Liburan Terakhir bersama Eyang Kakung

Juli 12, 2017

Desember 2010, Libur akhir semester gasal.

Sehari setelah penerimaan rapor, Utit dan Dio meluncur lebih dulu ke rumah eyangnya di Ambarawa dengan dijemput adikku. Aku dan si kecil Opik menyusul beberapa hari kemudian. Biarlah Utit-Dio dan eyangnya saling melepas rindu tanpa kehadiranku, yang justru sering merusak suasana nyaman mereka dengan aturan-aturanku. Hehe, maklum emak cerewet :)

Meskipun jarak Semarang-Ambarawa cukup dekat, namun aku tidak bisa sering-sering pulang menemui bapak dan ibu. Justru bapak dan ibu lah yang lebih sering berkunjung ke rumah kecil kami di Semarang. Tapi jika hari libur sekolah datang, maka berlibur ke rumah Ambarawa adalah suatu kewajiban. Apalagi libur semester gasal yang selalu bertepatan dengan libur Natal dan tahun baru. Kami biasa melewatkan malam pergantian tahun di rumah masa kecilku.

Utit dan Dio yang kala itu masih duduk di kelas 4 dan 2 SD sangat senang dan betah jika liburan di rumah eyangnya. Maklum, namanya eyang dengan cucu biasanya rasa sayangnya melebihi jika dengan anaknya sendiri. Kasih sayang mereka pun biasanya tanpa syarat. Semua keinginan cucunya berusaha dipenuhi oleh kedua eyangnya. Meski itu melompat dari pagar aturan kami selaku orang tuanya. Biasanya sih masalah jajanan. Tapi sesekali saja aku biarkan, asal itu tidak kelewatan,  toh, liburan mereka juga tidak lama. 

Kevi, sepupu mereka yang lebih kecil juga sudah menunggu. Makin lengkaplah liburan kali itu. Meski kakak sepupu mereka yang lain belum bisa mudik, namun tidak mengurangi kegembiraan mereka. Ada eyang kakung dan eyang putri yang selalu memanjakan mereka.

beberapa cucu eyang

Jelang Natal
Beberapa hari sebelum Natal, eyang kakung sibuk sekali. Sebagai seorang petugas kesehatan di gereja, eyang mempunyai tanggung jawab yang besar. Dari dulu bapakku ini adalah orang yang disiplin dan bertanggung jawab. Beliau selalu memastikan semua tugas yang diamanahkan bisa dikerjakan dengan baik. Termasuk tugas mulia dari gereja ini. 

Jadilah bapak mengerahkan seluruh kemampuan fisik dan pikirannya pada sebelum, selama hingga sesudah perayaan Natal selesai. Hal inilah yang menjadi kekaguman sekaligus kebanggaan kami, anak-anaknya. Juga menjadi inspirasi dan semangat kami. Meski kadang ibu menjadi lebih cerewet mengingat kesehatan bapak juga perlu diperhatikan.

Setelah Natal
Malam Natal dilalui bapak dan ibu hingga larut. Kegembiraan dan suka cita melenyapkan lelah yang menghampiri raga mereka. Keesokan paginya aku datang dengan membawa serta Opik, cucu terkecil waktu itu.

Keceriaan dan tingkah para cucu ternyata cukup manjur mengobati kerinduan eyang mereka. Ibu memasak lontong opor, persis seperti saat lebaran. Bapak pun tak kalah seru, bercengkerama dengan cucu-cucu. Kebahagiaan menimang cucu mewarnai raut wajah kedua orang tuaku yang makin sepuh. Rasa lelah berhari-hari sirna tak terasa. 

Hingga di suatu sore yang cerah, bapak menggiring keempat cucunya ke warung kelontong dekat rumah. Membiarkan setiap anak memilih jajanan kesukaannya. Ada yang mengambil susu kotak, biskuit sampai berbungkus-bungkus permen. Bapak tampak gembira bisa memanjakan cucunya meski dengan cara yang amat sederhana.

Sesampai di rumah, anak-anak berlari naik ke loteng rumah, sedang bapak kembali menekuri mesin ketiknya lagi. Tak berapa lama, bapak memanggil kami dengan suara lemah. Ternyata sesak napas datang menyerang. Aku kaget juga takut karena baru sekali itu melihat bapak sesak napas. Namun dengan sigap ibu mengambil tabung oksigen kecil yang selalu disiapkannya. Beberapa kali bapak berusaha menghirup oksigen dari tabung itu, namun katanya tidak keluar udaranya. Padahal ibu baru membeli beberapa hari yang lalu sebagai persediaan. Sempat terlintas pikiran buruk di kepalaku, namun aku tepis secepatnya.

