Yang Membekas dari Buka Buka Buku mbak Irfa

April 08, 2017

 https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/17795996_10154863661313961_5587407519344094174_n.jpg?oh=232c104d75ab64de610e6dac21421654&oe=5987B443


"stay tune at 102,4 Gajah Mada FM ya nanti malem jam 7-8, ada aku di buka-buka buku" pesan seorang teman masuk di grup whatsapp. Wuaaa, langsung ramai saja sambutan dari penghuni grup. Grup yang semua anggotanya perempuan dan mempunyai passion yang sama, yaitu menulis, sangat girang dan mendukung penuh ketika ada salah satu atau beberapa anggota yang berprestasi.

Lalu siapakah orang itu yang mengumumkan dirinya akan menjadi narasumber di buka-buka buku? Taraaa... dialah seorang ibu dua anak yang selalu memesona dan enerjik, tak lain dan tak bukan dia adalah mbak Irfa Hudaya Ekawati. Mbak Irfa akan bercerita tentang buku terbarunya yang berjudul Ya Allah Aku Rindu Ibu.
Membaca judulnya saja sudah kerasa feel bukunya. Apalagi aku udah ga punya ibu lagi, duh... serasa buku itu dibuat khusus buat aku deh. hiks...

Tentang Buku 'Ya Allah Aku Rindu Ibu'
Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata mbak Irfa tentang hubungan dia dengan ibunya. Dengan cerdas mbak Irfa memotret potongan potongan kisah hidupnya sejak dia kecil hingga berkeluarga. Bagaimana Irfa kecil menangkap sosok ibu dalam pikirannya, Irfa remaja membingkai harapan harapannya tentang ibu, dan bagaimana Irfa dewasa bersikap dalam menghadapi dan melayani ibundanya, tertuang indah di buku ini.
Pelajaran bagaimana seorang anak seharusnya memandang, menghayati dan bersikap kepada ibunya menjadi benang merah dalam buku ini. 
Buku ini dicetak pertama kali pada Desember 2016 dan diterbitkan oleh Penerbit Kana Books.

Tentang Siaran Malam Itu
Jumat, 7 April 2017. Menjelang pukul 19.00 muncul satu dua chat di grup whatsapp. Mengingatkan bahwa siaran akan dimulai. Aku langsung nyalakan komputer untuk mencari streaming radio Gajah Mada FM. Maklum, radio tersebut kan ada di Semarang, dan aku tinggal di Temanggung. Dan uniknya, mbak Irfa pun saat siaran berlangsung juga ada di rumahnya di Muntilan. Wawancaranya by phone.Hebatnya teknologi, bisa memudahkan hal hal seperti ini ya.     

Dan taukah? Ketika kami para pendengar setia sudah siap mendengar alunan merdu mbak Irfa, eh malah ada pesan masuk dari beliau 'aku malah mules ik...' hehe. Jadilah kami pasukan hore memberi semangat pada mbakyu yang bersahaja ini. Karena kami tahu pasti kalau mbak Irfa pasti bisa. Jangankan cuma siaran yang gak keliatan mukanya, berebut jalanan dengan para sopir truk dan bis antar kota pun mbak Irfa lihai. Jadi apa yang kudu dimulesin? Ayo mbak Irfaa... pasti bisaa... *kibas pom pom

Alhamdulillah, ketika siaran berlangsung mbak Irfa sungguh keren. Meski diserbu kegalauan karena rumah mbak Irfa berhadapan dengan mushola yang pada jam jam segitu biasanya ada puji pujian jelang dan setelah azan. Takutnya suara dari speaker ikut masuk ke radio :) untunglah sesi pertama tanya jawab suara mbak Irfa terdengar jernih bersih dan jelas. Hanya ada sedikit suara tokek yang ikut nongol sebagai penutup sesi. hahaa...

