Langsung ke konten utama

Self Love Terwujud dari Support System yang Baik

Di sudut kamar kayu, seorang gadis kecil sibuk mengikat batu di ujung rambutnya. Berharap dengan beban batu itu rambut keritingnya melurus. Dia tak ingin lagi menjadi bahan olokan teman dan nyinyiran tetangganya. 

"Bobo dunia anak-anak, rambut kribo ambune sengak."

Makin dia mengingat lagu itu makin kencang dia mengikat batu di rambutnya. Seakan bisa menghilangkan kesal hatinya. Tapi lagu yang sering dinyanyikan temannya itu makin menggaung di telinganya. 


Hatinya makin merah. Dia benci rambutnya. Dia tak henti bertanya kenapa dari lima bersaudara hanya dia dan kakak nomor dua yang keriting. Kakak dan adiknya yang lain berambut lurus indah. Semua terkesan bersih dan rapi. Rambut keritingnya sering membuatnya dikira belum mandi, padahal sudah sekuat tenaga dia menyisir. Namun rambutnya tak pernah mau menurut keinginan hatinya. Ujung rambutnya selalu mengarah sesukanya ke sana kemari.

Tapi itu dulu. Gadis kecil itu kini menjadi orang yang sangat bangga dengan rambut keritingnya meski sekarang selalu tertutup hijab. Gadis kecil itu adalah saya pada masa lalu.

Sekarang saya selalu tertawa mengingat kejadian itu. Bisa-bisanya mendapat ide untuk memberati rambut dengan batu supaya lurus. Haha. Nalar anak-anak  kadang memang aneh. Hanya karena sering mendengar lagu yang menyerupai olokan lalu membuat saya kecil jadi malu dan marah dengan kondisi diri sendiri. Duh, kasihan ya.

Untungnya kondisi itu tidak berlarut-larut dan berkepanjangan. Saya melewati fase sakit hati yang tidak lama. Setiap malam ibu dengan telaten selalu meminyaki rambut saya dengan minyak cem-ceman bikinan simbah. Katanya supaya rambut saya hitam dan subur. Juga tidak gembel paginya.

Setiap meminyaki sambil menyisir ibu juga selalu memuji rambut saya yang tebal banyak. Tentu saja pujian itu ditujukan kepada yang memberi saya rambut, Tuhan sang pencipta. "Masyaallah rambute ketel ireng apik," begitu yang dibisikkan ibu.

Bisikan-bisikan rutin itu serupa mantra penguat diri. Saya jadi yakin kalau rambut di kepala ini begitu indah dan bagus walau beda dengan yang lain. Yaitu keriting. 

Ibu pun sering membantu mengepang rambut saat pagi akan ke sekolah supaya rapi. Tak lupa masih membisikkan kalimat serupa. Ditambah, "Ibu pengen lho, Nduk, duwe rambut ketel kaya kowe. Iki deloken rambute ibu tipis. Mulane ibu kadang sok dikriting kae ben ketok akeh rambute."

Olala, rasa syukur itu makin berlipat-lipat. Iya juga, ya, ibu yang rambutnya lurus saja sering ke salon untuk mengeriting rambutnya supaya tampak tebal. Nah kenapa saya harus malu dengan rambut keriting ini? Lagipula kan bapak juga ikal keriting gitu. Jadi kan wajar kalau anaknya juga ada yang menuruni gen keritingnya. Hehe. Dan kalau dilihat-lihat, dengan rambut ikal keriting mekar ini wajah saya jadi makin manis, loh. :)

Sebenarnya ada banyak hal yang kadang mengganggu mood, mental dan pikiran. Sampai mengganggu kestabilan rasa percaya diri hingga penerimaan diri rendah. Namun support system yang baik dari keluarga terdekat dan lingkungan terbukti bisa memperbaiki kondisi tersebut.

Contoh nyata yang diberikan oleh ibu saya dan kakak adik yang tidak pernah mempermasalahkan kondisi fisik kami masing-masing. Selalu memberi dukungan yang terbaik kepada setiap anggota keluarga. Alhamdulillah sampai sekarang pun kami berlima selalu rukun dan saling support satu sama lain.

Sistem dukung yang baik ini membuat saya bisa menerima diri sendiri, lalu meningkat rasa percaya diri, dan bangga dengan apa adanya diri saya. Bahkan kemudian bisa memahami apa potensi yang saya miliki dan tahu cara memanfaatkan baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama. 

Konsep self love ini pula saya tularkan kepada ketiga anak-anak yang kini menginjak remaja dengan segala keunikan mereka masing-masing. Walaupun tentunya saya sebagai orang tua masih selalu dalam proses belajar untuk membentuk support system yang baik bagi mereka. 
💓💓

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya. Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri. Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku. Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut. KLEPON Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini. Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari , ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :) Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya.  Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu.  Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh I