Para Penulis Idolaku Sejak Kecil Hingga Kini

September 09, 2017

Temans, siapa yang sudah akrab dengan buku atau pun dongeng dari kecil? Eh, saya juga, lho. Ternyata dongeng atau bacaan kita waktu kecil itu jadi sebuah pengalaman yang membekas banget ya. Dan selalu terkenang sampai kapan pun. 

Demikian juga saya, yang melewati masa kecil selama era 80an. Eits, ga usah repot ngitung umur saya, haha. Masa kecil saya yang item kucel dekil terlalui dengan bahagia. Salah satunya adalah tercukupinya kebutuhan membaca.


Saat itu kehidupan keluarga kami sungguh sangat sederhana. Bapak yang seorang perawat di sebuah rumah sakit tentara dan ibu yang seorang guru sekolah dasar berusaha sekuat tenaga mencukupi kebutuhan hidup dengan lima anak. Kebutuhan utama selain makan adalah sekolah. Selain kedua hal itu, tidak akan menjadi prioritas, kecuali untuk sesuatu yang mendesak, misalnya kesehatan.

Termasuk keinginan memiliki buku bacaan. Kami harus pintar-pintar mencari cara agar bisa tetap membaca buku. Beruntung di dekat rumah kami ada sebuah tempat penyewaan buku. Maka jadilah kami sebagai anggota dan penyewa tetap di sana. Sering kami menyisihkan uang jajan supaya cukup untuk menyewa buku, supaya tidak merepotkan bapak ibu.

Saya tidak terlalu memilih jenis buku untuk dibaca. Namun yang sering masuk ke daftar pinjaman saya yaitu komik punakawan 😀 Donal Bebek, buku-buku tulisan Enid Blyton dari seri Petualangan,Lima Sekawan sampai  Pasukan Mau Tahu dan cerita cerita anak karangan H.C Andersen. Meskipun tak jarang pula kami pinjam berbagai majalah, dari majalah Bobo sampai Trubus.

Melihat kesukaan kami terhadap kegiatan membaca, ibu juga punya cara agar anak-anaknya tetap bisa membaca meski dalam ketiadaaan biaya untuk membeli buku. Jadi diam diam ibu meminjam majalah Bobo bekas kepada sahabat ibu yang berlangganan untuk anaknya, namanya Bu Pardi. Awalnya ibu meminjam lima Bobo bekas. Kami bergantian membacanya. Setelah selesai, ibu mengembalikan lalu meminjam lagi. Lama kelamaan malah Bu Pardi berbaik hati untuk menghibahkan Bobo bekas itu untuk kami. Senang sekali rasanya. Karena pada masa itu, kesempatan membaca majalah anak terhits ini tidak bisa didapatkan oelh sembarang anak. Apalagi di kampung kami.

Di lain waktu, kesempatan berkunjung ke rumah pakde, kakak sulung ayah yang rumahnya di Salatiga, menjadi berkah luar biasa bagi kami. Di rumah pakde berjajar banyak majalah. Pakde berlangganan majalah Intisari dan Panjebar Semangat, sebuah majalah berbahasa Jawa. Sedangkan kakak sepupu kami berlangganan majalah Hai. Wuih, kalau ke sana dan bisa membaca majalah itu kami spontan merasa keren. hehe.

Nah, dari sekian banyak tulisan yang masuk ke otak saya membuat saya kagum terhadap para penciptanya. Beberapa nama yang lekat di  kehidupan masa kecil dan remaja saya adalah 

HANS CHRISTIAN ANDERSEN
Berkebangsaan Denmark, lahir 2 April 1805. Tema dongengnya melampaui batas usia dan kebangsaan. Dikisahkan kehidupan masa kecil H.C. Andersen ini adalah masa-masa yang sulit. Namun perjuangan dan kecintaannya pada dongeng membuat  namanya dikenal di seluruh dunia. Bahkan dongengnya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 147 bahasa. (sumber Wikipedia)
Beberapa dongengnya yang terkenal adalah kisah Putri Salju, Putri Duyung dan Itik Buruk Rupa. Sepanjang hidupnya dia telah melahirkan ratusan karya dongeng yang mengandung pesan moral baik. Tak bisa dipungkiri banyak dari dongengnya yang berlatar cerita di kerajaan, karena dipengaruhi keadaan pada jamannya. Akhir cerita dongengnya juga biasanya berakhir bahagia. Sang Putri dan Pangeran hidup bahagia selamanya... 😍
Namun berbeda dengan akhir hidup sang pengarang. H.C. Andersen tidak pernah menikah sepanjang hidupnya, hingga ia eninggal dalam usia 70 tahun. Patah hatinya yang mendalam kepada seorang penyanyi opera yang ternyata bertepuk sebelah tangan itu  penyebabnya.
Andersen telah tiada, namun kisah dongengnya akan selalu hidup di benak jutaan anak di seluruh dunia.

