Semarang; Bayangan vs Kenyataan

Januari 12, 2019


Tak pernah ada dalam rencana untuk tinggal dan menetap di Semarang. Namun di usia 27 tahun dan sudah menyandang status ibu beranak 2, akhirnya saya resmi menjadi penduduk Semarang.

Sebelumnya ada kira-kira satu tahun untuk meyakinkan diri untuk ikut suami pindah ke kota ini. Selain memang ibu dan bapak ingin saya dan anak-anak tinggal bersama mereka di Ambarawa, juga ada semacam kekhawatiran dalam hati tentang kota Semarang ini sendiri.

Ya, sih, sebagai wong ndeso saya memang sering punya ketakutan ketakutan tak beralasan tentang kota dan atmosfernya, termasuk masyarakatnya. Bukan karena Semarang asing bagi saya, tapi justru sudah sedemikian lekatnya Semarang sejak saya kecil. Dan sayangnya, justru banyak cerita cerita negatif tentang kota ini yang mampir ke telinga sejak lama. Ini pula yang bikin saya maju mundur untuk bermukim di Semarang.

Lalu cerita apa saja sih yang pernah bikin saya keder? Apakah ketakutan saya terbukti?

Berikut bayangan dan kenyataan sesungguhnya yang akhirnya saya temui.

1. Bayangan: orang Semarang kasar.
Menurut cerita yang saya dengar, orang Semarang tuh istilahnya wani getakane. Maksudnya kalau bicara keras, ngeyelan dan gak mau kalah.

Kenyataan: yaampun, ternyata mereka ramah tamah dan baik, loh. Blas gak seperti yang saya bayangkan.
Waktu pertama kali pindah ke Semarang, kami kontrak di perumahan Bumi Wanamukti, Sambiroto. Nah pas baru lihat-lihat rumahnya saja, itu calon tetangga sudah ada yang datang menyapa dan memberi info yang sangat kami butuhkan, misalnya di mana tempat belanja. Dan beliau orang Semarang asli. Dan alusan banget orangnya. Maka yakinlah saya untuk tinggal di sana.

Ya kali, tinggal di mana-mana tuh sama saja, kembali dan tergantung ke pribadi orangnya. Ada memang yang logat bicaranya cenderung blak-blakan, tapi hatinya sangat baik. Ada yang tampak ramah di depan, tapi ternyata busuk di belakang. Jadi kota atau desa ga bisa jadi patokan baik buruknya sifat orang.
Kesimpulannya: bayangan kekhawatiran saya salah besar.

2. Bayangan: biaya hidup mahal.
Gimana ya, biasa tinggal di kampung apalagi dulu masih jadi satu sama bapak ibu jadi belum terasa beratnya mengatur keuangan. Lalu kalau pindah ke Semarang, kira-kira biaya hidupnya mahal gak ya? Apalagi anak dua dengan gaji suami yang tidak besar.

Kenyataan: untuk kebutuhan harian, sama aja tuh, ga jauh beda dengan asal dulu. Dan saat hidup mandiri seperti ini baru terasa, bahwa rejeki bukan semata gaji suami.
Alhamdulillah semua kebutuhan bisa tercukupi, anak-anak sehat, tidak kelaparan, bisa sekolah, bahkan kami diberi bonus Allah nambah anak lagi. Asik kan?

Fix, kekhawatiran kedua saya juga terpatahkan. Alhamdulillah.

3. Bayangan: tidak punya teman.
Duh, nanti di sana gimana ya? Belum kenal siapa siapa. Ada gak ya yang mau temenan sama aku?
Dih, norak banget deh waktu itu. Wkk

Kenyataan: bersyukur saya diberi anugerah Allah yaitu hobi senyum. Heheh. Ternyata dengan modal senyum ini bikin saya punya banyak teman. Dari yang satu gang, meluas satu RT, lalu ke RT sebelah, lalu di sekolahan si sulung, lalu dari warung ke warung, lalu di Posyandu, di Kantor Kelurahan, di jalan jalan, dan di mana mana. Alhamdulillah.
Kalau sekarang mengingat lagi kejadian belasan tahun lalu ini saya sering tertawa sendiri. Yaampun, noraknya ya saya dulu..hihi.

Dan lagi lagi kekhawatiran saya ternyata cuma mitos. :)
Nyatanya? Ya nyatanya akhirnya saya betah tinggal di Semarang sampai lebih dari tujuh tahun.

Menurut saya, Semarang termasuk kota yang nyaman untuk dihuni. Udaranya yang panas sih sudah pasti karena termasuk kota pesisir.

