Langsung ke konten utama

Karena Ini Nekat Ikut ODOP

Alhamdulillah akhirnya bertemu juga dengan bulan Agustus. 
Beberapa hari lalu di grup facebook Blogger Muslimah Indonesia membuka pengumuman bahwa dalam bulan Agustus ini akan ada event one day one post atau disingkat #ODOP

Nah sebagai blogger angot angotan yang baru aja pindah ke domain TLD tanpa pikir panjang langsung aja ikutan daftar. Hehe.. padahal sejak ngeblog dua tahun ini juga baru ada beberapa biji postingan. 
Sebenarnya waktu daftar kemarin juga sempat mikir, apa mampu? Tapi ah, itu kan urusan belakangan, yang penting daftar aja dulu mumpung ada kesempatan.

pic: pixabay
Jadi ceritanya sekarang resmilah saya sebagai salah satu peserta  #ODOP. Tapi sesungguhnya bukan  cuma kenekatan saya saja yang menjadi dasar keikutsertaan dalam program ini. Tapi ada beberapa alasan kuat mengapa saya berani menjawab tawaran dari mbak admin.

Tak lain tak bukan karena:

Melatih konsistensi diri
Saya sadar siapa diri ini. Orang yang sering tidak konsisten dengan niat sendiri. Bilangnya mau nerapin food combining, tapi cuma tahan tiga hari saja sarapan buah. Pada hari keempat langsung sakau waktu lihat gorengan *duh
Makanya di bulan Agustus yang ceria ini saya niatkan untuk bisa posting blog tiap hari untuk mematahkan mitos yang tumbuh subur di dalam diri yang rapuh ini 😊

Memakmurkan blog
Apa jadinya rumah tanpa penghuni? Kotor, berdebu, bau, lumutan dan serem.. hiiyy, gak mau ah blog saya jadi nyeremin gitu. Ya, saya mau blog ini gemuk tulisan, sukur sukur tulisan itu bisa memberi manfaat bagi yang membaca. Apalagi dua minggu lalu blog ini resmi jadi dotcom. Rugi dong ya kalau dianggurin begitu saja. Nah, dengan berkontribusi posting tia hari saya juga berharap blog ini benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya.

Memupuk kemampuan menulis
Tak ada latihan yang tak berguna. Saya anggap menulis blog tiap hari adalah sebagai ajang melatih kemampuan menulis. Meski awalnya tak sempurna, tapi suatu usaha yang dilakukan terus menerus pasti akan memberi hasil yang setimpal. Demikian juga menulis, semoga dengan pembiasaan ini kelak tulisan saya jadi lebih nyaman dan lezat untuk dinikmati.

Untuk eksistensi diri dong
Pastinya, jika berani ngaku sebagai blogger juga harus punya blog yang terawat dan selalu update. Malu dong cuy kalau sudah gabung dengan komunitas blogger sana sini tapi blognya karatan, huhuu.

Membakar semangat ngeblog
Melihat banyaknya teman yang berkontribusi dalam ajang one day one post ini terus terang saja membuat semangat ngeblog saya yang tadinya hanya membara jadi menyala nyala. Apalagi tidak dibatasi tema dan banyaknya aturan, membuat ide di kepala bebas berkeliaran ingin segera dituangkan.

Jadi begitu, meskipun hanya bermodal nekat dan tekad, saya berani menantang diri sendiri untuk ikutan #ODOP ini. Dan most of all saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Blogger Muslinah Indonesia yang membuat program ini.
   
Semoga saya termasuk golongan pejuang blog yang bertahan hingga akhir bulan. Dan tak satu hari pun terlewat dengan tidak ngeblog.

Untuk teman-teman seperjuangan, tetap semangat ya....

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia

Komentar

  1. Tos dulu yang mau memakmurkan blog. Saya ngaku apa enggak ya sebagai blogger? Masih belum konsisten juga soalnya. Wkwkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuu...ngaku saja... hehe.. iya nih mbak, usaha memakmurkan blog, masak orangnya saja yang makmur..:))

      Hapus
  2. Semoga konsisten kakak

    Main ke rumahku ya..

    www.dewieajaa.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.. makasih ya sudah main sini. siap kunbal deh say...

      Hapus
  3. semangat, mba Dini. Biar blog kita rame juga yah, mba

    BalasHapus
  4. semoga kita bisa konsisten hingga hari terakhir yaa Mbaa :)

    salah satu tujuan saya ikut odop juga untuk menantang diri sendiri apakah bisa patuh pada komitmen yang sudah dibuat sendiri?

    BalasHapus
  5. Aku masih belum berani ikut tantangan seperti ini mbaak. Semangat yaaaaaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya. Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri. Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku. Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut. KLEPON Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini. Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari , ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema

ABATA, Pesantren Tuna Rungu Gratis di Temanggung

Di antara riuh deras hujan yang mengguyur Temanggung menjelang petang, ada sebuah dunia sunyi di salah satu sudut kotanya. Dunia tanpa suara yang tersembunyi dalam sebuah rumah kontrakan sederhana. Meski sunyi, namun tak membuat hati anak anak itu lantas sepi. Lantunan zikir terlahir dari mulut mulut mungil. Meski dalam pengucapan yang kurang jelas, tapi mereka tak pernah lelah.