Langsung ke konten utama

PUISI TERINDAH ITU BERNAMA IBU


Ibu hadir dengan sangat indah di hidupku, meski kata beliau akulah keindahan yang dihadirkan Tuhan baginya.

Aku lahir di usianya yang menjelang empat puluh tahun. Setelah tiga anak laki-laki lahir dari rahimnya, kemudian ada aku yang Tuhan titipkan padanya. Seorang anak perempuan yang dinanti-nanti.

Ibu memperlakukan aku dengan sangat indah. Sejak bayi hingga jadi perempuan dewasa. Ibu selalu hadir dengan keindahannya tersendiri.



Doa-doa dan harapan baik selalu dihembuskan dalam setiap helaan napasnya. Seluruh kelembutan dan sayangnya yang tiada batas mengalir di setiap detik yang kami lewati. Jiwa raganya pun siap dia pertaruhkan demi aku, anaknya.

Namun ironisnya, aku tak dapat menerima semua keindahan itu dengan cara yang indah pula. Aku sungguh tak bisa belajar apalagi meneladan semua sikap ibu.

Di sebuah masa usiaku merekah, aku ingin merasakan kebebasan seperti teman-temanku di luar sana. Yang berkejaran gembira di taman penuh bunga, memetik dan mencium harum aroma putik, saling melempar dan menangkap tawa, bergelung dan menghempas di semak rerumputan. Begitu lepas. Dan aku hanya memandang semua itu dari balik kaca jendela yang dicipta ibu. Dengan hati tergores. Aku ingin seperti mereka.

Sedikit demi sedikit cerita-cerita dari teman-temanku mengaburkan wajah tersenyum ibu di otakku. Sebuah kata bernama kebebasan memudarkan sayang ibu yang tertumpah untukku. Kasih sayang yang selanjutnya di kepalaku bersalin nama menjadi pagar yang semakin hari semakin tinggi, membuat aku kian penasaran untuk bisa melampauinya.

Hingga suatu ketika sebuah celah kudapat. aku berhasil melompati pagar itu. Pagar bernama kasih sayang, kepercayaan dan aturan.

Aku lari. Aku terbang. Tubuhku meringan, mengambang, bak bulu lembut dandelion yang terhembus kian kemari dibelai manja sang angin.

Akhirnya bisa kurasakan sendiri nikmatnya berkejaran gembira di taman penuh bunga, memetik dan mencium aroma putik, saling melempar dan menangkap tawa, bergelung dan menghempas di semak rerumputan. Menghempas. Terhempas. Dalam. Semakin dalam.

Kebebasan yang kuimpikan ternyata tak seindah kusangka. Bak bianglala penuh warna yang pudar sekejap tatkala angin, awan dan mentari berpadu meruntuhkannya. Aku luruh dalam kubang lumpur busuk. Tak seorang pun kawanku tersisa menemani.

Tiba-tiba aku rindu kidung-kidung cinta ibu yang mengantarkan tidur malamku. Tiba-tiba aku rindu doa-doa ibu yang serupa mantra-mantra yang tak pernah lepas dari bibirnya. Tiba-tiba aku rindu dekapan ibu yang begitu erat mengikat bak baju besi zirah yang melindungi. Tiba-tiba aku rindu cecaran, omelan dan cubitan kecil ibu saat aku lari menjauh ketika aku disuruh mandi, juga saat aku menyisakan potongan sayur di tepi piring, atau saat aku menyelinap keluar saat ibu terlelap waktu menemani aku tidur siang. Ibu..., aku rindu....

Dan ketika kata ‘rindu ibu’ hanya tersimpan di benakku saja, ibu tiba-tiba hadir. Ibu datang untukku. Dan hanya ibu yang selalu ada di setiap senang dukaku, baik burukku dan benar salahku. Ketika aku berlari meninggalkannya, ibu tak pernah meninggalkanku.

Ibu adalah alasan aku pergi, namun ibu pula satu-satunya alasan aku kembali. Beliau mengangkatku dari kubang lumpur, memandikan aku dengan curahan maafnya yang meruah, bersih bak bayi baru lahir. Menghangatiku dengan tatapan penuh kasih, yang tak pernah kuasa kubalas tatapan itu. Aku malu aku pernah mengingkarinya.

Ibu, ajari aku merangkai cinta
Meski aku tak paham rima dan irama
Juga tak mampu mengeja makna. 
Ibu, tuntun aku melagu kidung
Kidung kekasih yang merindu
Rindu Ilahi yang menyesap kalbu.
Ibu, tak banyak puisi yang kau cipta untukku
Hanya hadirmu, doamu dan lakumu
Engkaulah puisi terindah itu, Ibu.



Tulisan ini didedikasikan untuk almarhum ibuku tercinta. Semoga beliau diampuni dan diterima. Juga sekaligus turut memperingati hari ibu dan menjawab tantangan arisan blog putaran ke 17 yang dilontarkan oleh Chela Guru Kecil dan Noorma Fitriana M Zain. Keduanya adalah sosok ibu muda yang penuh semangat, blogger sejati sekaligus pendidik yang cerdas. Sangat menyenangkan bisa mengenal keduanya. Yang penasaran dengan mereka silakan langsung meluncur ke blognya.

SELAMAT HARI IBU


Komentar

  1. Duuh..untaian kata2 yg indah utk ibu mba.. Insya Allah ibu bahagia di surga-Nya..

    BalasHapus
  2. Semoga ibu khusnul khatimah ya mbak

    BalasHapus
  3. Alfaatihah buat Ibu.

    Insya Allah khusnul khotimah. Aamiin

    BalasHapus
  4. Kangennya terobati kalo udah curhat ya mba, tapi paling gak bisa pwooolll.

    Al Fatihah buat Ibu, in sha Allah husnul khotimah

    BalasHapus
  5. keren puisnya jadi inget ma di kampung

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)
Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 
Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 
Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka k…

Menjadi Penari Topeng Ireng, Sebuah Pengalaman Seru

Menjadi penari topeng ireng adalah hal yang tidak pernah terpikirkan apalagi direncanakan sebelumnya.  Tapi ini terjadi pada saya. :)
Teman-teman mungkin ada yang belum tahu apa itu Topeng Ireng. Apakah menari dengan memakai topeng yang berwarna hitam? (ireng berarti hitam dalam bahasa Jawa) Saya dulu pernah menyangka demikian. Tapi ternyata salah besar.



Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya.
Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri.
Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku.
Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut.

KLEPON
Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi tersendiri saat menyeplus si…