Langsung ke konten utama

Tips Internet Sehat Menurut Emak Rumahan



Minggu lalu saat rumpi di kumpulan ibu ibu RT ada seorang ibu sepuh yang wanti wanti, "Ibu-ibu, hati hati ya kalau hape kita dipegang anak-anak, pastikan kita tahu apa yang sedang dilihatnya." Wajar saja ibu tersebut punya kekhawatiran demikian, karena beberapa hari sebelumnya di salah satu grup whatsapp beliau mendapat kiriman video kekerasan yang dilakukan seorang ayah terhadap anak. Sungguh miris. Ditambah yang baru saja rame barusan yaitu konten GIF seks pada aplikasi tersebut. Makin ngeri kan? Untungnya sekarang sudah dihapus.



Lain lagi cerita kekhawatiran seorang teman yang melihat tumbuhnya beberapa warnet dan game online di desa kami. Anaknya yang di rumah tidak difasilitasi gadget sekarang sering sekali ke warnet. Si anak rela tidak jajan asal dia bisa ke warnet dan main game. Sedang si ibu khawatir anaknya keasikan main sehingga lalai belajar. Juga takut kalau si anak melihat tayangan yang tidak semestinya dilihat. Jadinya si ibu parno sendiri dan hanya bisa melarang si anak ke warnet lagi.

Jadilah kalau begini siapa yang biasanya jadi kambing hitam kesalahan? Ya si internet. Bisa saja dengan gampang bilang begitu. Padahal kalau digunakan secara bijak, si internet ini bisa lo jadi sahabat yang baik  dan menguntungkan. Jadi nggak fair dong ya kalau menyalahkan internet saja.

Kemajuan teknologi informasi dan jaringan memang sangat pesat bahkan tak terbendung. Dia hadir juga untuk memenuhi kebutuhan manusia modern yang makin berubah. Sejatinya banyak manfaat yang ditawarkan internet bagi kita.

Buat saya sendiri sebagai ibu rumah tangga, banyak hal yang saya dapatkan dari internet. Saat mau masak tapi bingung resepnya, dulu sih bisa tanya ke ibu. Tapi sekarang gak ada yang ditanya, tinggal klik, cari, dan ketemu jawabannya. Saat anak kesulitan bikin PR juga tinggal nanya ke internet. Ketika anak menunjukkan gejala tidak sehat dan segala perilakunya juga bisa saya cari informasinya di internet. Sampai sampai waktu leher sakit karena salah bantal pun saya cari solusinya juga di internet.

Kok apa apa internet, kayak gak punya tetangga saja. Ada loh yang bilang gitu. Nah sekarang kan sudah jamannya, lagipula saya gak mau merepotkan tetangga, makanya saya  tanya ke internet dulu. Kalau urusan silaturahmi ke tetangga sih pasti utama. Apalagi sekarang mayoritas orang pakai telepon pintar dengan aplikasi whatsapp. Lalu bikin grup whatsapp, dari grup dawis, PKK RT-RW-Kelurahan, wali murid, alumni sekolah, grup jualan sampai grup hobi. Makin mudah silaturahminya, kan?

Selain itu, internet juga membantu banyak emak rumahan macam saya mendapatkan penghasilan tanpa harus keluar rumah. Mereka bisa menawarkan produk dan jasanya melalui media sosial yang menjangkau calon pembeli lebih luas. Dan hasil yang didapat juga lebih banyak. Senang deh kalau melihat semangat ibu-ibu yang jualan online itu. Apalagi buat seorang emak bloger, internet itu ibarat makanan pokok.

Namun melihat kekhawatiran para ibu di awal tulisan ini sangatlah wajar. Karena tidak semua hal hal positif yang bisa kita dapat di internet. Demikian juga kebalikannya, begitu banyak tontonan dan info menyesatkan digelar di sana. Bagaikan sebuah pisau yang tajam, jika digunakan sesuai keperluannya maka dia akan sangat membantu. Namun jika berada di tangan orang yang salah maka bisa berbuah celaka.

Demikian pula internet. Titik masalah bukan di internetnya sendiri, namun pada kesehatan mental manusia penggunanya. Wihh, ngomongnya sampai kesehatan mental ya. Itu jelas. Tidak bisa ditawar lagi. Jadi kalau bicara tentang internet sehat, itu tergantung pada perilaku penggunanya.

mas Dio belajarnya butuh internet banget

Berdasarkan pengalaman pribadi nih, penggunaan internet yang baik dan bijak sehingga menyehatkan itu  yang

1.  Sesuai keperluan
Segala sesuatu memang harus sesuai takarannya. Kalau mau mencari info tentang suatu hal ya cukuplah klik sesuai kebutuhan itu saja. Kalau mau ngeblog ya sudah jangan buka buka medsos lain. Eh, ini pesan buat saya pribadi juga ding. Jika menggunakan internet sesuai kebutuhan maka tidak akan membuang waktu sia sia juga. Pengalaman juga tuh, keasikan mantengin fesbuk apdet status dan komen sana sini tau tau waktu satu jam berlalu tanpa terasa. Sayang kan kalau begitu.

