arisan blog

Bisnis Rumahan Impianku, Jadi Ibu Kos yang Direktur Bimbel

Agustus 30, 2017

Hai hai, lumayan lama absen ngeblog nih, sampai dikejar-kejar mak admin Gandjel Rel ditagih utang. Duh..
Oke deh mak, sekarang saya mau rajin deh *semoga bukan janji dusta 😌

Jadi di arisan periode 9 nih yang narik tema adalah mbak Wahyu dan Bunsal. Mbak Wahyu nih blogger asli Sumowono, sebuah desa kecil di wilayah Kabupaten Semarang. Dia ibu dua putra yang juga pemilik warung rica rica yang endes. Selain ngeblog dan aktif nulis buku mbak Wahyu ini juga hobi melukis. Aktif banget deh pokoknya. Blognya adalah www.awanhero.com

Sedangkan Bunsal yang bernama asli Muslifa Aseani, blogger yang tinggal di Lombok ini juga ibu dua putra. Sebagai blogger dia cukup aktif mempromosikan wisata daerahnya. Bisa diintip blognya www.muslifaaseani.com

Nah, tema yang mereka lempar nih menarik. Yaitu tentang bisnis rumahan impian. Asiik...
Eh beneran loh, sejak mereka melempar tema ini terus mau gak mau saya jadi mikir keras: memang sudah seharusnya punya bisnis rumahan yang tahan lama dan bisa diwariskan.
Tapi kira-kira apa ya?

Bicara bisnis rumahan, sebenarnya sih saya beberapa tahun ini sudah menjalani usaha di rumah juga, sih. Sebagai contoh usaha yang sudah saya jalankan yaitu buka les lesan yang bahasa kerennya bimbel untuk anak TK dan SD dan buka usaha kos. Tapi meski demikian, ingin banget bisa membesarkan dan melebarkan usaha yang sudah ada ini, sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi lebih banyak tetangga. :)

Alhamdulillah bimbel yang saya jalankan sendiri ini sekarang sudah mulai berkembang dengan 3 orang asisten yang membantu mengajar. Ke depannya, saya ingin bimbel yang kami rintis ini bisa melayani lebih banyak siswa dan lebih banyak kelas belajar yang tersedia. Saat ini baru melayani untuk kelas belajar membaca-menulis, kelas matematika hitung jari, kelas bahasa Inggris dan kelas mapel untuk sekolah dasar. Ingin juga bisa membuka kelas seni yang lain seperti kelas menggambar dan melukis. Namun demikian, untuk usaha ini saya tidak semata-mata untuk mencari penghasilan saja. Namun awal usaha ini memang didasari keprihatinan yang dalam akan kurangnya fasilitas belajar di daerah ini yang sangat tidak seimbang dengan menjamurnya usaha game online di sekitar rumah kami.

Usaha kedua yang merupakan usaha yang dirintis oleh ibu mertua adalah kos kosan. Bukan kos yang mewah, tapi sederhana pakai banget. Penghuni kos juga bukan anak kuliahan yang unyu unyu, tapi para perantau yang berjualan di pasar dekat sini. Ada yang orang Semarang, Wonogiri, Kebumen bahkan Tasikmalaya. Tapi justru dari mereka saya banyak belajar tentang semangat bekerja. Rata-rata usianya di atas saya. Kalau dibilang bisnis kos ini untung, ya memang lumayan ada untungnya. Paling nggak sih adalah yang untuk bayar listrik air tiap bulannya.

Meski demikian, tentunya saya juga masih punya keinginan untuk membuat kosan ini makin bagus dan lebih menghasilkan. Apalagi mulai banyaknya pabrik berdiri di kecamatan ini. Doakan ya, semoga saya bisa membaguskan usaha kos ini.      
Idealnya sih pengen bikin kos khusus putri yang syar'i, bersih dan bagus. Lengkap dengan segala fasilitas dan juga kolam renang. Jadi kan enak tuh, kalau mau renang gak tinggal nyebur aja. 

Baidewei, saya tetap selalu bersyukur dengan segala yang ada sekarang. Namun impian tetap harus diusahakan. Ya kan, temans?

