cerita si bocah

DOES University, Dendam Masa Lalu yang Membuka Jalan Masa Depan

Juli 29, 2017

Dulu tidak ada yang mendengar dan mengerti passion saya, maka sekarang saya harus mendengar dan mewadahi mimpi adik-adik saya. (Erix Soekamti)

Saya rasa sebagian besar manusia di belahan bumi mana pun di Indonesia ini mengenal nama tersebut. Erix Soekamti adalah vokalis dan bassist grup band beraliran punk asal Yogya, Endank Soekamti.

Sejak dua tahun lalu Erix Soekamti (akrab dipanggil Mas Erix)  membuka sebuah sekolah animasi gratis untuk anak-anak berbakat di Indonesia, DOES University. Nama DOES sendiri diambil dari vlog kesehariannya yang diunggah di youtube, Diary Of Erix Soekamti. 

Sekolah Animasi DOES University menerapkan sistem karantina bagi muridnya dengan harapan supaya siswa lebih fokus belajar tanpa terkontaminasi hal lainnya. Seluruh biaya sekolahnya gratis, yang ada hanya biaya patungan untuk makan para siswa.

Lama belajar di sini pada awalnya adalah satu tahun meliputi 6 bulan belajar lalu 6 bulan mengajar adik kelasnya. Setelah itu dibebaskan kepada para lulusan untuk memilih lahan kerjanya sendiri. Boleh terus bekerja di sini atau di perusahaan animasi lainnya. Atau malah membuka perusahaan sendiri, dan itu sangat bagus.
Namun menyesuaikan dengan makin meningkatnya siswa dan lakunya lulusan sebelumnya yang banyak dipinang perusahaan animasi lain,  pada penerimaan generasi terakhir ini, maka lama kontrak belajar yang harus dilalui siswa lebih panjang, yaitu 18 bulan. Namun sepertinya malah banyak yang senang dengan kebijakan ini. 

Generasi pertama hanya menerima 10 murid, lalu meningkat 40 murid, hingga pada generasi keempat ini menerima 100 murid. Jurusan baru pun ditambah pada generasi keempat ini. Jika sebelumnya hanya ada jurusan animator, maka sekarang dibuka jurusan modeller dan compositor.
Mas Erix menyambut orang tua dan siswa DOES Gen 4

Sebagai gambaran, modeller adalah orang yang membuat figur awal sebuah tokoh. Lalu animator memberi nyawa, sehingga bisa bergerak sesuai cerita yang dikehendaki. Dan supaya bisa menjadi sebuah hasil yang utuh untuk dinikmati, seorang compositor bertugas menyempurnakan dengan memberi sentuhan akhir (efek, dsb).

Syarat utama mendaftar DOES University adalah mempunyai passion yang kuat, atas kemauan sendiri dan mendapat ijin dari orang tua. Sekolah ini menerima semua anak berbakat dari seluruh pelosok negeri tanpa batasan umur dan strata sekolah. Pada generasi keempat ini ada siswa termuda, 14 tahun dan ada juga yang sudah sarjana S1. 

Ketika ditanya mengapa mas Erix mau menerima anak umur 14 tahun, inilah jawabannya "Karena waktu saya seusia itu dulu tidak ada yang mau mendengar dan menerima passion saya, makanya sekarang saya harus mendengar dia."

Saya ingin menumbuhkan kesadaran yang tinggi pada mereka sehingga tidak perlu lagi ada aturan. Karena aturan hanya akan membatasi kreativitas. (Erix Soekamti)

Hidup dalam asrama yang mengharuskan anak-anak berpisah dengan orang tuanya tak jarang membuat sebagian besar orang tua khawatir. Bagaimana nanti makannya, cuci bajunya, pergaulannya, hingga bagaimana ibadahnya. Apalagi melihat tampilan Mas Erix yang gahar penuh tato dan tindikan. Udah pasti banyak ortu yang jiper, haha. 

Tapi justru di sinilah orang tua lalu belajar memberi kepercayaan pada anaknya. Asalkan anak-anak sudah dibekali pendidikan akhlak yang baik dari dalam keluarganya, maka mereka akan bisa menjaga dirinya dan luwes menyesuaikan dengan keadaan. 

