cerita si bocah

Funfarming, Cara Asik Mengenalkan Cinta Menanam pada Anak

Maret 16, 2019

Minggu pagi 10 Maret 2019 lalu Shofi bangun hanya dengan sekali bisikan, “Dek, bangun, kita mau berlatih menanam hari ini.” Sungguh bersemangat langsung ke kamar mandi, salat dan bersiap-siap sendiri. Tidak seperti pagi hari lainnya di mana butuh dihoyog hoyog badannya dan teriakan emaknya hingga tujuh oktaf demi membuatnya bangun pagi.

Hari Minggu itu Shofi akan ikut Funfarming, yaitu berlatih menanam secara asik yang diadakan oleh kakak kakak dari FLOS, sebuah badan usaha yang bergerak di bidang pertanian, yang dibuat dan dikelola oleh alumni SMK 1 Temanggung. Shofi sangat menantikan hari itu karena sahabatnya, Puspa dan Danish akan ikut juga.

Singkat cerita, kami (saya, Shofi dan Puspa) berangkat dari rumah sudah mepet waktu. Untung saja sampai di lokasi acara belum terlambat. Setelah daftar ulang kami diantar kak Novita ke sebuah gazebo di tengah kebun SMK 1 yang asri. Di sana sudah ada beberapa peserta dan kakak kakak Flos. Kami sampai di lokasi hampir bareng sama Kak Lukman dari kampung dongeng.

Melihat ada Kak Lukman, Shofi makin antusias. Matanya membulat berbinar. Dia sangat senang mendengar dongeng Kak Lukman. Dan benar saja, setelah pembukaan dan doa yang dipandu kak Novita, tibalah giliran Kak Lukman mendongeng. Semua anak peserta pelatihan dibuat tertawa bahagia oleh dongeng Kak Lukman yang asik.

Oiya, sebagian dari peserta adalah anak-anak dari Pondok Pesantren Abata, yaitu pondok hafiz Quran bagi anak-anak tuna rungu. Jadi ketika Kak Lukman mendongeng, bunda pendamping mereka mengulang lagi setiap kalimat cerita Kak Lukman kepada mereka supaya mereka pun bisa menikmati ceritanya. Saya sangat salut pada kesabaran para bunda itu.

Setelah itu, tibalah saatnya anak-anak belajar menanam. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok berisi empat anak supaya lebih mudah prakteknya dan tidak keroyokan. Shofi mendapat kenalan teman baru di kelompoknya, bernama Nasywa. Anaknya agak pemalu tapi murah senyum.

Kak Novita mengajak anak-anak memegang dan meremas media tanam yang ada di dalam baskom. Anak-anak (dan saya juga) mengira media tanam itu adalah tanah. Ternyata bukan tanah. Media tanam itu terbuat dari campuran kokopit (sabut kelapa kering yang dihaluskan), sekam bakar dan pupuk kandang. Walau ada pupuk kandangnya, media tanam itu tidak berbau sama sekali.
ternyata tidak pakai tanah sama sekali

Lalu Kak Novita juga mengajak anak-anak mengenal dan membedakan antara benih dan bibit. Kalau benih berbentuk seperti biji, sedangkan bibit adalah benih yang sudah tumbuh akar, batang dan daunnya. Selanjutnya mereka mulai menanam benih kangkung dan bibit sawi.

Selesai menanam, anak-anak diajak memanen sayuran. Wuii, ini bagian paling menyenangkan. Masing-masing boleh mengambil sayur kesukaannya. Ada bayam merah, selada hijau dan selada merah yang daunnya indah. Shofi ambil selada merah yang gemuk. Oya, tanaman yang mereka panen ini ditanam dengan sistem hidroponik.

Tak lupa Kak Novita berpesan pada anak-anak untuk merawat tanaman mereka. Caranya cukup mudah, yaitu:
1. Setiap hari disiram dua kali, sebelum jam 7 pagi dan setelah jam 4 sore
2. Letakkan di tempat yang terlindung, jangan terkena sinar matahari langsung
3. Pada sayuran yang ditanam dengan sistem hidroponik, akar harus selalu terendam air, jangan sampai kekeringan

Anak-anak sangat senang hari itu. Mendapat pengalaman baru, ilmu baru dan teman baru. Ditambah lagi pulangnya membawa tiga buah pot berisi benih, bibit dan sayur siap masak. Ternyata menanam dan merawat tanaman itu mudah dan menyenangkan.

Para orang tua pun berharap supaya mereka sayang tanaman dan gemar menanam. Demikian pula kakak-kakak Flos senang bisa berbagi ilmu dengan anak-anak. Mereka berharap suatu hari kelak ketika anak-anak ditanya apa cita-citanya, ada yang menjawab dengan lantang dan bangga: Saya ingin menjadi PETANI!

Ada yang punya pengalaman menanam bareng anak anak? Sharing yuk.


