Langsung ke konten utama

Bisa Menghadapi Kedukaan


Pada suatu pagi, kami yang tergabung dalam grup whatsapp teman-teman SMP dikejutkan sebuah berita seperti di atas. Suami salah satu teman kami meninggal. Mendadak, tanpa sakit berat. Di usianya yang awal kepala empat, sang tulang punggung ini wafat meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih kecil.

Beberapa minggu sebelumnya juga ada kabar serupa. Teman sekolah seangkatan kami yang lain juga meninggal setelah jatuh di kamar mandinya. Mendadak juga. Seorang tulang punggung juga harus kembali ke pangkuannya di usia yang masih produktif, meninggalkan istri dan anak-anak yang masih sangat membutuhkan beliau.

Dua kejadian di atas makin mengingatkan bahwa kematian itu memang sangat dekat. Tak seorang pun yang tahu kapan maut menjemputnya. Pun demikian bagi keluarga yang ditinggalkan, tentunya tak akan ada seorang manusia pun yang siap dipisahkan oleh kematian.

Namun perpisahan selamanya ini adalah sebuah kepastian yang harus dihadapi oleh siapa pun, meski sangat berat. Untaian ucapan duka mungkin hanya menghibur di awal peristiwa, namun kenyataan hidup tanpa orang yang kita kasihi tentunya berlanjut sepanjang hidup meski berat bak menegakkan bunga layu.


Bagi seorang yang kehilangan, duka itu akan terus ada. Tapi semangat menjalani hidup juga harus dijaga sebagai penyeimbang. Meski tak mudah, bisa dicoba cara-cara berikut:

1. Beri kesempatan pada diri sendiri untuk menikmati kedukaan.
Setiap orang mempunyai kesan yang berbeda dalam memaknai kesedihan. Dan kita sendiri lah yang tahu cara terbaik dalam merasakan kesedihan itu. Maka tidak ada salahnya untuk memberi waktu pada diri sendiri untuk berduka.

2. Luapkan kedukaan atau kesedihan yang terasa.
Menyimpan terus kesedihan hanya akan merapuhkan hati. Meluapkan kesedihan dengan bercerita kepada keluarga atau sahabat dekat bisa sedikit meringankan beban di dada. Bisa juga dituangkan dalam tulisan atau coretan gambar, mungkin bisa sedikit melegakan.

3. Kuatkan diri dengan mengingat Allah.
Meyakini bahwa semua yang terjadi adalah ketentuan Allah yang maha menghidupkan dan maha mematikan. Meyakini bahwa semua ketentuanNya adalah sudah ditakdirkan yang terbaik untuk kita. Banyak berdoa dan berserah pada Allah, niscaya akan diringankan kesedihan kita.

4. Mensyukuri nikmat yang masih dimiliki.
Diluar semua duka yang ada tentunya kita masih memiliki sejuta kenikmatan. Napas yang masih melekat di badan, kesehatan, waktu luang, putra putri yang baik,  keluarga dan sahabat yang peduli, itu semua adalah kenikmatan. Tetaplah bersyukur dengan bersikap baik terhadap nikmat tersebut.

5. Lakukan sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian kita akan kesedihan.
Mencari kesibukan positif di luar rumah, berhubungan dengan orang lain yang mempunyai keadaan yang sama, bersikap baik terhada diri sendiri, bergabung dengan komunitas yang menguatkan misal datang ke majelis taklim, insyaallah lambat laun akan memudahkan kita menerima dan menghadapi kenyataan.  

Semuanya tentu butuh waktu dan kesabaran. Meski tak mudah, tapi selalu bisa diusahakan. 
Untuk sahabatku yang sedang berduka di sana, kepadamu aku belajar menghadapi perpisahan. Sekarang mungkin dirimu yang sedang diuji Allah dengan wafatnya mas Hendra, tapi sesungguhnya aku pun sedang dalam proses menanti giliran. Kita semua hanya sedang menanti giliran. Entah kapan, tapi kembali padaNya itu niscaya terjadi.

Jangan pernah merasa sendiri, ya. Di luaran banyak sahabat yang sekondisi atau bahkan lebih menyedihkan. Dan tentunya di sini ada sahabat yang selalu memelukmu dan berdoa dalam hening. Masalahmu mungkin besar, tapi jangan takut, ada ALLAH YANG MAHA BESAR.

Tentunya tulisan yang sederhana ini jauh dari sempurna. Tapi semoga tulisan ini bisa sedikit membantu hati yang sedang dirundung duka. Maafkan jika ada khilaf.

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia

Komentar

  1. Tips yang lengkap, Mbak..saya suka quote" masalah kita mungkin besar tapi jangan gtakut ada Allah yang Maha Besar, Benar banget Mbak..Saya pernah melesati masa berduka ini , karena harus kehilangan anak pertama yang lahir lalu meninggal saat umurnya 13 hari...Tapi karena selalu ingat Sang Pencipta Alhamdulillah semu terlewati dengan baik:)

    BalasHapus
  2. Masya Allah, terimakasih nasihatnya kak.. ^^
    Bermanfaat sekali, boleh aisyah sharing ke teman2 lain?

    BalasHapus
  3. Ya Allah... sedih banget dan g kebayang rasanya.benar mbak, yg hidup akan merasakan mati. Hnya masalah waktu. Semoga kita semua jika.ajal tiba bisa menghdap-Nya dengan bersih
    Aamiin T.T

    BalasHapus
  4. Noted banget-banget dengan tips2nya mbak Dini.
    Terutama buat aku yg suka baper akut saban ngelayat siapa pun.

    Semoga kita semua beroleh berkat dan rahmat akhir hidup khusnul khotimah.
    Amin Robbul aamiin.

    BalasHapus
  5. Seminggu yg lalu barusan dapat kabar anaknya teman kuliah meninggal, barusan buka grup juga anak tunggal temen smp meninggal Mbak. Kemarin juga dapat kabar Ryan meinggal. Ya Allah, baca postinganmu kok jadi sedih banget. Semua gabisa diprediksi Mbak

    BalasHapus
  6. Indeed. Berikan waktu untuk berduka. Ya walaupun baiknya ga terlalu lama juga

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)
Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 
Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 
Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka k…

Menjadi Penari Topeng Ireng, Sebuah Pengalaman Seru

Menjadi penari topeng ireng adalah hal yang tidak pernah terpikirkan apalagi direncanakan sebelumnya.  Tapi ini terjadi pada saya. :)
Teman-teman mungkin ada yang belum tahu apa itu Topeng Ireng. Apakah menari dengan memakai topeng yang berwarna hitam? (ireng berarti hitam dalam bahasa Jawa) Saya dulu pernah menyangka demikian. Tapi ternyata salah besar.



Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya.
Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri.
Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku.
Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut.

KLEPON
Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi tersendiri saat menyeplus si…