Langsung ke konten utama

Postingan

Warung Jadul Temanggung, Penjaga Kuliner Indonesia

Hai, bagaimana kabar? Jika kalian berkesempatan main atau mampir atau sekadar lewat Temanggung, cobalah berhenti sejenak di sebuah warung makan kecil di tepi jalan seberang kantor Telkom. Warung Jadul namanya. Tepatnya ada di Jalan Jendral Sudirman No. 102, Jampirejo, Temanggung. Gampang sekali menemukan warung ini.
Mengapa harus mencoba? Karena warung ini unik. Berdiri lebih dari seratus tahun lalu dengan menu masakan yang sama dan suasana yang benar-benar jadul sesuai namanya. 

Dari luar, warung ini tampak beda dengan toko-toko yang ada di deretan sebelah-sebelahnya yang modern. Warung bercat putih dan kusen jendela serta pintu berwarna biru ini sangat sederhana. Di depan warung ada satu bangku panjang yang sering diduduki oleh pelanggan warung ini. Ada sebuah banner berwarna biru dengan tulisan 'Waroeng Jadoel' berwarna merah tertempel di depan warung.
Masuk ke dalam warung kita akan melihat satu meja panjang dengan banyak toples kaca jadul dan piring berjajar di atasnya. …
Postingan terbaru

Pakde Mukidi Belajar Kehidupan New Normal

"Wisah wisuh wae. Mlebu pasar kon wisuh. Mlebu toko kon wisuh. Mlebu omahe pak RT ya dikon wisuh. Nanging ora ana sing akon mangan," Pakde Mukidi menggerutu pada Leman yang sedang mencuci sepeda motornya. Dia mengeluh karena di mana-mana disuruh cuci tangan tapi tidak ada yang menyuruh makan setelahnya.
"Lha kan memang harus begitu, Pakde. Sering cuci tangan supaya tidak terkena virus. Masa minta makan?" sergah Leman.
"Ah, lha di rumah itu kalau habis cuci tangan langsung makan, je." 
"Wuu, dasar tukang ngeyel!" Leman kesal sekaligus geli. Dia paham kalau Pakde Mukidi pasti hanya bercanda. Leman melanjutkan menggosok motornya.
"Eh, eh, Pakde, cuci tangan duluu!" Leman teriak waktu Pakde Mukidi nyelonong masuk teras rumah Leman dan menuju meja kecil dengan sepiring pisang goreng di atasnya.
"Halah, apa sih, Man? Dari tadi kan aku sudah cuci tangan di mana-mana. Kamu itu ya sama saja." Pakde Mukidi mendelik.
"Lho, ini pros…

Self Love Terwujud dari Support System yang Baik

Di sudut kamar kayu, seorang gadis kecil sibuk mengikat batu di ujung rambutnya. Berharap dengan beban batu itu rambut keritingnya melurus. Dia tak ingin lagi menjadi bahan olokan teman dan nyinyiran tetangganya. 
"Bobo dunia anak-anak, rambut kribo ambune sengak."
Makin dia mengingat lagu itu makin kencang dia mengikat batu di rambutnya. Seakan bisa menghilangkan kesal hatinya. Tapi lagu yang sering dinyanyikan temannya itu makin menggaung di telinganya. 

Hatinya makin merah. Dia benci rambutnya. Dia tak henti bertanya kenapa dari lima bersaudara hanya dia dan kakak nomor dua yang keriting. Kakak dan adiknya yang lain berambut lurus indah. Semua terkesan bersih dan rapi. Rambut keritingnya sering membuatnya dikira belum mandi, padahal sudah sekuat tenaga dia menyisir. Namun rambutnya tak pernah mau menurut keinginan hatinya. Ujung rambutnya selalu mengarah sesukanya ke sana kemari.
Tapi itu dulu. Gadis kecil itu kini menjadi orang yang sangat bangga dengan rambut keritingny…

