Langsung ke konten utama

Penghamba Maaf


Aku terpaku tepat di depan rumah tinggi itu. Seakan tak percaya dengan apa yang kupandang. Gerbang rumah itu terbuka. Itu berarti dia ada di sana. Tidak seperti yang dikatakannya kalau dia sedang di luar pulau. Beberapa detik kemudian dia keluar dengan kendaraannya. Tatapan kami sempat beradu, tapi tak lama. Dia lalu melaju. Sesak dada ini tiba-tiba. Seakan ada segumpal sabut kelapa menghuni tenggorokanku.

Abaikan saja dia, bisik separuh hatiku.

Kejar dia, bisik separuhnya.

Tapi kakiku tak bisa bergerak walau batinku berlari mengejarnya.
Ini hari raya. Hari dimana manusia saling melebur dosa dalam derasnya maaf. Aku pun ingin. Tapi seperti yang sudah sudah, kosong menemaniku. Tak kudapat itu sekeras apapun aku meraihnya.

Ucapan selamat hari raya yang ramai memenuhi ponsel dan jagat maya tak berarti bagiku jika tidak dari dia. Ucapan dariku pun hanya berbalas kabar bahwa dia sedang sibuk tidak sempat pulang untuk berlebaran. Sungguh berkebalikan dengan yang baru saja terjadi di depan mataku.

Mungkin salahku memang tak termaafkan olehnya. Kesalahan yang memang sengaja aku ciptakan dulu. Kesalahan yang akhirnya hanya akan membunuhku perlahan. Ya, aku sangat mencintainya. Dan itu salah di matanya.

Dia memang terlalu indah untuk dicintai. Bahkan seorang anak raja sekalipun ditolaknya, apalagi aku yang hanya kotoran kuku ini. Namun kegigihanku akhirnya berhasil membuatnya memalingkan wajah padaku. Sebutir kotoran yang tak lelah membersihkan diri dan mengiriminya puisi setiap pagi. Cintaku saat itu sangat parah padanya. Bahkan hingga saat ini.

Dia, pusat gejolak hidupku, menyilakan diri ini untuk masuk ke teras hatinya. Tapi bukan senyuman yang disuguhkan. Melainkan sebuah tantangan. Jika aku bisa mengalahkan naga yang menguasai hatinya, maka aku boleh masuk lebih dalam. Dan kotoran kuku ini dengan gagah menerima tantangan itu.
Namun ketika kotoran ini berhasil mengalahkan naga dalam hatinya, dia malah berbalik marah padaku.  Menuduh aku bermain curang. Hingga mencemburuiku telah menikahi naga itu. Sungguh aku tak paham caranya berpikir.

Naga itu telah mati. Dan aku sendiri yang menguburnya disaksikan olehnya. Tidak pernah ada pernikahan di antara kami. Justru aku ingin menikah dengan si empunya naga. Dan itu adalah dia. Tapi dia telah terlanjur marah. Lalu aku hanya bisa mengalah. Bukankah cinta tidak pernah memaksa.

Ribuan puisi yang kukirim setelah itu tidak menggoyahkan pohon maafnya. Tak selembar daun pun jatuh darinya. Usahaku tak pernah berbuah. Hingga hari raya kesekian ini aku mengemis maaf darinya. 

Semua bilang aku bodoh. Aku tak peduli. Cinta yang terlalu parah memang kadang bisa bikin orang jadi goblok. Aku mungkin tak terlihat. Tapi aku tetap bertekad wahai cintaku, aku ingin jadi tamumu. Hanya untuk dapatkan maafmu. Atas segala salah yang aku tak tahu. Maafkan aku telah memahat kecewamu.

#1pekan1tulisan
#empiser
#empisempistemanggung
#temakecewa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)
Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 
Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 
Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka k…

Menjadi Penari Topeng Ireng, Sebuah Pengalaman Seru

Menjadi penari topeng ireng adalah hal yang tidak pernah terpikirkan apalagi direncanakan sebelumnya.  Tapi ini terjadi pada saya. :)
Teman-teman mungkin ada yang belum tahu apa itu Topeng Ireng. Apakah menari dengan memakai topeng yang berwarna hitam? (ireng berarti hitam dalam bahasa Jawa) Saya dulu pernah menyangka demikian. Tapi ternyata salah besar.



Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya.
Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri.
Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku.
Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut.

KLEPON
Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi tersendiri saat menyeplus si…