jalan-jalan

Pusaka Tigade, Wahana Foto 3 Dimensi di Sukorejo

Mei 29, 2017

Hai, apa kabar kalian hari ini? Semoga sehat dan lancar puasanya, ya. Yups, ketemu lagi dengan Ramadhan, yang artinya Lebaran dan liburan pun akan menyusul kemudian. Nah, bicara liburan, supaya besok kalau pas liburan sudah tiba kita gak bingung lagi cari tujuan wisata, ini nih hadir lagi satu wahana wisata asik di Sukorejo. Apa? Sukorejo? Mana tuh? sik bentar, kita kenal dulu dengan kota Sukorejo, yuk.

Sukorejo adalah sebuah kota kecamatan di wilayah Kabupaten Kendal, sekitar 70 km barat daya Semarang. Sejarah mencatat, pada tahun 1947 Sukorejo pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kendal dalam pelarian. Dan jika dilihat dari segi perekonomian, Sukorejo menjadi pasar yang ramai dan potensial, karena merupakan pusat perekonomian bagi tiga kecamatan di sekitarnya. Selain itu Sukorejo juga menjadi jalur perdagangan antara Kabupaten Temanggung dan Kendal. Oya, perlu diketahui di Sukorejo ini pasar tradisionalnya merupakan pasar tradisional terpanjang sekabupaten, yaitu dimulai dari alun-alun kota sampai terminal. Yes, rame banget memang pasarnya.

Jujur saja, aku juga baru dua kali menginjakkan kaki ke Sukorejo ini. Pertama, saat pulang dari mengunjungi anak sulung yang praktek dakwah lapangan di Kendal, dan minggu lalu saat ada undangan dari mak Fenty seorang sahabat pemilik wahana Pusaka Tigade ini.

Ketika tahu ada undangan untuk blogger Gandjel Rel dari mak Fenty, tentu saja aku semangat banget. Secara Sukorejo gak begitu jauh dari Temanggung, tempat tinggalku kini. Dari rumah sengaja aku menjajal naik angkutan umum. Tidak sulit karena ada bis jalur Magelang-Sukorejo yang lewat depan rumah. Asik juga naik bis ini. Meski perut agak mual tapi banyak cerita yang kudapat. Aku lumayan ngobrol banyak dengan ibu di sebelahku dan juga kernet bis. Pendekatan dengan kernet kuanggap perlu untuk tanya-tanya di mana nanti aku turun dan ganti kendaraan ke lokasi. Perjalanan normal sih sekitar 1 jam 15 menitan. Tetapi kemarin agak lama karena sedang ada proyek pengecoran jalan di beberapa titik.

Turun di terminal Sukorejo, aku langsung menghampiri tukang ojek yang mangkal di depan terminal. Minta diantar ke lokasi yang jadi satu dengan area Rumah Makan Sate H.Subali. Dalam hitungan menit sampailah aku di pelataran rumah makan itu. Dan langsung bergabung dengan embak emak unyu nan jelita yang sedang menyantap hidangan dari mak nyonya rumah. Apa lagi kalau bukan sate dan kerabatnya seperti gule dan tongseng. slruuupp...

Setelah menunaikan hak perut yang mengerang selama perjalanan tadi, kami diajak memasuki area yang dinanti-nanti. Adalah dia Pusaka Tigade, wahana foto tiga dimensi yang kekinian. Jika wahana foto 3 dimensi yang telah ada sebelumnya hanya ada di kota-kota besar macam Jakarta, Bandung, Jokja dan Semarang dan mampu menyedot rasa penasaran siapa pun, aku yakin Pusaka Tigade pun demikian pula. Akan menjadi daya tarik wisata baru, terutama bagi warga setempat dan kota-kota sekitar.

Pusaka Tigade ini telah dilaunching pada Sabtu, 20 Mei 2017 dan diresmikan pembukaannya oleh Wakil Bupati Kendal. Tiket masuk wahana ini sangat murah, hanya Rp 10.000,00 selama masa promo (sebulan) dan setelahnya berlaku harga biasa Rp 20.000,00.

Wahananya sendiri tidak begitu luas, namun obyek gambar yang disediakan cukup banyak dan beragam. Mulai dari patung Hulk dan Hellboy ukuran raksasa, beragam gambar 3D, frame foto besar yang bisa digunakan untuk narsis, kamar terbalik, sampai aneka properti foto yang unik.
 