Adikku memberi segelas air hangat. Ibu mencoba mengganti oksigen baru. Dan alhamdulilah bapak agak mendingan. Aku menyarankan supaya bapak dibawa ke rumah sakit saja, namun beliau menolak dengan gelengan kepala. Bapak hanya ingin berbaring saja di kasurnya.

Yang bisa kulakukan hanyalah memijat pelan kaki beliau sambil menemani ngobrol di kamar. Sesungguhnya yang terjadi adalah aku bicara sendiri dan bapak hanya diam. Kutatap kedua bola matanya yang membuka lemah, tampak kosong. Duh, hatiku gerimis seketika. Sedih melihat bapak sang pengukir jiwa ragaku kini terbaring lemah tanpa daya. Aku tak ingin bapak kenapa-kenapa. Bersyukur beberapa saat kemudian bapak bisa tertidur tenang.

poto terakhir dek Opik bareng eyang, ini pas habis jajan sore itu

Namun tengah malam bapak kembali anfal. Sesak memberatkan rongga dadanya. Ibu berinisiatif membawa bapak ke rumah sakit. Tetangga yang karyawan RSU membantu dengan mengirimkan sebuah ambulans.  Bapak masih bisa berjalan sendiri dan duduk tanpa dibantu ketika masuk ambulans. Ibu dan adikku menemani. Aku menjaga anak-anak sendiri di rumah. Suamiku dan suami adikku kebetulan sedang di luar kota semua. Doa-doaku menyertai putaran roda ambulans yang bergerak cepat.

Sekitar pukul setengah dua malam adikku pulang. Bercerita kalau bapak sudah tenang kembali dan dapat kamar vip. Nanti subuh dia akan kembali ke rumah sakit mengantar baju ganti ibu. Aku nyicil ayem. Lalu kuteruskan ngeloni anak-anak. 

Subuh menjelang. Kulihat adikku masih lelap. Mungkin dia masih kelelahan. Aku masih ingat janjinya semalam, tapi kupikir biarlah nanti aku saja yang mengantar baju ibu sekalian menengok kondisi bapak.

Namun tak lama setelah itu telepon rumah berdering nyaring mengabarkan sebuah berita yang sungguh sangat tak ingin kudengar saat itu. Aku hanya bisa histeris setelah mendengar kabar dari seberang kabel. Tak kuhiraukan lagi suara si penelpon. Raunganku membangunkan seisi rumah. Pagi itu hati kami hancur.  

Subuh di 29 Desember 2010, Tuhan telah memanggil bapak kami tercinta. Tepat di tengah-tengah kebahagiaan liburan anak-anak. Ibu kehilangan suami, kami kehilangan bapak, dan anak-anak kami kehilangan eyang kakung tercinta. Namun kenangan akan beliau tetap abadi di hati kami. Inilah salah satu liburan yang tak akan pernah kami lupakan.

eyang kesayangan yang selalu ceria

**naskah tantangan arisan blog Gandjel Rel putaran kelima, yang idenya dilempar oleh diajeng Muna Sungkar, seorang momtraveler cantik, dan juga yuk Wuri Nugraeni seorang copywriter beken dengan segudang tips unyu berkhasiat. Semoga sehat selalu, ya, Maks... (mirip mbak Ya**lt kalau habis dibeliin) ☺














You Might Also Like

13 komentar

  1. Aku mberbes mili juga baca postingan ini mbak.. Ya Allah T.T jadi ingat abah .. hikz

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf jadi bikin kamu sedih, Uzha.

      Hapus
  2. Waduh, aku nggak baca sampai akhir Mbak. Nggak tahan air mataku.... maafkan maafkan. Aku eling bapakku

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ya mbak, iya yang masih punya bapak semoga bisa selalu membahagiakan beliau

      Hapus
  3. Mbak..mata ku berkaca kaca, jadi ingeet bapa di rumah hiks. Aku blm siap kalau nanti akan kehilangan org2 terdekat, walau ku sadar semua titipan Allah hiks :(

    BalasHapus
  4. Idem sama relita hiks..ga kebayang rasanya kehilangan orangtua. Doa terbaik buat bapak mbak

    BalasHapus
  5. Semoga kelak di akhirat bisa bertemu lagi dengan bapak ya mbak din, doa untuk bapak 😇

    BalasHapus
  6. seorang bapak selalu adalah super hero buat putrinya...
    Bapak sudah bahagia di surga...

    BalasHapus
  7. turut berduka cita ya mbak...buat bapak mbak Dini...semoga khusnul khotimah

    BalasHapus
  8. aku kangen eyang kakung... dan eyang putri... huhuhu

    BalasHapus
  9. jadi sedih *peluk. Makasih ya dah nulis, mbak

    BalasHapus