diajak kerja sama.

Mengingat jam setengah tujuh aku ada janji dengan mbak salon supaya jam 8 tet bisa berangkat ke Magelang, makanya dari habis subuh aku sudah lompat ke pasar dan terbang lagi ke dapur untuk goreng-goreng masak-masak tumis-tumis... bim*li... eh kok malah iklan :)

Akan tetapi sodara.. jam 6 tepat sebelum emak matiin kompor, malah itu si bapak beserta pasukannya pamit mau jogging. heiii... mau kemana kaliaan?? yo weslah, kurelakan sanah. baik-baik ya kalian...
lalu emak bebas nyebur kamar mandi, bablas salon dan me time...

Baidewei, jelang ishoma emak kepo juga, gimana kabar belahan jiwa dan buah hatiku? Apa ya yang mereka lakukan tanpa emak? Soalnya jarang banget kami pergi dalam formasi yang tidak lengkap.

Dan ternyata inilah jawabannya...

makan bubur ayam di taman pengayoman
taman ini berada tepat di belakang Pendopo Pengayoman Temanggung. Di depan taman berjajar rapi pedagang makanan kaki lima. Di pagi sampai jelang siang hari ada menu bubur ayam, soto, gudeg sampai aneka es ditawarkan. Sedangkan malam hari menu berganti nasi goreng dan teman-temannya, sate juga aneka penyetan. Mampirlah kalau lewat Temanggung. 

adem dan asik lo suasana di sini




joging, eh, main soting sotingan di komplek stadion 
di stadion yang sedang dipercantik ini ada beberapa alat bantu fitness untuk umum loh. free.. nah di keliling luar stadion terdapat jalur bagi pejoging. lantai yang rata berwarna hijau sedap. ada banyak orang yang memanfaatkan untuk lari atau jalan cepat mengelilingi stadion. termasuk aku, kalau lagi insaf :)

tapiii... kalau anak-anakku ini memanfaatkan area ini untuk main ginian.. hihi

model n videograher wannabe

yawdahlah... gapapa, yang penting kelian kenyang dan teteup hepii...

eits, tapi belum selesai disini.
setelah itu mereka pulang, beres-beres rumah sewajarnya, lalu makan siang. akhirnyaa.... hasil karya emak diapresiasi juga, hehe. kalau yang ini gak sempat motret, pokoknya  hari itu emak masak mangut kepala manyung. *bayangin aja enaknya yaa

daan... perjalanan mereka siang itu berlanjut ke Magelang. Niatnya sih bapak mau ke bengkel, jemput emak mah sampingan, duh.. 
nah, sembari nunggu emak selesai acara,...

alun-alun kota Magelang jadi sasaran perhentian mereka selanjutnya.  
Alun-alun ini pas banget untuk sekedar istirahat sejenak. Dekat dengan masjid, jadi tetap bisa melaksanakan kewajiban saat waktu solat tiba. Di sisi utara dan selatan juga banyak penjual makanan. Di dalam alun-alun sendiri banyak penjual mainan anak-anak.
Kalau si kakak sulung menikmati es teh angkringan, dan si bungsu ngemil cilok, inilah pilihan si tengah. 


teteup ngincer kamera kesayangan

Jam bandul tetap bergoyang. Acara emak selesai juga. Melalui pesan wa kakak ngajak emak janjian ketemu di alun-alun saja. Dengan sedikit nada ancaman, "tapi ibuk ganti baju dulu, yaa"
Yawlaah... masak sih kalian gak pengen liat emak full dandan ginih??? 

Oke deh pembaca yang terhormat, kalau ternyata masih ada yang punya hati dan mau lihat emak dalam kemasan yang lain, tunggu di postingan berikutnya yaa..

makasih udah mampir. *kecup atu atu