ASUS E202, Teman Kreatif Si Unschooler

Juni 22, 2017


http://www.uniekkaswarganti.com/2017/05/ASUS-E202-blog-competition-produktif-dan-kreatif-di-mana-saja-dengan-notebook.html

Gaess, gimana perasaan kita sebagai orang tua jika tiba-tiba anak kita mogok sekolah sama sekali. Sedih, bingung, bertanya-tanya dan tentunya berusaha mencari sebab dan solusinya, ya. Ho oh, begitu pun yang terjadi dengan Dio anak keduaku.

Di saat anak-anak lain berusaha supaya diterima di SMP Negeri, nah Dio yang jelas jelas sudah berstatus menjadi siswa SMP Negeri selama sebulan, pada suatu hari menyatakan keinginannya untuk tidak bersekolah. Duengg!! Emak pening seketika. Mana uang seragam hasil ngutang dawis belum lunas pula. hoho

Waktu ditanya kenapa ga mau sekolah malah dia balik nanya, "Ada ga sih sekolah yang mulainya jam 8 gitu? kenapa harus jam 7 sih?" err... emangnya sekolahan nenek lu?

Atau di hari lain dia nanya lagi, "Buk ada ga sih sekolahan yang ga ada matematikanya? Boleh olah raga sama nggambar terus?" ngg... emak puyeng, nak.

Beragam usaha diupayakan supaya dia mau kembali ke sekolah. Koordinasi dengan pihak sekolah terutama guru BK juga hasilnya nol. Dio kekeh dengan pendiriannya. Lalu kami konsul dengan teman-teman psikologi. Malahan kami yang dimarahi eh, disaranin. "Harusnya bapak itu seneng anaknya udah menunjukkan minatnya, ngapain dipaksa ke sekolah?" Yes, horee... Dio girang banget.

Deal, jadilah sejak itu kami, aku dan Dio jadi partner belajar di rumah dan di mana saja. Aku belajar untuk menghilangkan kosa kata 'sekolah' di hadapan Dio. Dan belajar mengganti kalimat 'mengapa gak mau sekolah' dengan 'mas Dio pengen belajar apa.' And it's worked.

Dio makin terbuka dengan keinginannya untuk mempelajari suatu hal. Dan minat terbesarnya adalah fotografi, videografi, animasi dan editing. Segala hal yang berbau itu membangkitkan keingintahuannya. Tapiii, untuk memfasilitasi passion dia kan ya lumayan juga. Kata pepatah Jawa: jer basuki maya beya yang artinya setiap usaha membutuhkan biaya/pengorbanan. Ya untungnya Dio bisa pakai kamera bapaknya dan berbagi komputer dengan emaknya.
belajar ngesyuting

Tapi ya gitu deh, berhubung ini komputer dudul berkapasitas rendah, kadang bukannya mendukung proses belajar Dio tapi malah mengajak latihan kesabaran dan tahan napas.. :) sebagai emak melihat gitu kadang sedih juga. Pengen banget bisa kasih sarana belajar buat anak yang memadai, mengingat melihat semangat dan usahanya. Jadi selain berdoa dan berusaha, aku juga berandai-andai bisa memberi Dio sebuah notebook yang cucok mendukung kegiatan Dio sehari-hari. Dan sepertinya semua harapanku itu ada pada ASUS EeeBook E202.

Kenapa eh kenapa aku jatuh hati pada notebook ini? karena eh karena beberapa faktor keren berikut ini.

Desainnya yang simpel dan elegan, siap digunakan kapanpun dan dimanapun karena ringan, cuma 1,21kg, dan gak lebih besar dari kertas ukuran A4, dapat dengan mudah masuk ke dalam tas dan gak terlalu berat buat tubuh Dio yang kurus ceking :)


ASUS EeeBook E202 ini seakan mengerti banget dengan pribadi Dio si penyuka biru. Karena notebook yang hadir dalam versi Windows 10 dan juga DOS ini tersedia dalam 4 pilihan warna kece yaitu Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge.

Warnanya apik apik yaa... aku pengen deh seandainya Dio bisa memiliki si Dark Blue sesuai kepribadiannya.