Semoga juga impian kalian semua yang membaca postingan ini juga dimudahkan dan mewujud nyata. Aamiin.

tips

Bisa Menghadapi Kedukaan

Agustus 04, 2017


Pada suatu pagi, kami yang tergabung dalam grup whatsapp teman-teman SMP dikejutkan sebuah berita seperti di atas. Suami salah satu teman kami meninggal. Mendadak, tanpa sakit berat. Di usianya yang awal kepala empat, sang tulang punggung ini wafat meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih kecil.

Beberapa minggu sebelumnya juga ada kabar serupa. Teman sekolah seangkatan kami yang lain juga meninggal setelah jatuh di kamar mandinya. Mendadak juga. Seorang tulang punggung juga harus kembali ke pangkuannya di usia yang masih produktif, meninggalkan istri dan anak-anak yang masih sangat membutuhkan beliau.

Dua kejadian di atas makin mengingatkan bahwa kematian itu memang sangat dekat. Tak seorang pun yang tahu kapan maut menjemputnya. Pun demikian bagi keluarga yang ditinggalkan, tentunya tak akan ada seorang manusia pun yang siap dipisahkan oleh kematian.

Namun perpisahan selamanya ini adalah sebuah kepastian yang harus dihadapi oleh siapa pun, meski sangat berat. Untaian ucapan duka mungkin hanya menghibur di awal peristiwa, namun kenyataan hidup tanpa orang yang kita kasihi tentunya berlanjut sepanjang hidup meski berat bak menegakkan bunga layu.


Bagi seorang yang kehilangan, duka itu akan terus ada. Tapi semangat menjalani hidup juga harus dijaga sebagai penyeimbang. Meski tak mudah, bisa dicoba cara-cara berikut:

1. Beri kesempatan pada diri sendiri untuk menikmati kedukaan.
Setiap orang mempunyai kesan yang berbeda dalam memaknai kesedihan. Dan kita sendiri lah yang tahu cara terbaik dalam merasakan kesedihan itu. Maka tidak ada salahnya untuk memberi waktu pada diri sendiri untuk berduka.

2. Luapkan kedukaan atau kesedihan yang terasa.
Menyimpan terus kesedihan hanya akan merapuhkan hati. Meluapkan kesedihan dengan bercerita kepada keluarga atau sahabat dekat bisa sedikit meringankan beban di dada. Bisa juga dituangkan dalam tulisan atau coretan gambar, mungkin bisa sedikit melegakan.

3. Kuatkan diri dengan mengingat Allah.
Meyakini bahwa semua yang terjadi adalah ketentuan Allah yang maha menghidupkan dan maha mematikan. Meyakini bahwa semua ketentuanNya adalah sudah ditakdirkan yang terbaik untuk kita. Banyak berdoa dan berserah pada Allah, niscaya akan diringankan kesedihan kita.

4. Mensyukuri nikmat yang masih dimiliki.
Diluar semua duka yang ada tentunya kita masih memiliki sejuta kenikmatan. Napas yang masih melekat di badan, kesehatan, waktu luang, putra putri yang baik,  keluarga dan sahabat yang peduli, itu semua adalah kenikmatan. Tetaplah bersyukur dengan bersikap baik terhadap nikmat tersebut.

5. Lakukan sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian kita akan kesedihan.
Mencari kesibukan positif di luar rumah, berhubungan dengan orang lain yang mempunyai keadaan yang sama, bersikap baik terhada diri sendiri, bergabung dengan komunitas yang menguatkan misal datang ke majelis taklim, insyaallah lambat laun akan memudahkan kita menerima dan menghadapi kenyataan.  

Semuanya tentu butuh waktu dan kesabaran. Meski tak mudah, tapi selalu bisa diusahakan. 
Untuk sahabatku yang sedang berduka di sana, kepadamu aku belajar menghadapi perpisahan. Sekarang mungkin dirimu yang sedang diuji Allah dengan wafatnya mas Hendra, tapi sesungguhnya aku pun sedang dalam proses menanti giliran. Kita semua hanya sedang menanti giliran. Entah kapan, tapi kembali padaNya itu niscaya terjadi.

