Langsung ke konten utama

FDS di Mata Saya

Awal tahun ajaran ini diramaikan dengan pemberitaan mengenai kebijakan Full Day School (FDS) dari Kemendikbud. Dan tak pelak ini menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Baik di dunia nyata maupun maya.

Sebagai seorang ibu tiga anak usia belajar pun saya juga pasti akan merasakan pengaruh dari kebijakan ini. Kebetulan ketiga anak saya pun menempuh pendidikan yang tak sama. Si sulung sekarang menginjak kelas XI SMU, si tengah memilih belajar di rumah atau bahasa kerennya homeschooling dan si bungsu naik kelas 5 SD.

Nah, FDS ini berlaku mulai tahun ajaran baru di sekolah si sulung. Jam sekolah dari jam 7 pagi hingga 4 sore, lima hari kerja. Beruntung dia sudah besar, jadi tidak terlalu sulit menyesuaikan dengan ritme barunya. Malah senang karena sabtu bisa istirahat belajar dan mengerjakan kegiatan lainnya. Yang berbeda hanya di penambahan uang saku dan bekal makan. 😁  

Si tengah yang kurikulum belajarnya menyesuaikan kebutuhannya jelas saja tidak terpengaruh sam sekali dengan kebijakan FDS ini. Toh, bagi dia belajar malah setiap saat.

Sedangkan si bungsu, dia bersekolah di lembaga pendidikan berbasis Islam yang memang sejak awal menerapkan sistem sekolah sehari. Jadi masuk tetap jam 7 pagi dan pulang jam setengah empat sore, atau setelah salat asar. Makan siang dapat dari sekolahan. Dan alhamdulillah sampai saat ini dia tetap enjoy menuntut ilmu di sana.

Jadi begitulah, meskipun di luaran sana orang banyak berpendapat pro kontra, saya sih biasa saja. Karena sesungguhnya setiap kebijakan dan sistem tentunya sudah dipikirkan masak masak kemanfaatannya. Hanya saja masalahnya sistem itu cocok atau tidak diterapkan untuk masing-masing anak dan jenjang, itu yang perlu kajian mendalam dan juga kesiapan dari semua pihak. Baik itu dari pihak sekolah, orang tua dan terutama si anak sendiri.

Pengalaman di sekolah si bungsu, pada jam istirahat siang (setelah salat duhur) yang lumayan panjang, guru mengadakan sesi bercerita. Karena memang pada jam tersebut tubuh anak biasanya butuh istirahat. Bahkan sampai ada anak yang tertidur itu dibiarkan. Nah mulai lagi jam belajar selanjutnya si anak sudah semangat lagi menerima ilmu. 

FDS ini juga membantu orang tua yang tidak mempunyai waktu cukup di siang hari untuk menemani putranya. Menitipkan anak di sekolahan sudah mengurangi beban pikiran orang tua. Tapi jangan sampai lupa, bahwa tugas utama pendidikan anak itu terletak di pundak orang tua, bukan guru.

Guru-guru pun tentunya punya tugas sendiri mendidik putra putri mereka sendiri. Punya tanggungan keluarga yang juga butuh perhatian mereka. Nah, di sini timbal balik sangat dibutuhkan. Terutama mengenai kesejahteraan guru.

Yang pasti, harapannya adalah sekolah dan keluarga bisa menjadi partner yang baik dalam mendampingi anak, dan bisa menjadi tempat yang nyaman bagi anak dalam mendapatkan pendidikan.

Dan yang jelas, dampak FDS bagi saya pribadi adalah lebih rajin menyiapkan bekal makan untuk si sulung. Dua kotak pula. hehe...

Bagaimana? Punya pendapat mengenai FDS ini? Sharing yuk di komen.

Selamat mendampingi putra putri kita ya, Buuu.

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia

Komentar

  1. FDS harus dibarengi sama fasilitas dari sekolah, dan gurunya juga harus siap. Kalo di sekolah Islam terpadu emang udah pada siap kan, ya? dari awal juga konsepnya memang begitu. Kasian soalnya kalo udah diterapkan sistem FDS, eh belum siap persiapannya dan akhirnya malah ngambang pelaksanaannya. Huhu.
    Mbak anaknya yang kedua homeschooling? saya juga pengen, tapi masih mikir-mikir dulu ini. Bisa enggak ya saya bimbingnya? masih harus banyak konsultasi juga sama yang udah senior. :D

    BalasHapus
  2. Di daerah saya belum ada FDS deh kayaknya, eh enggak tau juga, kalo SD yang jelas belum. Kalo sekolah Islam terpadu sih sudah dari dulu memang full day school, jadi baik orangtua atau murid sudah pada siap ikut sistemnya.

    BalasHapus
  3. Menurut saya jika sekolah siap (sarana prasarana, guru, dll), FDS justru bisa jadi solusi yang asyik dimana siswa akan menjadi lebih nyaman di sekolah. Jadi bukan hanya pagi sampe sore diisi melulu kegiatan pembelajaran tapi juga kegiatan yang mengasyikkan lainnya. Tapi kalo memang sekolah tidak siap dan kondisi di masyarakat juga tidak semua sama, sebaiknya sekolah diberikan kebebasan untuk menentukan apakah sekolah ingin menerapkan FDS atau tidak.

    BalasHapus
  4. Setuju dengan sebagian komen-komen di atas. FDS bisa jadi solusi belajar yang menyenangkan, kalauuuuu sudah siap sistemnya. Tapi seringkali kurikulum yang padat membuat peserta didik dilihat sebagai objek saja, bukan pelaku belajar yang tidak melulu harus mendapatkan ilmu dengan duduk di kelas. Begitulah pandangan sotoy saya, Mba. Punya anak juga belum sih (sebentar lagi, insyaAllah), tapi punya adik yang masih sekolah jadi sering ngurusin dan merhatiin. xD

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya.
Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri.
Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku.
Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut.

KLEPON
Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi tersendiri saat menyeplus si…

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini.
Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari, ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema yang pas…

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)
Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 
Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 
Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka k…