Kegiatan belajar Dio tuh banyakan di luar rumah. Weekend adalah puncak belajar Dio karena bisa hunting foto ditemani bapaknya yang cuma ketemu sabtu minggu saja. Nah seandainya dia punya notebook, kan bisa tuh, sehabis motret langsung bisa disimpan dan diproses meski sedang di luar rumah. Kerennya ASUS EeeBook E202 ini, meski mungil tapi menggunakan processor Intel hemat daya yang menawarkan masa aktif baterai hingga 8 jam dan memiliki port USB 3,1 Type-C yang sangat menghemat waktu karena USB dapat dicolok dengan berbagai arah colokan yang reversible setiap saatnyadan kecepatan transfer USB 3,1 ini lebih cepat 11x dibanding USB 2,0. 


Notebook unyu ini memiliki teknologi akurasi warna yang secara otomatis disesuaikan dengan display setting optimal untuk semua gambar yangada sehingga hasil lebih kaya dan warna lebih dalam. Selain itu juga memiliki fitur 2 kualitas audio yang terbaik, dan speaker yang menghadap depan sehingga membuat proses belajar Dio lebih asyik.


Dalam menggali ilmu di bidang yang disukainya ini, kebanyakan Dio mendapatkan dari browsing internet dan youtube. Nah, akan lebih mudah lagi jika kesampaian memiliki ASUS EeeBook E202ini karena notebook satu ini bisa bikin berselancar lebih cepat dengan teknologi Wi-Fi terbaru 802.11ac yang memiliki kecepatan hampir 3 kali lipat dari 802.11n, makanya itu sangat cocok untuk browsing, download dan streaming video.

Jadi begitulah, Gaes, harapan emak dari anak unschooler yang alhamdulillah tahun ini keterima di sebuah lembaga akademi animasi. Semoga harapan emak memberi Dio notebook terwujud sehingga Dio pun makin semangat dan mantap meraih mimpinya. Aamiin.


Blog Competition ASUS E202 by uniekkaswarganti.com




arisan blog

Kawan Lama yang Awet Hingga Kini

Juni 19, 2017

Halo Tina mamanya Frozen Kuro  dan mbak Nurul sang pemenang arisan blog Gandjel Rel episode ke 4,
okey, aku akan menjawab tantangan kalian yang memberi tema gampil gampil susyil ini: SAHABAT.

pixabay.com
Terus terang aku bingung banget mau nulis apa tentang sahabat ini. Soalnya aku bingung, antara gak punya sahabat, tapi juga semua temanku yang buwanyak ini juga sahabatku. Jadi bingung nih, mau cerita yang mana. haish mbulet sendiri....

Oke deh, dari sekian juta sahabat dalam hatiku, ada satu nama yang tak pernah lepas dari ingatan dan ikatan. Sebut saja dia Bunga. eh, enggak..., sebut saja inisialnya S, dan nama panggilannya adalah Septin. (trus apa guna inisial, Din?!)

Dia ini adalah teman sekelas waktu aku pernah mengenyam pendidikan di kota pelajar dulu, selain itu juga kami tetangga kos yang akhirnya jadi teman sekosan. Kenapa namanya selalu terpatri di hati? Ya karena banyak banget kisah haru bin konyol yang kami lalui bersama. (sesungguhnya ini aib yang tak layak diketahui sih πŸ˜‹)

Awal perkenalan kami enggak banget deh. Meski sekelas, kami sama sama tidak tahu kalau sekelas. Meski tetanggaan kosan, kami juga gak nyadar kalau kos kami deketan. Aslinya sih kami sama-sama kuper. 

Jadi pada suatu siang yang hangat, sehabis kuliah, aku pulang ngebis kota. Padahal sih kalau jalan dekat juga, tinggal lewat  boulevard, bunderan, nyebrang lalu lewat depan rumah sakit panti rapih dan masuk gang samping rumah sakit udah sampai. Tapi sebagai mahasiswi baru yang norak karena di kampung ga ada bis kota, maka pulanglah aku naik bis kota yang rutenya mengelilingi kampus dulu baru turun di depan gang samping rumah sakit.

