Para Penjaga Ilmu; Kenangan tentang Guru SD Lodoyong 2 Ambarawa

Desember 17, 2017

Bergumul dengan anak anak TK dan SD kelas satu dalam keseharian sangat menyenangkan.  Sebuah kepuasan tersendiri saat melihat mereka mampu mengingat dan mengeja suku kata yang aku kenalkan. Lalu makin hari makin banyak suku kata yang mampu mereka baca. Hingga akhirnya membentuk kata dan kalimat. Mereka pun tak kalah senangnya ketika bisa membaca dengan benar.

Melihat semangat dan perkembangan mereka, tak jarang suasana itu membawa kembali pada puluhan tahun lalu tatkala saya seperti mereka. Berada di awal sekolah dasar dan baru mengenal tulisan. Mengenang hal itu membuat saya ingin mengucapkan terima kasih pada para guru yang dulu pernah berperan besar memgukir ilmu di hati dan pikiran saya. Ucapan terima kasih yang dulu tidak pernah terucap.

 

Dan tulisan ini pun saya persembahkan kepada yang mulia para guru di enam tahun pertama pendidikan saya. Beliau adalah guru guru SD Lodoyong 2 Ambarawa. 

1. BU WARSITI
Beliau adalah guru kelas 1 kami. Lain dengan guru lainnya, Bu Warsiti selalu berkain dan berkebaya setiap hari termasuk ketika mengajar. Lengkap dengan sanggul rapi sebagai mahkotanya.
Saya masih ingat banget saat pertama kali mengeja i-ni bu-di bersama beliau.  Saya yang saat masuk SD sudah lancar membaca, dengan senang hati berteriak bersama teman satu kelas membaca i-ni bu-di.
Bu Warsiti guru yang sabar dan tegas. Saya menjalani tahun pertama dengan lancar dan senang. Alhamdulillah di kelas 1 ini saya jadi bintang kelas.

2. BU HERI
Di kelas dua ini yang menjadi wali kelas adalah Bu Heri.  Sebenarnya, Heri adalah nama suami beliau. Dan bodohnya saya, sampai sekarang saya tidak tahu nama asli beliau. Hihi.

Ada pengalaman tak terlupakan saat saya kelas dua ini. Waktu itu ulangan harian matematika yaitu mencongak penjumlahan dan pengurangan. Hal yang sangat mudah bagi saya waktu kecil. *sombong
Anehnya, tiba-tiba saja saya ingin merasakan gimana rasanya mencontek teman, seperti yang beberapa teman saya lakukan. Jadilah saya seorang pencontek dadakan.  Sepuluh jawaban saya tuliskan sama persis dengan jawaban Ruminah teman sebangku. Meski ketika menulis, saya merasa aneh, ih jawaban dia salah deh. . .  Tapi tetap saja saya tulis sama seperti jawabannya. Hehe.

Nah, saat hasil ulangan dibagi, saya tidak menerima sendiri melainkan dipanggil ke kantor guru oleh bu Heri. Di sana saya disuruh mengulang lagi ujian tersebut seorang diri. Dan setelah selesai, beliau memeriksa sebentar lalu membubuhkan nilai 10 di kertas ulangan saya. Kemudian beliau berkata, "Dini, Bu Heri tahu kalau kamu bisa mengerjakan ini. Tapi mengapa tadi pekerjaanmu sama persis dengan Ruminah yang hanya betul tiga?" Dengan polosnya pun saya menjawab, "Saya ingin tahu rasanya mencontek, Bu." Sontak Bu Heri dan beberapa guru yang ada di kantor, termasuk ibu saya, tergelak. Hehe, konyol sih.

