Postingan

Buku-Buku yang Membelokkan Hidup Saya

Gambar
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bergabung di komunitas bloger yang isinya perempuan semua dan pada pinter nulis itu bikin  semangat terpompa. Meski kadang muncul juga rasa minder tipis, karena konten dan layout blog mereka kece-kece.   
Lalu ketika di komunitas ini digagas arisan blog maka saya beranikan diri untuk ikut dengan harapan bisa memicu diri sendiri untuk rutin menulis, setidaknya dengan ikut arisan pasti punya minimal tiga postingan setiap bulan. Namun ternyata pada perjalanannya, ada juga kendala dari dalam dan luar diri yang membuat tugas menulis ini menjadi terhambat. Ini pula yang menyebabkan saya sangat telat untuk menyetor arisan periode 7 yang harusnya setor lebih dari sebulan yang lalu. 
Maka dengan sangat menyesal saya minta maaf sedalam-dalamnya pada ibu pije dan terutama pada mbak penarik arisan yaitu Vita dan Anita, juga kepada semua sahabat bloger yang ikut arisan. Silakan denda saya namun jangan yang susah susah ya, apalagi yang mahal 😊
Jadi cer…

Dead Poets Society, Sebuah Film dan Cara Pandang

Gambar
Carpe diem. Seize the day. Make your lives extraordinary. (John Keating) Kalimat sederhana yang keluar dari bibir John Keating, seorang guru pengganti Bahasa Inggris di Akademi Walton, sanggup membius dan memikat murid-muridnya. Terkhusus bagi tujuh murid istimewanya, kalimat-kalimat Pak Guru Keating pun memengaruhi pemikiran dan perilaku mereka.
Akademi Walton, sebuah sekolah berasrama khusus laki-laki di Vermont (sebuah negara bagian Amerika Serikat) yang terkenal dengan prestasinya memang menganut prinsip: Tradisi, Kehormatan, Disiplin dan Prestasi, adalah sekolah unggulan yang menjadi incaran para orang tua calon murid. Sebagai sekolah yang bergengsi tentunya akan menjadi katrol pengangkat prestise orang tua jika anaknya berhasil menjadi siswa di sana.
Namun ternyata prinsip sekolah yang bagus dan aturan yang sangat ketat tidak serta merta meningkatkan kebanggan dan prestasi semua muridnya. Ditambah tekanan dari orang tua untuk menjadikan mereka seperti keinginan orang tua makin m…

Para Penulis Idolaku Sejak Kecil Hingga Kini

Gambar
Temans, siapa yang sudah akrab dengan buku atau pun dongeng dari kecil? Eh, saya juga, lho. Ternyata dongeng atau bacaan kita waktu kecil itu jadi sebuah pengalaman yang membekas banget ya. Dan selalu terkenang sampai kapan pun. 
Demikian juga saya, yang melewati masa kecil selama era 80an. Eits, ga usah repot ngitung umur saya, haha. Masa kecil saya yang item kucel dekil terlalui dengan bahagia. Salah satunya adalah tercukupinya kebutuhan membaca.
Saat itu kehidupan keluarga kami sungguh sangat sederhana. Bapak yang seorang perawat di sebuah rumah sakit tentara dan ibu yang seorang guru sekolah dasar berusaha sekuat tenaga mencukupi kebutuhan hidup dengan lima anak. Kebutuhan utama selain makan adalah sekolah. Selain kedua hal itu, tidak akan menjadi prioritas, kecuali untuk sesuatu yang mendesak, misalnya kesehatan.
Termasuk keinginan memiliki buku bacaan. Kami harus pintar-pintar mencari cara agar bisa tetap membaca buku. Beruntung di dekat rumah kami ada sebuah tempat penyewaan b…

Bisnis Rumahan Impianku, Jadi Ibu Kos yang Direktur Bimbel

Gambar
Hai hai, lumayan lama absen ngeblog nih, sampai dikejar-kejar mak admin Gandjel Rel ditagih utang. Duh.. Oke deh mak, sekarang saya mau rajin deh *semoga bukan janji dusta 😌
Jadi di arisan periode 9 nih yang narik tema adalah mbak Wahyu dan Bunsal. Mbak Wahyu nih blogger asli Sumowono, sebuah desa kecil di wilayah Kabupaten Semarang. Dia ibu dua putra yang juga pemilik warung rica rica yang endes. Selain ngeblog dan aktif nulis buku mbak Wahyu ini juga hobi melukis. Aktif banget deh pokoknya. Blognya adalah www.awanhero.com
Sedangkan Bunsal yang bernama asli Muslifa Aseani, blogger yang tinggal di Lombok ini juga ibu dua putra. Sebagai blogger dia cukup aktif mempromosikan wisata daerahnya. Bisa diintip blognya www.muslifaaseani.com
Nah, tema yang mereka lempar nih menarik. Yaitu tentang bisnis rumahan impian. Asiik... Eh beneran loh, sejak mereka melempar tema ini terus mau gak mau saya jadi mikir keras: memang sudah seharusnya punya bisnis rumahan yang tahan lama dan bisa diwarisk…

Bisa Menghadapi Kedukaan

Gambar
Pada suatu pagi, kami yang tergabung dalam grup whatsapp teman-teman SMP dikejutkan sebuah berita seperti di atas. Suami salah satu teman kami meninggal. Mendadak, tanpa sakit berat. Di usianya yang awal kepala empat, sang tulang punggung ini wafat meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih kecil.
Beberapa minggu sebelumnya juga ada kabar serupa. Teman sekolah seangkatan kami yang lain juga meninggal setelah jatuh di kamar mandinya. Mendadak juga. Seorang tulang punggung juga harus kembali ke pangkuannya di usia yang masih produktif, meninggalkan istri dan anak-anak yang masih sangat membutuhkan beliau.
Dua kejadian di atas makin mengingatkan bahwa kematian itu memang sangat dekat. Tak seorang pun yang tahu kapan maut menjemputnya. Pun demikian bagi keluarga yang ditinggalkan, tentunya tak akan ada seorang manusia pun yang siap dipisahkan oleh kematian.
Namun perpisahan selamanya ini adalah sebuah kepastian yang harus dihadapi oleh siapa pun, meski sangat berat. Untaian ucapa…

FDS di Mata Saya

Awal tahun ajaran ini diramaikan dengan pemberitaan mengenai kebijakan Full Day School (FDS) dari Kemendikbud. Dan tak pelak ini menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Baik di dunia nyata maupun maya.
Sebagai seorang ibu tiga anak usia belajar pun saya juga pasti akan merasakan pengaruh dari kebijakan ini. Kebetulan ketiga anak saya pun menempuh pendidikan yang tak sama. Si sulung sekarang menginjak kelas XI SMU, si tengah memilih belajar di rumah atau bahasa kerennya homeschooling dan si bungsu naik kelas 5 SD.
Nah, FDS ini berlaku mulai tahun ajaran baru di sekolah si sulung. Jam sekolah dari jam 7 pagi hingga 4 sore, lima hari kerja. Beruntung dia sudah besar, jadi tidak terlalu sulit menyesuaikan dengan ritme barunya. Malah senang karena sabtu bisa istirahat belajar dan mengerjakan kegiatan lainnya. Yang berbeda hanya di penambahan uang saku dan bekal makan. 😁  
Si tengah yang kurikulum belajarnya menyesuaikan kebutuhannya jelas saja tidak terpengaruh sam sekali dengan keb…

Karena Ini Nekat Ikut ODOP

Gambar
Alhamdulillah akhirnya bertemu juga dengan bulan Agustus.  Beberapa hari lalu di grup facebook Blogger Muslimah Indonesia membuka pengumuman bahwa dalam bulan Agustus ini akan ada event one day one post atau disingkat #ODOP
Nah sebagai blogger angot angotan yang baru aja pindah ke domain TLD tanpa pikir panjang langsung aja ikutan daftar. Hehe.. padahal sejak ngeblog dua tahun ini juga baru ada beberapa biji postingan.  Sebenarnya waktu daftar kemarin juga sempat mikir, apa mampu? Tapi ah, itu kan urusan belakangan, yang penting daftar aja dulu mumpung ada kesempatan.
Jadi ceritanya sekarang resmilah saya sebagai salah satu peserta  #ODOP. Tapi sesungguhnya bukan  cuma kenekatan saya saja yang menjadi dasar keikutsertaan dalam program ini. Tapi ada beberapa alasan kuat mengapa saya berani menjawab tawaran dari mbak admin.
Tak lain tak bukan karena:Melatih konsistensi diri Saya sadar siapa diri ini. Orang yang sering tidak konsisten dengan niat sendiri. Bilangnya mau nerapin food comb…