Jadwal belajar yang padat dengan sistem target harian, suasana berkarya yang tinggi dan aura persaudaraan yang kental dan menyenangkan, itu cukup menjaga kewarasan anak-anak hingga tidak sempat melakukan hal-hal negatif.

Untuk bisa mewujudkan itu semua, pihak sekolahan berusaha menumbuhkan kesadaran positif para siswa sehingga meminimalkan aturan. Hingga pada akhirnya tidak ada aturan sama sekali karena kesadaran itu sudah tertanam dalam diri masing-masing. 

Terbukti di generasi sebelumnya, anak-anak yang mendapat kepercayaan penuh dari orang tuanya mampu beradaptasi dengan baik dan berusaha menyelesaikan masalah mereka sendiri. Saya mendapat cerita dari seorang ibu yang dua putranya belajar di sini, "Kalau ada anak yang merasa kesulitan tidak bisa menyelesaikan tugasnya maka teman-temannya yang lain mendukung supaya dia semangat kembali. Dan itu berhasil." 
Kampus DOES University di Ungaran

Bidang animasi adalah sebuah lahan dimana dibutuhkan kekuatan kerja kelompok yang solid. Jadi di sekolah ini hampir tidak ada kompetisi pribadi yang cenderung negatif, melainkan aura berkarya positif yang saling dukung.

Kenapa butuh kerja kelompok yang solid? Karena untuk membuat sebuah tayangan animasi berdurasi 15 detik saja butuh waktu produksi seharian. Bayangin kalau itu sebuah animasi berdurasi 30 menit, maka butuh waktu 4 bulan penggarapan. Itu sebabnya makin banyak animator yang terlibat maka makin cepat pula sebuah karya dihasilkan.

Dan tuntutan kebutuhan inilah yang ditangkap secara cerdas oleh seorang Erix. Di saat animasi sangat dibutuhkan oleh pasar, namun industri animasi tidak siap dan SDM tidak tersedia. That's why Mas Erix membuka sekolah ini.

Lalu kalau belajar di sekolah ini gratis, dari mana biaya operasional sekolah berasal? Dari pemberdayaan komunitas massa yang mereka miliki. Contohnya dengan menjual merchandise dengan harga yang layak. Jadi para pembeli tidak hanya membeli kesenangan untuk dirinya sendiri, namun juga telah berkontribusi memberi napas kehidupan DOES University. Juga dari para donatur yang peduli.

Sekolah ini juga merupakan perwujudan dendam masa lalunya dimana dia dipaksa belajar sesuatu yang bukan passionnya dan hanya membuatnya berontak.  Itu sebabnya DOES University berusaha mewadahi orang-orang yang punya passion dan sudah memilih jalan hidupnya sendiri, dengan hanya mengajarkan apa yang mereka sukai sesuai bakatnya. 

Dengan demikian makin dekat dengan tujuan dasarnya yaitu membuat orang yang tidak bisa menjadi hidup mandiri. Sesuai dengan slogan mereka,

"Mandiri dalam bekerja, Merdeka dalam berkarya"

Penasaran dengan siswa termuda DOES University? Tunggu tulisan berikutnya.

jalan-jalan

Menemukan Ketenangan dan Belajar Budaya di Kampoeng Mataraman

Juli 22, 2017

Apa yang biasa dirindukan setelah lelah bekerja memacu otak dan otot? Kalau saya rindu ketenangan dan kehangatan sebuah rumah. Termasuk penghuni rumah, suasananya hingga masakan rumah. Semuanya adalah satu kesatuan. 

Sama seperti ketika hari Minggu, 16 Juli 2017 lalu, saat saya dan teman-teman Temanggung yang melakukan perjalanan wisata enterpreneur ke Jogjakarta, diajak oleh panitia untuk kembali merasakan suasana ketenangan rumah itu di Kampoeng Mataraman.

Kampoeng Mataraman adalah sebuah desa wisata yang terletak di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dinamakan Kampoeng Mataraman karena mengangkat tema jaman Mataram Islam Kuno. Desa wisata ini didirikan di atas tanah kas desa seluas 6 hektar, dan merupakan kerjasama antara aparatur desa setempat dengan Tim Bumdes Panggung Lestari. Harapannya bisa mengangkat perekonomian desa dengan membrdayakan penduduk setempat.


