FDS di Mata Saya

Agustus 02, 2017

Awal tahun ajaran ini diramaikan dengan pemberitaan mengenai kebijakan Full Day School (FDS) dari Kemendikbud. Dan tak pelak ini menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Baik di dunia nyata maupun maya.

Sebagai seorang ibu tiga anak usia belajar pun saya juga pasti akan merasakan pengaruh dari kebijakan ini. Kebetulan ketiga anak saya pun menempuh pendidikan yang tak sama. Si sulung sekarang menginjak kelas XI SMU, si tengah memilih belajar di rumah atau bahasa kerennya homeschooling dan si bungsu naik kelas 5 SD.

Nah, FDS ini berlaku mulai tahun ajaran baru di sekolah si sulung. Jam sekolah dari jam 7 pagi hingga 4 sore, lima hari kerja. Beruntung dia sudah besar, jadi tidak terlalu sulit menyesuaikan dengan ritme barunya. Malah senang karena sabtu bisa istirahat belajar dan mengerjakan kegiatan lainnya. Yang berbeda hanya di penambahan uang saku dan bekal makan. 😁  

Si tengah yang kurikulum belajarnya menyesuaikan kebutuhannya jelas saja tidak terpengaruh sam sekali dengan kebijakan FDS ini. Toh, bagi dia belajar malah setiap saat.

Sedangkan si bungsu, dia bersekolah di lembaga pendidikan berbasis Islam yang memang sejak awal menerapkan sistem sekolah sehari. Jadi masuk tetap jam 7 pagi dan pulang jam setengah empat sore, atau setelah salat asar. Makan siang dapat dari sekolahan. Dan alhamdulillah sampai saat ini dia tetap enjoy menuntut ilmu di sana.

Jadi begitulah, meskipun di luaran sana orang banyak berpendapat pro kontra, saya sih biasa saja. Karena sesungguhnya setiap kebijakan dan sistem tentunya sudah dipikirkan masak masak kemanfaatannya. Hanya saja masalahnya sistem itu cocok atau tidak diterapkan untuk masing-masing anak dan jenjang, itu yang perlu kajian mendalam dan juga kesiapan dari semua pihak. Baik itu dari pihak sekolah, orang tua dan terutama si anak sendiri.

Pengalaman di sekolah si bungsu, pada jam istirahat siang (setelah salat duhur) yang lumayan panjang, guru mengadakan sesi bercerita. Karena memang pada jam tersebut tubuh anak biasanya butuh istirahat. Bahkan sampai ada anak yang tertidur itu dibiarkan. Nah mulai lagi jam belajar selanjutnya si anak sudah semangat lagi menerima ilmu. 

FDS ini juga membantu orang tua yang tidak mempunyai waktu cukup di siang hari untuk menemani putranya. Menitipkan anak di sekolahan sudah mengurangi beban pikiran orang tua. Tapi jangan sampai lupa, bahwa tugas utama pendidikan anak itu terletak di pundak orang tua, bukan guru.

Guru-guru pun tentunya punya tugas sendiri mendidik putra putri mereka sendiri. Punya tanggungan keluarga yang juga butuh perhatian mereka. Nah, di sini timbal balik sangat dibutuhkan. Terutama mengenai kesejahteraan guru.

Yang pasti, harapannya adalah sekolah dan keluarga bisa menjadi partner yang baik dalam mendampingi anak, dan bisa menjadi tempat yang nyaman bagi anak dalam mendapatkan pendidikan.

Dan yang jelas, dampak FDS bagi saya pribadi adalah lebih rajin menyiapkan bekal makan untuk si sulung. Dua kotak pula. hehe...

Bagaimana? Punya pendapat mengenai FDS ini? Sharing yuk di komen.

Selamat mendampingi putra putri kita ya, Buuu.

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia

You Might Also Like

4 komentar

  1. FDS harus dibarengi sama fasilitas dari sekolah, dan gurunya juga harus siap. Kalo di sekolah Islam terpadu emang udah pada siap kan, ya? dari awal juga konsepnya memang begitu. Kasian soalnya kalo udah diterapkan sistem FDS, eh belum siap persiapannya dan akhirnya malah ngambang pelaksanaannya. Huhu.
    Mbak anaknya yang kedua homeschooling? saya juga pengen, tapi masih mikir-mikir dulu ini. Bisa enggak ya saya bimbingnya? masih harus banyak konsultasi juga sama yang udah senior. :D

    BalasHapus
  2. Di daerah saya belum ada FDS deh kayaknya, eh enggak tau juga, kalo SD yang jelas belum. Kalo sekolah Islam terpadu sih sudah dari dulu memang full day school, jadi baik orangtua atau murid sudah pada siap ikut sistemnya.

    BalasHapus
  3. Menurut saya jika sekolah siap (sarana prasarana, guru, dll), FDS justru bisa jadi solusi yang asyik dimana siswa akan menjadi lebih nyaman di sekolah. Jadi bukan hanya pagi sampe sore diisi melulu kegiatan pembelajaran tapi juga kegiatan yang mengasyikkan lainnya. Tapi kalo memang sekolah tidak siap dan kondisi di masyarakat juga tidak semua sama, sebaiknya sekolah diberikan kebebasan untuk menentukan apakah sekolah ingin menerapkan FDS atau tidak.

    BalasHapus
  4. Setuju dengan sebagian komen-komen di atas. FDS bisa jadi solusi belajar yang menyenangkan, kalauuuuu sudah siap sistemnya. Tapi seringkali kurikulum yang padat membuat peserta didik dilihat sebagai objek saja, bukan pelaku belajar yang tidak melulu harus mendapatkan ilmu dengan duduk di kelas. Begitulah pandangan sotoy saya, Mba. Punya anak juga belum sih (sebentar lagi, insyaAllah), tapi punya adik yang masih sekolah jadi sering ngurusin dan merhatiin. xD

    BalasHapus