Jika kalian bingung dengan pose dan ekspresi yang tepat, tenang aja, ada mbak pemandu yang siap membantu mengarahkan. Juga bisa bantu motretin sekalian :)
 
emak pecicilan
spidermom
Tapi lebih seru kalau ke sininya rame-rame bareng keluarga atau temen geng :) bisa eksplor semua gambar yang ada.


Selain gambar 3 dimensi, ada juga action figur dalam ukuran yang sebenarnya. Selain banyak juga action figur mini yang merupakan koleksi ribadi sang pemilik yang penghobi mainan.
 
 

Pusaka Tigade ini digagas oleh mas Choirul Amin (suami mak Fenty) yang sering dipanggil Ruli atau Amin. Sedangkan kreator wahana ini adalah pamannya sendiri, Om Azis.

Di depan wahana ini terdapat taman bermain anak, dan juga beberapa kandang binatang peliharaan adik mas Amin. Si adik hobi memelihara binatang, dari ayam sampai kura-kura. Bahkan binatang yang tak lazim dipelihara seperti buaya pun ada di sini. Juga ada ayam kate, ayam kipas dan kalkun yang mulai langka. Di taman bermain ini disediakan juga mobil mainan yang bisa disewa seharga R 5.000,00 per 15 menit, dan ada juga power balance dengan harga sewa Rp 15.000,00 per 15 menit. Murah banget kan?


Bisa-bisa lupa waktu deh, kalap nyari pose terasik buat dipotret. Pokoknya jangan sia-siain deh, ambil foto sebanyak-banyaknya mumpung ke sini. Jangan kalah sama emak-emak berikut niy. 😛


Setelah dirasa cukup meluapkan hasrat narsis para embak emak ini, Mas Amin mengajak kami melihat bidang usaha Pusaka Grup yang lain. FYI, Pusaka Grup adalah perusahaan keluarga yang dibangun oleh ayahanda Mas Amin, yaitu Bapak HR Mastur, SH, MSi. Sejak muda beliau dikenal sebagai pengusaha yang ulet, cerdas dan tahan banting. Sempat mengalami jatuh bangun dalam merintis dan merawat usahanya. Berkat kesabaran dan manajemen keluarga yang baik, maka bertahanlah Pusaka Grup hingga sekarang dengan jenis usaha meliputi  toko emas, koperasi simpan pinjam, toko busana, toko mainan, toko handphone, stasiun radio, warung sate H. Subali, franchise Rocket Chicken hingga minimarket. Pokoknya melayani setiap sendi kebutuhan dasar manusia. Tak hanya itu, di samping wahana Pusaka Tigade juga terdapat Pusaka Futsal. Dan tak kalah seru, ternyata masih ada sektor usaha Pusaka Grup yang lain adalah peternakan ayam petelur sekaligus pengolahan pakan ayam.
ck ck ck... sungguh keren sekali ya.

bareng blogger gandjel rel
Banyak hal yang aku dapatkan dalam perjalanan setengah hari kemarin dan hasil ngobrol bareng mas Amin. Antara lainnya seperti berikut:
1. Jeli melihat peluang.
Bertempat tinggal di dekat Puskesmas, di mana banyak dirawat anak-anak kecil, mas Amin inisiatif membuka toko mainan. Logikanya, meskipun tak butuh, tapi jika anak sudah ingin beli maka tetap akan beli. Cerdas!
Lalu jika anak sudah beli mainan, jika haus dan lapar, maka disediakan pula di sampingnya Rocket Chicken. Di mana anak yang susah makan akan jadi gampang kalau dibawa masuk ke sini. Yes. Pasti laku. hehe..
2. Usaha dari HOBI
Hobi olah raga, kenapa tidak bikin arena futsal saja. Hobi ngumpulin mainan, kenapa tidak diberdayakan sekalian. Hobi miara binatang, kenapa tidak bikin kebun binatang sekalian. Hobi tersalurkan, orang senang, dapet wawasan, pun rejeki datang. Yak sip!
3. Manajemen yang rapi.
Meski ini usaha keluarga, tidak serta merta jika si anak ingin membuka usaha sesuatu lalu ayahanda begitu saja  mencairkan modal. Tidak. Untuk membuka Pusaka Tigade ini mas Amin sudah sejak tiga tahun lalu menggagasnya lalu mengajukan proposal juga. Dan baru terealisasi di tahun ini.

