Langsung ke konten utama

Verbal Bullying Kadang Terjadi dari Orang Terdekat

Pernah gak sih lihat ibu-ibu sedang menggendong atau mengasuh anaknya sendiri lalu datang ibu lain yang ikut menimang anak tersebut, eh malah ibu si anak bilang ke ibu yang baru datang, "nakal ini Bude, minta gendong terus."

Atau kalimat lain yang ditujukan langsung ke anaknya, "Kamu itu motong bawang gini aja gak bisa." Atau "Udah jangan makan terus, nanti kaya gentong badanmu." Dan banyak kalimat lain yang dilontarkan oleh orang tua ke anaknya sendiri. 

Photo by Aimee Vogelsang on Unsplash
Kalimat-kalimat bernada negatif tersebut jika terus menerus didengar anak tentu akan menimbulkan efek yang negatif pula. Anak akan memiliki rasa percaya diri yang rendah, tidak punya penghargaan terhadap dirinya sendiri, tidak tahu cara membela diri sendiri, dia akan rentan menjadi korban bullying, atau malah bisa-bisa ketika dia mulai besar akan tidak peduli pada diri dan sesamanya hingga menjadi pelaku bullying juga.

Ingatan manusia terhadap peristiwa yang ekstrim di hidupnya akan melekat meski peristiwa itu terjadi ketika dia masih kecil. Saya sendiri contohnya.

Saya mau cerita. Bukan bermaksud membicarakan kekurangan siapa-siapa, ya, tapi semoga kejadian ini tidak terulang oleh siapa pun. 

Waktu kecil dulu ketika bapak dan ibu bekerja, saya dan adik di rumah bersama simbah. Di kalangan tetangga, simbah saya ini terkenal galak. Tapi sebenarnya beliau baik. 

Waktu kecil, adik saya sering tiduran bersama simbah di kamarnya. Simbah gemar mendongeng cerita Petruk Gareng ke adik. Saya tentu ingin bergabung bersama mereka. Namun ketika saya mendekat, saya merasa kehadiran saya mengganggu. Suara dan kalimat simbah menyentak. Saya lalu tahu diri keluar kamar.

Lain waktu, ketika saya sekitar kelas 3 atau 4 SD. Di depan tamunya bapak simbah berkata, "Piye arep dadi pramugari, awake we ireng sikile gudigen." Saya langsung masuk kamar karena tahu sindiran itu ditujukan ke saya yang berani-beraninya bercita-cita jadi pramugari kala itu.

Sungguh saya tak tahu harus berbuat apa. yang pasti saya mulai bertanya tentang kondisi fisik saya yang tidak seperti adik atau sepupu saya yang lain yang cantik-cantik. Kaki penuh bekas koreng saya gosok pakai air sabun dan sabut kelapa demi ingin kelihatan bersih. Apalagi kalau disebut tentang rambut keriting saya yang menjulur tak tahu arah. Huh, kenapa sih gak lurus aja seperti yang lain?

Hari-hari berikutnya, selain protes dengan kondisi fisik ini, saya juga mulai sering jahil kepada adik. Akibat sering dibanding-bandingkan dan diperlakukan berbeda (menurut perasaan saya saat itu) timbul rasa iri yang makin hari makin tebal hingga ada keinginan untuk menyakiti dia. Mengolok-olok adalah makanan sehari-hari. Meski di kondisi lain kami bisa saja rukun dan damai. Tapi kalau ada sedikit hal yang mengusik saya, langsung saya bisa ngegas ke dia. Parahnya, adik tidak tahu mengapa saya ngegas. :)

Konflik batin masa kecil saya terhibur ketika ibu mengatakan bahwa keriting dan warna kulit saya adalah turunan dari bapak, termasuk manisnya juga turunan beliau. Apapun adanya diri saya ibu tetap cinta. 

manis kan bapakku? :)

Lambat laun saya bisa menerima keadaan diri. Tidak lagi iseng jahil apalagi dendam ke adik. Gantian adik yang lebih sering usil. Kalau misal ada hal-hal yang adik dapatkan tapi saya tidak, saya berkata ke diri sendiri bahwa itu bukan rejeki saya. Dengan demikian saya bisa lebih bersahabat dengan diri sendiri.

Kisah kecil di atas hanyalah contoh bahwa sekecil apapun verbal bullying akan menimbulkan akibat yang tidak kecil. Perundungan ini bisa dilakukan oleh siapa saja bahkan orang terdekat. Oleh karena itu peran orang tua sangat diperlukan untuk bisa mencegah terjadinya bullying, mengedukasi anak jika menerima perundungan, hingga memulihkan kondisi kejiwaan anak setelah mengalami perundungan.

Semoga anak-anak kita tumbuh gembira tanpa ada perundungan atau menjadi pelaku. Semoga kita pun menjadi orang tua yang nyaman dan aman buat anak-anak kita.  


