Pedas Manis Pengalaman Masa Kecil

Mei 20, 2017


 "a smooth sea never make a skillful sailor" (pepatah)

Ya, seorang pelaut tak akan pernah menjadi pelaut yang handal jika dia tak pernah menemui badai. Dia tidak akan belajar bagaimana mengendalikan kapalnya jika tak pernah menghadapi ombak besar. Dia tidak akan pernah tahu tanda-tanda alam yang dikirim Tuhan melalui angin, bintang dan gelombang jika hanya tahu langit cerah dan laut tenang saja.

Ibarat samudera, demikian pula dengan kehidupan manusia. Deru angin, gelombang dan badai adalah pengalaman yang mendewasakan jika tahu cara menaklukkannya. Dan tentunya meninggalkan bekas mendalam sebagai pelajaran.

Dan manusia biasanya akan lebih mudah belajar dan mengingat pelajaran jika berada pada suatu kondisi psikis yang ekstrim. Bisa itu dalam keadaan yang senang sekali atau pun sedih sekali. Itu sebabnya pengalaman masa kecil yang paling ekstrim tentunya akan membekas di hati dan ingatan sepanjang hayat manusia.

Senang dan sedih bagaikan dua mata uang yang tak terpisahkan, mereka akan selalu berdampingan. Tinggal bagaimana kita bisa berdamai dengan keduanya sehingga bisa menjadikan bekal hidup ytang berharga. Menjadikan pengalaman menyenangkan sebagai semangat untuk terus berkarya, dan menjadikan pengalaman menyedihkan sebagai motivasi untuk berusaha sebaik mungkin melindungi anak-anak kita sehingga tidak mendapatkan pengalaman serupa.

Mengenang pengalaman masa kecil baik yang senang maupun sedih, bagiku selalu sukses membuka keran air mata. Karena akan selalu membangkitkan kenangan dengan keempat saudara kandungku yang ajaib (yang kini tinggal di empat kota berbeda) dan kedua orang tua yang unik namun hangat yang keduanya telah wafat. Hiks... kangeenn...

Dari sekian banyak pengalaman senang maupun sedih, ada beberapa potong episode kehidupan kami yang tak bisa lepas dari ingatan. Dan itu malah pengalaman konyol sih menurutku. :) seperti yang berikut ini,

Pagi yang cerah itu aku dan kakak nomor 3 bersepeda riang. Kakak pertama dan kedua entah sudah sibuk bersama teman-temannya. Sementara adik bungsuku tenang di rumah bersama ibu. Aku dan mas Didit bersepeda menjelalah kampung sambil melihat-lihat rumah tetangga, mengamati tanaman dan menyapa teman-teman kami yang banyak.

Mas Didit dengan gaya penelitinya menjelaskan padaku tentang bagian-bagian bunga sepatu. Kebetulan banyak sekali bunga sepatu di sepanjang perjalanan yang kami lewati. Aku yang masih kelas 1 SD waktu itu manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Dia begitu runut saat menerangkan mana kelamin jantan dan mana kelamin betina dari si bunga. Dan aku tetap mendengarkan meski kebingungan.

Lalu sampailah kami di sungai di sebelah timur kampung. Meski sungai agak lebar namun tepinya landai, berpasir dan berbatu. Jadi masih aman untuk bermain anak-anak. Di sana mas Didit mengajak mencari batu apung. Tidak sulit untuk menemukannya. Waktu itu banyak warga kampung yang menggunakan batu apung untuk mengepel dan menghaluskan lantai rumah yang terbuat dari semen. Masih jarang sekali yang menggunakan lantai keramik.
Mas Didit memberitahuku bahwa batu apung ini termasuk batuan beku. Terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras atau membeku selama ribuan tahun. Aku meski tidak tahu apa arti kata magma, beku, vulkanik, dan istilah-istilah lain malah makin kagum dengan kakakku ini. Di mataku dia adalah profesor yang sedang menjelaskan hasil penelitiannya. Tak heran jika di catur wulan sebelumnya mas Didit berhasil meraih juara 1 lomba bidang studi IPA di tingkat kecamatan.
Lelah mencari batu kami beranjak pulang. Tak lupa mengantongi beberapa batu apung. Kata mas Didit akan di berikan pada ibu untuk menghaluskan telapak kaki ibu yang pecah-pecah. :)