Nah waktu aku loncat turun dari bis, badanku menyenggol seorang cewek yang melangkah gontai berjalan seorang diri. Lalu mata kami bertatapan, dan muncullah getar-getar cinta di dada... ish, ngaco. enggak gitu ceritanya. Yang bener tu kami bertatapan lalu saling melempar senyum. Entah kenapa kok masing-masing kami saling nebak, ini pasti anak kuliahan baru. Dan ternyata bener. Lalu kami jalan bareng masuk gang sambil kenalan dan berpisah di tikungan selanjutnya.

Sejak itu kami sering berangkat dan pulang barengan. Sering dolan bareng namun gajelas arahnya. Sering nongkrong di gramedia bareng.  Pokoknya sering menghabiskan waktu bersama hingga akhirnya kami tinggal sekosan. Dan menurut pengakuan dia di kemudian hari, waktu pertama kali dia lihat aku, dia kira aku adalah cowok gondrong seperti kesukaannya waktu itu. "Hampir saja aku fall in love at the first sight, lo, Din padamu," katanya. Iya sih dulu aku suka pake celana jins, T-shirt dan kemeja flanel. Terus rambutku yang ikal panjang cuma diikat karet. Plus sepatu kets. Begitulah sehari hari. Sangat bertolak belakang dengan dia yang meski ngejins tapi tetap pingin tampil cantik.

Semakin hari kami makin kompak gak jelasnya, meskipun kami berdua diliputi perbedaan di segala hal. Aku yang jorok dan males bersih bersih sering kena omel dia si tukang bersih-bersih. Aku kadang males ngomong, karena kupikir tatapan mata saja sudah penuh makna, sebaliknya dia cerewet berjuta aksara. Aku selalu santai ngadepin apa pun, tapi dia selalu mengedepankan kepanikan. Terutama kalau lihat mahkluk gondrong di depan mata. πŸ˜†meski agama kami waktu itu berbeda, itu pun tidak menjadikan penghalang kami untuk bersahabat.

Justru perbedaan-perbedaan itu membuat kami semakin kuat dan saling memberi pengaruh yang kadang positif tapi kadang juga negatif. hihi
Darinya aku belajar maskeran dan merawat tubuh, belajar tentang disiplin dan tanggung jawab terhadap diri sendiri, sampai belajar gimana caranya menelpon meski telpon rumah dalam keadaan terkunci. Ini curang banget, soalnya itu telpon rumah bapak kos. *jail banget ya.
Sedang dariku dia belajar selow menghadapi kenyataan, belajar menghargai orang lain, sampai belajar nulis puisi. setdah, baik baik kan pengaruhku.. kikiikk

Aku inget, waktu itu ramadhan tahun 1996. Aku tidur di kosnya. Teman-teman kos sudah mulai mudik. Aku memang sudah berniat akan menemani dia bangun sahur dan berpuasa meski aku waktu itu belum beragama islam. Sebelum tidur kami memasang alarm weker jam 3 pagi. Namun seperti malam-malam yang tlah berlalu, kami gak bisa menghentikan bibir yang senam nyerocos terus. Hingga lewat tengah malam dan kelelahan kami ketiduran. Jam 3 saat weker nyaring berbunyi kami memaksa mata melek dan menyeret langkah ke warung makan di belakang kos. Beruntung meski nyawa belum terkumpul sepenuhnya kami berhasil membeli masing-masing sebungkus nasi dan ga nyasar ke kosan orang. Kami membuka bungkusan di lantai kamar sahabatku ini. Dia dengan perhatian mengambilkan minum buat kami berdua. Sedang aku yang sudah makan beberapa suap dan memegang telur balado bisa-bisanya tertidur dengan posisi duduk. Aku tersadar saat mendengar ketawanya yang ngakak keras, "Din, telurmu ngglundhung...!" *mak gragap lalu nututi telur, eman eman πŸ˜…

