Kamu Dalam 300 Kata

Juni 04, 2019

source: pixabay


kubiarkan cahaya bintang memilikimu 
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu
entah kapankah bisa kutangkap
(Nocturno-SDD)


Angin awal kemarau menyapa seluruh kota tanpa kecuali. Mengayun ujung ranting dahan yang daunnya menjulur di depan jendela. Mengirim dingin pagi pada sebuah kamar yang redup. Ada yang semalaman terjaga dalam gelisah di sini. Sendiri menjelma sepi dan hening. 


Aku dapat tiket selasa, dek. 

Itu berarti hari ini. Kamu akan terbang lagi. Menjauh menuntaskan mimpi. Lalu bagian bumi timur akan mendekapmu selama beberapa bulan ke depan. Mungkin hingga puncak musim berikutnya yang itu adalah penghujung tahun. 

Kukemasi ranjang yang kubuat kusut sendiri. Kurapikan lagi puluhan lembar foto yang memenuhi seprei, selimut dan bantal. Beberapa tergolek di karpet dan bawah meja. Foto foto yang kulahap kenangannya tanpa pernah kenyang. Meski sudah kutelan semuanya semalaman. 

Gelenyar denyut terasa lagi. Lembut mengalir dalam darah. Tak bisa kucegah arusnya meski kutahu ini tidak pada tempatnya. Ranting-ranting otakku telah mengikat nama mengandung senyuman itu. Entah mengapa aku ingin selalu menyimpannya dalam setiap larik sajakku. 

Jiwaku terjerat amukan rasa lalu. Harum sinarmu menghujani detikku, membiaskan seluruh kesadaran. Aku pun menikmati hutan rindu ini, menyusupi jejaknya makin dalam. Tuhan, ini jugakah yang Kau mau? 

Menanti musim memintas adalah menghabiskan waktu dalam nyeri yang indah. Nyeri yang ingin kupelihara dengan lembut dan manis. Nyeri yang selalu membuat hidup bergairah. Nyeri yang dikirimnya bersama angin dalam pendar bintang malam. Nyeri yang menerobos setiap katup pagi dan pintu senja. 

Di sini, di negeri gunung ini, kuhirup amis lautmu. Yang ombaknya bergulung gulung serupa rambutmu. Dan gelombangnya keras menderu tebing yang beku, tatag seperti kamu. Awan awan pun pecah dalam senyummu. 

Apalagi yang bisa kukata tentangmu. Tentang jalan yang terjal menikung. Aku tak akan pernah cemburu pada cahaya bintang dan angin pucat yang setia memeluk jalan itu. 

Temanggung, 2 Juni 2019

#empisempiskomunitasnulis
#1pekan1tulisan
#arisantulisan
#pekanke2
#temacintaterpendam
#empiser

You Might Also Like

0 komentar