Perjalanan pulang tak kalah mengasyikkan. Bersepeda menerobos kebun tetangga supaya tak kena panas matahari. Hingga sampailah kami di depan rumah Bu Saputro, yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah kami, yang halamannya penuh tanaman cabe rawit yang sedang berbuah. Beberapa masih hijau, namun lebih banyak yang sudah berwarna merah. 

sumber gambar: FB Disyak Ayumi

Mas Didit mengajak berhenti sebentar. Dengan gayanya yang sok ahli dia mengamati cabe merah dekat sekali. Sesekali mengendus dan tampak berpikir keras. "Ini cabe merah jenis terbaru, Din," ujarnya padaku.
Aku mendelik tak mengerti. "Iya, ini jenis cabe manis. Cobalah!" dia menyodorkan si mungil merah itu padaku.
Jelas saja aku menolaknya. Meskipun kecil aku kan nggak bisa dibohongin begitu saja. "Emoh, ah, pedas. Ibuk tu kalau beli gorengan ada cabe rawitnya biarpun kecil tapi pedas banget." 
Mas Didit tidak mundur, "La yang di gorengan itu kan hijau rawitnya. Kalau sudah merah gini nih manis rasanya. Wis to, percoyo wae."

Didorong oleh rasa penasaran, masak iya sih ada cabe manis, dan percaya pada sang profesor idola, akhirnya aku menggigit si merah imut itu. Daannn.....

Wuaaaa....... pedaaassss....... panaaaasssss......

Spontan aku berlari meninggalkan mas Didit dan sepedaku. Seluruh bagian mulut dan terutama bibirku terasa terbakar. Sepanjang lariku menuju rumah tak henti aku menangis memanggil ibu. Aku menuju sumur belakang rumah lalu merendam bibirku dalam ember air.

Ibu berusaha menolongku dengan memberikan segelas air hangat. Wajahnya tampak menahan senyum. Aku tak peduli. Hatiku yang tadi penuh rasa kagum kini berganti dendam. Bagaimana mungkin seorang profesor bisa salah. Ah, pasti mas Didit sengaja membohongiku. Huh! Ingin aku memukulnya, melampiaskan kekesalanku.

Namun begitu melihat dia pulang dengan membawa dua sepeda dan diceramahi ibu di depan rumah, dendamku hilang seketika. Apalagi dia sudah nyengir kuda sambil minta maaf padaku.

Sekarang, kalau kami mengenang tragedi ini pasti akan tertawa bersama. Tak jarang pula dia mengolokku. Haha..., tapi peristiwa ini memberiku sebuah pelajaran. Jangan mudah percaya pada orang yang kamu kagumi. :) :)

Tidak begitu juga, sih, tapi yang terpenting adalah batas antara 'tidak tahu' dan 'berani' itu sangat amat tipis. Haha, gak penting juga...

Selamat mengenang masa kecil kalian. Diingat yang hepi-hepi saja ya, yang sedih jadikan pelajaran aja. Makasih ya teh Nia Nurdiansyah dan mbak Anjar Sundari yang memberi tema ini di #arisanbloggandjelrel @gandjelrel tarikan pertama. Semoga bermanfaat :)

Salam.

sang profesor-aku-adik bungsu :)


  







You Might Also Like

30 komentar

  1. Aku senyum membaca ceritamu. Mbak!! Apakah setiap Dini tuh selalu berkakak Didit?? Kalian berdua tuh sama denganku. Aku Didit Sang Kakak dan beradikkan Dini. Kami selalu mengatakan 2Di. Nama kalian persis sama dengan nama kami. Didit & Dini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oya? hihii... kalau kami 3D: Didit Dini Devi (si adek bungsu)

      Hapus
  2. Aduh..kasihan sekali mbak Dini, itu kakaknya maksudnya hanya bercanda atau emang ngerjain mbak?:)