Lain waktu kami keluar bersama. Berboncengan sepeda motor keliling kota ga jelas lagi. Hanya mengusir kejenuhan yang sering kami undang sendiri. (piye sih, diundang lalu diusir?) Sekadar menikmati jalanan Jokja yang waktu itu belum seramai sekarang, itu sudah bikin bahagia. Apalagi kalau dapet kenalan cowok manis *uhuk. Melewati jalan Malioboro, kami lurus saja, tahu diri bo kantong lagi cekak makanya ya lewat aja. Lurus ke selatan, belok kiri, kanan, kiri, ketemu perempatan. Dari jauh tampak lampu menyala merah. Sudah ada beberapa motor yang berhenti. Aku memelankan motor, dan memilih berhenti tepat di sebelah kiri motor yang ditunggangi dua cowok lumayan kece. Melihat perluang seperti itu sinyal tebar pesona kami sontak menyala. Sambil kaki dan tanganku mengerem manja, aku dan Septin seolah-olah ngobrol cantik sambil senyum dan melirik ke kanan kami. seettt.... motor berhenti pelan persis di samping cowok itu, dan kedua kakiku turun menapak bumi. Tiba-tiba...
Aaawww.... cowok di sebelah kami menjerit lepas. Ternyata oh ternyata, kakiku yang berbalut sepatu menginjak kakinya yang bersandal jepit tralala... 
Septin ngakak, aku bingung minta maaf. Untunglah itu hanya sesaat. Rasa maluku diselamatkan oleh lampu hijau.
 
Persahabatan kami begitu bahagia, meski tidak melulu cerita bahagia yang kami rasakan. Sering pula kami berbagi cerita duka. Dan untunglah kami masing-masing punya pundak yang kuat untuk saling bersandar.

Septin dan aku kini, meski jarak dan kesibukan masing-masing telah memisahkan kami, namun hati kami tetap saling terpaut. Bagaikan saudara kembar yang memiliki ikatan batin sedemikian kuat, tak jarang aku tiba-tiba kepikiran tentang dia, dan ternyata pada saat yang sama dia sedang dalam keadaan yang kurang baik.

Aku sangat bersyukur telah mengenalnya dan mempunyai dia di sebagian hidupku. Banyak hal yang kami bisa pelajari bersama. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang cita-cita dan kesetiaan. Dan tentang apa saja. Malam ini yang ku ingin bilang, aku rindu kamu, Sep. Semoga Allah selalu melindungi kamu dan lelaki kecilmu.

Duh, dengerin lagu Oppie Andaresta yang ini jadi inget kamu banget deh Sep...

 Apakah kabar kawan lamaku
Masihkah seperti yang dulu
Mari sini peluklah aku
Lepaskan semua rindumu
Banyak kisah yang terlewatkan
Tanpa kehadiran dirimu
Duduk sini dekat denganku
Habiskan waktu bersamaku
Sampai dimana jalanmu
Masihkah mengejar mimpimu
Jangan pernah lupakan aku
Karena asik kumpulkan batumu
Satu persatu tumpukan batumu
Kan menjelma jadi rumahmu
Yang suatu saat jadi pelabuhanmu
Dan aku singgah jadi tamumu
Mari mainkan lagu kesukaan kita
Ceritakan cerita kesenangan kita
Mari mainkan lagu kesukaan kita
Ceritakan cerita kesenangan kita

Nah, kan, tadi bilangnya susah nulis tentang sahabat. Ternyata malah jadi panjang dan baper sendiri kan.. hihi
Kalau kamu, apa cerita tentang sahabatmu?
 

cerita si bocah

Terima Kasih, Nak, Selalu Kaugenggam Kejujuran Itu

Juni 13, 2017

Aku sedang di dapur siang itu saat sulungku pulang sekolah. Tanpa berganti baju terlebih dulu dia menyusul ke dapur dan menyergapku dengan rentetan ceritanya sepanjang sekolah. Seperti biasa begitu. Namun lain dengan cerita siang itu.

***

Utit menyeka keringat di dahinya. Udara Temanggung yang biasanya sejuk mendadak membuat seisi kelas kegerahan. Utit menatap erat lembar soal di depannya, lalu menulis jawaban yang diyakininya benar. Ulangan IPS di jam terakhir itu memaksa otaknya mengingat bacaan tentang perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dari penjajah.