Semarang; Bayangan vs Kenyataan

Januari 12, 2019


Tak pernah ada dalam rencana untuk tinggal dan menetap di Semarang. Namun di usia 27 tahun dan sudah menyandang status ibu beranak 2, akhirnya saya resmi menjadi penduduk Semarang.

Sebelumnya ada kira-kira satu tahun untuk meyakinkan diri untuk ikut suami pindah ke kota ini. Selain memang ibu dan bapak ingin saya dan anak-anak tinggal bersama mereka di Ambarawa, juga ada semacam kekhawatiran dalam hati tentang kota Semarang ini sendiri.

Ya, sih, sebagai wong ndeso saya memang sering punya ketakutan ketakutan tak beralasan tentang kota dan atmosfernya, termasuk masyarakatnya. Bukan karena Semarang asing bagi saya, tapi justru sudah sedemikian lekatnya Semarang sejak saya kecil. Dan sayangnya, justru banyak cerita cerita negatif tentang kota ini yang mampir ke telinga sejak lama. Ini pula yang bikin saya maju mundur untuk bermukim di Semarang.

Lalu cerita apa saja sih yang pernah bikin saya keder? Apakah ketakutan saya terbukti?

Berikut bayangan dan kenyataan sesungguhnya yang akhirnya saya temui.

1. Bayangan: orang Semarang kasar.
Menurut cerita yang saya dengar, orang Semarang tuh istilahnya wani getakane. Maksudnya kalau bicara keras, ngeyelan dan gak mau kalah.

Kenyataan: yaampun, ternyata mereka ramah tamah dan baik, loh. Blas gak seperti yang saya bayangkan.
Waktu pertama kali pindah ke Semarang, kami kontrak di perumahan Bumi Wanamukti, Sambiroto. Nah pas baru lihat-lihat rumahnya saja, itu calon tetangga sudah ada yang datang menyapa dan memberi info yang sangat kami butuhkan, misalnya di mana tempat belanja. Dan beliau orang Semarang asli. Dan alusan banget orangnya. Maka yakinlah saya untuk tinggal di sana.

Ya kali, tinggal di mana-mana tuh sama saja, kembali dan tergantung ke pribadi orangnya. Ada memang yang logat bicaranya cenderung blak-blakan, tapi hatinya sangat baik. Ada yang tampak ramah di depan, tapi ternyata busuk di belakang. Jadi kota atau desa ga bisa jadi patokan baik buruknya sifat orang.
Kesimpulannya: bayangan kekhawatiran saya salah besar.

2. Bayangan: biaya hidup mahal.
Gimana ya, biasa tinggal di kampung apalagi dulu masih jadi satu sama bapak ibu jadi belum terasa beratnya mengatur keuangan. Lalu kalau pindah ke Semarang, kira-kira biaya hidupnya mahal gak ya? Apalagi anak dua dengan gaji suami yang tidak besar.

Kenyataan: untuk kebutuhan harian, sama aja tuh, ga jauh beda dengan asal dulu. Dan saat hidup mandiri seperti ini baru terasa, bahwa rejeki bukan semata gaji suami.
Alhamdulillah semua kebutuhan bisa tercukupi, anak-anak sehat, tidak kelaparan, bisa sekolah, bahkan kami diberi bonus Allah nambah anak lagi. Asik kan?

Fix, kekhawatiran kedua saya juga terpatahkan. Alhamdulillah.

3. Bayangan: tidak punya teman.
Duh, nanti di sana gimana ya? Belum kenal siapa siapa. Ada gak ya yang mau temenan sama aku?
Dih, norak banget deh waktu itu. Wkk

Kenyataan: bersyukur saya diberi anugerah Allah yaitu hobi senyum. Heheh. Ternyata dengan modal senyum ini bikin saya punya banyak teman. Dari yang satu gang, meluas satu RT, lalu ke RT sebelah, lalu di sekolahan si sulung, lalu dari warung ke warung, lalu di Posyandu, di Kantor Kelurahan, di jalan jalan, dan di mana mana. Alhamdulillah.
Kalau sekarang mengingat lagi kejadian belasan tahun lalu ini saya sering tertawa sendiri. Yaampun, noraknya ya saya dulu..hihi.

Dan lagi lagi kekhawatiran saya ternyata cuma mitos. :)
Nyatanya? Ya nyatanya akhirnya saya betah tinggal di Semarang sampai lebih dari tujuh tahun.

Menurut saya, Semarang termasuk kota yang nyaman untuk dihuni. Udaranya yang panas sih sudah pasti karena termasuk kota pesisir.

Tapi masyarakat yang majemuk namun menjunjung tinggi toleransi dan masih kental dengan kegotongroyongan membuat Semarang selalu jadi alasan untuk kembali lagi.

Apalagi banyaknya lembaga pendidikan yang berkualitas, pusat pelayanan kesehatan yang mumpuni, pusat perbelanjaan dan hotel, fasilitas umum dan transportasi publik yang sangat memadai, menjadikan Semarang layak jadi pilihan.