Memasuki wilayah Kampoeng Mataraman ini kita seakan ditarik kembali ke peradaban Jawa jaman dulu. Suasana alam pedesaan yang sejuk dan ramah sangat menguasai. Pengunjung yang datang langsung disambut oleh beberapa warga dengan balutan busana Jawa di gerbang yang terbuat dari rangkaian bambu.

Ada tiga bangunan utama di sini, yaitu dua rumah joglo yang bisa digunakan untuk menyantap makanan atau sekadar bersantai, bahkan bisa juga sebagai tempat pertemuan, dan sebuah dapur tradisional. 


Dalam dapur ini terdapat sebuah meja untuk menyajikan menu makanan, sebuah meja untuk meracik dan menyajikan minuman, sebuah dipan untuk meracik bahan masakan dan sebuah rak kayu yang dalam bahasa Jawa disebut paga di sudut dapur. Sedang di bagian belakang adalah tempat memasak yang masih menggunakan tungku tradisional (anglo) dengan bahan bakar kayu.


Saat datang kami langsung diarahkan untuk masuk ke dapur ini. Tak pelak lagi teman-teman yang sudah menahan lapar tanpa ragu mengambil dan menyantap makanan yang sudah disediakan. Menu siang itu adalah nasi putih, sayur lodeh kluwih, ikan-ayam-tempe goreng serta tak ketinggalan sambal yang menggugah selera. 

Di bagian belakang joglo terdapat tanah yang luas tempat anak-anak bisa bermain. Ada juga beberapa kursi kayu di bawah teduh rindang pohon. Sangat nikmat santap siang di bawah pohon dan semilir angin sambil memandang hamparan sawah luas. Dalam hati saya berbisik, ingin rasanya membawa semua keindahan ini pulang ke rumah.

Kampoeng Mataraman yang secara resmi baru dilaunching tanggal 29 Juni 2017 lalu ini setiap hari buka pukul 09.00-21.00. Disini selain bisa menyantap makanan khas desa, bisa juga mencoba permainan tradisonal seperti egrang dan gasing. Yang ingin merasakan memakai baju tradisional yaitu lurik dan kain batik pun bisa menyewa dengan harga Rp 10.000,00 per paket. 
Mengusung ide eduwisata juga, kedepannya di tempat ini pengunjung bisa belajar secara langsung proses menanam padi, membajak sawah hingga panen. Dari keseluruhan sajian di desa wisata ini kita juga banyak belajar adat budaya perilaku masyarakat pedesaan di Jawa pada umumnya.

Rasanya betah berlama-lama di tempat ini. Pikiran jadi adem, hati pun tenang. Namun sedikit saran saya, lebih bagus jika toilet diperbanyak dan dipisahkan untuk pria-wanita. Juga ditambah satu lagi joglo khusus untuk mushola. Sekarang sih sudah ada tempat salat, hanya saja kurang luas.


Puas menikmati seluruh sajian lahir dan batin, kami pulang dengan banyak pelajaran dan harapan. Betapa Allah telah memberi kita modal yang sangat banyak. Fisik dan pikiran yang sehat, budaya nenek moyang, alam yang kaya, waktu luang yang cukup, pertemanan, semua itu modal yang gratis diberkan pada kita. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan potensi yang ada ini menjadi sebuah peluang usaha yang melejitkan kemampuan kita dan menghasilkan milyaran manfaat. #iniPRsaya :) 

Jadi kalau ke Jogja jangan lupa mampir ke Kampoeng Mataraman, ya. Dijamin bakal ketagihan.

Salam lodeh!

Desa Wisata Kampoeng Mataraman Jogja
Jl. Ringroad Selatan No. 92 Bangunharjo Sewon Bantul DIY (Desa Panggungharjo)
Telpon: 08121557766
IG: @KampoengMataraman

arisan blog

Ingin Ajak Traveling Yang Tersayang

Juli 20, 2017

Gak terasa arisan blog Gandjel Rel sudah putaran ke-6 nih. Dan pada etape kali ini yang narik kocokan lalu melemparkan tema "orang yang paling ingin saya ajak traveling' adalah diajeng Winda dan nona Septi. 

Nah kalau ditanya siapa orang yang paling ingin saya ajak traveling jawabnya pasti keluarga. Meskipun hampir tiap akhir pekan kami sering keluar bareng alias traveling jarak pendek, tetep aja menyimpan harapan suatu saat bisa traveling beneran bareng mereka.

