Penghamba Maaf

Juni 06, 2019


Aku terpaku tepat di depan rumah tinggi itu. Seakan tak percaya dengan apa yang kupandang. Gerbang rumah itu terbuka. Itu berarti dia ada di sana. Tidak seperti yang dikatakannya kalau dia sedang di luar pulau. Beberapa detik kemudian dia keluar dengan kendaraannya. Tatapan kami sempat beradu, tapi tak lama. Dia lalu melaju. Sesak dada ini tiba-tiba. Seakan ada segumpal sabut kelapa menghuni tenggorokanku.

Abaikan saja dia, bisik separuh hatiku.

Kejar dia, bisik separuhnya.

Tapi kakiku tak bisa bergerak walau batinku berlari mengejarnya.
Ini hari raya. Hari dimana manusia saling melebur dosa dalam derasnya maaf. Aku pun ingin. Tapi seperti yang sudah sudah, kosong menemaniku. Tak kudapat itu sekeras apapun aku meraihnya.

Ucapan selamat hari raya yang ramai memenuhi ponsel dan jagat maya tak berarti bagiku jika tidak dari dia. Ucapan dariku pun hanya berbalas kabar bahwa dia sedang sibuk tidak sempat pulang untuk berlebaran. Sungguh berkebalikan dengan yang baru saja terjadi di depan mataku.

Mungkin salahku memang tak termaafkan olehnya. Kesalahan yang memang sengaja aku ciptakan dulu. Kesalahan yang akhirnya hanya akan membunuhku perlahan. Ya, aku sangat mencintainya. Dan itu salah di matanya.

Dia memang terlalu indah untuk dicintai. Bahkan seorang anak raja sekalipun ditolaknya, apalagi aku yang hanya kotoran kuku ini. Namun kegigihanku akhirnya berhasil membuatnya memalingkan wajah padaku. Sebutir kotoran yang tak lelah membersihkan diri dan mengiriminya puisi setiap pagi. Cintaku saat itu sangat parah padanya. Bahkan hingga saat ini.

Dia, pusat gejolak hidupku, menyilakan diri ini untuk masuk ke teras hatinya. Tapi bukan senyuman yang disuguhkan. Melainkan sebuah tantangan. Jika aku bisa mengalahkan naga yang menguasai hatinya, maka aku boleh masuk lebih dalam. Dan kotoran kuku ini dengan gagah menerima tantangan itu.
Namun ketika kotoran ini berhasil mengalahkan naga dalam hatinya, dia malah berbalik marah padaku.  Menuduh aku bermain curang. Hingga mencemburuiku telah menikahi naga itu. Sungguh aku tak paham caranya berpikir.

Naga itu telah mati. Dan aku sendiri yang menguburnya disaksikan olehnya. Tidak pernah ada pernikahan di antara kami. Justru aku ingin menikah dengan si empunya naga. Dan itu adalah dia. Tapi dia telah terlanjur marah. Lalu aku hanya bisa mengalah. Bukankah cinta tidak pernah memaksa.

Ribuan puisi yang kukirim setelah itu tidak menggoyahkan pohon maafnya. Tak selembar daun pun jatuh darinya. Usahaku tak pernah berbuah. Hingga hari raya kesekian ini aku mengemis maaf darinya. 

Semua bilang aku bodoh. Aku tak peduli. Cinta yang terlalu parah memang kadang bisa bikin orang jadi goblok. Aku mungkin tak terlihat. Tapi aku tetap bertekad wahai cintaku, aku ingin jadi tamumu. Hanya untuk dapatkan maafmu. Atas segala salah yang aku tak tahu. Maafkan aku telah memahat kecewamu.

#1pekan1tulisan
#empiser
#empisempistemanggung
#temakecewa

You Might Also Like

0 komentar