Kasak kusuk dari teman-temannya mulai terdengar. Sebuah bisikan meminta jawaban tajam menuju telinganya. Utit berusaha mengabaikan. Dia sendiri masih belum berhasil menyelesaikan seluruh soalnya. Utit melirik pak Joko yang duduk tenang di kursi guru, seakan tidak melihat beberapa muridnya yang saling tengok mencari jawaban.

Bisikan-bisikan itu berubah menjadi gumaman yang mendengung saat pak Joko beranjak keluar kelas. Entah akan ke ruang guru atau ke kamar kecil. Yang pasti pak Joko keluar begitu saja setelah berpesan pada anak-anak untuk tetap tenang. Namun yang terjadi sebaliknya.

Beberapa anak perempuan dengan sigap menarik buku catatan dan menulis dengan cepat di lembar jawab. Anak laki-laki yang tidak membawa atau malah tidak punya catatan pun tak kalah tangkas, melihat lembar jawab temannya lalu menulis di lembar jawabnya sendiri. Ruang kelas V yang hanya berisi duapuluhan anak itu mendadak gaduh.

Utit terperanjat dengan pemandangan di depannya itu. Sepanjang pengalamannya bersekolah dia belum pernah melihat ada drama pencontekan yang dilakukan oleh seisi kelas. Baru kali ini, di sekolah yang baru beberapa bulan dia menjadi muridnya dia menemui peristiwa yang sangat mengejutkan hatinya.

Ria teman sebangkunya mencolek, "Sudah buka saja bukumu cepat." Utit menggeleng bimbang. Dia tak mau berbuat curang seperti temannya, hatinya melarang keras. Tapi melihat beberapa soal yang pasti tidak akan terjawab, Utit merasa sayang. Tapi kembali batinnya melarang, sekelebat bayangan wajah ibu dan kata-kata yang selalu diulang ibu "kerjakan sebisamu, yang penting kamu jangan sampai mencontek. ibu mau anak ibu jujur. itu saja," mengiang di lubang telinganya.  Namun demi melihat teman-temannya sudah mulai menyelesaikan tugasnya, entah dorongan dari mana tangan Utit menarik dan membuka buku catatannya dan menyelesaikan dengan cepat soal ulangannya.

"Sudah selesai?" suara pak Joko saat melangkah masuk kelas. "Sudah, Pak..." jawab seisi kelas serempak. Lalu pak Joko mengajak anak-anak mengoreksi jawaban dengan saling menukarkan lembar jawaban denga teman sebelahnya.

Utit berhasil menuntaskan pekerjaannya. Tapi dia merasa ada yang hilang dari dirinya. Hatinya gelisah selama mengoreksi jawaban temannya. Setelah selesai mengoreksi, pak Joko memanggil satu per satu anak ke mejanya untuk diberi nilai.

Teman-teman Utit yang telah menerima kembali kertas ulangan yang sudah dibubuhi nilai saling senyum karena nilai yang lumayan bagus. Sebaliknya Utit hanya membelas dengan senyum kecut. Keringat dingin mulai menyembul di setiap pori-pori tubuhnya. Jantungnya berdegup semakin kencang, hingga akhirnya giliran dia maju ke meja pak Joko.

Utit menyerahkan kertasnya. Pak Joko mengamati sebentar lalu tangan kanannya yang menggenggam bolpen merah siap menggoreskan angka di kertas itu. Sejurus kemudian, "Pak, beri saja saya nilai nol."
Kalimat lirih Utit menghentikan gerakan tangan pak Joko. Setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya, mata pak Joko menatap lekat wajah bulat Utit seakan bertanya kenapa.