Dalam acara berdurasi satu jam ini selain tanya jawab antar penyiar dan mbak Irfa sebagai narasumber, juga ada pertanyaan dari pendengar. Beberapa hal yang bisa kucatat dari wawancara ini adalah sebagai berikut:
  1. mbak Irfa mulai serius menekuni dunia menulis sejak tahun 2012.
  2. mbak Irfa telah menulis beberapa buku antologi sebelum buku solo perdananya terbit. Ya Allah Aku Rindu Ibu adalah buku solo ketiganya. Dan ternyata ada 4 naskah yang sudah antre terbit. duh kecenyaa
  3. buku ini ditulis berdasar kisah nyatanya dan secara khusus dipersembahkan untuk mengenang ibundanya yang telah wafat.
  4. awal mbak Irfa tergerak menulis kisah tentang ibu saat beliau menemani dan merawat ibunda yang sakit
  5. 'writing is healing', bagi mbak Irfa hanya dengan cara menulis sehingga dia bisa menumpahkan segala kerinduan dan curhatan kepada almarhum ibu
  6. buku ini ditujukan untuk para pembaca (anak) yang sayang dan rindu ibu (ini akoh bangedd)
  7. segala hubungan anak-ibu, di setiap fase pasti melalui tempaan dan ujian. frenemy salah satunya. menjadi sahabat sekaligus musuh. bagi seorang anak kadang tidak bisa menerima keputusan dan tindakan seorang ibu. namun anak tak pernah tahu apa yang tersimpan di sudut terdalam seorang ibu. baru ketika salah satu pergi, sangat terasa kekosongan itu. huhuhuuu...  
  8. kurasa tak jarang mbak Irfa menangis dalam proses penulisan buku ini. pastinyalah... 
  9. buku ini telah memberi banyak pengaruh kepada pembacanya. Salah satu pembacanya di Lampung, begitu menamatkan buku ini langsung saat itu juga  menempuh perjalanan berjam jam untuk pulang hanya untuk memeluk ibunya. *ikutan mewek*

Tentang Aku Saat Itu
Aku sendiri dalam bilik belakang. Menatap layar komputer dan mendengarkan siaran. Jemari tetap menari di atas keyboard. Whatsapp group ramai selama siaran berlangsung. Saling timpal komentar. Lucu lucu nyengir pokoknya. Ada juga yang komen sedih macem aku, inget ibu yang telah tiada.

Ya, jujur aku kangeeennn banget sama ibu. Aku ngalamin banget yang namanya frenemy. Terutama di masa-masa remaja dan dewasa muda. Bahkan sampai aku berkeluarga dan punya anak pun masih sering begitu. Sering beda pendapat sama ibu, dan ujung ujungnya ibu yang lebih banyak mengalah, lalu diam. Tapi gak bisa lama. Jauh sedikit ya pasti kembali lagi ke ibu. 

Ibu pun begitu. Gak bisa jauhan sama aku. Setelah berkeluarga dan aku ikut suami di kota lain, ibu sering menelpon aku. Bukannya aku yang nelpon duluan. (waktu itu mikir pulsa banget sih) Kalau di rumah ibu ada sedikit saja makanan, ibu rela ngebis demi mengantar makanan itu untuk cucu-cucunya. Tiap tanggal muda mengantar bapak ambil pensiun juga disempatkan ke rumah sekadar mengantar buah, lagi-lagi untuk anak-anakku. Waktu aku lagi banyak pikiran, tahu tahu ibu telpon, tanya,"mbak kamu gak papa to?"  duh, ibu ni tahu banget sih anaknya lagi galau. Dan tiap kali aku lelah aku sedih aku dirundung duka, tak segan ibu selalu hadir untuk menemani dan menguatkan.
Tapi apa balasanku ke ibu? Rasanya kedurhakaanku lebih banyak dibanding baktiku, deh. Ya Allah, banyak banget sih dosaku ke ibu... Ampuni aku ya Allah...