Nah untuk lebih tahu dalem dalemnya Pusaka Tigade boleh deh intip dulu di video ini.


Ulalaa... tak terasa sore menjelang. Aku harus mengejar bis kembali ke Temanggung. Lelah raga tak terasa, yang ada puas di jiwa. 😚 Kalau ada sumur di ladang, boleh numpang nyuci ya mbokde. Kalau ada umur panjang, jangan ragu main ke Pusaka Tigade *maksa yo ben

mbokde ngadhang bis balik manggung kiye..


PUSAKA TIGADE
Jam buka: 09.00-21.00
Lokasi : Jl. Banaran No. 3 Sukorejo
IG : @pusakatigade

arisan blog

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Mei 26, 2017

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini.

Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya.
Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari, ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya.
Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema yang pas dengan bulan ini, yaitu masakan favorit di saat Ramadhan.
Jika ditanya apa masakan favorit di keluarga saat Ramadhan? Jujur saja aku bingung untuk menjawab seketika. Karena kami sekeluarga doyan masakan apa saja. Asal sudah tersedia di  depan hidung ya sudah, lahap saja. hehe

Tapi memang, dari semua jenis makanan dan minuman, ada beberapa menu yang sering nangkring di atas meja makan warisan eyang uti. Dan berikut ini salah beberapanya :

ES BLEWAH
sumber: wikipedia
Di pasar tradisional di kecamatanku sini, blewah hanya ada di bulan Ramadhan saja. Entah kemana perginya blewah di bulan-bulan lainnya :)
Membuat es blewah ini sangat mudah dan sederhana. Cukup kerok daging buahnya, masukkan ke gelas, ditambah sirup dan es batu. Bisa juga ditambah nata de coco atau kolang-kaling yang sudah direbus dengan air gula. slrruuupp.... segarnya...
Meski sederhana, namun kandungan zat di dalam blewah ini ternyata banyak manfaatnya, lho. Menurut  yang aku baca di wikipedia, buah berkulit tipis ini kaya kandungan mineral kalium, provitamin A, serat dan vitamin C yang bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, menyehatkan fungsi ginjal dan limpa, menurunkan tekanan darah tinggi dan menyembuhkan seriawan. Nah, pas banget kan kalau dikonsumsi saat berbuka puasa.

LOTEK
foto milik: Devi adikku :)
Mirip pecel, hanya bedanya adalah bumbu atau saus kacang lotek dibuat mendadak saat akan disajikan. Sehingga tingkat kepedasan bisa disesuaikan.
Membuat bumbu lotek ini sangat mudah. Cabe, bawang putih, garam, terasi, kencur, daun jeruk purut atau kulitnya sedikit aja dan kacang tanah goreng dihaluskan. Ditambah gula jawa secukupnya, lalu disiram sedikit air asam jawa untuk melarutkan bumbu halus. Setelah itu masukkan sayuran yang sudah direbus, ditambah irisan kol mentah dan timun, lalu dicampur hingga bumbu merata. Sajikan dengan kerupuk. Kalau anakku minta ditambah irisan bakwan atau mendoan.
Kadang aku bikin lotek sendiri kalau tidak malas. Tapi sejak Mak Tin, tetangga sebelah rumah yang buka warung makan, memberi menu tambahan yaitu lotek di bulan puasa, jadilah aku pelanggan setianya. (bilang aja males masak, heheu)
Anak keduaku yang tidak begitu suka makan sayur pun jadi suka sayur jika berbentuk lotek ini. Mungkin karena bumbunya yang sedap itu bikin selera makan meningkat ya.
Selain itu lotek juga masuk kategori makanan sehat. Semua komposisi selain kacang goreng adalah sayur rebus dan bahan mentah. Non msg pula. Jadiii, lotek ini menempati rangking tinggi di daftar menu kami :)

Sedangkan untuk menu sahur biasanya aku pilih yang simpel saja. Bikin sayur yang bisa dihangatkan untuk makan sahur, atau sedia frozen food yang tinggal goreng dan sajikan. Tak kalah penting untuk selalu ada adalah

BUAH
sumber: pixabay
ini harus ada untuk cemilan. Gak harus buah yang mahal sih, seadanya aja di pasar terdekat. Malah kadang kita petik buah murbei depan rumah :)

Jadi seperti yang aku bilang di atas, kami adalah pemakan segala, dan bagi kami gak ada makanan yang gak enak. Yang ada semua makanan itu enak dan enak banget. Apalagi makannya bareng dengan keluarga tercinta.  Pasti nikmat :) Dan penting untuk selalu kami ingat adalah puasa itu saatnya menahan hawa nafsu termasuk keinginan makan ini itu.
Baiklah, semoga cerita  menu sederhana keluarga kami ini bisa memberi manfaat bagi teman semua, ya. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga ibadah kita diterima. Amin.