Tapi masyarakat yang majemuk namun menjunjung tinggi toleransi dan masih kental dengan kegotongroyongan membuat Semarang selalu jadi alasan untuk kembali lagi.

Apalagi banyaknya lembaga pendidikan yang berkualitas, pusat pelayanan kesehatan yang mumpuni, pusat perbelanjaan dan hotel, fasilitas umum dan transportasi publik yang sangat memadai, menjadikan Semarang layak jadi pilihan.

Dan satu lagi yang membuat saya makin cinta dengan kota ini, yaitu komunitas blogger Gandjel Rel. Komunitas yang mampu menjawab semua kekhawatiran saya tadi. Di sini saya mendapat banyak teman wanita yang hebat. Mereka sangat ramah, baik, produktif, saling membantu dan menginspirasi. Terus terang saya menemukan kepercayaan diri untuk terus menulis ya di sini. Dan dari komunitas ini pula banyak mengalirkan energi positif dan tentu saja rezeki.

Jadi meski sekarang saya tidak tinggal di Semarang lagi, kedekatan dan hubungan batin ini tetap ada. Semarang selalu bikin rindu untuk dihampiri.

Tahun ini Gandjel Rel akan memasuki usia ke-4. Semoga komunitas ini berumur panjang dan makin luas menebar manfaat.

Tak lupa pula doa bagi para founder yang telah membentuk dan menyatukan para blogger perempuan Semarang dan sekitarnya, semoga berkah melimpah untuk mbak mbak semua.

Dan untuk kita semua, semoga selalu diberi kesehatan sehingga bisa terus berbagi kebaikan melalui blog. Ngeblog ben rak nggandjel.

SELAMAT ULANG TAHUN GANDJEL REL.

Tulisan ini dibuat dalam rangka #roadto4thgandjelrel dan diikutsertakan dalam #blogchallengegandjelrel

Sambel Tempe, antara Kesenangan dan Kenangan

Januari 10, 2019

Ada banyak hal yang bisa membangkitkan kenangan kita pada seseorang yang dicinta. Salah satunya adalah makanan.

Jika sedang mengulek cabe, bawang, garam dan sedikit kencur, maka ingatan akan almarhum bapak segera mengambang. Apalagi jika setelahnya  ditambahkan tempe semangit goreng dan dipenyet kasar bercampur ulekan bumbu tadi, maka jadilah sambel tempe kesukaan bapak yang juga jadi favorit anak anak kami. Makan nasi hangat lauk sambel tempe saja bahagianya sudah menyentuh langit-langit. Debar di dada menahan pedas berpagut dengan rindu.

Selain memang jadi lauk yang sangat nglawuhi, di keluarga kami sambel tempe juga penolong pertama pada saat senja bulan dan dompet menyerupai jeruk. Nipis. Yes, sambel tempe menduduki puncak keanggunannya di meja makan.

Apakah anak anak tidak protes? Seperti yang tertulis di atas, alhamdulilah anak-anak malah semua sukacita menyambut dengan riang ria.
Mereka itu ya, kalau sama tempe seperti lihat idola. Jangankan dimasak. Saat tempe mentah dipotong potong mau dimasak saja sudah dicomot masuk mulut. Kadang dicocol kecap.

Ada cerita lain juga tentang si sambel tempe ini.
Ketika itu, siang di akhir Desember 2010. Bapak yang lapar dan tak mau mengganggu ibu yang sedang istirahat, mengulek sendiri cabe, bawang, garam, kencur dan tempe goreng.
Siapa pun kami yang ingin membantu dilarangnya. "Wis, kana kancani wae anakmu."

Setelah itu bapak dhahar bersayur lodeh dan sambel tempe diiringi teriakan pada cucu yang sedang ngumpul di rumah beliau. Selesai bapak makan, masih tersisa cukup banyak sambel tempe di cobek yang tertudungi tutup saji.

Setelah makan bapak kembali ke kamar kerja beliau melanjutkan mengetik laporan. Tidak lama bapak keluar lagi. Mencari empat cucu dan mengajak mereka ke warung Bu Titin. Keempat bocah mendapat jatah jajan dari Yangkung.
Kebahagiaan bapak sederhana. Cukuplah melihat senyum tawa di mata para cucu.

Sore menjelang. Bapak yang berada di kamar kerjanya memanggil ibu. Sesak napasnya kembali menyerang. Semprotan oksigen sebagai pertolongan pertama tak banyak membantu.
"Iki wis entek.... Tukua meneh...," pinta bapak dalam lemah.

Ibu heran. Padahal ini semprotan masih baru. Meski begitu kami belikan lagi satu tabung kecil yang baru. Dan ketika dihirup bapak, lagi lagi bapak bilang itu sudah habis.

