Funfarming, Cara Asik Mengenalkan Cinta Menanam pada Anak

Maret 16, 2019

Minggu pagi 10 Maret 2019 lalu Shofi bangun hanya dengan sekali bisikan, “Dek, bangun, kita mau berlatih menanam hari ini.” Sungguh bersemangat langsung ke kamar mandi, salat dan bersiap-siap sendiri. Tidak seperti pagi hari lainnya di mana butuh dihoyog hoyog badannya dan teriakan emaknya hingga tujuh oktaf demi membuatnya bangun pagi.

Hari Minggu itu Shofi akan ikut Funfarming, yaitu berlatih menanam secara asik yang diadakan oleh kakak kakak dari FLOS, sebuah badan usaha yang bergerak di bidang pertanian, yang dibuat dan dikelola oleh alumni SMK 1 Temanggung. Shofi sangat menantikan hari itu karena sahabatnya, Puspa dan Danish akan ikut juga.

Singkat cerita, kami (saya, Shofi dan Puspa) berangkat dari rumah sudah mepet waktu. Untung saja sampai di lokasi acara belum terlambat. Setelah daftar ulang kami diantar kak Novita ke sebuah gazebo di tengah kebun SMK 1 yang asri. Di sana sudah ada beberapa peserta dan kakak kakak Flos. Kami sampai di lokasi hampir bareng sama Kak Lukman dari kampung dongeng.

Melihat ada Kak Lukman, Shofi makin antusias. Matanya membulat berbinar. Dia sangat senang mendengar dongeng Kak Lukman. Dan benar saja, setelah pembukaan dan doa yang dipandu kak Novita, tibalah giliran Kak Lukman mendongeng. Semua anak peserta pelatihan dibuat tertawa bahagia oleh dongeng Kak Lukman yang asik.

Oiya, sebagian dari peserta adalah anak-anak dari Pondok Pesantren Abata, yaitu pondok hafiz Quran bagi anak-anak tuna rungu. Jadi ketika Kak Lukman mendongeng, bunda pendamping mereka mengulang lagi setiap kalimat cerita Kak Lukman kepada mereka supaya mereka pun bisa menikmati ceritanya. Saya sangat salut pada kesabaran para bunda itu.

Setelah itu, tibalah saatnya anak-anak belajar menanam. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok berisi empat anak supaya lebih mudah prakteknya dan tidak keroyokan. Shofi mendapat kenalan teman baru di kelompoknya, bernama Nasywa. Anaknya agak pemalu tapi murah senyum.

Kak Novita mengajak anak-anak memegang dan meremas media tanam yang ada di dalam baskom. Anak-anak (dan saya juga) mengira media tanam itu adalah tanah. Ternyata bukan tanah. Media tanam itu terbuat dari campuran kokopit (sabut kelapa kering yang dihaluskan), sekam bakar dan pupuk kandang. Walau ada pupuk kandangnya, media tanam itu tidak berbau sama sekali.
ternyata tidak pakai tanah sama sekali

Lalu Kak Novita juga mengajak anak-anak mengenal dan membedakan antara benih dan bibit. Kalau benih berbentuk seperti biji, sedangkan bibit adalah benih yang sudah tumbuh akar, batang dan daunnya. Selanjutnya mereka mulai menanam benih kangkung dan bibit sawi.

Selesai menanam, anak-anak diajak memanen sayuran. Wuii, ini bagian paling menyenangkan. Masing-masing boleh mengambil sayur kesukaannya. Ada bayam merah, selada hijau dan selada merah yang daunnya indah. Shofi ambil selada merah yang gemuk. Oya, tanaman yang mereka panen ini ditanam dengan sistem hidroponik.

Tak lupa Kak Novita berpesan pada anak-anak untuk merawat tanaman mereka. Caranya cukup mudah, yaitu:
1. Setiap hari disiram dua kali, sebelum jam 7 pagi dan setelah jam 4 sore
2. Letakkan di tempat yang terlindung, jangan terkena sinar matahari langsung
3. Pada sayuran yang ditanam dengan sistem hidroponik, akar harus selalu terendam air, jangan sampai kekeringan

Anak-anak sangat senang hari itu. Mendapat pengalaman baru, ilmu baru dan teman baru. Ditambah lagi pulangnya membawa tiga buah pot berisi benih, bibit dan sayur siap masak. Ternyata menanam dan merawat tanaman itu mudah dan menyenangkan.

Para orang tua pun berharap supaya mereka sayang tanaman dan gemar menanam. Demikian pula kakak-kakak Flos senang bisa berbagi ilmu dengan anak-anak. Mereka berharap suatu hari kelak ketika anak-anak ditanya apa cita-citanya, ada yang menjawab dengan lantang dan bangga: Saya ingin menjadi PETANI!

Ada yang punya pengalaman menanam bareng anak anak? Sharing yuk.


You Might Also Like

15 komentar

  1. Sekarang sepertinya sedang marak kegiatan pengenalan pertanian, ya? Alhamdulillah

    BalasHapus
  2. Aku udah gedhe, tapi ikutan seneng lho baca pengalamannya anak-anak ini.
    Kok jadi pengen nanem-nanem juga ya.

    BalasHapus
  3. Dirumah ada, yg buat ayahku mbak. Katanya sih hidroponik. Pake yg dari pralon itu lho. Cuma ga paham jg ngerawatnya gmn

    BalasHapus
  4. Wah seruuuu. Aku jadi pengen ikutan :D

    BalasHapus
  5. Wah anak-anak belajar mencintai lingkungan ya Mbak Dini, ternyata medianya tidak pakai tanah ya..

    BalasHapus
  6. Mbaaa... dihoyog-hoyog tuh apa? hehe

    BalasHapus
  7. Setuju mba..senang sekali mendampingi anak2 utk belajar menanam. Mereka antusias sekali...

    BalasHapus
  8. Eah keren nih, anak-anak pun dibiasakan bercocok tanam, media untuk menanam memang banyak ya gak harus tanah, temennya suamiku lagi mengembangkan anggrek di tanam di sel kultur gitu mbak din :)

    BalasHapus
  9. terakhir kali aku belajar farming itu kalo nggak salah zaman masih SD dehh
    itupun masih dibantu sama bapak buat bikin ini itunya

    BalasHapus
  10. Kemarin waktu di Bogor aku lihat ponakanku sedang nanam benih sayuran di pralon, pakai hidroponik juga. Aku mupeng sayangnya nggak ada lahan utk nanam hidroponik. Karena butuh cahaya matahari full, rumahku udah di tutup semua dan teras untuk parkir mobil

    BalasHapus
  11. Aku ki nek menanam mood-mood an. Awal semangat, kalo ngga jadi2 lesu lagi. Tapi jane ya enak sih nanem2 gt menghilangkan stres.

    BalasHapus
  12. anakku juga suka loh mba nanam nanam gitu.. apapun biji yang ditemuin, pasti langsung pergi kehalaman rumah buat ditanam. hahah

    BalasHapus
  13. Asyiik! Aku baru aja nih lagi ngumpulin ide dan semangat buat ngajak hasna naman2 ��

    Moga rajin nanam ya Kak Shofi

    BalasHapus