    Saya anak sulung dan punya adik laki-laki tapi nhgak akrab. Kami punya hobi dan teman masing-masing. Di rumahpun lebih suka bertengkar, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Anjar, si kakak maksudnya sih cuma bercanda. tapi kelewatan. hahaaa

      Hapus
  3. bayangin mbak dini rendeman di ember, kepedesaaan...
    lucu ya masa kecil kalau diingat

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang kurendem sih mulutku doang mbak Indri, hahaa... iya mengingat masa kecil bikin cenat cenut.. :))

      Hapus
  4. Wakakak, aku ngakak bacanya Mbak (tapi ora karo guling2) jiyah.. modus kui yak e haha, modus rung ngerti tapi sok tahu. Dan yakin deh itu buat Mas Didit pasti pelajaran berharga, opo buat Mbak Dini, kapok lombok Mbak? :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. woh iya mbak, pelajaran buat keduanya. tapi ya besok nya lali, saling iseng mengisengi lagi. hihi

      Hapus
  5. The awesome sister, hold and growth by her brother experienc.
    Gemas saya baca ini. Rasa kagum terhadap seseorang memang mendorong rasa percaya yang besar. Terlebih jika diimbuhi rasa cinta, ditipu pun ikhlas rasanya. Dengan itu, kita belajar banyak hal termasuk memaafkan orang lain dan diri kita sendiri. So, keep writing my beloved.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks a lot my dear... tapi kayanya aku yang mudah ditipu deh emang, haha

      Hapus
  6. Keeping touch...
    😄😄😄😄

    BalasHapus
  7. Hahahaaa... profesor iseng itu namanya.

    BalasHapus
  8. Iseng banget abangmu :D. Aku g punya abang sih.. Tp dulu ada tetangga sebelah rumah yg aku anggab abang sendiri.. Wkt lg main Kita ketemu pohon jarak yg ada buahnya.. Si abang ini bilangnya itu kacang wkwkwjwj.. Jd lah kita berdua makanin buah jarak sampe banyak.. Malamnya kami berdua masuk ugd krn sakit perut parah hahahaha... :D

    Kdg kalo inget masa lalu slalu bisa bikin kangen pgn balik ke masa itu ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yolooh... ngeri banget mainannya, UGD loh taruhannya. hehe, tapi emang namanya anak-anak sering nekat ga mikir akibatnya ya.. :))

      Hapus
  9. MBak Din, aku jadi penasaran sama kakakmu itu hahahah
    kenalin mba Din :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. beneran mau kenal? diisengin lo ntar.. wkwkwk

      Hapus
  10. Kakakmu gokil bgt mbak..aku pernah juga diisengin bulekku kyk gitu ktnya g pedas ternyata nasi gorengnya pedes bgt..karena aku juga ndak suka pedas sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. dia masih suka usil sampe sekarang mbak..

      Hapus
  11. lucu ya masa kecil nya, berendem gitu hhe

    BalasHapus
  12. Lha bathuk e Mas e momong gitu re, mulane pinter. Pinter ngerjain Adike juga. Hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nonong kok jadi momong hahaha

      Hapus
    2. iyo, nonong selebar bandara. eh, dulu dia lengganan juara cerdas cermat lo, Ika. kok jadi inget postinganmu tentang lomba anak-anak SD itu :)

      Hapus
  13. Haahahhaha kok bisa cabe dicicipi itu lhooo. Kocaakk bener

    BalasHapus
  14. Hahahaha sumpah ini kocak banget..kamu kok lugu banget to mbak dhin :D

    BalasHapus
  15. Hahaaa masmu ncen iseng yo Mb Din. Sama nih sama masku (sekarang dah alm), jaman cilikan dulu mosok aku disuruh ngicipi lugut. Tau kan ma lugut, itu semacam serabut yg bikin gatal yg biasa nemplek di tanduran. Lha mendah piye akibate nek takturuti :D Dimana2 mas emang iseng kekgitu kalik ya.

    BalasHapus