Aku ingin banget bisa memeluk ibu lagi. Tapi itu mustahil. Aku hanya bisa mengenang semua jasanya dalam genangan airmata dan doa. Ya Allah, sayangi ibuku...

Duh kok jadi mewek sendiri gini ya? Udah ah, jangan ikutan mewek. Pulang gih ke ibu kalian, peluk beliau. Jangan lupa sampaikan sungkemku ya... :)

You Might Also Like

29 komentar

  1. Setelah nikah aku jadi makin merasa waktu bersama ortu itu berhargaaa banget. Kalo pas pulang aku sempetin deh ngruntel di kamar sama ibu dan papaku, mijitin mereka, cerita2, karena ga bisa sering begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. senengnyaaa..., manfaatkan waktu mumpung masih bisa berkumpul dengan orang tua ya mak..

      Hapus
  2. Ndak berani baca komplit.
    Setiap sharing tentang ibu --orangtua-- suka sensi dan nggak ketahan mbrambangi.

    Semoga kita semua jadi anak-anak yang komit plus konsisten sayangi ibu dan bapak.

    Peluk2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin... aku ga cuma mbrambang bun, mingsek mingsek malah..

      Hapus
  3. Aku juga jadi kangen banget sama Ibuku yang meninggal hampir 9 tahun lalu. Hiks kangen ibuu :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah cukup lama ya mbak, hiks.. *al fatihah

      Hapus
  4. Semoga ibunda kita semua yang masih ada senantiasa diberi kesehatan dan keberkahan. Bila telah tiada, semoga ditempatkan yg terbaik disisi Allah SWT. Alfatihah, aamiin YRA.

    BalasHapus
  5. Hiks jadii kangeen sama ibu mbaak. . Udah lama belum pulang ke rumah. Akhir bulan besok baru pulang :" ibu selalu jd sosok istimewa ya mbak untuk siapapun 😊

    BalasHapus
  6. selalu istimewa, mbak. semoga ibu sehat dan bahagia selalu ya mbak... *nitip sungkem

    BalasHapus
  7. Salam hormat ya buat ibu. Saya sedang dapat amanah jaga ibu nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam hormat saya juga buat ibunda mba Gita. semoga bisa menjaga amanah dengan baik mbak.. :)

      Hapus
  8. Salam hormat ya buat ibu. Saya sedang dapat amanah jaga ibu nih.

    BalasHapus
  9. aku juga ikutan rembes ki mba Din.
    aku juga sedang berjuang mengumpulkan keping kenangan tentang ibu dan bapak, pengen bisa menerbitkan.

    BalasHapus
  10. Aku libur besok mau mudik ah..nengokin ibu..

    Klo ibuku..yang dikangenin bukan ak lg mb..tp cucu-cucunya😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi cucunya anaknya siapa cobaa.. hehe
      pastinya gitu mbak, bapak ibu dulu kalau telpon yang pertama ditanyakan: anak anak gimana? baik baik kan?
      kalau mudik nitip sungkem buat ibu ya mbak...(udah ga ada yang aku sungkemin soalnya hiks)

      Hapus
  11. Jadi kangen banget sama Ibu nih ,....
    semoga kita dikualifikasi sebagai anak yang berbakti dan membanggakan orangtua, Amin ..

    BalasHapus
  12. jadi kangen sama orang tua ku yang berada di pulau jawa mbak

    hiks hiks

    terlalu banyak kenangan indah maupun kenangan sebel sama orang tua pada masa itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga bapak ibu dalam keadaan sehat, ya.

      Hapus
  13. Hal yang paling membahagiakan itu adalah bisa membahagiakan orangtua, padahal sederhana sekali membahagiakan mereka cukup memberikan waktu dan perhatian pada orangtua kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, beliau hanya butuh waktu dan perhatian kita. :)

      Hapus
  14. Tak bisa berkomentar jika membahas tentang ibu...

    BalasHapus