Aroma Luka Lalu

Val berusaha melupakan peristiwa delapanbelas tahun lalu itu. Kini dia sudah hidup bahagia bersama Hans dan empat anaknya yang manis dan pintar. Tidak ada alasan lagi untuk menangis. Meskipun ingin, tapi dia sadar bahwa itu tak ada gunanya lagi. Fokus dan harapan besarnya untuk kebahagiaan anak-anaknya lebih utama untuk dipikirkan.
Hans juga seorang suami yang sangat perhatian dan bertanggungjawab terhadap keluarga. Bahkan dia mau berbagi peran dalam mengasuh anak-anak. Apa lagi yang disesalkan dengan menjalani hidup selengkap ini? Beberapa kali Mel, adiknya, mengungkapkan kekaguman padanya, "Beruntung kamu Val, mendapatkan Kak Hans. Aku berharap aku nanti juga bisa mendapatkan laki-laki sepertinya." Val tersenyum mendengar perkataan Mel.
Namun, ketenangan dan kebahagiaan itu tidak semulus dan seindah yang dilihat orang. Ingatan dan kenangan yang lama membekas ternyata tak mudah hilang begitu saja. Serupa jejak yang selalu melekat ke mana pun dia melangkah.  Lalu menyerupai…

Minat Baca Luar Biasa dari Pengalaman Keluarga Biasa

Saya tidak ingat pasti kapan pertama kali bisa membaca. Yang saya ingat, ketika bu Warsiti mengajar mengeja 'i-ni bu-di' di kelas satu SD, saya sudah membaca buku itu sampai halaman akhir.  Ulangan dikte juga jadi satu pengalaman yang sangat saya sukai. Malahan sering meminta ulangan dikte pada bu guru anggun yang selalu memakai kain dan kebaya setiap hari, bahkan ketika mengajar. Sungguh outfit yang sungguh unik, namun biasa bagi beliau. 

Dini kecil sangat haus cerita. Barangkali karena sering mendengar dongeng dari ibu, pakde dan simbah. Hingga ketika dongeng yang hampir sama selalu didengarnya tidak lagi memuaskan, dia mencari di buku-buku bacaan. 
Zaman itu buku adalah barang mahal. Koran dan majalah juga belum banyak yang langganan. Namun, bapak ibu yang merupakan  PNS golongan rendah mengalokasikan dana untuk berlangganan Suara Merdeka dan Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa.  Alokasi dana yang lumayan di samping biaya makan sekeluarga dan sekolah untuk lima anak. 
Din…

Ikut Rapid Test Meyakinkan Kondisi Kesehatan Diri

Wabah virus corona menyebar luas tidak pandang bulu. Termasuk kabupaten kecil tempat tinggal kami, Temanggung. Pada pertengahan bulan Juni kemarin angka positif terpapar virus corona meningkat tajam hingga mencapai angka positif total 202 orang. Tentunya ini mengejutkan dan tidak terbayangkan sebelumnya.

Sejak covid-19 mulai melanda, pemerintah kabupaten melalui gugus tugas melakukan berbagai tindakan pencegahan maupun penanganan. Beberapa hal yang dilakukan adalah pembatasan kegiatan masyarakat, operasi wajib masker di pasar-pasar dan juga rapid test masal secara gratis.
Rapid test masal dilakukan di berbagai titik keramaian seperti pasar tradisional dan pasar swalayan, karena di lokasi-lokasi tersebut ditengarai sebagai titik penyebaran virus. Sebelumnya memang sudah ada pasien positif dengan penularan lokal. Oleh sebab itu rapid test masal dilakukan sebagai langkah penyaringan awal untuk mengetahui kondisi medis masyarakat.
Sebagai orang dengan aktivitas tinggi, sering tugas keluar…

Ruang Kosong; Ramadan Tanpa Tawa

Malam keduapuluhlima Ramadan. Semua barang di rumah ini masih tetap pada tempatnya seperti setahun lalu. Hanya tembok putih yang memudar membedakan dari tahun sebelumnya. 
Sendirian saja Suti duduk di depan televisi empatbelas inci yang tak nyala. Di tangannya tergantung tasbih tergoyang perlahan sesuai alunan jemarinya. Mata terpejam namun tak tidur. Bibir bergerak pelan menyebut kebesaran Sang Maha Segala. 
Rumah besar ini terbiasa hening. Pada jam-jam tertentu saja dihiasi pembicaraan dua perempuan renta. Suti sang pemilik rumah dan Tut yang menumpang di satu kamar rumah lawas itu.


"Bu Tut, kangen itu bagaimana rasanya ya?" tanya Suti suatu pagi pada Tut.
Tut yang mendengar pertanyaan mendadak itu tersentak. "Kangen? Ibu belum pernah kangen?"
"Ya pernah. Maksudku kangen cucu." Suti meralat.
Tut makin heran. Dia tidak begitu saja menjawab, tapi malah kepalanya memutar sebuah kenangan. Seorang bocah laki-laki gemuk seumur lima tahunan menggelayut badann…