2. Tidak baperan
Di medsos orang merasa bebas mengunggah dan bicara apa saja. Foto apik sepiring makanan yang diunggah seseorang bisa jadi masalah bagi orang yang melihatnya. Atau foto mesra bersama suami pun bisa bikin sakit hati orang yang kebetulan sedang bermasalah dengan suaminya. Makanya selalu isi hati dengan rasa syukur sehingga saat melihat atau membaca sesuatu tidak mudah baperan.

3. Menebar aura positif
Jika membuat status, caption atau  pun tulisan blog usahakan memberi kesan positif, informatif  dan menghibur. Tapi kalau kita pas sedih atau marah gimana dong? Boleh, tapi silakan marah dengan bijak. Tidak lantas menyebarkan kebencian di media sosial. Mungkin hati puas, tapi tidak menyelesaikan masalah.     

4. Menghasilkan 
Menghasilkan di sini tidak terbatas pada materi atau rupiah saja. Saya sangat bersyukur berkat internet saya dapat informasi dan peluang banyak sekali hingga saya bisa memiliki belasan antologi buku. Lalu berkat internet pula saya punya ribuan teman dari mana saja yang saling support. Dan tentunya berkat internet pula saya dapat pekerjaan dan rupiah pun mengikuti.

Oya, berkat internet pula anak saya Dio yang unschooling bisa belajar dan berkarya hingga sekarang bisa menjadi salah satu murid di Does University untuk menekuni bidang animasi.

5. Dalam kendali diri
Kontrol atau pengendalian diri yang tinggi sangat berpengaruh pada perilaku berinternet. Jangan mudah percaya pada berita hoax dan jangan mudah berbagi info yang belum jelas kebenarannya. Dan berpikir sebelum posting.  Mau lanjut internet seharian atau berhenti juga cuma diri sendiri yang bisa mengaturnya. Jadi perkuat kendali diri, ya.

beragam permainan yang ditawarkan

Selain itu, sebagai orang tua memang kita dituntut untuk lebih waspada meski jangan juga lantas jadi parno sendiri. Sebisa mungkin dampingi anak-anak kita saat menggunakan gadget atau komputer, beri batasan waktu, kontrol permainan apa saja yang diunduh dan dimainkan anak, perbanyak interaksi langsung dengan mereka, alihkan ke permainan dan kegiatan lain dan selalu tingkatkan pengetahuan kita sendiri supaya tidak ketinggalan oleh anak sendiri.

Dan yang tak kalah penting dari semuanya adalah selalu bekali anak kita dengan pembiasaan akhlak yang baik. Berikan anak contoh dan pengertian. Jika anak tahu mana yang baik mana yang tidak, mana yang boleh dilihat mana yang tidak, insyaallah dia akan terjaga.

Jadi mau baik atau buruk pengaruh internet ke kehidupan kita ya ada di tangan kita sendiri. Saya punya teman yang layak dijadikan teladan atas kecerdasannya memanfaatkan internet. Awalnya menyalurkan isi hati do blog dengan bahasa yang ringan dan bergizi, mak Dewi Dedew Rieka berhasil menelurkan puluhan buku yang lalu mengalirkan pundi pundi rupiah ke rekeningnya. Anak Kos Dodol adalah serial tulisannya yang paling terkenal. Selain AKD, mak Dedew juga menulis buku berbagai genre, dari cerita anak hingga kisah inspiratif ibu ibu. Selain menulis dan aktif ngeblog, beliau juga seorang mentor nulis yang gak pelit ilmu dan sangat rendah hati. Asyik deh pokoknya temenan sama mahmud yang satu ini.

Ada lagi sahabat lain yang juga saya kenal melalui dunia maya. Dialah mbak Prananingrum, blogger asal Semarang. Mbak Ningrum ini seorang kutubuku yang hobi travelling dan menjahit. Disela kesibukannya mengasuh dan mendidik dua putrinya mbak Ningrum sangat rajin ngeblog. Ih, makin kagum deh sama dua ibu nan lemah lembut ini.

Jadi tulisan ini sebenarnya sebagai pengingat diri saya sendiri yang sering banget lupa diri saat masuk ke dunia maya. Keasikan nginternet sampai lupa kalau lagi masak air, gosong deh... 😂
Dan sekaligus menjawab tantangan menulis dengan tema internet sehat menurutmu yang diusulkan oleh mak Dedew dan mbak Ningrum sebagai pemenang #arisanbloggandjelrel putaran ke 15 ini. Semoga artikel ini bermanfaat.

Nah, kalau menurut teman pembaca sekalian, apa sih internet sehat menurut kalian?

Komentar

  1. Bismillah ... semoga internet memberikan kebaikan dan pemasukan yang barokah bagi diri dan keluarga kita. Amiiin ... ^_^

    BalasHapus
  2. Wah saya banget tuh mbak, buka internet dulu sebelum masak. Ibaratnya mau masak ayam goreng tetap harus buka internet, hehe.. maklum ga biasa di dapur mbak..

    Semoga sukses ya Dio, keren abis deh :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya.
Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri.
Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku.
Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut.

KLEPON
Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi tersendiri saat menyeplus si…

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini.
Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari, ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema yang pas…

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)
Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 
Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 
Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka k…