Yang Paling Aku Kangenin adalah....

Juni 04, 2017

Hai,gimana puasanya? Semoga puasanya lancar dan berkualitas, ya.
Alhamdulillah saat tulisan ini dibuat sudah masuk hari ke sembilan Ramadhan. Puasa anak-anak juga sejauh ini tanpa kendala. Cuaca Temanggung juga sangat bersahabat. Tidak dingin sekali atau pun panas. Hanya beberapa kali si bungsu berkata lapar, dan itu wajar. Terlebih saat dia mengatakan itu tidak terkesan mengeluh, hanya mengungkakan yang dirasakan. Setelah itu lanjut menyibukkan diri dengan buku-buku dan bonekanya.

Kedua kakak yang beranjak abegeh pun untuk urusan puasa dan ibadah alhamdulillah sudah lebih paham. Meski ada juga hal-hal yang tetap harus emak ingatkan. Misal terlalu asyik membaca sehingga azan tidak terperhatikan, nah di sini kita gak boleh lelah untuk selalu mengingatkan.

Puasa kali ini bertepatan dengan ulangan akhir semester sehingga anak-anak pulang lebih awal, dengan demikian kuantitas kruntelan kita di rumah lebih panjang. Dan keadaan ini sangat menguntungkan emak karena ada 3 tenaga tambahan untuk membantu mengurus pekerjaan domestik emak. hahaa

Ya, meski puasa tapi pekerjaan tidak lantas berkurang, dong. Rumah dan segala isinya tetap butuh sentuhan, termasuk penghuninya. Jadi untuk urusan nyapu ngepel lantai ini urusan si tengah. Dia mengerjakan ini setelah kakak dan adiknya berangkat sekolah. Eh, kadang dia juga bantu nyuci piring loh, meskipun cowok tapi luwes juga dia. hehe

Sedang kakak dan adik akan turun tangan setelah pulang sekolah. Kakak lebih suka bersih bersih kamar, ngelap lap segala permukaan dan lipat-lipat baju. Sedangkan si adek bisa dipastikan akan main-main dulu bareng boneka dan Bobby the cat πŸ˜ƒdan ini akan mengundang teriakan si kakak karena adek sering lalai merapikan kembali mainannya. Tapi ada satu kegiatan yang akan menyatukan ketiganya. Yaitu saat emak memasak.

Yes, kesibukan nguplek di dapur menyiapkan hidangan buka selalu menarik minat mereka. Syukurlah, dengan begitu emak bisa bertingkah selayaknya komandan. 
"Kupasin bawangnya, ya, dek."
"Kak, tolong panasin minyaknya dulu."
"Mas Dio, bikin nasinya jangan kebanyakan air, ya."
bla bla bla... berantakan, tapi semua gembira...

pic: pixabay

Tapi kemarin sore waktu kita masak bareng, tiba-tiba suasana membeku saat adek berkata, "Buk, inget gak, pas dulu bikin kue sama eyang uti, terus kuenya keras ga bisa dimaem?" adek nyengir.
Glek *emak sereten tiba-tiba

Jadi ceritanya, ramadhan beberapa tahun lalu, ibu mertua a.k.a yanguti ingin bikin widaran, kue kering tradisional semacam telur  gabus manis. Aku belum pernah membuat widaran sebelumnya. Yanguti yang memang jarang turun ke dapur dari muda juga hanya mengingat-ingat resep yang dulu pernah beliau ketahui.
Jadilah aku hanya nurut ingatan eyang saja, menyiapkan bahan-bahan, lalu kami bersama nguplek seluruh bahan itu dengan mantap, mengolahnya dan menggorengnya. Sambil menunggu hasil gorengan itu dingin, adek yang kala itu belum berpuasa ingin mencicipi. Bolehlah. Lalu dia mengambil sebatang kue sebesar jari kelingking itu, dan menggigitnya. "Uuuuhhh... kok keras, Buk?" keluhnya.
Masak sih? penasaran aku mencoba mematahkan kue itu dengan jariku, dan ternyata memang keras. Usut punya usut,  ternyata Yanguti salah resep. Seharusnya tepung yang digunakan adalah tepung ketan, tapi kami pakai tepung beras. Hahah. 

Ya, celetukan si adek dan kenangan lucu itu sanggup membuat suasana beku sesaat. Tiba-tiba hati jadi melow menyadari kenyataan bahwa Yanguti kini sudah tidak ada di antara kami. Dulu tidak hanya anak-anak yang ikut ribut di dapur, tapi Yanguti juga antusias membantu, meski hanya mengupas bawang atau memotong sayuran sambil mulutnya terus mengurai cerita. 

Keriangan itu, keceriaan itu, sungguh aku rindu. Kami rindu kebersamaan sederhana tiga generasi itu. Tiga generasi yang kadang bisa saling mendebat namun mendadak bisa juga kompak satu suara. Yanguti, kami rindu saat kita duduk bersama di atas lincak dapur. Kita bersama meramu makanan yang nantinya kita nikmati bersama saat berbuka puasa, sambil berbincang tentang perasaan dan harapan-harapan yanguti terhadap kami. Dan doa doa mengekori harapan harapan itu. Yanguti, semoga kami bisa mewujudkan harapan-harapan itu. Semoga.

Udah ah, jangan diterus terusin, nanti aku mewek dewe jadinya. Gini nih, kalau menjawab tantangan tema 'sesuatu yang paling kamu kangenin' yang dilempar ibu Kenzie, Alley dan mbak Rizka Alyna yang menang tarikan #arisanbloggandjelrel periode 3. 
Dua ibu muda yang ternyata masih sodaraan itu bisa aja ya ngasih tema yang bikin baper seketika. Yuk, ah, move on. Tetap semangat berpuasa, berusaha dan berdoa ya gaess...

Eh baidewe, kalau kamu, sesuatu apa paling kamu kangenin? πŸ˜‰ 

You Might Also Like

6 komentar

  1. Huum aku pun kangen almarhumah nenekku mbak din ☺

    BalasHapus
  2. Aku jadi kangen Ibu yang seneng bikin kue2 dan emilan buat lebaran, huhuu

    BalasHapus
  3. waaa...mbah putriku yg dari ibu masih...paling setahun bs ketemu berapa kali doang kalo pas mudik ke jogja..yg dari bapak jg sdh seda...jadi kangen sayur kluwihnya simbah :(

    BalasHapus
  4. Kebersamaan itu selalu jadi hal paling dirindukan ya :) aku jadi ingat alm. Bapak, almh. Ibu dan almh. Adik.. Hiks.. Lebaran diisi dengan nyekar tiga org terpenting dlm hidup :(

    BalasHapus
  5. Ahh jadi kangen sama almarhumah mbahku, masih sering nangis sendiri aku mba kalo teringat

    BalasHapus
  6. Aku jadi ingin bikin widaran mbak. Biasana dulu bange, ibuku pasti bikin wajik bandung sama widaran ini 4 kaleng besarrrr. Buat dibawa ke Mbahku :(

    BalasHapus