3. BU TATIK
Nama asli beliau adalah Sri Hartati. Berpostur sedang dengan rambut sebahu yang selalu dirapikan dengan jepet biting di sisi kanan kiri dekat telinga. Ibu guru kelas tiga ini suaranya lantang kalau mengajar. Bahkan ketika sedang mengajar di kelas paling ujung, suaranya terdengar sampai ujung kelas lainnya. Beliau tegas bahkan kadang galak ketika mengajar, namun paling dekat dan akrab dengan anak muridnya. Tak jarang beliau menyempatkan diri untuk berbincang atau bermain dengan anak-anak saat istirahat tiba.

Ada satu pengalaman yang tak kan saya lupa. Hari itu saya lupa mengerjakan PR matematika. Ketika semua anak mengumpulkan PR nya, hanya saya yang tidak bisa mengumpulkan. Saya benar-benar lupa kalau ada PR itu. Mau bohong, bilang kalau bukunya ketinggalan pun tak berani.
Jadilah itu hari kesialan saya. Dihukum mengerjakan soal PR itu sepuluh kali. Dan itulah hukuman pertama yang saya terima saat SD, dari Bu Tatik yang tak lain adalah ibu kandung saya sendiri.
Jadi kalian bisa paham, kan, seperti apa tegasnya beliau.

4. BU YAMTINI
Beliau adalah guru paling muda saat itu. Anak-anak kelas 4 sangat senang mempunyai wali kelas Bu Yam. Suaranya lembut, sampai kadang tak terdengar dari belakang kelas, hehe. Orangnya juga cantik sehingga meski suaranya kadang tak terdengar, tetap saja bisa menjadi pusat perhatian anak-anak saat beliau menerangkan. Bu Yam juga guru yang paling jarang marah. Namun kadang kebaikannya itu justru membuat kami muridnya keenakan, lalu memanfaatkan. *dijitak

Suatu hari, saat istirahat pertama, saya dan beberapa teman sepakat untuk melihat tradisi Nyadran yang sedang diadakan di kampung sekitar sekolahan. Kebetulan, makam tempat acara tersebut juga tak jauh dari SD kami. Lalu jadilah lima anak perempuan tengil menyelinap ke belakang sekolahan  dan lari ke utara menuju pemakaman.

Sebetulnya, saya hanya penasaran karena seumur umur belum pernah tahu apa itu Nyadran. Makanya Rahayu teman saya semangat mengajak kesana, karena emaknya juga ikut Nyadran. "Siapa tahu nanti ada yang mau bagi kita makanan," katanya.

Sampailah kami di lokasi Nyadran. Alih alih dikasih makanan, kami bahkan tak berani mendekat karena takut mengganggu mereka yang sedang berdoa. Kami hanya mengamati dari balik nisan nisan dan pohon kamboja. Hingga tak terasa setengah jam berlalu. Menyadarinya, kami pun bergegas kembali ke sekolahan. Saat yang lain mengajak berlari cepat, ada yang lain menenangkan. "Santai saja, Bu Yam tak akan bisa marah.Percayalah." Huh, sungguh anak anak bengal, ya.

Tapi ternyata dugaannya salah. Bu Yam tetap menghukum kami untuk membersihkan kelas. Ternyata Bu Yam juga bisa marah. Tapi kami tetap sayang dan hormat padanya.

5. BU ENDANG
Akhirnya sampailah juga saya naik ke kelas lima dan bertemu dengan Bu Endang yang jelita. Suaranya yang kenes nyaring dan renyah saat menerangkan pelajaran. Betah sekali kalau belajar bersama Bu Endang ini. Kami terkesan dengan sifat beliau yang selalu ceria dan ramah. Bu Endang juga suka sekali melemparkan guyonan supaya anak-anak tidak bosan dan ngantuk.

Pernah suatu hari. setelah ulangan harian Bu Endang sedang menilai hasil pekerjaan anak-anak di mejanya. Sementara itu kami disuruh menggambar bebas. Tiba-tiba di pintu kelas datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu meski pintu dalam keadaan terbuka. Tapi Bu Endang tidak menengok melainkan tetap melanjutkan pekerjaan beliau.