Apa menu berbuka dan sahur kalian hari ini?

kegiatan

Para Penyandi Menyandi Sepi

Mei 21, 2017

Bulan Mei memang istimewa. Selain bulan kelahiranku :) pada bulan ini ada beberapa peristiwa lumayan penting dalam hidupku yang sayang kalau tak dicatat. Setidaknya bisalah buat cerita ke anak cucu kelak. :) Dan berikut adalah salah satunya.

Terbitnya antologi puisi terbaru
Aku lupa ini antologi yang keberapa. Namun antologi ini mempunyai kesan khusus bagiku. Selain aku bisa sebuku dengan para sahabat perempuan karibku, antologi ini diterbitkan oleh Rumah Budaya Tembi Jokjakarta, di mana Tembi adalah tempat yang pernah kulewatkan di suatu masa hidupku untuk belajar dulu. Itu sebabnya aku antusias menyambut tawaran untuk menulis puisi di antologi ini. Aku rindu Tembi. 

Hingga pada awal bulan kemarin mendapat kabar bahwa antologi ini akan diluncurkan bertepatan dengan malam Sastra Bulan Purnama di Tembi. Tentu saja aku dan beberapa sahabat yang sebuku tak sabar menanti datangnya malam itu :)

Menyandi Sepi
Jumat, 12 Mei 2017 adalah malam Sastra Bulan Purnama yang ke-68. Sastra Bulan Purnama adalah acara rutin yang digelar oleh Tembi Rumah Budaya bagi para pegiat sastra dan seni pertunjukan untuk menampilkan karyanya. Dan malam purnama awal kemarau ini adalah kesempatan bagi kami, 23 penyair dari berbagai kota untuk meluncurkan antologi puisi kami yang berjudul Menyandi Sepi. Judul ini diambil dari judul puisi karya mbak Resmiyati, penyair asal Klaten.

Malam itu betul betul indah. Purnama yang utuh dan bintang bermekaran menghias langit Jokja yang cerah. Desir angin menyampaikan pesan para serangga malam penghuni sawah yang mengitari amphytheater di bagian belakang Tembi Rumah Budaya. Seakan menyambut para penyair dan hadirin yang datang.

Acara malam itu dipandu oleh mbak Umi Kulsum dan dibuka dengan sambutan oleh mas Ons Untoro dari Tembi Rumah Budaya. Dilanjutkan dengan pembacaan puisi dari para pengisi antologi yang dibagi dalam empat segmen. Namun demikian hanya 16 penyair yang hadir pada malam itu.
Mas Ons Untoro

Pada segmen pertama ada mbak Amin Wahyuni dari Secang, mbak Endang Asih Wonodewi dan Mbak Indah Aryati Prawiro keduanya dari Magelang, dan aku sendiri. Kami berempat belum pernah bertemu muka sebelumnya. Bahkan ada yang baru menjadi teman di facebook hari itu juga. Namun seakan sehati, tanpa janjian sebelumnya kostum kami bisa senada, yaitu bernuansa merah. Masyaallah.
merah meruah

Kemudian pada segmen kedua tampil membaca mbak Nella Widodo dan bunda Selsa, keduanya sahabatku dari Temanggung. Ada pula mbak Resmiyati (Klaten) dan mbak Ristia Herdiana dari Jakarta. Tanpa kencan sebelumnya pula kostum mbak Nella dan mbak Resmiyati bernada sama pula. Biru anggun. Sedang bunda Selsa dan mbak Ristia bernuansa putih. Sungguh skenario sang maha pemilik rahasia itu sungguh indah.
segmen kedua yang dahsyat

Pada segmen selanjutnya ada mbak Wint dan bunda Rahayu Tri atau yang lebih akrab disapa Bunda Yayuk, yang keduanya juga adalah sahabat perempuan Temanggung. Dan disusul oleh mbak Watie Respati dan mbak Yuliani Kumudaswari dari Sidoarjo. 
mbak Wint mengharu biru
duo senior hebat yang rendah hati

