fiksi

Bendera Hitam di Ujung Gang

September 29, 2019

source: pixabay

Pukul setengah sembilan pagi, aku belum selesai membilas cucian. Mbak Ndari datang lagi dengan mata sembab dan merah.

“Semalam dia pergi lagi,” katanya.

Aku tahu yang dimaksud dengan dia, pasti suaminya. Menurut kabar yang beredar, suaminya ada main dengan anak Blok C, sekomplek dengan kami. Namanya Wulan, masih kelas tiga SMA. Tapi sedikit kuabaikan kabar belum jelas itu. Seingatku sudah tiga kali Mbak Ndari datang dengan keadaan seperti ini.