Dan satu lagi yang membuat saya makin cinta dengan kota ini, yaitu komunitas blogger Gandjel Rel. Komunitas yang mampu menjawab semua kekhawatiran saya tadi. Di sini saya mendapat banyak teman wanita yang hebat. Mereka sangat ramah, baik, produktif, saling membantu dan menginspirasi. Terus terang saya menemukan kepercayaan diri untuk terus menulis ya di sini. Dan dari komunitas ini pula banyak mengalirkan energi positif dan tentu saja rezeki.

Jadi meski sekarang saya tidak tinggal di Semarang lagi, kedekatan dan hubungan batin ini tetap ada. Semarang selalu bikin rindu untuk dihampiri.

Tahun ini Gandjel Rel akan memasuki usia ke-4. Semoga komunitas ini berumur panjang dan makin luas menebar manfaat.

Tak lupa pula doa bagi para founder yang telah membentuk dan menyatukan para blogger perempuan Semarang dan sekitarnya, semoga berkah melimpah untuk mbak mbak semua.

Dan untuk kita semua, semoga selalu diberi kesehatan sehingga bisa terus berbagi kebaikan melalui blog. Ngeblog ben rak nggandjel.

SELAMAT ULANG TAHUN GANDJEL REL.

Tulisan ini dibuat dalam rangka #roadto4thgandjelrel dan diikutsertakan dalam #blogchallengegandjelrel

Sambel Tempe, antara Kesenangan dan Kenangan

Januari 10, 2019

Ada banyak hal yang bisa membangkitkan kenangan kita pada seseorang yang dicinta. Salah satunya adalah makanan.

Jika sedang mengulek cabe, bawang, garam dan sedikit kencur, maka ingatan akan almarhum bapak segera mengambang. Apalagi jika setelahnya  ditambahkan tempe semangit goreng dan dipenyet kasar bercampur ulekan bumbu tadi, maka jadilah sambel tempe kesukaan bapak yang juga jadi favorit anak anak kami. Makan nasi hangat lauk sambel tempe saja bahagianya sudah menyentuh langit-langit. Debar di dada menahan pedas berpagut dengan rindu.

Selain memang jadi lauk yang sangat nglawuhi, di keluarga kami sambel tempe juga penolong pertama pada saat senja bulan dan dompet menyerupai jeruk. Nipis. Yes, sambel tempe menduduki puncak keanggunannya di meja makan.

Apakah anak anak tidak protes? Seperti yang tertulis di atas, alhamdulilah anak-anak malah semua sukacita menyambut dengan riang ria.
Mereka itu ya, kalau sama tempe seperti lihat idola. Jangankan dimasak. Saat tempe mentah dipotong potong mau dimasak saja sudah dicomot masuk mulut. Kadang dicocol kecap.

Ada cerita lain juga tentang si sambel tempe ini.
Ketika itu, siang di akhir Desember 2010. Bapak yang lapar dan tak mau mengganggu ibu yang sedang istirahat, mengulek sendiri cabe, bawang, garam, kencur dan tempe goreng.
Siapa pun kami yang ingin membantu dilarangnya. "Wis, kana kancani wae anakmu."

Setelah itu bapak dhahar bersayur lodeh dan sambel tempe diiringi teriakan pada cucu yang sedang ngumpul di rumah beliau. Selesai bapak makan, masih tersisa cukup banyak sambel tempe di cobek yang tertudungi tutup saji.

Setelah makan bapak kembali ke kamar kerja beliau melanjutkan mengetik laporan. Tidak lama bapak keluar lagi. Mencari empat cucu dan mengajak mereka ke warung Bu Titin. Keempat bocah mendapat jatah jajan dari Yangkung.
Kebahagiaan bapak sederhana. Cukuplah melihat senyum tawa di mata para cucu.

Sore menjelang. Bapak yang berada di kamar kerjanya memanggil ibu. Sesak napasnya kembali menyerang. Semprotan oksigen sebagai pertolongan pertama tak banyak membantu.
"Iki wis entek.... Tukua meneh...," pinta bapak dalam lemah.

Ibu heran. Padahal ini semprotan masih baru. Meski begitu kami belikan lagi satu tabung kecil yang baru. Dan ketika dihirup bapak, lagi lagi bapak bilang itu sudah habis.

Apakah ini firasat? Entahlah. Kami pikir tidak.
Kami bujuk bapak ke RSU. Beliau menggeleng.
Bapak bertahan dalam kepayahan. Kupijit pelan kakinya. Kami bersitatap. Pandangan bapak saat itu terasa jauh. Mulutnya sedikit terbuka, berusaha mencari udara untuk dimasukkan ke tubuhnya. Aku berusaha menahan tangis.
"Bapak kuat, nggih." Harapku.

Keadaan sepertinya membaik. Bapak tenang. Tapi tak bisa tidur. Sebuah bantal kursi didekapnya erat dengan tangan kiri.