"Beri saja saya nilai nol, Pak, karena tadi saya sudah mencontek dari buku ..." Utit mengulang kembali ucapannya. Pak Joko terdiam, matanya berkaca-kaca  mendengar pengakuan anak muridnya yang tak diduganya itu. Selama ini beliau tahu bahwa muridnya sering mencontek saat ulangan namun dia hanya menegurnya sekali dua kali. Dan tak pernah sekali pun mendapati mereka mau mengakui kesalahannya. Tapi ini, si anak baru yang bertubuh kurus lemah ini, begitu berani mengakui kesalahannya dan malah minta hukuman dengan nilai nol. Pak Joko tertegun, lalu memberi angka seratus bulat di kertas ulangan Utit. Lalu tersenyum manis pada Utit. "Terima kasih, ya," Pak Joko menyerahkan kembali kertas ulangan pada Utit.  

***

"Malah pak Joko bilang makasih sama aku, Buk," kata Utit menutup ceritanya. Ada kelegaan luar biasa dalam suaranya. Aku tak bisa berkata-kata. Dadaku penuh segala rasa. Khawatir, lega, bangga juga haru teraduk menyatu. "Alhamdulillah, Nduk, kamu masih kuat menjaga kejujuran itu. Makasih, ya, Kak Utit." kupeluk erat tubuh kurus anakku.

Kisah nyata ini sudah berlalu hampir lima tahun lalu. Namun kami masih selalu mengenangya. Dan harus mengenangnya sebagai pelajaran bagiku sendiri. Supaya tak mudah goyah dengan segala macam rayuan kemudahan yang hanya akan menggulingkan tembok kejujuran.

Fakta yang terjadi saat itu menurut pengakuan anakku, teman-temannya sering berbuat curang seperti itu. Pak guru bukannya tidak mengetahui, tapi ya sebatas hanya mengingatkan tanpa sanksi. Jadilah mereka anak-anak yang longgar, merasa perbuatan salahnya itu adalah hal biasa. Dan jadilah aku satu-satunya orang tua murid yang 'lebay', sering usul sering protes. Tapi syukurlah guru-guru lain bisa mengerti keberatanku. Dan yang kutahu kemudian, saat kenaikan kelas pak Joko pindah mengajar di SD lain. Aku mengerti, pak Joko sebenarnya bukanlah guru yang tidak bertanggung jawab, namun mungkin saat itu beliau sedang banyak pekerjaan lain sehingga kurang konsen mendampingi  anak-anak.

Doaku selalu bagi anak-anakku dan juga seluruh anak di muka bumi ini, semoga kalian selalu berani menjadi anak yang jujur.


arisan blog

Yang Paling Aku Kangenin adalah....

Juni 04, 2017

Hai,gimana puasanya? Semoga puasanya lancar dan berkualitas, ya.
Alhamdulillah saat tulisan ini dibuat sudah masuk hari ke sembilan Ramadhan. Puasa anak-anak juga sejauh ini tanpa kendala. Cuaca Temanggung juga sangat bersahabat. Tidak dingin sekali atau pun panas. Hanya beberapa kali si bungsu berkata lapar, dan itu wajar. Terlebih saat dia mengatakan itu tidak terkesan mengeluh, hanya mengungkakan yang dirasakan. Setelah itu lanjut menyibukkan diri dengan buku-buku dan bonekanya.

Kedua kakak yang beranjak abegeh pun untuk urusan puasa dan ibadah alhamdulillah sudah lebih paham. Meski ada juga hal-hal yang tetap harus emak ingatkan. Misal terlalu asyik membaca sehingga azan tidak terperhatikan, nah di sini kita gak boleh lelah untuk selalu mengingatkan.

Puasa kali ini bertepatan dengan ulangan akhir semester sehingga anak-anak pulang lebih awal, dengan demikian kuantitas kruntelan kita di rumah lebih panjang. Dan keadaan ini sangat menguntungkan emak karena ada 3 tenaga tambahan untuk membantu mengurus pekerjaan domestik emak. hahaa

Ya, meski puasa tapi pekerjaan tidak lantas berkurang, dong. Rumah dan segala isinya tetap butuh sentuhan, termasuk penghuninya. Jadi untuk urusan nyapu ngepel lantai ini urusan si tengah. Dia mengerjakan ini setelah kakak dan adiknya berangkat sekolah. Eh, kadang dia juga bantu nyuci piring loh, meskipun cowok tapi luwes juga dia. hehe

Sedang kakak dan adik akan turun tangan setelah pulang sekolah. Kakak lebih suka bersih bersih kamar, ngelap lap segala permukaan dan lipat-lipat baju. Sedangkan si adek bisa dipastikan akan main-main dulu bareng boneka dan Bobby the cat πŸ˜ƒdan ini akan mengundang teriakan si kakak karena adek sering lalai merapikan kembali mainannya. Tapi ada satu kegiatan yang akan menyatukan ketiganya. Yaitu saat emak memasak.

