Seatap Bareng Mertua, Ternyata Saya Bisa

Oktober 12, 2017

"Kalau mau sama anaknya, harus mau juga nerima keluarganya," begitu nasehat yang sering diberikan pada seseorang yang akan mengarungi bahtera rumah tangga.

Ya memang sudah sewajarnya bahwa sebuah pernikahan adalah penyatuan dua keluarga besar, tidak hanya dua insan manusia saja. Itu juga yang menjadi kesadaran saya sejak awal menikah. Keluarga besar saya akan menerima suami sebagai bagian keluarga kami, pun demikian sebaliknya saya akan masuk menjadi bagian keluarga besar suami.  


Kami berdua pun berusaha untuk tidak membedakan antara orang tua dan mertua. Kami tekankan ke masing-masing di antara kami bahwa orang tuamu adalah orang tuaku juga. Meski tidak semudah mengatakannya, namun selalu bisa dipelajari.  

Hingga pada suatu masa di mana kami benar-benar merasakan persatuan dua keluarga itu, persatuan antara menantu mertua yang hidup di bawah satu atap.

Jadi ceritanya, dulu keluarga kecil saya tinggal di Semarang, sedang orang tua saya di Ambarawa dan mertua di Temanggung. Bulan Oktober 2010 ayah mertua wafat. Jadilah ibu mertua tinggal sendiri di Temanggung.

Dua bulan kemudian atas kehendak Allah, ayah kandung saya wafat tepat di liburan akhir tahun. Meninggalkan ibu yang juga tinggal seorang diri di rumah.

Kedua ibu saya yang tercinta ini masing-masing mempunyai keinginan yang sama, yaitu meminta kami untuk menemani di rumahnya. Tentu ini pilihan yang sangat berat. Memilih salah satu tentunya akan menyakiti satu pihak yang lain.

Namun qodarullah berkata lain. Lima bulan setelah ayah saya wafat, saya diberi Allah petunjuk untuk menentukan jalan berikutnya. Tepat di malam ulang tahunnya yang ke 72, ibu wafat setelah mengalami koma 20 hari akibat penyempitan pembuluh darah otak. Memang sejak sepeninggal ayah, kesehatan ibu menurun drastis.


Wafatnya ibu membuat saya tidak punya pilihan selain pulang ke kampung suami untuk menemani ibu mertua. Saya tidak berpikir banyak saat memutuskan itu, hanya satu alasan saya: tidak ingin menyesal lagi karena tidak sempat menuruti permintaan seorang ibu. Permintaan yang sederhana, hanya ingin dekat dengan anak cucunya.

Suami hanya diam dan menurut saat saya utarakan niat untuk pindah dan menemani ibu, dengan berbagai resiko yang salah satunya kami-saya dan suami- harus rela berpisah jarak.

Singkat cerita, suami pulang untuk mengurus segala keperluan pindahan kami, termasuk mendaftar sekolah ketiga anak. Kebetulan sekali saat itu bertepatan dengan libur kenaikan kelas.
Dan saat yang ditunggu akhirnya tiba: Saya dan tiga anak resmi tinggal di rumah eyang di Temanggung.

Jujur saja banyak tetangga dan teman yang menyangsikan keputusan saya ini. Rata-rata mereka menganggap konyol dan bodoh, serupa ungkapan ini, "Udah enak-enak hidup sama suami kok malah mau seatap sama mertua. Kalo aku sih ogah!" Atau, "Udah siap makan hati, seenak-enaknya sama mertua lebih enak hidup sendiri, dong, bebas." Dan kalimat-kalimat lain yang menadakan bahwa hidup bersama mertu aitu tidak ada enak-enaknya.

Emang sih, banyak cerita gak enak tentang hubungan menantu-mertua yang memicu konflik. Saya sudah pernah menulis tentang ini di sini.

Namun ada juga sahabat yang mendukung niat saya. Mereka bahkan membekali doa dan wejangan yang berguna saat saya membersamai mertua kelak. Semoga berkah berlimpah membanjiri sahabat-sahabat saya ini.

Biarlah, apa pun pandangan orang, toh pada akhirnya hanya saya yang menjalani dan merasakan. Jadi biarlah semua itu jadi doa dan pelecut saya supaya menjadi menantu yang baik.