Jangan pernah merasa sendiri, ya. Di luaran banyak sahabat yang sekondisi atau bahkan lebih menyedihkan. Dan tentunya di sini ada sahabat yang selalu memelukmu dan berdoa dalam hening. Masalahmu mungkin besar, tapi jangan takut, ada ALLAH YANG MAHA BESAR.

Tentunya tulisan yang sederhana ini jauh dari sempurna. Tapi semoga tulisan ini bisa sedikit membantu hati yang sedang dirundung duka. Maafkan jika ada khilaf.

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia

FDS di Mata Saya

Agustus 02, 2017

Awal tahun ajaran ini diramaikan dengan pemberitaan mengenai kebijakan Full Day School (FDS) dari Kemendikbud. Dan tak pelak ini menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Baik di dunia nyata maupun maya.

Sebagai seorang ibu tiga anak usia belajar pun saya juga pasti akan merasakan pengaruh dari kebijakan ini. Kebetulan ketiga anak saya pun menempuh pendidikan yang tak sama. Si sulung sekarang menginjak kelas XI SMU, si tengah memilih belajar di rumah atau bahasa kerennya homeschooling dan si bungsu naik kelas 5 SD.

Nah, FDS ini berlaku mulai tahun ajaran baru di sekolah si sulung. Jam sekolah dari jam 7 pagi hingga 4 sore, lima hari kerja. Beruntung dia sudah besar, jadi tidak terlalu sulit menyesuaikan dengan ritme barunya. Malah senang karena sabtu bisa istirahat belajar dan mengerjakan kegiatan lainnya. Yang berbeda hanya di penambahan uang saku dan bekal makan. 😁  

Si tengah yang kurikulum belajarnya menyesuaikan kebutuhannya jelas saja tidak terpengaruh sam sekali dengan kebijakan FDS ini. Toh, bagi dia belajar malah setiap saat.

Sedangkan si bungsu, dia bersekolah di lembaga pendidikan berbasis Islam yang memang sejak awal menerapkan sistem sekolah sehari. Jadi masuk tetap jam 7 pagi dan pulang jam setengah empat sore, atau setelah salat asar. Makan siang dapat dari sekolahan. Dan alhamdulillah sampai saat ini dia tetap enjoy menuntut ilmu di sana.

Jadi begitulah, meskipun di luaran sana orang banyak berpendapat pro kontra, saya sih biasa saja. Karena sesungguhnya setiap kebijakan dan sistem tentunya sudah dipikirkan masak masak kemanfaatannya. Hanya saja masalahnya sistem itu cocok atau tidak diterapkan untuk masing-masing anak dan jenjang, itu yang perlu kajian mendalam dan juga kesiapan dari semua pihak. Baik itu dari pihak sekolah, orang tua dan terutama si anak sendiri.

Pengalaman di sekolah si bungsu, pada jam istirahat siang (setelah salat duhur) yang lumayan panjang, guru mengadakan sesi bercerita. Karena memang pada jam tersebut tubuh anak biasanya butuh istirahat. Bahkan sampai ada anak yang tertidur itu dibiarkan. Nah mulai lagi jam belajar selanjutnya si anak sudah semangat lagi menerima ilmu. 

FDS ini juga membantu orang tua yang tidak mempunyai waktu cukup di siang hari untuk menemani putranya. Menitipkan anak di sekolahan sudah mengurangi beban pikiran orang tua. Tapi jangan sampai lupa, bahwa tugas utama pendidikan anak itu terletak di pundak orang tua, bukan guru.

Guru-guru pun tentunya punya tugas sendiri mendidik putra putri mereka sendiri. Punya tanggungan keluarga yang juga butuh perhatian mereka. Nah, di sini timbal balik sangat dibutuhkan. Terutama mengenai kesejahteraan guru.

Yang pasti, harapannya adalah sekolah dan keluarga bisa menjadi partner yang baik dalam mendampingi anak, dan bisa menjadi tempat yang nyaman bagi anak dalam mendapatkan pendidikan.