Malam menjelang. Ibu selalu menemani. Aku dan adikku mengurus anak kami di lantai dua rumah bapak.
Bocah-bocah ini mulai menyurut energinya.

Tengah malam, ketika aku hampir ikut terlelap menyusul anak anak, ibu memanggil.
Bapak berkenan dibawa ke RSU. Dengan bantuan tetangga kami yang perawat RSU, ambulans datang membawa bapak disertai ibu dan adik. Sedangkan aku tetap di rumah menjaga anak-anak dan ponakan.

Semoga bapak baik-baik saja. Tadi saja beliau naik ambulans sendiri, tidak mau dibantu, meski kepayahan.

Sekitar satu jam kemudian adik pulang. Mengabarkan kalau bapak sudah dapat kamar. Ibu berjaga di sana. Nanti subuh adik akan ke RS lagi membawa kebutuhan ibu.

Aku kabarkan kondisi ini ke semua kakak dan suami yang di luar kota. Doa doa tak lepas dari hati kami.  Semoga Tuhan memberi kekuatan dan memulihkan kesehatan bapak.
Malam itu sangat hening. Anjing tetangga yang kadang malam malam melolong tak terdengar. Burung malam yang biasanya terbang dan mengaok lalu hilang di kebun barat juga tak terdengar. Mungkin alam sedang khusyuk dalam zikirnya.

Selepas subuh.
Telepon rumah berdering. Aku melompat dari kasur lalu lari menuruni tangga.
Kusambar gagang telpon berwarna hijau tua itu.
"Halo, betul rumah bapak Kardi?" Sebuah suara lelaki dari seberang.
"Iya, betul, Pak." Jawabku.
"Ini dari Koramil, mbak. Memberitahukan bahwa Pak Kardi sudah tidak ada baru saja."

Entah apa yang ada di pikiranku saat itu. "Bohooongg!!!" Teriakku tak percaya.

Bagaimana bisa bapak sedang di RSU dan malah orang Koramil yang menelpon kami?

Kutarik napas satu satu. Adik dan tetangga yang mendengar teriakanku mulai mendekat. Kukatakan apa yang kudengar barusan. Mereka menghibur kalau itu pasti tak benar.

Tapi pikiran warasku mengatakan, Koramil kan tidak jauh dari RSU. Kalau ke RSU pasti melewati kantor Koramil. Lalu jangan jangan.... Ibu!
Aku teringat ibu tidak membawa HP saat itu. Uang pun beliau bawa sekadarnya.
Aku bergegas ke luar pintu. Begitu sampai di jalan depan rumah, kulihat ibu berjalan lunglai di ujung gang. Kusongsong beliau dengan tangisan.
"Tulung kae bapak ndang diurus, ya." Tenang sekali suara ibu dalam dekapanku.

Rupanya ketika para perawat sedang mengurusi jenazah bapak yang wafat sebelum subuh, ibu yang kebingungan memutuskan untuk pulang berjalan kaki dan mampir ke Koramil minta tolong memberi kabar orang rumah.
Untung saja jarak RSU-rumah tidak begitu jauh, dan ibu tidak kenapa-kenapa.

Pagi itu, 29 Desember 2010, bapak berpulang menuju keabadian. Orang-orang berdatangan membantu kami. Ada yang ke rumah sakit mengurus administrasi dan kepulangan jenazah bapak. Ada yang menyiapkan tempat untuk memandikan jenazah. Ada yang menyiapkan tenda dan kursi. Ada yang menenangkan dan menemani ibu. Ada yang menyiapkan dapur dan keperluannya. Ada yang memberi kabar saudara dan kerabat.

Sedang aku....
Aku terduduk di samping meja makan. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Sambil menatap sesuatu melalui sela lubang tudung saji. Sesuatu yang aromanya makin kuat namun bentuknya makin kabur terhalang air mata yang berderai derai.
Sambel tempe bikinan bapak kemarin siang itu masih tersisa.

#1pekan1tulisan
#empiser
#empisempistemanggung
#belajarnulis

event blogger

Belajar Esai dan Video di Sapa Sahabat Keluarga

Desember 26, 2018


Teman-teman sudah pernah tahu atau dengar tentang Sahabat Keluarga Kemdikbud? Kalau belum tahu tos dulu kita, hehe. Sama dong, saya juga baru tahu seminggu lalu saat ikut acara Sapa Sahabat Keluarga yang berlangsung pada tanggal 18-20 Desember 2018 di Hotel Jayakarta Yogyakarta.

Jadi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kita berupaya membangun sebuah ekosistem pendidikan yang menyeluruh, yang terdiri atas orang tua, Kepala Sekolah, para guru, Komite Sekolah, dewan pendidikan, pegiat pendidikan dan masyarakat keseluruhan, yang cerdas dan berkarakter, dengan salah satunya membuat laman Sahabat Keluarga untuk sarana mewujudkan kemitraan dan mensosialisasikan visi dan misi dari Ditbindikkel Kemdikbud tersebut. 

Saya merasa sangat beruntung terpilih menjadi salah satu dari tigapuluh blogger dan pegiat Taman Baca Masyarakat yang menghadiri acara Sapa Sahabat Keluarga. Ya, Ditbindikkel ingin menyapa seluruh keluarga di Indonesia melalui perwakilan para blogger ini, yang salah satu tugas kami adalah mensosialisasikan program-program pendidikan keluarga. Selain itu, menu utama kami tiga hari itu adalah mengikuti Workshop Content Creator dengan isian belajar menulis esai dan membuat video.

Acara Workshop Content Creator untuk para blogger dan pegiat TBM ini bersamaan dengan Workshop Evaluasi Program Pendidikan Keluarga yang dihadiri oleh utusan perwakilan Dinas Pendidikan dari 21 propinsi dan 40 kabupaten/kota se-Indonesia, sehingga untuk acara pembukaannya, kami para peserta digabung dalam satu ruangan.

Acara pembukaan yang direncanakan mulai pukul 19.00 terpaksa mundur hampir dua jam karena pesawat yang ditumpangi bapak Dr. Sukiman M.Pd, selaku Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, mengalami penundaan penerbangan. 

Akhirnya, sambil menunggu beliau hadir, diisi sharing session dari para delegasi daerah tentang pengalaman selama menjalankan program pendidikan keluarga di daerahnya. Sesi ini sangat membuka wawasan sekali tentang pentingnya pendidikan keluarga dan peningkatan kepedulian lingkungan. Bicara tentang pendidikan keluarga adalah bicara tentang mengawal anak-anak kita tetap berjalan di jalur yang baik. Jika sebuah keluarga menjalankan fungsi sebagai lahan pendidikan dengan baik, maka tujuan pendidikan nasional akan lebih mudah tercapai.

Belajar Menulis Esai 

Tahukah pada siapa kami belajar menulis esai pada acara ini? Namanya sudah tak asing lagi di jagat literasi Indonesia. Seorang penulis ratusan judul buku dan pendiri Rumah Dunia, sebuah tempat belajar budaya, literasi, jurnalistik, sastra, teater, film, musik dan banyak lagi. Dia juga penulis serial legendaris yang pernah dimuat di majalah HAI dulu saat saya masih duduk di bangku SMP hingga SMA. Dialah kang Gol A Gong.

Adalah sebuah kehormatan bisa belajar menulis langsung dari seorang pemilik nama besar. Kang Gol A Gong yang pada minggu lalu mengakhiri kegiatannya Tur Gempa Literasi di Jawa Timur berkenan mampir ke Yogyakarta untuk berbagi bersama kami.

Ini bukan pertemuan saya yang pertama dengan Kang Gol A Gong. Sekitar lima tahun lalu saya pernah dapat kesempatan belajar menulis cerpen pada beliau di Ungaran. Dan sekarang belajar lagi pada beliau tentang bagaimana menulis esai. Selalu ada ledakan-ledakan unik pada setiap pertemuan pembelajaran bersama beliau. Tapi satu hal yang selalu saya ingat dan mengingatkan pada beliau, yaitu jangan takut menjadi apa pun dan menulis apa pun. Bebas dan mandiri. Termasuk jangan takut menulis esai.

Di awal sesi, seperti biasa Kang Gong mengenalkan diri dan keluarganya. Beliau juga bercerita awal mula 'bencana' yang merenggut separuh tangan kirinya. Lalu bagaimana ibu ayahnya mendampingi, mendidik dan membentuk hati dan pribadinya menjadi tangguh. Hingga tak pernah ada rasa rendah diri dan lupa bahwa dia bertangan satu.

Kang Gong kecil dididik ayahnya untuk selalu membaca buku dan berolahraga sehabis salat subuh. "Olah raga akan membuat badanmu segar, dan membaca akan membuat jiwamu sehat," begitu kira-kira pesan ayah Kang Gong. Dan di  kemudian hari Kang Gong mendapat banyak berkah dari kebiasaan masa kecilnya itu. Pada kisaran tahun 1986-1990 Kang Gong menjadi Juara Badminton Cacat se-Asia Pasifik (sekarang Asian Para Games). Dan dari kebiasaan membaca juga membawa Kang Gong pada jajaran penulis ternama dan produktif, keliling hingga 20 negara, menjadi bagian di stasiun televisi nasional. Itu sebabnya beliau merasa derajatnya sangat naik dari membaca dan menulis.

Hmm..., saya sangat tertohok deh. Belum bisa  menjalankan kebiasaan ini pada diri sendiri maupun ke anak-anak. Ah, semoga semangat sepulang workshop ini tidak pudar. Yuk baca. Yuk olahraga. :)

Setelah perkenalan, mulailah kami belajar yang ternyata dibuka dengan permainan. Elah, bermain? tiwase udah serius siapin block note sama pulpen mo nyatet, heheu.
Iya, permainannya bikin simulasi keluarga. Jadi dibentuk kelompok yang pura-puranya di dalam kelompok itu adalah bapak, ibu, dua anak, pembantu dan sopir. Kemudian masing-masing diberi nama dan karakter yang kuat, lalu menemukan masalah-masalah apa yang sering muncul di keluarga itu dan bagaimana penyelesaiannya. 
Di keluarga Sosrokartono (kelpmpok kami), masalah paling sering muncul justru dari pembantu. Pembantunya yang bernama Lidia Kondow ini, seperti namanya punya kebiasaan suka ngondo ngondo (gosipin) majikannya ke para pembantu tetangga. wkk.
Nah, dari games yang sederhana ini, menunjukkan bahwa ternyata dalam sebuah keluarga ada banyak masalah yang bisa menjadi bahan ajar dan kemudian bisa menjadi sebuah ide untuk menulis esai. 

Games kedua adalah pesan berantai. Cara bermainnya sih mirip waktu kita Pramuka dulu, berbisik menyampaikan pesan dari orang pertama sampai orang terakhir. Yang ternyata dari sekian kelompok hanya ada satu kelompok yang pesannya paling tepat. Permainan ini adalah cerminan kita saat memberi pesan atau mengajarkan sebuah nilai ke anak-anak haruslah melalui proses diulang-ulang dan harus sabar.
Foto oleh Fuji Rahman Nugroho

Nah, selanjutnya mulailah belajar tentang menulis esai. 
Esai menurut Kang Gong adalah pendapat pribadi yang merupakan gagasan baru dan disampaikan dengan sudut pandang yang berbeda sesuai subyektifitas penulisnya dan harus menawarkan solusi.
Jika itu opini pribadi tanpa solusi ya bukan masuk golongan esai.

Bagaimana dengan ide? 
Mencari ide untuk menulis esai gak perlu dipikir mumet. Bisa dari keseharian kita dan anak-anak, apayang kita temui di jalan setiap hari, atau dari keresahan-keresahan yang kita rasakan. Intinya sih kudu peka menangkap setiap apa yang kita lihat, dengar dan rasakan aja bisa kok jadi ide. 

Nah, waktu sesi games jalan-jalan di Transmart yang ada di seberang hotel, saya masih kebawa peran jadi pembantu, nih. Lalu tiba-tiba aja kepikiran satu hal, apa ya yang ada di pikiran dan hati seorang pembantu ketika ikut majikannya ke mal? Apakah mereka hanya menjaga anak majikan atau malah ada yang diberi keleluasaan untuk belanja sendiri? Dan banyak pertanyaan lain di kepala. Nah, ternyata kata Kang Gong, dengan mengumpamakan diri kita dengan subyek lain itu bisa mempertajam tulisan kita.

Setelah ada ide atau gagasan, baiknya jangan langsung menulis. Perbanyak dulu data-data untuk menguatkan opini kita. Bisa dari riset data pustaka, searching internet, wawancara, atau turun langsung ke lapangan. Setelah data komplet, barulah kita bisa menulis esai kita. Perhatikan juga rumus 5W1H.
Setelah selesai jangan buru-buru posting. Pastikan kita telah membaca ulang dulu lalu  lakukan revisi hingga  benar-benar yakin dengan opini kita. 

Belajar Membuat Konten Video

Selesai belajar dengan Kang Gong, sorenya kami diajak ke Tebing Breksi, wisata alam bekas penambangan yang meninggalkan sisa bukit batu terjal nan anggun. Baru kali ini juga saya menginjakkan kaki di kawasan wisata ini. 

Pengisi workshop adalah seorang anak muda ganteng enerjik dan santun. Pas banget karena dia adalah satu dari empat anak muda yang tergabung di bendera Film Maker Muslim yang saat saya nulis ini subscriber youtube-nya mencapai 429.100 subscribers. Gile... Dan salah satu karya mereka berjudul Cinta Subuh sudah ditonton lebih dari dua juta viewer. woaaa...

Namanya mas Iqbal. Bukan berlatar belakang broadcasting atau semacamnya. Demikian juga dengan tiga orang lain yang tergabung di Film Maker Muslim. Tapi usaha dan konsistensi membuktikan bahwa mereka bisa membuat video yang menarik dan berkelas, tentunya tetap ada pesan-pesan positif yang disampaikan di setiap filmnya.

Setelah perkenalan, tidak ada materi yang diberikan oleh Mas Iqbal. Tapi kami langsung dapat tugas membuat sebuah video durasi satu menit dengan tema 'bebas' menurut kami dan harus dibuat saat itu juga dengan kamera ponsel. Ladalaahh...., gimanaa ini? 

Saya satu kelompok dengan mbak Sulis, Mbak Tanty dan mbak Lina. Bingung  dengan konsep, akhirnya kami sepakat untuk masing-masing merekam dan menggabungkan video kami nanti saat diedit. Ndelalahnya malah ponsel mbak Tanty ngambek gara-gara keberatan memory. huhuu... sabar ya mbak.

Mbak Sulis yang ponselnya udah ada aplikasi edit video merelakan dirinya menjadi editor ala ala. Dan akhirnya jadilah video kami yang sungguh aneh dan membuat siapa saja yang melihatnya menyesal. hihi. 


Foto oleh: Fuji Rahman Nugroho
Lalu esok harinya kami nobar semua video masing-masing kelompok yang kemudian di-review oleh Mas Iqbal. Ternyata benar, konsep adalah hal penting sebelum membuat video atau film. Untuk membuat video satu   menit maupun film berdurasi satu jam, sama sama dibutuhkan konsep yang matang. Bagaikan tema dan outline dalam sebuah tulisan, konsep ini adalah rangka tubuh video.

Dengan sabar mas Iqbal menerangkan tiga tahapan membuat video yaitu pra produksi, produksi dan post produksi.   Pra produksi berupa ide, skenario, brainstorming skenario, casting, reading, cek lokasi, persiapan art, alat, crew, wardrobe, short list atau story board. Produksi saat syuting. Post produksi berupa editing, music, sound mixing, publishing.

Selain itu mas Iqbal juga menjelaskan tentang pembagian tugas tim produksi.  Tim dalam pembuatan film biasanya ada produser, sutradara, penulis, sinematografi, production designer, line producer, production manager, editor, music score, mixing, colorist, publishing. Semua punya tugas dan tanggung jawabnya masig-masing.

Melengkapi penjelasannya, mas Iqbal juga mengenalkan pada teknis pengambilan gambar, komposisi gambar dan teknis peralihan adegan. Siang itu saya seperti disegarkan kembali tentang apa apa yang sudah pernah saya pelajari duapuluhan tahun lalu. weewww.... lama bangett, hihi.

Tugas seorang Content Creator

Di era digital sekarang ini informasi bagaikan air terjun. Sangat deras tidak terbendung lagi. Bukan hanya informasi nyata yang membangun, hoax pun bertebaran di sekeliling. Di sinilah fungsi seorang kreator konten dibutuhkan. 

Informasi tentang segala lini kehidupan nyatanya dibutuhkan oleh konsumen maupun penyedia jasa informasi. Sosialisasi program-program pemerintah, kedinasan hingga produsen makanan pun perlu disebarluaskan. 

Seorang kreator konten keberadaannya diperlukan untuk membuat konten yang kreatif, menarik, jujur dan tentunya memberi pesan positif dan selalu menyebarkan manfaat. 
Alhamdulillah bisa gabung belajar bersama dalam workshop tiga hari yang padat gizi dan penuh kebersamaan ini. 

Duh, udah kangen lagi deh sama kalian....
Foto oleh: Fuji Rahman Nugroho
foto oleh: Fuji Rahman Nugroho

 



jalan-jalan

Rakanan Giyanti 2018, Sebuah Upaya Pelestarian Budaya

Oktober 14, 2018


Minggu lalu, tepatnya hari Jumat tanggal 5 Oktober 2018 saya berkesempatan mengunjungi sebuah dusun yang sangat unik dan keren. Unik karena warga dusun ini masih memegang teguh tradisi berupa upacara adat, kesenian maupun kearifan lokal yang masih sangat kental. Salah satunya adalah acara tahunan yang disebut Rakanan Giyanti.

Rakanan adalah sebuah upacara yang juga disebut sadranan yang diadakan pada bulan-bulan tertentu pada penanggalan Jawa. Kebetulan saat ini adalah bulan Suro atau Muharam pada penanggalan Islam.

Dusun Giyanti (warga setempat menyebut Njanti) terletak di Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dusun kecil ini ternyata menyimpan banyak potensi wisata, khususnya di bidang seni panggung.

Rakanan sendiri adalah acara tahunan biasa di dusun ini. Mungkin jamak juga dilakukan di dusun-dusun lain. Namun pada tahun ini, berdasar kesepakatan perangkat dusun dan seluruh warga, mereka mencoba mengangkat kegiatan ini dalam sebuah kemasan yang lebih bagus. Maka diadakanlah berbagai lomba, festival desa wisata sekabupaten Wonosobo, inti acara sadranan tenongan, wisuda lengger dan berbagai pertunjukan hiburan rakyat seperti pementasan ketoprak dan kuda lumping.

Keseluruhan rangkaian acara Rakanan Giyanti 2018 ini berlangsung selama lima hari (3-7 Oktober 2018) dan puncak acara ada pada hari Jumat, 5 Oktober 2018 dengan agenda acara penuh dari pagi hingga malam hari.

SADRANAN TENONGAN
Puluhan tenong (tempat dari anyaman bambu bertutup berbentuk bundar) berisi aneka jajanan tradisional ditata rapi di pematang sawah. Masing-masing tenong adalah milik setiap warga dusun Giyanti. Setelah ditata lalu tetua kampung memimpin doa. Seusai doa, jajanan dalam tenong itu diserbu warga dan siapa saja yang hadir. Semua berebut mendapatkan makanan yang diyakini mengandung berkah. Sayang sekali saya tidak bisa menyaksikan secara langsung acara sadranan tenongan ini karena sedang dalam perjalanan menuju ke sana.

WISUDA LENGGER
Lengger adalah sebuah seni tari yang berkembang di wilayah Banyumas dan sekitarnya dan juga di Kabupaten Wonosobo.

Lengger Wonosobo sendiri berkembang sejak puluhan tahun lampau. Dahulu penari lengger adalah laki-laki. Baru pada tahun 1980-an ada penari lengger wanita. Dalam perkembangannya, makin banyak lengger wanita yang ada seiring dengan habisnya lengger pria.

Namun, banyaknya lengger wanita ini tidak diiringi dengan kompetensi dan kemampuan lengger yang semestinya. Apalagi banyak pula penari lengger yang menari tidak sesuai kaidah dan etika yang semestinya sehingga justru membuat kesenian ini menjadi seni pinggiran.

Hal inilah yang menjadi keprihatinan para seniman lengger dari sudun ini yang mendorong mereka untuk membuat sebuah acara bertajuk Wisuda Lengger, yang diharapkan bisa mencetak lengger yang profesional dan berkualitas.
para lengger yang telah diwisuda

Sebanyak 25 lengger wanita dari berbagai desa di kabupaten Wonosobo yang mengikuti prosesi wisuda ini. Ada beberapa tahapan yang wajib mereka ikuti dan lalui. Tahapan-tahapan itu adalah:

1. Pembekalan materi teori dan praktek.
Dalam pembekalan ini mereka juga mempelajari sejarah dan asal usul lengger, juga makna yang terkandung dalam tarian dan setiap gerakannya.

2. Simpuh Lengger
Simpuh lengger adalah waktu hening yang dilalui dengan duduk bersimpuh. Mereka merenungkan makna diri sebagai manusia dan sebagai lengger. Introspeksi diri, mengingat dari mana asal usul jati diri dan menyadari tujuan dan tugas hidupnya.

3. Jamasan Lengger
Jamas atau mandi adalah prosesi para lengger melakukan siraman di tepi telaga yang bermakna menyucikan diri.

4. Wisuda Lengger
Wisuda dilaksanakan malam harinya. Para lengger yang telah berdandan cantik diwisuda oleh sesepuh lengger dengan ditandai penyerahan selandang tari.

Kemudian mereka membaca sumpah yang disebut Catur Darma Lengger atau empat janji lengger, dan kemudian mereka telah sah disebut sebagai lengger dan siap mengemban tugas dan membaktikan diri sebagai lengger seutuhnya.

Setelah seluruh prosesi wisuda lengger selesai, mereka mengajak seluruh hadirin untuk menari bersama. Suasana sungguh meriah dan bergembira.

FESTIVAL 21 DEWA
Pada hari itu juga dibuka Festival 21 Dewa atau desa wisata. Warga Kabupaten Wonosobo layak berbangga karena memiliki banyak desa wisata yang indah dan menarik. Baik itu dari segi potensi alamnya, kekayaan kuliner, beraneka tradisi dan adat istiadat, serta sumber daya manusia yang selalu ingin maju dan berkembang.
nasi jagung urapan, sudah mulai jarang makan ini, ya?


Melihat dan mengunjungi stand pameran masing-masing desa wisata di sana membuat lupa diri, lupa waktu dan lupa diet.
para bapak bernostalgia bermain balon sarung

Panitia Rakanan Giyanti 2018 ini benar-benar memanjakan lidah dan hati warga yang haus hiburan. Puncaknya adalah pertunjukan ketoprak pada malam hari seusai wisuda lengger.

Ketoprak dengan judul Joko Sundang ini dimainkan oleh warga Giyanti sendiri, beberapa bintang tamu dari Temanggung dan Banjarnegara, serta ikut berlakon pula bapak Kepala Dinas Pariwisata Kab. Wonosobo Bp. Andang, yang permainannya benar-benar berhasil memukau para penonton.

Bermalam di dusun ini sungguh berkesan. Ditambah sambutan para warga dan terutama keluarga Pak Kadus Tanto yang sangat ramah dan semedulur membuat saya dan teman-teman betah dan kangen ke sana lagi.

Semoga kesempatan dan rejeki masih berpihak kepada kami sehingga suatu hari nanti bisa berkunjung ke Giyanti lagi. Tentunya untuk silaturahim dan belajar banyak hal. Sukses selalu pak Kadus dan Dusun Giyanti.

Tak lupa terima kasih dan peluk erat buat mbak Wening, Kinan, mas Erwin, Bapak dan Bunda atas segalanya. Semoga sehat selalu dan barakallah.