Pertama dan utama pengen mengulang masa-masa berduaan bareng suami. Duluuu banget sering kami pergi tanpa rencana dan blusukan dari desa ke desa yang belum pernah kami kunjungi. Seringnya sih boncengan motor. Saya kadang khawatir nyasar. Tapi kata suami, selama di depan mata masih ada jalan terpampang, jangan kawatir nyasar. Kalau nyasar ya tinggal balik kanan saja. Asal bensin di tangki tidak kering saja. :)
Utit di puncak Sindoro, 29 Juli 2017

Lalu pengen jadi partner trekking naik gunung si sulung Utit. Tuh anak meski sekarang baru menginjak 16 tahun tapi sudah dua kali menginjak puncak Sumbing dan sekali Sindoro. Ya maklumlah, anak kaki gunung ya harus bersahabat dengan gunung juga. Tapi sepertinya kalau sekarang ibunya pengen nemenin naik gunung ya idealnya harus menurunkan sekitar 20 kilo lemak yang nyangkut di badan dulu. ekekeek. 
Si anak sih sudah nantangin emak naik gunung bareng. Yaa, ga usah yang tinggi-tinggi dululah. Pengen sih nyobain lagi mengelus lereng gunung Ungaran atau gunung Andong di Kabupaten Magelang yang deket sini. 

Kalau si tengah Dio pernah bilang ke saya kalau pengen bisa ke Jepang. Efek sering lihat NHK TV. Dia jatuh cinta banget sama Jepang. Baiklah, ibu doakan cita-citamu tercapai kelak, Nak. Aamiin. 

Nah kalau keinginan si bungsu Opik ni keren banget. Pengen travelingnya umroh bareng bapak ibu dan kakak kakak. ehm... mak cess... Awal dia punya keinginan seperti itu karena melihat sahabatnya yang abi umminya pergi umroh. Lalu dia bertanya, "Buk, kalau bapak sama ibuk umroh terus aku gimana?" Maksudnya dia galau kalau harus ditinggal seminggu lebih dan hanya bersama kakak-kakaknya saja di rumah. Lalu siapa yang mendampingi mereka? Terus dia bilang lagi, "Mendingan kalau umroh kita sekeluarga saja bareng-bareng." Amiin... Insyaallah, ya, dek, semoga doa kita diijabah Allah. Minta doanya juga ya, teman teman. 

Omong-omong tentang traveling, menurut artikel dan tips dari teman yang gemar traveling, terpenting dari semuanya adalah persiapan. Baik itu jarak jauh maupun dekat sekalipun persiapan harus matang. Persiapan itu antara lain:
1. Tentukan waktu yang tepat untuk bepergian. Biasanya saat liburan akhir semester anak-anak atau libur hari raya bisa dijadikan waktu yang tepat untuk traveling sekeluarga. 
Juga harus mempertimbangkan cuaca. Kalau ingin mengajak anak camping ya usahakan jangan saat musim hujan.

2. Tentukan tujuan yang ingin dikunjungi. Termasuk cari tahu selengkap mungkin tentang tujuan tersebut. Bagaimana akses kesana. Apakah ada penginapan dekat sana dan lain sebagainya. Saya insap deh, gak lagi lagi pergi tanpa rencana kaya dulu lagi. Apalagi sekarang sudah ada anak-anak.

3. Cek kesiapan kendaraan jika bepergian dengan kendaraan sendiri. Jangan sampai nanti pas di tengah perjalanan tiba-tiba mobil mogok karena mobil bermasalah. 

4. Bawa bekal yang disukai dan dibutuhkan anak-anak. Jangan sampai anak kelaparan di tengah perjalanan, hehe. Jangan lupa selalu sediakan air putih.

5. Sediakan obat-obatan pertolongan pertama, seerti obat mual, obat diare, obat demam dan pusing, plester sampai betadin. Kalau saya selalu ada di tas adalah minyak tawon dan minyak kayu putih.

6. Bawa baju ganti secukupnya. Yang penting nyaman digunakan. Perhatikan juga alas kaki atau sepatu. Pakai sepatu yang mendukung dan nyaman untuk jalan.