ARSWENDO ATMOWILOTO

Nama penulis yang satu ini sudah akrab di telinga saya sejak kecil. Beliau adalah penulis idola kedua orang tua saya. Bapak dan ibu selalu mengikuti cerita bersambungnya, Sudesi (Sukses dengan Satu Istri) yang diterbitkan di surat kabar Kompas. Membaca koran hasil pinjam di tetangga atau sekolah. Teteup...
Lalu saya makin suka dengan karya mas Wendo setelah melihat sinetron Keluarga Cemara yang merupakan buah tulisannya.
Lelaki bernama asli Sarwendo (bukan Sarwenda istri Ruben, ya) yang lalu mengubah namanya menjadi Arswendo Atmowiloto karena dirasa nama aslinya tidak menjual dan kurang ngepop ini dilahirkan di Surakarta, 26 Nopember 1948. Tidak hanya menulis fiksi namun juga banyak menulis artikel yang gaya penulisannya tidak kaku dan mengalir ringan serta enak dibaca meski sering lugas makjleb kalau menyentil sesuatu.
Dalam masa orde baru belaiu pernah merasakan dinginnya lantai penjara. Namun pikiran dan hati penulis yang juga wartawan ini ternyata tidak pernah bisa dikekang. Terbukti meski di dalam tahanan dia tetap produktif menulis hingga terlahirlah 7 novel, puluhan artikel dan 3 skenario dan cerita bersambung. Keren ya.
Dalam penyebaran karyanaya, mas Wendo punya banyak nama samaran atau nama pena. Sebut saja Sukmo Sasmito, Laki Bini, Said Saat dan B.M.D. Harahap.
Satu bukunya yang kemudian berpengaruh pada kesukaanku menulis adalah Mengarang Itu Gampang, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1982. Dari judulnya saja sudah meyakinkan bahwa mengarang itu memang mudah. Di dalamnya berisi tentang pertanyaan dan jawaban seputar bagaimana cara membuat sebuah tulisan. Untuk saat itu, buku ini bisa menjadi semacam kitab sakti bagi yang ingin belajar menulis.
Hingga di usianya yang ke 69 tahun ini, mas Wendo masih aktif menulis. Tak berlebihan kiranya saya menyebutnya sebagai legenda hidup dan menjadikannya sebagai idola.

Selain kedua nama di atas, ada juga beberapa nama yang saya suka sejak kecil lalu remaja sampai setua ini. Antara lain adalah eyang NH.Dini, mas Gola Gong dan  Dewi Rieka. Nama-nama yang saya sebut terakhir ini masing-masing telah membuktikan eksistensi menulisnya yang sangat hebat. Saya pun memiliki sebagian besar buku-buku karya beliau beliau ini.

Belajar dari para pengarang dan penulis di atas yang mendedikasikan hidupnya untuk berkarya dan bersuara lewat tulisan, saya pun melecut diri saya sendiri untuk berani setia menjaga dan selalu menghidupkan aksara di kehidupan yang sangat terbatas ini.

Terima kasih, ya, Temans, telah membaca tulisan ini yang juga merupakan setoran #arisanbloggandjelrel ke 10. Terima kasih juga kepada mbak idolaku Irfa Hudaya dan jengsay Dani Ristyawati  yang telah memberi tema: Siapa Penulis Favoritmu ini.

Kalau kamu, siapa penulis favoritmu?

You Might Also Like

3 komentar

  1. Yang kuingat pas masih usia SD Arswendo bikin tabloid namanya Monitor. Aku suka baca satu-satunya tabloid gosip artis di jaman itu ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, dan dari sebuah jajak pendapat yang digagasnya di tabloid itulah yang menggiringnya masuk penjara. aku juga suka baca monitor mbak, hehe

      Hapus
  2. Jadi tau pengarang dongeng putri salju.

    BalasHapus