Kesemuanya membacakan masing-masing dua puisi. Hanya mbak Yuliani yang membaca satu puisi karena dua puisinya telah dilagukan dengan apik oleh Doni Onfire yang melagukan puisi berjudul Yang Telah Lama Tidur dan mas Donas yang melagukan puisi berjudul Hasian.
Doni Onfire n gengs

Reuni
Gelaran Sastra Bulan Purnama tampaknya menjadi magnet tersendiri bagi sastrawan dan seniman Jokja maupun luar Jokja. Terbukti pada gelaran ini banyak dari mereka yang hadir di Tembi. Tak hanya hadir untuk menikmati pertunjukan, namun juga ajang silaturahmi di antar mereka, bahkan reuni. Termasuk para dedengkot Kompasiana yang kebetulan sedang ada acara di Jokja pun berkumpul di tempat ini.

Aku juga senang sekali, karena bisa bertemu kembali dengan seorang aktor dan seniman yang sudah kuanggap simbahku sendiri, mbah Liek Suyanto. Terakhir kami bertemu sekitar sepuluh tahun lalu. Lama banget, ya. Oya, selain beliau aku juga bertemu dengan mas Odi, ponakan yang lama tak bertemu sehingga hampir saling lupa. Bertemu setahun lalu saat acara Halal bihalal keluarga besar. Duh, payah ya kalau sampai lupa sama saudara sendiri :)
bareng mbak Liek Suyanto (foto: FB Nella Widodo)

Malam yang penuh kesan mendalam. Sayang sekali dari tujuh perempuan Temanggung yang bergabung dalam antologi ini, hanya 5 yang bisa menghadiri peluncurannya. Sahabat kami mbak Ika Permata Hati dan mbak Kurnia Setyo Wulansari tidak bisa berangkat karena tugas yang tidak bisa ditinggalkan. 😢
Meski demikian tidak menyurutkan semangat kami untuk total memberikan yang terbaik, termasuk outfit kami yang kompakan berkebaya.

Oiya, memang benar kami berkumpul mencipta puisi hingga membukukan. Namun untuk menyandang gelar sebagai penyair, kami sungguh merasa belum apa-apa. Biarlah kami terus menyandi setiap rasa dan meramunya dalam untaian kata bermakna tanpa harus memakai sandangan atau sebutan apa pun.

Untuk selanjutnya, perkenankan kami narsis 😆😆 Terima kasih telah berkenan membaca.
Salam sastra!

eh, sapa nih?
jeng Nella te-o-pe banged (foto: FB Nella Widodo)
Bunda Yayuk membaca puisi buat suami tercinta (foto: FB Ons Untoro)
Bunda Selsa yang ga pernah mati gaya (foto: FB Ons Untoro)
5 perempuan Temanggung plus Secang :)
mbak Umi dan mbak Riris yang kece badaiii
penonton yang budiman
pada ngapain sih mereka?
mas Ons tetep paling ganteng
syahdu n romantis kaaann?
mie rebus 1 ya, mbak. #eh


 catatan:
seluruh foto dalam postingan ini yang tidak tertera sumbernya adalah milik mbaksay Ristia Herdiana 
thanks a lot ya mbak Ris 😘😘

arisan blog

Pedas Manis Pengalaman Masa Kecil

Mei 20, 2017


 "a smooth sea never make a skillful sailor" (pepatah)

Ya, seorang pelaut tak akan pernah menjadi pelaut yang handal jika dia tak pernah menemui badai. Dia tidak akan belajar bagaimana mengendalikan kapalnya jika tak pernah menghadapi ombak besar. Dia tidak akan pernah tahu tanda-tanda alam yang dikirim Tuhan melalui angin, bintang dan gelombang jika hanya tahu langit cerah dan laut tenang saja.

Ibarat samudera, demikian pula dengan kehidupan manusia. Deru angin, gelombang dan badai adalah pengalaman yang mendewasakan jika tahu cara menaklukkannya. Dan tentunya meninggalkan bekas mendalam sebagai pelajaran.

Dan manusia biasanya akan lebih mudah belajar dan mengingat pelajaran jika berada pada suatu kondisi psikis yang ekstrim. Bisa itu dalam keadaan yang senang sekali atau pun sedih sekali. Itu sebabnya pengalaman masa kecil yang paling ekstrim tentunya akan membekas di hati dan ingatan sepanjang hayat manusia.