7. Menabung dari sekarang. Ini adalah persiapan yang mendasar. Jika rencana traveling adalah liburan akhir semester, berarti awal semester seperti ini harus mulai merencanakan pengelolaan keuangan. Gak asik dong ya kalau tiba waktunya liburan dan rencana gagal begitu saja karena gak ada dana. Jangan sampai juga pergi traveling tapi ngutang. jangaaann....

Jadi kira-kira begitu deh persiapan kami kalau mau bepergian. Gak harus yang jauh, asal persiapan matang dan perginya bersama yang tersayang, dijamin asik dan terkenang-kenang. :)

Gimana? Sudah ada rencana traveling ngajak siapa? Jangan sungkan berbagi cerita, ya.









arisan blog

Liburan Terakhir bersama Eyang Kakung

Juli 12, 2017

Desember 2010, Libur akhir semester gasal.

Sehari setelah penerimaan rapor, Utit dan Dio meluncur lebih dulu ke rumah eyangnya di Ambarawa dengan dijemput adikku. Aku dan si kecil Opik menyusul beberapa hari kemudian. Biarlah Utit-Dio dan eyangnya saling melepas rindu tanpa kehadiranku, yang justru sering merusak suasana nyaman mereka dengan aturan-aturanku. Hehe, maklum emak cerewet :)

Meskipun jarak Semarang-Ambarawa cukup dekat, namun aku tidak bisa sering-sering pulang menemui bapak dan ibu. Justru bapak dan ibu lah yang lebih sering berkunjung ke rumah kecil kami di Semarang. Tapi jika hari libur sekolah datang, maka berlibur ke rumah Ambarawa adalah suatu kewajiban. Apalagi libur semester gasal yang selalu bertepatan dengan libur Natal dan tahun baru. Kami biasa melewatkan malam pergantian tahun di rumah masa kecilku.

Utit dan Dio yang kala itu masih duduk di kelas 4 dan 2 SD sangat senang dan betah jika liburan di rumah eyangnya. Maklum, namanya eyang dengan cucu biasanya rasa sayangnya melebihi jika dengan anaknya sendiri. Kasih sayang mereka pun biasanya tanpa syarat. Semua keinginan cucunya berusaha dipenuhi oleh kedua eyangnya. Meski itu melompat dari pagar aturan kami selaku orang tuanya. Biasanya sih masalah jajanan. Tapi sesekali saja aku biarkan, asal itu tidak kelewatan,  toh, liburan mereka juga tidak lama. 

Kevi, sepupu mereka yang lebih kecil juga sudah menunggu. Makin lengkaplah liburan kali itu. Meski kakak sepupu mereka yang lain belum bisa mudik, namun tidak mengurangi kegembiraan mereka. Ada eyang kakung dan eyang putri yang selalu memanjakan mereka.

beberapa cucu eyang

Jelang Natal
Beberapa hari sebelum Natal, eyang kakung sibuk sekali. Sebagai seorang petugas kesehatan di gereja, eyang mempunyai tanggung jawab yang besar. Dari dulu bapakku ini adalah orang yang disiplin dan bertanggung jawab. Beliau selalu memastikan semua tugas yang diamanahkan bisa dikerjakan dengan baik. Termasuk tugas mulia dari gereja ini. 

Jadilah bapak mengerahkan seluruh kemampuan fisik dan pikirannya pada sebelum, selama hingga sesudah perayaan Natal selesai. Hal inilah yang menjadi kekaguman sekaligus kebanggaan kami, anak-anaknya. Juga menjadi inspirasi dan semangat kami. Meski kadang ibu menjadi lebih cerewet mengingat kesehatan bapak juga perlu diperhatikan.

Setelah Natal
Malam Natal dilalui bapak dan ibu hingga larut. Kegembiraan dan suka cita melenyapkan lelah yang menghampiri raga mereka. Keesokan paginya aku datang dengan membawa serta Opik, cucu terkecil waktu itu.

Keceriaan dan tingkah para cucu ternyata cukup manjur mengobati kerinduan eyang mereka. Ibu memasak lontong opor, persis seperti saat lebaran. Bapak pun tak kalah seru, bercengkerama dengan cucu-cucu. Kebahagiaan menimang cucu mewarnai raut wajah kedua orang tuaku yang makin sepuh. Rasa lelah berhari-hari sirna tak terasa. 