Dan yang jelas, dampak FDS bagi saya pribadi adalah lebih rajin menyiapkan bekal makan untuk si sulung. Dua kotak pula. hehe...

Bagaimana? Punya pendapat mengenai FDS ini? Sharing yuk di komen.

Selamat mendampingi putra putri kita ya, Buuu.

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia

Karena Ini Nekat Ikut ODOP

Agustus 01, 2017

Alhamdulillah akhirnya bertemu juga dengan bulan Agustus. 
Beberapa hari lalu di grup facebook Blogger Muslimah Indonesia membuka pengumuman bahwa dalam bulan Agustus ini akan ada event one day one post atau disingkat #ODOP

Nah sebagai blogger angot angotan yang baru aja pindah ke domain TLD tanpa pikir panjang langsung aja ikutan daftar. Hehe.. padahal sejak ngeblog dua tahun ini juga baru ada beberapa biji postingan. 
Sebenarnya waktu daftar kemarin juga sempat mikir, apa mampu? Tapi ah, itu kan urusan belakangan, yang penting daftar aja dulu mumpung ada kesempatan.

pic: pixabay
Jadi ceritanya sekarang resmilah saya sebagai salah satu peserta  #ODOP. Tapi sesungguhnya bukan  cuma kenekatan saya saja yang menjadi dasar keikutsertaan dalam program ini. Tapi ada beberapa alasan kuat mengapa saya berani menjawab tawaran dari mbak admin.

Tak lain tak bukan karena:

Melatih konsistensi diri
Saya sadar siapa diri ini. Orang yang sering tidak konsisten dengan niat sendiri. Bilangnya mau nerapin food combining, tapi cuma tahan tiga hari saja sarapan buah. Pada hari keempat langsung sakau waktu lihat gorengan *duh
Makanya di bulan Agustus yang ceria ini saya niatkan untuk bisa posting blog tiap hari untuk mematahkan mitos yang tumbuh subur di dalam diri yang rapuh ini 😊

Memakmurkan blog
Apa jadinya rumah tanpa penghuni? Kotor, berdebu, bau, lumutan dan serem.. hiiyy, gak mau ah blog saya jadi nyeremin gitu. Ya, saya mau blog ini gemuk tulisan, sukur sukur tulisan itu bisa memberi manfaat bagi yang membaca. Apalagi dua minggu lalu blog ini resmi jadi dotcom. Rugi dong ya kalau dianggurin begitu saja. Nah, dengan berkontribusi posting tia hari saya juga berharap blog ini benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya.

Memupuk kemampuan menulis
Tak ada latihan yang tak berguna. Saya anggap menulis blog tiap hari adalah sebagai ajang melatih kemampuan menulis. Meski awalnya tak sempurna, tapi suatu usaha yang dilakukan terus menerus pasti akan memberi hasil yang setimpal. Demikian juga menulis, semoga dengan pembiasaan ini kelak tulisan saya jadi lebih nyaman dan lezat untuk dinikmati.

Untuk eksistensi diri dong
Pastinya, jika berani ngaku sebagai blogger juga harus punya blog yang terawat dan selalu update. Malu dong cuy kalau sudah gabung dengan komunitas blogger sana sini tapi blognya karatan, huhuu.

Membakar semangat ngeblog
Melihat banyaknya teman yang berkontribusi dalam ajang one day one post ini terus terang saja membuat semangat ngeblog saya yang tadinya hanya membara jadi menyala nyala. Apalagi tidak dibatasi tema dan banyaknya aturan, membuat ide di kepala bebas berkeliaran ingin segera dituangkan.

Jadi begitu, meskipun hanya bermodal nekat dan tekad, saya berani menantang diri sendiri untuk ikutan #ODOP ini. Dan most of all saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Blogger Muslinah Indonesia yang membuat program ini.
   
Semoga saya termasuk golongan pejuang blog yang bertahan hingga akhir bulan. Dan tak satu hari pun terlewat dengan tidak ngeblog.

Untuk teman-teman seperjuangan, tetap semangat ya....

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia