Meramban Kenikir di Hutan

Februari 18, 2020

“Pindah ke kampung, Bu? Trus, kita nanti makan apa di sana?” tanya bungsuku bertahun lalu saat kuutarakan niat kami pindah dari Semarang yang hangat menuju Temanggung yang dingin. 

Haha, lucu juga ya pertanyaan dia. Etapi ya wajar juga, sih. Namanya balita yang sedang banyak rasa ingin tahunya dia banyak bertanya. Dia bertanya tentang akan sekolah di mana hingga makan apa nantinya. Dasar Opik memang doyan makan apa saja. 

Hmm, tapi jauh di ujung akalku sana pertanyaan si bungsu ini menjadi pertanyaanku juga. Selama tinggal di Semarang, untuk memenuhi sumber pangan keluarga saya bersandar pada mbak penjual sayur keliling yang tiap pagi menjajakan dagangannya di perumahan kami. 


Jualannya lengkap dan beragam. Mulai dari bumbu, aneka sayuran hingga lauk nabati maupun hewani. Nah berhubung tinggal di Semarang yang berkeringat, saya sering memasak sayur bening macam sop dan sebagainya. Tapi beda dengan kultur kulinari di rumah ibu mertua di Temanggung. Ibu sering menyediakan masakan rumah yang bersantan. Ah, anak anak kurang suka itu padahal. 

Dan petualangan rasa dimulai

Rumah kami di Temanggung tidak jauh dari pasar. Sungguh sebuah keberuntungan tersendiri. Ada banyak sayuran lokal di sini. Bahkan sayuran yang jarang bahkan belum pernah saya jumpai sebelumnya. 

Warga sini menyebut sayuran segar dengan istilah ramban/rambanan. Selain sayuran yang biasa ditemui di segala tempat seperti bayam, kangkung, daun singkong dan selada, di sini banyak juga kenikir dan kutha kuthi atau orang menyebutnya ramban gunung, karena merupakan tanaman liar yang tumbuh di sembarang tanah terutama di lereng gunung. 

Harga jual rambanan sebangsa kenikir dan ramban gunung sangat murah. Satu ikat besar hanya dijual dua ribu rupiah. Itu pun harga tertinggi, hehe. Duh, bisa dibayangkan deh berapa duit yang masuk ke kantong petani. 

Tanpa diduga, ketika saya coba menghadirkan rambanan itu ke atas meja makan, dapat sambutan meriah dari anak-anak. Cukup merebus kenikir dan kutha kuthi lalu mencampurkannya dengan bumbu urap atau sambal kelapa muda. Ditambah lauk ikan asin goreng tuh mantap banget. Aih, ternyata yang sederhana saja begitu nikmat. 

Turun meramban 

Tinggal di dekat pasar ternyata cukup melenakan buat saya. Mencari bahan makanan apa pun pasti ada. Namun ternyata itu cukup bikin lupa diri hingga kalap beli apa saja. Malah kadang yang sudah terbeli tidak termasak. Huh, dasar perempuan.

Kebiasaan kurang baik saya itu akhirnya terhenti sejak saya bertemu dengan beberapa teman yang peduli dengan lingkungan dan kesehatan alam. Mereka mengajak main ke kebun di dekat hutan di daerah Jiwan Ngadirejo, Temanggung. 

Di kebun Jiwan itu saya dan beberapa teman lain diajak turun mengenal tanah, benih, bibit, menanam benih, mengenal beberapa jenis ramban, meramban, masuk ke hutan bambu, turun ke sendang hingga mengolah ramban dan menikmatinya bersama. Amboi, sungguh sebuah pengalaman luar biasa.

Kebun dan hutan di sana sangat bersahabat. Menghayati alam anugerah pencipta semesta sungguh memantik pelajaran di batin ini. Manusia telah disediakan segala konsumsi dari hutan. Tinggal bagaimana kita merawat dan mengolah sebaik-baiknya.


Saat tiba waktunya meramban (memetik sayuran) kami semua tua muda hore hore menemui setiap tanaman yang ada. Wow, kami menemukan ciplukan dan ucen ucen, sejenis buah lokal keluarga berry berry-an.

Satu hal yang juga membahagiakan adalah kami menemukan banyak tanaman kenikir atau di sini disebut potroseli tumbuh liar dan subur. Tak sabar kami memetik pucuk pucuk daun kenikir muda untuk dibikin urap. Selain kenikir juga kami memetik daun bayam liar, daun singkong dan sintrong yang lembut.

Potroseli yang kami petik daunnya lembut, rasanya sedikit sepet namun baunya wangi khas. Segera saja rambanan itu direbus dengan tungku berbahan bakar kayu, lalu kami urap dengan bumbu yang dibawa oleh seorang teman. Wuah, aroma potroseli/kenikir rebus begitu menggoda.

Setelah semua bahan pangan dari hutan ini siap, kami menggelarnya di atas alas daun pisang, menata dengan lauk lainnya, dan siap disantap bersama. Nikmat mana lagi yang kami dustakan.

Menurut literatur yang pernah saya baca,   daun kenikir mengandung karbohidrat, protein, serat, air, serta beberapa jenis vitamin, seperti vitamin B, vitamin C dan beta karoten. Daun kenikir juga banyak mengandung mineral, seperti kalium, fosfor, kalsium, magnesium, zat besi, seng, tembaga, dan natrium.

Selain itu, daun kenikir juga mengandung senyawa aktif quercetin, asam fenolat (phenolic acid), dan asam klorogenat dalam jumlah yang besar. Ketiganya merupakan zat yang memiliki sifat antioksidan dan diduga memiliki efek antiradang, antihipertensi, antidiabetes, antibakteri, dan baik untuk menjaga kesehatan tulang.

Mengingat kandungan baik yang ada padanya, saya rasa teman teman perlu mencobanya, karena daun kenikir ini bermanfaat untuk:
1. mencegah dan membantu mengobati diabetes
2. menurunkan tekanan darah
3. mencegah osteoporosis
4. mencegah pertumbuhan sel kanker
5. mencegah kerusakan sel tubuh

Wow, ternyata pangan dari hutan yang tampaknya sederhana dan murah ini begitu kaya manfaat, ya. Sungguh sekali lagi ingin mengucap terima kasih kepada pencipta semesta yang amat kaya.

Teman-teman yang saya temui di kebun Jiwan ini sangat peduli dengan kelestarian pangan lokal. Mereka juga tak henti mengedukasi tentang pentingnya kesehatan tanah sebagai salah satu usaha konservasi sumber daya alam, seperti salah satu tujuan dari WALHI.

Pengalaman bertualang di kebun dan hutan itu sungguh membekas dan membuka pemikiran saya. Ketika alam telah begitu baik kepada manusia, maka sudah selayaknya kita pun menghormati alam.

Dan di akhir perjalanan hari itu saya diperkenankan membawa pulang beberapa bibit kenikir untuk saya tanam di halaman sempit rumah kami. Ya, saya ingin suatu ketika memetik dan memasak sayuran dari halaman sendiri. 
Seperti sebuah quote yang sering saya dengar, lalu mulai sekarang akan saya lakukan:

"Tanam apa yang kamu makan, makan apa yang kamu tanam."

You Might Also Like

3 komentar

  1. Di pasar Temanggung mah, bikin kalap sayurane. 🤭

    Eh, mbak,.kutha-kuthi tu, apa to?

    BalasHapus
  2. Pengen main ke Temanggung deeh borong sayuraan

    BalasHapus