Hingga di suatu sore yang cerah, bapak menggiring keempat cucunya ke warung kelontong dekat rumah. Membiarkan setiap anak memilih jajanan kesukaannya. Ada yang mengambil susu kotak, biskuit sampai berbungkus-bungkus permen. Bapak tampak gembira bisa memanjakan cucunya meski dengan cara yang amat sederhana.

Sesampai di rumah, anak-anak berlari naik ke loteng rumah, sedang bapak kembali menekuri mesin ketiknya lagi. Tak berapa lama, bapak memanggil kami dengan suara lemah. Ternyata sesak napas datang menyerang. Aku kaget juga takut karena baru sekali itu melihat bapak sesak napas. Namun dengan sigap ibu mengambil tabung oksigen kecil yang selalu disiapkannya. Beberapa kali bapak berusaha menghirup oksigen dari tabung itu, namun katanya tidak keluar udaranya. Padahal ibu baru membeli beberapa hari yang lalu sebagai persediaan. Sempat terlintas pikiran buruk di kepalaku, namun aku tepis secepatnya.

Adikku memberi segelas air hangat. Ibu mencoba mengganti oksigen baru. Dan alhamdulilah bapak agak mendingan. Aku menyarankan supaya bapak dibawa ke rumah sakit saja, namun beliau menolak dengan gelengan kepala. Bapak hanya ingin berbaring saja di kasurnya.

Yang bisa kulakukan hanyalah memijat pelan kaki beliau sambil menemani ngobrol di kamar. Sesungguhnya yang terjadi adalah aku bicara sendiri dan bapak hanya diam. Kutatap kedua bola matanya yang membuka lemah, tampak kosong. Duh, hatiku gerimis seketika. Sedih melihat bapak sang pengukir jiwa ragaku kini terbaring lemah tanpa daya. Aku tak ingin bapak kenapa-kenapa. Bersyukur beberapa saat kemudian bapak bisa tertidur tenang.

poto terakhir dek Opik bareng eyang, ini pas habis jajan sore itu

Namun tengah malam bapak kembali anfal. Sesak memberatkan rongga dadanya. Ibu berinisiatif membawa bapak ke rumah sakit. Tetangga yang karyawan RSU membantu dengan mengirimkan sebuah ambulans.  Bapak masih bisa berjalan sendiri dan duduk tanpa dibantu ketika masuk ambulans. Ibu dan adikku menemani. Aku menjaga anak-anak sendiri di rumah. Suamiku dan suami adikku kebetulan sedang di luar kota semua. Doa-doaku menyertai putaran roda ambulans yang bergerak cepat.

Sekitar pukul setengah dua malam adikku pulang. Bercerita kalau bapak sudah tenang kembali dan dapat kamar vip. Nanti subuh dia akan kembali ke rumah sakit mengantar baju ganti ibu. Aku nyicil ayem. Lalu kuteruskan ngeloni anak-anak. 

Subuh menjelang. Kulihat adikku masih lelap. Mungkin dia masih kelelahan. Aku masih ingat janjinya semalam, tapi kupikir biarlah nanti aku saja yang mengantar baju ibu sekalian menengok kondisi bapak.

Namun tak lama setelah itu telepon rumah berdering nyaring mengabarkan sebuah berita yang sungguh sangat tak ingin kudengar saat itu. Aku hanya bisa histeris setelah mendengar kabar dari seberang kabel. Tak kuhiraukan lagi suara si penelpon. Raunganku membangunkan seisi rumah. Pagi itu hati kami hancur.  

Subuh di 29 Desember 2010, Tuhan telah memanggil bapak kami tercinta. Tepat di tengah-tengah kebahagiaan liburan anak-anak. Ibu kehilangan suami, kami kehilangan bapak, dan anak-anak kami kehilangan eyang kakung tercinta. Namun kenangan akan beliau tetap abadi di hati kami. Inilah salah satu liburan yang tak akan pernah kami lupakan.

eyang kesayangan yang selalu ceria

**naskah tantangan arisan blog Gandjel Rel putaran kelima, yang idenya dilempar oleh diajeng Muna Sungkar, seorang momtraveler cantik, dan juga yuk Wuri Nugraeni seorang copywriter beken dengan segudang tips unyu berkhasiat. Semoga sehat selalu, ya, Maks... (mirip mbak Ya**lt kalau habis dibeliin) ☺