Daaaann... Bener... ternyata terkadang kenyataan tidak sesuai harapan. Cita-cita hidup harmonis antara menantu-mertua tidak semulus bayangan. Selalu ada halangan dan rintangan. Apalagi kami (saya dan bumer) sama-sama orang yang keras hati. Seringkali kami beda pendapat, namun tak lama kami saling menyadari dan rukun kembali.


Godaan kebersamaan juga kadang datang dari pihak luar, yaitu orang-orang yang cuma numpang komen dan tepuk tangan. Namun tidak ada andil sedikit pun terhadap ketentraman dan kesejahteraan hidup kami.

Syukurlah, beberapa bulan pertama adaptasi bisa kami lalui dengan baik. Dan beberapa hal yang bisa saya catat sebagai faktor keberhasilan kami hidup bersama adalah:
1. mencoba tidak peduli terhadap pendapat orang luar tentang 'kejamnya' ibu mertua. Karena jika pendapat itu kita pelihara di otak dan hati, pasti akan berpengaruh terhadap pola pikir kita. Lalu akan selalu berpikiran negatif terhadap beliau. Ini sungguh mematikan karakter.
2. berusaha mengenali dan memahami karakter ibu mertua. Ibu mertua saya adalah orang yang disiplin dan keras. Beliau mantan juragan pada jamannya, sehingga terbiasa hidup dengan banyak pembantu. Nah, ketika masa sepuhnya beliau hanya hidup bersama saya dan anak-anak, kebiasaan itu terbawa. Kalau meminta untuk mengerjakan sesuatu ya harus cepat dan benar. Ini yang pada awalnya sering bikin saya mood down. Lalu pembelaan saya, enak aja suruh suruh, nah saya kan juga punya urusan sendiri, Buk.
3. telusuri masa lalu ibu mertua. Keadaan, sifat dan karakter beliau sekarang tentunya tidak terjadi begitu saja. Pasti ada kondisi lingkungan yang membentuknya. Setelah saya telusuri dari mendengar cerita-cerita dari ibu sendiri, saya bisa memahami kenapa beliau bisa sekeras sekarang. Sejak bayi mungil ibu sudah yatim piatu. Lalu ibu dan kelima kakaknya diasuh oleh bulik-buliknya dengan cara dibagi, sehingga ibu terpisah dengan saudara kandungnya. Ibu kecil tidak tamat sekolah rakyat. Ibu membantu usaha dagang buliknya di Ambarawa. Lalu ibu menikah dengan bapak yang beda usianya cukup jauh. Sejak itu ibu memulai usaha dagangnya sendiri, membangunnya hingga besar dan punya banyak pekerja. Ya, ibu adalah seorang pedagang yang ulet. Masa kecil yang susah dan keras itulah yang membuat ibu jadi wanita yang keras.
4. kembalikan selalu ke niat awal. Sesulit apa pun rintangan, usahakan jangan sampai membelokkan niat tulus di awal hijrah. Ingat, batu yang keras sekalipun akan berlubang jika terus menerus ditetesi air. Apalagi hati manusia, tentunya akan menjadi lembut jika tiap hari kita usap dengan kasih sayang.
5. cari tahu apa yang bisa menyenangkan hati ibu. Ternyata, setelah saya coba lakukan dan amati, yang bisa menyenangkan hati orang tua adalah perhatian tulus dari kita sehingga membuat beliau merasa nomer satu di hati kita. Banyak cara  untuk mengungkapkan perhatian kita. Kadang orang tua kita hanya butuh untuk didengarkan saat beliau bicara. Butuh wajah ceria kita saat berhadaan dengan beliau. Butuh sentuhan lembut di hatinya.
6. selalu berpikir positif dan menikmati setiap prosesnya. Karena pikiran yang positif akan menjadi kekuatan untuk selalu bergerak dalam mewujudkan niat. Menikmati proses adalah suatu kesadaran untuk menjaga konsistensi. Up and down, selalu mengasikkan.
7. bawa namanya dalam doa. Jangan pernah berharap pujian dari manusia, karena jika yang kita dapatkan adalah celaan, jatuhnya sangat sakit. Tapi selalu doakan yang terbaik bagi beliau dan semuanya. Biarlah Allah yang maha mengatur yang akan memudahkan segalanya.