"Bu, ada tamu, Bu," saya yang duduk di depan mejanya berbisik agak keras.
"Hem..., yo sik." Bu Endang tetap menatap buku dengan tenang dan tangannya bergerak menilai ulangan kami.
"Bu..., itu tamunya menunggu," saya malah yang gusar melirik sang tamu. Ibu yang berdiri di depan pintu itu hanya tersenyum.

Setelah kalimat terakhir saya barulah Bu Endang mendongak dan melihat ke arah pintu, daaannn....
"Eh, Bu, maaf saya tidak tahu.... Saya kira anak kelas 6 mau minta kapur," sekarang Bu Endang yang gusar minta maaf telah mengabaikan kehadiran ibu Penilik Sekolah. Hehe...

6. PAK MOHTAR
Beliau adalah guru idola saya sejak kelas 2. Dan akhirnya kesampaian juga jadi murid beliau. 
Saat saya kelas 2, sering mendengar cerita dari Mas Didit yang sudah kelas 6 dan diajar Pak Mohtar ini. Kakak saya ini sering cerita tentang kehebatan dan kepandaian Pak Mohtar pada pelajaran matematika. Jadilah saya yang masih kelas dua teracuni oleh doktrin ini dan membuat saya sering tak sabar untuk jadi murid kelas enam.

Dan memang benar, sangat menyenangkan belajar matematika bersama beliau. Apalagi saat latihan menjelang ujian akhir, Pak Mohtar sangat semangat memacu kami untuk berlatih soal soal ujian. Berkat kesabaran dan semangat beliau, kami pun ketularan semangatnya. 

Rumahnya cukup jauh dari sekolahan kami, beda kecamatan. Beliau harus naik angkutan pedesaan setiap hari dan itu pun masih harus ditambah jalan kaki yang lumayan melelahkan. Namun tak pernah menyurutkan semangatnya untuk mendidik dan membimbing anak didiknya.

Mereka adalah guru guru sederhana namun istimewa. Di tengah keterbatasan mereka tetap semangat menjalani titahnya. Saya sebagai anak guru saat itu, bisa merasakan betapa sulitnya ibu menghadapi masalah ekonomi keluarga. Namun ibu dan guru guru yang lain selalu tulus mengajar dan menjaga ilmu untuk dibagikan kepada seluruh anak didiknya.

Kenangan akan para guru kami tetap akan hidup di benak. Banyak di antara guru SD saya yang telah wafat. Semoga jasa-jasa mereka selalu menjadi amal jariyah yang tiada putus. Terpujilah engkau wahai ibu bapak Guru. Hormat kami selalu.

Tulisan ini saya dedikasikan kepada seluruh guru sekolah dasar saya, sekaligus menjawab tantangan #arisanbloggandjelrel putaran ke 16 dengan tema Pengalaman Berkesan bersama Guru yang dilempar oleh sang pemenang arisan yaitu mbak Relita Aprisa dan mbak Yuli Arinta.

You Might Also Like

8 komentar

  1. Wakakak, Bu Heri, marai ngekek. Mbak din, Mbak Din, bisa ya kayak gitu hahaha. Kok iso sih Mbak? hadehh..
    Bu Tatik, ini pernah diceritain Miftah sama aku, hihihihi.. kenangan jaman SD katanya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. waktu itu pernah dengar dari kakak kelas tentang istilah 'nurun', dan ada teman yang sukanya 'nurun', terus penasaran. hahaa

      Hapus
  2. Keren mba din masih ingat kenangan masa sdnya dengan detail, sangat berkesan banget yaa mba brrt..aku banyakan lupanya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah masih banyak lagi kesan yang kuingat, Cha. Hehe

      Hapus
  3. Belum pernah diajar Bu Kus ya? Aku pernah disuruh pulang utk minta tanda tangan ortu karena tdk mengerjakan PR,tapi bukannya pulang, malah jalan kaki ke Bandungan..

    BalasHapus