Yes, kesibukan nguplek di dapur menyiapkan hidangan buka selalu menarik minat mereka. Syukurlah, dengan begitu emak bisa bertingkah selayaknya komandan. 
"Kupasin bawangnya, ya, dek."
"Kak, tolong panasin minyaknya dulu."
"Mas Dio, bikin nasinya jangan kebanyakan air, ya."
bla bla bla... berantakan, tapi semua gembira...

pic: pixabay

Tapi kemarin sore waktu kita masak bareng, tiba-tiba suasana membeku saat adek berkata, "Buk, inget gak, pas dulu bikin kue sama eyang uti, terus kuenya keras ga bisa dimaem?" adek nyengir.
Glek *emak sereten tiba-tiba

Jadi ceritanya, ramadhan beberapa tahun lalu, ibu mertua a.k.a yanguti ingin bikin widaran, kue kering tradisional semacam telur  gabus manis. Aku belum pernah membuat widaran sebelumnya. Yanguti yang memang jarang turun ke dapur dari muda juga hanya mengingat-ingat resep yang dulu pernah beliau ketahui.
Jadilah aku hanya nurut ingatan eyang saja, menyiapkan bahan-bahan, lalu kami bersama nguplek seluruh bahan itu dengan mantap, mengolahnya dan menggorengnya. Sambil menunggu hasil gorengan itu dingin, adek yang kala itu belum berpuasa ingin mencicipi. Bolehlah. Lalu dia mengambil sebatang kue sebesar jari kelingking itu, dan menggigitnya. "Uuuuhhh... kok keras, Buk?" keluhnya.
Masak sih? penasaran aku mencoba mematahkan kue itu dengan jariku, dan ternyata memang keras. Usut punya usut,  ternyata Yanguti salah resep. Seharusnya tepung yang digunakan adalah tepung ketan, tapi kami pakai tepung beras. Hahah. 

Ya, celetukan si adek dan kenangan lucu itu sanggup membuat suasana beku sesaat. Tiba-tiba hati jadi melow menyadari kenyataan bahwa Yanguti kini sudah tidak ada di antara kami. Dulu tidak hanya anak-anak yang ikut ribut di dapur, tapi Yanguti juga antusias membantu, meski hanya mengupas bawang atau memotong sayuran sambil mulutnya terus mengurai cerita. 

Keriangan itu, keceriaan itu, sungguh aku rindu. Kami rindu kebersamaan sederhana tiga generasi itu. Tiga generasi yang kadang bisa saling mendebat namun mendadak bisa juga kompak satu suara. Yanguti, kami rindu saat kita duduk bersama di atas lincak dapur. Kita bersama meramu makanan yang nantinya kita nikmati bersama saat berbuka puasa, sambil berbincang tentang perasaan dan harapan-harapan yanguti terhadap kami. Dan doa doa mengekori harapan harapan itu. Yanguti, semoga kami bisa mewujudkan harapan-harapan itu. Semoga.

Udah ah, jangan diterus terusin, nanti aku mewek dewe jadinya. Gini nih, kalau menjawab tantangan tema 'sesuatu yang paling kamu kangenin' yang dilempar ibu Kenzie, Alley dan mbak Rizka Alyna yang menang tarikan #arisanbloggandjelrel periode 3. 
Dua ibu muda yang ternyata masih sodaraan itu bisa aja ya ngasih tema yang bikin baper seketika. Yuk, ah, move on. Tetap semangat berpuasa, berusaha dan berdoa ya gaess...

Eh baidewe, kalau kamu, sesuatu apa paling kamu kangenin? πŸ˜‰