Ternyata, ketika saya terus bergerak sebagaimana mestinya dan tidak mengharapkan apa-apa, semuanya menjadi enak dijalani. Satu hal yang baru saya ketahui kemudian, ternyata tidak hanya saya yang belajar bagaimana membersamai ibu, tapi ibu juga belajar banyak bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana menurunkan ego dan belajar menerima pendapat. Saya tahu, itu pelajaran yang sangat sulit bagi ibu. Tapi beliau mau menjalani dengan kesadaran sendiri. 

Tentunya ini semua berkat rahmat dan kehendak Allah azza wa jalla. Semua yang terjadi sudah menjadi rencanaNya. Termasuk saya yang dulunya sama ibu sendiri saja sering sekali bentrok, namun justru sekarang disatukan dengan ibu mertua.

Meski demikian, tak jarang konflik datang menerpa kami berdua. Bagaimana cara saya meredam konflik bisa dibaca pada tulisan saya yang ini.

Namun hanya beberapa tahun saja kebersamaan kami. Pada akhir Desember 2014 Allah telah memanggil beliau. Kalau dulu pernah merasakan berat dan sulit, sekarang saya merindukan lagi masa-masa itu. Kadang terpikir, ingin lebih lama diberi kesempatan melayani ibu. Sekadar duduk berdua di teras, berbincang sambil memotong kuku kaki ibu. Atau menyiapkan buka puasa Ibu. Tapi tidak ada manusia yang bisa melawan takdir kematian.

Kini hanya kenangan manis dan pelajaran yang selalu saya ingat dari ibu mertua. Meski sebentar hidup bersama, tapi banyak pelajaran hidup yang saya terima. Salah satunya adalah sifat ulet dan pantang menyerah dalam berusaha. Ibu tidak pernah ragu dalam bertindak, dan berani mencoba hal baru. Itu pula yang harus bisa saya teladani.

Bu, terima kasih telah mengajariku tentang kesabaran dan kerja keras. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Ibu dan menerima amal ibadah Ibu. Semoga saya bisa melanjutkan semua hal-hal baik yang telah Ibu lakukan.

Al Fatihah.

*semua foto bersumber dari Pixabay.

You Might Also Like

31 komentar

  1. Mbak...gie langsung brebes mili bacanya. Makasih sharing nya gie merasa terbantu banget menyiapkan mental berkeluarga kelak.

    BalasHapus
  2. Mbak, itu bener 2014? Kayaknya beberapa kali aku baca status soal kebersamaan Mbak Din dengan Mama mertua ya. Apa aku yang siwer. 😅

    Btw, thanks for sharing. Aku sekarang juga tinggal sama mertua. Untuk sementara. Mumpung ortuku sendiri sehat dan mbak-mbak tinggalnya berdekatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener dik, aku di sini dari Juli 2011. Dan beliau wafat Desember 2014. Gak terasa sudah hampir 3 tahun tanpa beliau.

      Hapus
  3. Meleleh bacanya mbaa 😥, seringkali saya menguatkan diri untuk survive seatap dg mertua tidak mudah memang. Tapi saya berusaha. Tfs yaa mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mbak, selalu sabar ya... I feel you

      Hapus
  4. Saya juga tinggal di Istana mertua tapi syukurlah beda ruangan jadi dapur, listrik dan gas misah. Kami mandiri, enggak minta bantuan karena gak mau repotin ortu, bahkan pas punya anak saya tinggal di mertua, enggak balik ke mamah. Semua diambil.hikmahnya saja, berbicara baik atau diam sih kalau saya mah ;) nice sharing mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barakallah mbak, semoga dimudahkan semua urusannya. Betul sekali mbak, semua pasti ada hikmahnya.

      Hapus
  5. Mbak,makasih ya sharingnya....termasuk2 tips2 dan faktor yg harus dilakukan saat tinggal bersama ibu mertua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama mbak, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  6. Merasa dekat dengan tulisan ini karena saya lahir dan besar di temanggung. Bahkan meski skrg sdh pindah2 kota, ktp msh temanggung. Salam kenal mba dini. Trimakasih sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mbak Lisdha, kalau mudik Temanggung bisa ketemuan ya?