Senang dan sedih bagaikan dua mata uang yang tak terpisahkan, mereka akan selalu berdampingan. Tinggal bagaimana kita bisa berdamai dengan keduanya sehingga bisa menjadikan bekal hidup ytang berharga. Menjadikan pengalaman menyenangkan sebagai semangat untuk terus berkarya, dan menjadikan pengalaman menyedihkan sebagai motivasi untuk berusaha sebaik mungkin melindungi anak-anak kita sehingga tidak mendapatkan pengalaman serupa.

Mengenang pengalaman masa kecil baik yang senang maupun sedih, bagiku selalu sukses membuka keran air mata. Karena akan selalu membangkitkan kenangan dengan keempat saudara kandungku yang ajaib (yang kini tinggal di empat kota berbeda) dan kedua orang tua yang unik namun hangat yang keduanya telah wafat. Hiks... kangeenn...

Dari sekian banyak pengalaman senang maupun sedih, ada beberapa potong episode kehidupan kami yang tak bisa lepas dari ingatan. Dan itu malah pengalaman konyol sih menurutku. :) seperti yang berikut ini,

Pagi yang cerah itu aku dan kakak nomor 3 bersepeda riang. Kakak pertama dan kedua entah sudah sibuk bersama teman-temannya. Sementara adik bungsuku tenang di rumah bersama ibu. Aku dan mas Didit bersepeda menjelalah kampung sambil melihat-lihat rumah tetangga, mengamati tanaman dan menyapa teman-teman kami yang banyak.

Mas Didit dengan gaya penelitinya menjelaskan padaku tentang bagian-bagian bunga sepatu. Kebetulan banyak sekali bunga sepatu di sepanjang perjalanan yang kami lewati. Aku yang masih kelas 1 SD waktu itu manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Dia begitu runut saat menerangkan mana kelamin jantan dan mana kelamin betina dari si bunga. Dan aku tetap mendengarkan meski kebingungan.

Lalu sampailah kami di sungai di sebelah timur kampung. Meski sungai agak lebar namun tepinya landai, berpasir dan berbatu. Jadi masih aman untuk bermain anak-anak. Di sana mas Didit mengajak mencari batu apung. Tidak sulit untuk menemukannya. Waktu itu banyak warga kampung yang menggunakan batu apung untuk mengepel dan menghaluskan lantai rumah yang terbuat dari semen. Masih jarang sekali yang menggunakan lantai keramik.
Mas Didit memberitahuku bahwa batu apung ini termasuk batuan beku. Terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras atau membeku selama ribuan tahun. Aku meski tidak tahu apa arti kata magma, beku, vulkanik, dan istilah-istilah lain malah makin kagum dengan kakakku ini. Di mataku dia adalah profesor yang sedang menjelaskan hasil penelitiannya. Tak heran jika di catur wulan sebelumnya mas Didit berhasil meraih juara 1 lomba bidang studi IPA di tingkat kecamatan.
Lelah mencari batu kami beranjak pulang. Tak lupa mengantongi beberapa batu apung. Kata mas Didit akan di berikan pada ibu untuk menghaluskan telapak kaki ibu yang pecah-pecah. :)

Perjalanan pulang tak kalah mengasyikkan. Bersepeda menerobos kebun tetangga supaya tak kena panas matahari. Hingga sampailah kami di depan rumah Bu Saputro, yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah kami, yang halamannya penuh tanaman cabe rawit yang sedang berbuah. Beberapa masih hijau, namun lebih banyak yang sudah berwarna merah. 

sumber gambar: FB Disyak Ayumi

Mas Didit mengajak berhenti sebentar. Dengan gayanya yang sok ahli dia mengamati cabe merah dekat sekali. Sesekali mengendus dan tampak berpikir keras. "Ini cabe merah jenis terbaru, Din," ujarnya padaku.
Aku mendelik tak mengerti. "Iya, ini jenis cabe manis. Cobalah!" dia menyodorkan si mungil merah itu padaku.
Jelas saja aku menolaknya. Meskipun kecil aku kan nggak bisa dibohongin begitu saja. "Emoh, ah, pedas. Ibuk tu kalau beli gorengan ada cabe rawitnya biarpun kecil tapi pedas banget." 
Mas Didit tidak mundur, "La yang di gorengan itu kan hijau rawitnya. Kalau sudah merah gini nih manis rasanya. Wis to, percoyo wae."