Apakah ini firasat? Entahlah. Kami pikir tidak.
Kami bujuk bapak ke RSU. Beliau menggeleng.
Bapak bertahan dalam kepayahan. Kupijit pelan kakinya. Kami bersitatap. Pandangan bapak saat itu terasa jauh. Mulutnya sedikit terbuka, berusaha mencari udara untuk dimasukkan ke tubuhnya. Aku berusaha menahan tangis.
"Bapak kuat, nggih." Harapku.

Keadaan sepertinya membaik. Bapak tenang. Tapi tak bisa tidur. Sebuah bantal kursi didekapnya erat dengan tangan kiri.

Malam menjelang. Ibu selalu menemani. Aku dan adikku mengurus anak kami di lantai dua rumah bapak.
Bocah-bocah ini mulai menyurut energinya.

Tengah malam, ketika aku hampir ikut terlelap menyusul anak anak, ibu memanggil.
Bapak berkenan dibawa ke RSU. Dengan bantuan tetangga kami yang perawat RSU, ambulans datang membawa bapak disertai ibu dan adik. Sedangkan aku tetap di rumah menjaga anak-anak dan ponakan.

Semoga bapak baik-baik saja. Tadi saja beliau naik ambulans sendiri, tidak mau dibantu, meski kepayahan.

Sekitar satu jam kemudian adik pulang. Mengabarkan kalau bapak sudah dapat kamar. Ibu berjaga di sana. Nanti subuh adik akan ke RS lagi membawa kebutuhan ibu.

Aku kabarkan kondisi ini ke semua kakak dan suami yang di luar kota. Doa doa tak lepas dari hati kami.  Semoga Tuhan memberi kekuatan dan memulihkan kesehatan bapak.
Malam itu sangat hening. Anjing tetangga yang kadang malam malam melolong tak terdengar. Burung malam yang biasanya terbang dan mengaok lalu hilang di kebun barat juga tak terdengar. Mungkin alam sedang khusyuk dalam zikirnya.

Selepas subuh.
Telepon rumah berdering. Aku melompat dari kasur lalu lari menuruni tangga.
Kusambar gagang telpon berwarna hijau tua itu.
"Halo, betul rumah bapak Kardi?" Sebuah suara lelaki dari seberang.
"Iya, betul, Pak." Jawabku.
"Ini dari Koramil, mbak. Memberitahukan bahwa Pak Kardi sudah tidak ada baru saja."

Entah apa yang ada di pikiranku saat itu. "Bohooongg!!!" Teriakku tak percaya.

Bagaimana bisa bapak sedang di RSU dan malah orang Koramil yang menelpon kami?

Kutarik napas satu satu. Adik dan tetangga yang mendengar teriakanku mulai mendekat. Kukatakan apa yang kudengar barusan. Mereka menghibur kalau itu pasti tak benar.

Tapi pikiran warasku mengatakan, Koramil kan tidak jauh dari RSU. Kalau ke RSU pasti melewati kantor Koramil. Lalu jangan jangan.... Ibu!
Aku teringat ibu tidak membawa HP saat itu. Uang pun beliau bawa sekadarnya.
Aku bergegas ke luar pintu. Begitu sampai di jalan depan rumah, kulihat ibu berjalan lunglai di ujung gang. Kusongsong beliau dengan tangisan.
"Tulung kae bapak ndang diurus, ya." Tenang sekali suara ibu dalam dekapanku.

Rupanya ketika para perawat sedang mengurusi jenazah bapak yang wafat sebelum subuh, ibu yang kebingungan memutuskan untuk pulang berjalan kaki dan mampir ke Koramil minta tolong memberi kabar orang rumah.
Untung saja jarak RSU-rumah tidak begitu jauh, dan ibu tidak kenapa-kenapa.

Pagi itu, 29 Desember 2010, bapak berpulang menuju keabadian. Orang-orang berdatangan membantu kami. Ada yang ke rumah sakit mengurus administrasi dan kepulangan jenazah bapak. Ada yang menyiapkan tempat untuk memandikan jenazah. Ada yang menyiapkan tenda dan kursi. Ada yang menenangkan dan menemani ibu. Ada yang menyiapkan dapur dan keperluannya. Ada yang memberi kabar saudara dan kerabat.

Sedang aku....
Aku terduduk di samping meja makan. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Sambil menatap sesuatu melalui sela lubang tudung saji. Sesuatu yang aromanya makin kuat namun bentuknya makin kabur terhalang air mata yang berderai derai.
Sambel tempe bikinan bapak kemarin siang itu masih tersisa.

#1pekan1tulisan
#empiser
#empisempistemanggung
#belajarnulis