Komentar

  1. Waktu kecil saya juga sering dapat perundungan ejekan tapi saya cuek Mbak, mungkin karena masih SD jadi nggak begitu baper yaa. Waktu itu saya anggap biasa.

    Baru menyadari setelah dewasa bahwa itu sudah termasuk verbal bullying. Maka saya selalu menasehati anak saya supaya tidak melalukan verbal bullying terhadap temannya, meskipun teman itu sangat menjengkelkan. Harus tetap menahan jangan sampai mengejek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulu kalau diejek teman aku masih bisa cuek mbak, tapi kalau omongan itu datang dari keluarga sendiri kok sakit ya.. mungkin karena aku berharap lebih. hihi

      Hapus
  2. Oh iya, mbak dini kan tergolong tinggi jadi cocok jadi pramugari hehehe. Kalau aku dulu suka dibilang kurus cuma tulang hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha kecilku lemu banget je Wur malahan :))

      Hapus
  3. Iya anak kecil tanpa sengaja sering merundung teman-temannya dengan ledekan berbau fisik Yo Mbak jadi selalu kuingat kan bocah nggak boleh seperti itu karena menyakiti hati teman

    BalasHapus
  4. Apa bully nih sudah menjadi bagian dari jiwa manusia yang memang selalu mengarah untuk berbuat jahat ya :D Astaghfirullah....Semoga kita diampunkan oleh Allah semua

    BalasHapus
  5. Betul bullying bisa menimpa siapa saja, apalagi kalau banyak contoh di sekitarnya semoga kita dijauhkan dari para pembully amin

    BalasHapus
  6. Bener banget mbak, kadang orangtua atau keluarga merasa itu sepele. Cuma sekedar guyon. Tapi nggak sadar kalau berulangkali bisa bikin traumatis buat si korban. Banyak banget nih kasus begini dan efeknya bisa sampai ke mana2 ke depannya.

    BalasHapus
  7. sy sedih bacanya, anak sy termasuk serng ken aomongan yg nggk enak ditelinga sy, yg sbnrnya itu adalah bulyying. ketika orang terdekat yg seharusnya menjadi penguat dn penyemangat anak dn orangtua tp kdang yg menjaddi orng yg suka melemahkan :(. terimaksih ceritanya mba dini

    BalasHapus
  8. Hooh sih bener, verbal bullying itu memang kerap kali kita temukan dari orang-orang terdekat kita. Aku juga sadar, kadang pas emosi lagi nggak kontrol, malah nyeplos tuh sama anakku, Mbak. Padahal toh yo jane sing salah aku. Astagfirullah. Alon-alon mau meminimalisirnya.

    BalasHapus
  9. Untung skrg bullying itu terpatahkan ya mbak. Jd sosok mbak dini yg kalem,ayu keibuan. Mmg bully dari ortu itu nylekit,tp gampang disembuhkan krn lbh besarnya sayang kita ke mereka.

    BalasHapus
  10. Tu kaann... praktik bullying ini bisa saja berasal dari keluarga. Padahal anak tuh kan hari-harinya lebih banyak di rumah daripada di sekolah. Perilaku yang mencemooh secara terus menerus ini amat menyakiti batin dan menimbulkan luka yang dalam, bahkan kadang kemudian pengin balas dendam pada orang lain yang dianggapnya lebih beruntung.

    BalasHapus
  11. Anakku yang tengah itu juga seneng guyon, ngejek-ngejek adik, kakak atau mamahnya dibilang gendut hehee... Berulang kali saya kasih tahu. Harus berulang jika ucapannya nggak bagus. Semoga bisa istiqomah buat mendidik yang baik

    BalasHapus
  12. Nah kaaan, memang bullying ini bisa dilakukan orang yang lebih tua kepada anak-anak. Ini malah dari keluarga ya mbak, dan sering terjadi seperti ini. Harus distop dengan kita tidak ikutan melakukan verbal bullying

    BalasHapus
  13. hiks,,hiks.. ini tentang keriting mbak, jadi inget ketika rambutku dulu kritingnya ngembang pas siang hari, itu ada yang suka ngebully bahkan ada yang iseng nakut nakutin ngidupin korek deket rambut, ibarat mau nyulup api.. rasanya kalo inget itu ya allah...

    BalasHapus
  14. Saya kadang yang keceplosab mbaa melakukan verbal bullying ke anak.padahal kan perkataan adalah doa yaa... Dari itu aku belajar buat lebih hati-hati ngomong ke anak terutama.

    BalasHapus
  15. Ini kayak efek snowball, kembali ke titik itu lagi dan berulang kali. Akhirnya menjadi besar bola saljunya. Dampaknya menjadi menyedihkan. Semoga kita orang dewasa tidak menjadi pelaku bullying. Aamiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya. Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri. Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku. Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut. KLEPON Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini. Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari , ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :) Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya.  Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu.  Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh I