Bendera Hitam di Ujung Gang

September 29, 2019

source: pixabay

Pukul setengah sembilan pagi, aku belum selesai membilas cucian. Mbak Ndari datang lagi dengan mata sembab dan merah.

“Semalam dia pergi lagi,” katanya.

Aku tahu yang dimaksud dengan dia, pasti suaminya. Menurut kabar yang beredar, suaminya ada main dengan anak Blok C, sekomplek dengan kami. Namanya Wulan, masih kelas tiga SMA. Tapi sedikit kuabaikan kabar belum jelas itu. Seingatku sudah tiga kali Mbak Ndari datang dengan keadaan seperti ini.

Pada jam segini biasanya anaknya, Fajri, sudah tidur lagi. Dia pun sudah selesai mencuci. Sembari menunggu tukang sayur datang, dia sering menerobos pagar samping dan menemaniku mencuci atau bersih bersih rumah dengan cerita-ceritanya yang lucu. Tapi tiga kali ini dia datang dengan ceritanya yang sedih.

Dia sedang hamil besar. Masa-masa yang layaknya dilalui dengan bahagia karena menanti anak keduanya lahir dengan penuh kasih dan perhatian dari suami malah menghadapi kenyataan yang sebaliknya.

Kemarin dia pun belum percaya dengan kabar menyakitkan sekaligus memalukan itu. Tapi kini, “Aku sekarang percaya kalau dia benar-benar selingkuh. Fajri saksinya. Dia cerita pernah diajak ke rumah Wulan. Dia lihat ayahya pelukan sama Wulan.”

“Dan Fajri?” tanyaku geram terbayang wajah polos bocah tiga tahunan itu.

“Dia dibelikan permen dan disuruh main di depan rumahnya.”

“Oh,” aku tak tahu harus menjawab apa.

Selama menyelesaikan mencuci pikiranku jadi tak enak. Bagaimana pun keadaanku, aku harus banyak bersyukur. Meskipun suamiku seorang buruh bangunan, tidak seperti Mas Sugeng suami Mbak Ndari yang pegawai bank, suamiku selalu setia padaku.

Tukang sayur datang. Kutinggalkan cucian. Aku dan Mbak Ndari bergegas belanja.

***

Pukul tujuh malam. Aku sedang membereskan sisa makan malam. Mbak Ndari datang lagi sambil menggendong Fajri.

“Mas Sugeng belum pulang,” ujarnya datar dan lemah.

Aku kasihan melihatnya. Kutahu perasaannya, tapi tak bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya. Dia perempuan kuat. Dia tahu perbuatan suaminya tapi tetap setia menunggunya pulang.

“Besok akan aku laporkan pada atasan dia di kantornya. Biar aku beberkan semua perbuatannya,” katanya tiba-tiba mengacaukan semua pendapatku tentangnya.

“Mbak, apa kamu sudah siap menerima resikonya? Kalau dia dipecat lalu bagaimana nanti dengan kamu dan Fajri?” tanyaku.

Dia jadi ragu. Mungkin selain bingung memikirkan hatinya dan nasibnya nanti, dia juga masih merasa wajib menjaga nama baik suaminya.

“Mbak, salat dulu, yuk,” ajakku.

***

“Mbak..., ini pisang buat Fajri.” Teriakku sambil masuk rumah Mbak Ndari yang tak terkunci.

“Astaghfirullah!” teriakku lebih keras.

Kulihat mbak Ndari menuang obat pembasmi serangga ke dalam gelas di samping telepon genggamnya. Kurebut lalu kulempar gelas itu ke luar. Fajri kaget dan menangis. Mbak Ndari pun menangis memelukku.

“Mereka pergi lagi, Din. Adik Mas Sugeng barusan nelpon, semalam mobilnya dipinjam untuk ke Jogja.”

“Tapi kan belum tentu Mas Sugeng pergi sama Wulan, Mbak.”

“Dia pergi sama Wulan, Din. Ini adiknya sendiri yang bilang.” Mbak Ndari terisak dalam pelukanku.

“ Sabar, Mbak, istighfar. Ini ujian. Yang sabar, ya. Kamu harus kuat demi Fajri dan adiknya,” hiburku yang entah bisa menguatkan dia atau tidak.

***

Bendera hitam terpasang di ujung gang tanda ada warga yang meninggal. Pemakaman akan dilaksanakan jam sepuluh pagi. Pemakaman anak Mbak Ndari yang baru saja dilahirkannya. Pemakaman seorang bayi yang dikandungnya selama lebih dari sembilan bulan. Bayi yang selalu menemaninya dalam kesedihan.

Mbak Ndari tampak tegar. Meski sedih namun tak ada air mata. Segala kepedihannya kemarin telah mengeringkan air matanya. Kelelahan dalam sedih telah pergi mengiringi anaknya menuju kehangatan perut bumi.

Di sudut rumah, Mas Sugeng mendadak linglung. Tidak berbuat apa-apa. Entah apa yang disesalinya. Kematian anaknya, kesalahannya, kondisi istrinya, atau kepergian pacar gelapnya yang dinikahi atasan Mas Sugeng sendiri.

SELESAI 
























You Might Also Like

0 komentar