Langsung ke konten utama

Bendera Hitam di Ujung Gang

source: pixabay

Pukul setengah sembilan pagi, aku belum selesai membilas cucian. Mbak Ndari datang lagi dengan mata sembab dan merah.

“Semalam dia pergi lagi,” katanya.

Aku tahu yang dimaksud dengan dia, pasti suaminya. Menurut kabar yang beredar, suaminya ada main dengan anak Blok C, sekomplek dengan kami. Namanya Wulan, masih kelas tiga SMA. Tapi sedikit kuabaikan kabar belum jelas itu. Seingatku sudah tiga kali Mbak Ndari datang dengan keadaan seperti ini.

Pada jam segini biasanya anaknya, Fajri, sudah tidur lagi. Dia pun sudah selesai mencuci. Sembari menunggu tukang sayur datang, dia sering menerobos pagar samping dan menemaniku mencuci atau bersih bersih rumah dengan cerita-ceritanya yang lucu. Tapi tiga kali ini dia datang dengan ceritanya yang sedih.

Dia sedang hamil besar. Masa-masa yang layaknya dilalui dengan bahagia karena menanti anak keduanya lahir dengan penuh kasih dan perhatian dari suami malah menghadapi kenyataan yang sebaliknya.

Kemarin dia pun belum percaya dengan kabar menyakitkan sekaligus memalukan itu. Tapi kini, “Aku sekarang percaya kalau dia benar-benar selingkuh. Fajri saksinya. Dia cerita pernah diajak ke rumah Wulan. Dia lihat ayahya pelukan sama Wulan.”

“Dan Fajri?” tanyaku geram terbayang wajah polos bocah tiga tahunan itu.

“Dia dibelikan permen dan disuruh main di depan rumahnya.”

“Oh,” aku tak tahu harus menjawab apa.

Selama menyelesaikan mencuci pikiranku jadi tak enak. Bagaimana pun keadaanku, aku harus banyak bersyukur. Meskipun suamiku seorang buruh bangunan, tidak seperti Mas Sugeng suami Mbak Ndari yang pegawai bank, suamiku selalu setia padaku.

Tukang sayur datang. Kutinggalkan cucian. Aku dan Mbak Ndari bergegas belanja.

***

Pukul tujuh malam. Aku sedang membereskan sisa makan malam. Mbak Ndari datang lagi sambil menggendong Fajri.

“Mas Sugeng belum pulang,” ujarnya datar dan lemah.

Aku kasihan melihatnya. Kutahu perasaannya, tapi tak bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya. Dia perempuan kuat. Dia tahu perbuatan suaminya tapi tetap setia menunggunya pulang.

“Besok akan aku laporkan pada atasan dia di kantornya. Biar aku beberkan semua perbuatannya,” katanya tiba-tiba mengacaukan semua pendapatku tentangnya.

“Mbak, apa kamu sudah siap menerima resikonya? Kalau dia dipecat lalu bagaimana nanti dengan kamu dan Fajri?” tanyaku.

Dia jadi ragu. Mungkin selain bingung memikirkan hatinya dan nasibnya nanti, dia juga masih merasa wajib menjaga nama baik suaminya.

“Mbak, salat dulu, yuk,” ajakku.

***

“Mbak..., ini pisang buat Fajri.” Teriakku sambil masuk rumah Mbak Ndari yang tak terkunci.

“Astaghfirullah!” teriakku lebih keras.

Kulihat mbak Ndari menuang obat pembasmi serangga ke dalam gelas di samping telepon genggamnya. Kurebut lalu kulempar gelas itu ke luar. Fajri kaget dan menangis. Mbak Ndari pun menangis memelukku.

“Mereka pergi lagi, Din. Adik Mas Sugeng barusan nelpon, semalam mobilnya dipinjam untuk ke Jogja.”

“Tapi kan belum tentu Mas Sugeng pergi sama Wulan, Mbak.”

“Dia pergi sama Wulan, Din. Ini adiknya sendiri yang bilang.” Mbak Ndari terisak dalam pelukanku.

“ Sabar, Mbak, istighfar. Ini ujian. Yang sabar, ya. Kamu harus kuat demi Fajri dan adiknya,” hiburku yang entah bisa menguatkan dia atau tidak.

***

Bendera hitam terpasang di ujung gang tanda ada warga yang meninggal. Pemakaman akan dilaksanakan jam sepuluh pagi. Pemakaman anak Mbak Ndari yang baru saja dilahirkannya. Pemakaman seorang bayi yang dikandungnya selama lebih dari sembilan bulan. Bayi yang selalu menemaninya dalam kesedihan.

Mbak Ndari tampak tegar. Meski sedih namun tak ada air mata. Segala kepedihannya kemarin telah mengeringkan air matanya. Kelelahan dalam sedih telah pergi mengiringi anaknya menuju kehangatan perut bumi.

Di sudut rumah, Mas Sugeng mendadak linglung. Tidak berbuat apa-apa. Entah apa yang disesalinya. Kematian anaknya, kesalahannya, kondisi istrinya, atau kepergian pacar gelapnya yang dinikahi atasan Mas Sugeng sendiri.

SELESAI 
























Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)
Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 
Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 
Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka k…

Menjadi Penari Topeng Ireng, Sebuah Pengalaman Seru

Menjadi penari topeng ireng adalah hal yang tidak pernah terpikirkan apalagi direncanakan sebelumnya.  Tapi ini terjadi pada saya. :)
Teman-teman mungkin ada yang belum tahu apa itu Topeng Ireng. Apakah menari dengan memakai topeng yang berwarna hitam? (ireng berarti hitam dalam bahasa Jawa) Saya dulu pernah menyangka demikian. Tapi ternyata salah besar.



Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya.
Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri.
Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku.
Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut.

KLEPON
Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi tersendiri saat menyeplus si…