      Hapus
  7. wah bisa sejalan itu hebat ya, memang semua tergantung dua probadi yang saling mau belajar menghargai satu sama lain, lah aklau mertualu sih susah , inginnya kemauan dia sendiri untungnya aku jauh dr mertua

    BalasHapus
    Balasan
    1. awalnya susah juga mbak untuk menyesuaikan. tapi ya alhamdulillah bisa cocok. hehe

      Hapus
  8. aku sempat tinggal di mertua agak susah mba klo aku krn mertua lbh senang bicara dibelakang dbdg ungkapkan saat itu jg yg pada akhirnya melibatkan pihak ketiga malah membuat hubungan kami acak kadut xixixi makasih tp sharingnya moga kelak mertua bisa terbuka spt mertua mba lbh enak ngomong disuruh2 mb drpd aku ga tau keinginannya samsek 😁 *alfatihah untuk mertua n ortu mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga mertua bisa berubah ya mbak, ga bicara di belakang lagi. kalau aku dulu bicara dulu ke ibu, "Buk, sekarang kan saya ada di sini nih buk, jadi kalau ibuk ada apa-apa langsung bilang aja ya sama saya. Saya gak papa kok bu, malah lebih seneng." Tapi ya itu mbak, bicaranya nunggu waktu yang tepat. pas hati beliau lega gitu. :)

      Hapus
  9. Tidak semua orang bisa seatap sama mertua. Mungkin memang bawaannya serem duluan krn mendengar cerita2 org2 di luar sana yg tdk bisa survive tinggal sama mertua.

    Mungkin tergantung jg dr pribadi menantu dan mertuanya ya mbk, sama2 saling bisa menghargai utk hidup berdampingan...

    TFS

    BalasHapus
  10. Masyaallah. Semoga menjadi pahala bagi kalian berdua ya. Doa untuk ibu mertuanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin yaa rabbal alamiin.. makasih mbak

      Hapus
  11. Aku dari srminggu setelah menikah dibawa ke semarang, jadinya ngalaminnya jadi kontraktor sampai punya rumah sendiri selalu berdua, ketemu mertua kalau mudik saja, atau mereka yang kesini 😀

    BalasHapus
  12. Aku dan suami udah dari awal udah niat tinggal terpisah dg orang tua. Namun kami.sempat tinggal seatap dengan orang tua ku 2 bulan. Smentara di rumah ortu suami 4,5 bulan. Kalo hubunganku dengan bumer selama ini alhamdulillah baik. Karena aku memang menghormati beliau, dan beliau adl mertua yg baik. Malah kami.sering pergi bersama, bertiga dengan suami menemani ibu kalo ingin mengunjungi kakaknya di Boyolali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kurasa semua ibu mertua pasti senang punya mantu mbak Wati. baik, hormat, penyayang... komplet

      Hapus
  13. bicara rumah tangga, bagi laki-laki adalah wajib juga bukan mengajak ortu tinggal bersama?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Koh, utama itu. Ortu menjadi tanggung jawab anak lelaki. Tapi ibu gak mau diajak pindah, ya sudah kami yang menemani saja :)

      Hapus
  14. Salut dengan pilihan yang sudah Kakak dan Suami tentukan. Al-Fatihaah buat Almarhumah Ibunya Kakak. Semoga Beliau selalu diberi kelapangan dan kesejukan di alam sana. Amin...

    BalasHapus
  15. Wah mbak saya belajar banyaj baca tulisan ini
    Memang katanya konflik mertua vs menantu itu never ending story, tapi ya balik lagi ya bagaimana menyikapinya

    Saya pribadi pernah sih merasakan tinggal seatap sama mertua, selama 2 tahun. Tapi posisinya berbeda dengan mbak, karena mertua yang tinggal dirumah kami, jadi ya mungkin situasinya yang tidak banyak memicu konflik

    Makasi sharingnya mbak

    BalasHapus
  16. Aku kok jadi pingin nangis ya Mbak. Aku mengalaminya sekarang. Jauh dari suami. Mandiri dan apapun harus kuat. Nuwun sharingnya yo Mbak

    BalasHapus
  17. Alhamdulillah aku dipertemukan dengan ibu mertua yang baik, Beliau pun sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa...

    BalasHapus