Didorong oleh rasa penasaran, masak iya sih ada cabe manis, dan percaya pada sang profesor idola, akhirnya aku menggigit si merah imut itu. Daannn.....

Wuaaaa....... pedaaassss....... panaaaasssss......

Spontan aku berlari meninggalkan mas Didit dan sepedaku. Seluruh bagian mulut dan terutama bibirku terasa terbakar. Sepanjang lariku menuju rumah tak henti aku menangis memanggil ibu. Aku menuju sumur belakang rumah lalu merendam bibirku dalam ember air.

Ibu berusaha menolongku dengan memberikan segelas air hangat. Wajahnya tampak menahan senyum. Aku tak peduli. Hatiku yang tadi penuh rasa kagum kini berganti dendam. Bagaimana mungkin seorang profesor bisa salah. Ah, pasti mas Didit sengaja membohongiku. Huh! Ingin aku memukulnya, melampiaskan kekesalanku.

Namun begitu melihat dia pulang dengan membawa dua sepeda dan diceramahi ibu di depan rumah, dendamku hilang seketika. Apalagi dia sudah nyengir kuda sambil minta maaf padaku.

Sekarang, kalau kami mengenang tragedi ini pasti akan tertawa bersama. Tak jarang pula dia mengolokku. Haha..., tapi peristiwa ini memberiku sebuah pelajaran. Jangan mudah percaya pada orang yang kamu kagumi. :) :)

Tidak begitu juga, sih, tapi yang terpenting adalah batas antara 'tidak tahu' dan 'berani' itu sangat amat tipis. Haha, gak penting juga...

Selamat mengenang masa kecil kalian. Diingat yang hepi-hepi saja ya, yang sedih jadikan pelajaran aja. Makasih ya teh Nia Nurdiansyah dan mbak Anjar Sundari yang memberi tema ini di #arisanbloggandjelrel @gandjelrel tarikan pertama. Semoga bermanfaat :)

Salam.

sang profesor-aku-adik bungsu :)


  







Nongkrong Asik Ditemani Snack n Dessert-nya HokBen

Mei 13, 2017

Hai, manteman...,
Pasti sudah gak asing kan dengan HokBen? Itu loh, resto penyedia makanan bergaya Jepang yang sudah terkenal seantero negeri. Nah, pada 1 Mei kemarin aku dan teman-teman bloger Gandjel Rel Semarang berkesempatan nongkrong bareng dan mencicipi menu snack dan dessert terbaru dari HokBen, tempatnya di HokBen Paragon Mall Semarang. 

Tentunya seneng banget, karena awal bulan yang libur nasional karena bertepatan Hari Buruh, aku dapat ijin dari anak-anak dan suami untuk meet up bareng ibu-ibu cantik nan semringah di resto yang udah ngehits sejak jaman aku kecil dulu. Hah? HokBen udah ada sejak aku kecil? Iyalah, kan April kemarin HokBen sudah menginjak usia matang yaitu 32 tahun.

Sekilas tentang sejarah HokBen
Pada awal berdirinya  tanggal 18 April 1985 dulu bernama Hoka-Hoka Bento, terletak di daerah Kebon Kacang Jakarta.
sumber: hokben.co.id

Lalu pada tahun 1990 pertama kali membuka cabang di Bandung, kemudian di Surabaya pada tahun 2005. Tidak berhenti di sini, pada tahun 2010 Hoka-Hoka Bento memperluas wilayah jangkauan hingga ke Jokjakarta, Jawa Tengah (Semarang dan Solo) juga Bali. So, jangan khawatir kesulitan mencari outlet Hokben sekarang karena sudah ada di banyak kota.

Sesuai dengan misinya yang menyediakan solusi bagi pelanggan dengan menu makanan bergaya Jepang yang berkualitas, Hoka-Hoka Bento selalu memperbaiki tampilan, penawaran, pelayanan dan nuansa yang lebih segar dan bersahabat, maka pada tahun 2013 Hoka-Hoka Bento beralih nama menjadi HokBen sehingga lebih simpel diucapkan dan mudah diingat.

Snack, drink and dessert
Jika dulu HokBen identik dengan main course atau menu makan besar, kesininya HokBen meluncurkan menu snack dan dessert sehingga bagi pelanggan yang tidak hendak makan besar pun tetap bisa #nongkrongasyik bareng teman dan keluarga di HokBen.

Awal kehadiran kami, mas-mas kru HokBen yang ramah langsung menyuguhkan edamame,  yang merupakan produk lokal dari Jawa Timur. Jadi setelah dipanen, edamame segera diolah dengan air panas yang lalu dibekukan secara cepat dengan pengolahan yang higienis. Ngemil edamame ini ibarat snacking with no worries, karena rendah lemak dan tinggi protein.

Lanjut ke dessert terbaru, kami dikenalkan dengan HokBen New Rising Stars. Dan mereka adalah
 
sumber: FB Hoka-Hoka Bento
Sakana Sticks dengan dua varian rasa yaitu original dan seaweed topping. Finger foods ini merupakan olahan ikan yang dibalur dengan tepung khas HokBen. Dijamin ini akan jadi favorit anak-anak. 
sumber: hokben.co.id

Ocha Lychee Tea diciptakan untuk menghilangkan dahaga dan memberikan kesegaran alami, karena teh hijau yang menyehatkan dipadu dengan buah leci segar. Bak oase di tengah panasnya kota Semarang :)
sumber: hokben.co.id

Yang tak kalah sexy dan menggoda adalah dessert yang berupa duo soft puding. Adalah mereka Soft Puding Mango yang terbuat dari buah mangga asli dan Soft Puding Taro yang ungunya juga asli dari ubi  ungu. Namun sayangnya duo soft puding ini baru ada di outlet HokBen Jabodetabek saja, mengingat semua produk diolah di Jakarta dan puding ini merupakan olahan yang tidak tahan lama karena semua dari bahan alami dan tidak mengandung pengawet.
sumber: hokben.co.id

sumber: hokben.co.id

Selain kelima bintang baru tersebut ada juga snack yang lain. Kami sempat juga mencicipi Tori, potongan dada ayam tanpa lemak yang dibalur tepung dan dimasak dengan deep frying oil. Ini juga kesukaan anak-anak banget. 


 


 Masih ada lagi Takoyaki, yaitu makanan berbentuk bola-bola kecil dengan isian potongan bayi gurita. Jangan geli dulu ya bayangin bayi gurita yang unyu unyu, karena ini beneran enak dan bergizi tinggi. Aman kok dimakan :)
sumber: hokben.co.id

Selanjutnya ada Shumai Steam, produk olahan udang dan ayam yang dibungkus dengan kulit pangsit dan dimasak dengan cara dikukus.
sumber: hokben.co.id

Sedangkan Shumai Furai, produknya sama persis dengan shumai steam, hanya bedanya digoreng dengan deep frying oil.
sumber: hokben.co.id

Gimana snacks dari HokBen ini? Nyamnyam banget kan? Etapi masih ada lo dessert lain yang tak kalah menggelora. Apasih?
Ada Es Sarang Burung yang berisi agar-agar dan buah kelengkeng disiram dengan air gula dan taburan es serut. mmm, jadi makanan penutup yang segaar...
sumber: hokben.co.id

Dan masih ada satu lagi dessert yang unik, yaitu Es Ogura yang berisi kacang merah dan disajikan dengan air gula dan santan dan ditambah es serut. Gurih, manis, segar...
sumber: hokben.co.id
Gimana, lezat bukan snack dan dessert dari HokBen ini? Dan tentunya sehat juga alami.
Oiya, bagi yang masih ragu dengan kehalalannya, jangan ragu lagi ya, karena HokBen telah mengantongi sertifikat halal dari MUI.

Dan bagi yang ingin menikmati menu-menu HokBen dengan cara yang lebih praktis, bisa menggunakan layanan pesan antar HokBen dengan menghubungi call center HokBen di 1-500-505, atau pemesanan online di www.hokben.co.id, atau bisa juga melalui App HokBen yang bisa diunduh di Play store.

Bagi kalian yang ada di Semarang bisa mengunjungi outlet HokBen yang ada di Paragon Mall atau HokBen Mal Ciputra.
Jadi kalau mau nongkrong asik dan seru bareng keluarga, sahabat maupun kerabat, di HokBen aja! Lidah bergoyang, perut kenyang, hati pun senang... :)

bareng temen-temen blogger Gandjel Rel Semarang
jadi kapan ke sini lagi?