Kawan Lama yang Awet Hingga Kini

Juni 19, 2017

Halo Tina mamanya Frozen Kuro  dan mbak Nurul sang pemenang arisan blog Gandjel Rel episode ke 4,
okey, aku akan menjawab tantangan kalian yang memberi tema gampil gampil susyil ini: SAHABAT.

pixabay.com
Terus terang aku bingung banget mau nulis apa tentang sahabat ini. Soalnya aku bingung, antara gak punya sahabat, tapi juga semua temanku yang buwanyak ini juga sahabatku. Jadi bingung nih, mau cerita yang mana. haish mbulet sendiri....

Oke deh, dari sekian juta sahabat dalam hatiku, ada satu nama yang tak pernah lepas dari ingatan dan ikatan. Sebut saja dia Bunga. eh, enggak..., sebut saja inisialnya S, dan nama panggilannya adalah Septin. (trus apa guna inisial, Din?!)

Dia ini adalah teman sekelas waktu aku pernah mengenyam pendidikan di kota pelajar dulu, selain itu juga kami tetangga kos yang akhirnya jadi teman sekosan. Kenapa namanya selalu terpatri di hati? Ya karena banyak banget kisah haru bin konyol yang kami lalui bersama. (sesungguhnya ini aib yang tak layak diketahui sih πŸ˜‹)

Awal perkenalan kami enggak banget deh. Meski sekelas, kami sama sama tidak tahu kalau sekelas. Meski tetanggaan kosan, kami juga gak nyadar kalau kos kami deketan. Aslinya sih kami sama-sama kuper. 

Jadi pada suatu siang yang hangat, sehabis kuliah, aku pulang ngebis kota. Padahal sih kalau jalan dekat juga, tinggal lewat  boulevard, bunderan, nyebrang lalu lewat depan rumah sakit panti rapih dan masuk gang samping rumah sakit udah sampai. Tapi sebagai mahasiswi baru yang norak karena di kampung ga ada bis kota, maka pulanglah aku naik bis kota yang rutenya mengelilingi kampus dulu baru turun di depan gang samping rumah sakit.

Nah waktu aku loncat turun dari bis, badanku menyenggol seorang cewek yang melangkah gontai berjalan seorang diri. Lalu mata kami bertatapan, dan muncullah getar-getar cinta di dada... ish, ngaco. enggak gitu ceritanya. Yang bener tu kami bertatapan lalu saling melempar senyum. Entah kenapa kok masing-masing kami saling nebak, ini pasti anak kuliahan baru. Dan ternyata bener. Lalu kami jalan bareng masuk gang sambil kenalan dan berpisah di tikungan selanjutnya.

Sejak itu kami sering berangkat dan pulang barengan. Sering dolan bareng namun gajelas arahnya. Sering nongkrong di gramedia bareng.  Pokoknya sering menghabiskan waktu bersama hingga akhirnya kami tinggal sekosan. Dan menurut pengakuan dia di kemudian hari, waktu pertama kali dia lihat aku, dia kira aku adalah cowok gondrong seperti kesukaannya waktu itu. "Hampir saja aku fall in love at the first sight, lo, Din padamu," katanya. Iya sih dulu aku suka pake celana jins, T-shirt dan kemeja flanel. Terus rambutku yang ikal panjang cuma diikat karet. Plus sepatu kets. Begitulah sehari hari. Sangat bertolak belakang dengan dia yang meski ngejins tapi tetap pingin tampil cantik.

Semakin hari kami makin kompak gak jelasnya, meskipun kami berdua diliputi perbedaan di segala hal. Aku yang jorok dan males bersih bersih sering kena omel dia si tukang bersih-bersih. Aku kadang males ngomong, karena kupikir tatapan mata saja sudah penuh makna, sebaliknya dia cerewet berjuta aksara. Aku selalu santai ngadepin apa pun, tapi dia selalu mengedepankan kepanikan. Terutama kalau lihat mahkluk gondrong di depan mata. πŸ˜†meski agama kami waktu itu berbeda, itu pun tidak menjadikan penghalang kami untuk bersahabat.

Justru perbedaan-perbedaan itu membuat kami semakin kuat dan saling memberi pengaruh yang kadang positif tapi kadang juga negatif. hihi
Darinya aku belajar maskeran dan merawat tubuh, belajar tentang disiplin dan tanggung jawab terhadap diri sendiri, sampai belajar gimana caranya menelpon meski telpon rumah dalam keadaan terkunci. Ini curang banget, soalnya itu telpon rumah bapak kos. *jail banget ya.
Sedang dariku dia belajar selow menghadapi kenyataan, belajar menghargai orang lain, sampai belajar nulis puisi. setdah, baik baik kan pengaruhku.. kikiikk

Aku inget, waktu itu ramadhan tahun 1996. Aku tidur di kosnya. Teman-teman kos sudah mulai mudik. Aku memang sudah berniat akan menemani dia bangun sahur dan berpuasa meski aku waktu itu belum beragama islam. Sebelum tidur kami memasang alarm weker jam 3 pagi. Namun seperti malam-malam yang tlah berlalu, kami gak bisa menghentikan bibir yang senam nyerocos terus. Hingga lewat tengah malam dan kelelahan kami ketiduran. Jam 3 saat weker nyaring berbunyi kami memaksa mata melek dan menyeret langkah ke warung makan di belakang kos. Beruntung meski nyawa belum terkumpul sepenuhnya kami berhasil membeli masing-masing sebungkus nasi dan ga nyasar ke kosan orang. Kami membuka bungkusan di lantai kamar sahabatku ini. Dia dengan perhatian mengambilkan minum buat kami berdua. Sedang aku yang sudah makan beberapa suap dan memegang telur balado bisa-bisanya tertidur dengan posisi duduk. Aku tersadar saat mendengar ketawanya yang ngakak keras, "Din, telurmu ngglundhung...!" *mak gragap lalu nututi telur, eman eman πŸ˜…

Lain waktu kami keluar bersama. Berboncengan sepeda motor keliling kota ga jelas lagi. Hanya mengusir kejenuhan yang sering kami undang sendiri. (piye sih, diundang lalu diusir?) Sekadar menikmati jalanan Jokja yang waktu itu belum seramai sekarang, itu sudah bikin bahagia. Apalagi kalau dapet kenalan cowok manis *uhuk. Melewati jalan Malioboro, kami lurus saja, tahu diri bo kantong lagi cekak makanya ya lewat aja. Lurus ke selatan, belok kiri, kanan, kiri, ketemu perempatan. Dari jauh tampak lampu menyala merah. Sudah ada beberapa motor yang berhenti. Aku memelankan motor, dan memilih berhenti tepat di sebelah kiri motor yang ditunggangi dua cowok lumayan kece. Melihat perluang seperti itu sinyal tebar pesona kami sontak menyala. Sambil kaki dan tanganku mengerem manja, aku dan Septin seolah-olah ngobrol cantik sambil senyum dan melirik ke kanan kami. seettt.... motor berhenti pelan persis di samping cowok itu, dan kedua kakiku turun menapak bumi. Tiba-tiba...
Aaawww.... cowok di sebelah kami menjerit lepas. Ternyata oh ternyata, kakiku yang berbalut sepatu menginjak kakinya yang bersandal jepit tralala... 
Septin ngakak, aku bingung minta maaf. Untunglah itu hanya sesaat. Rasa maluku diselamatkan oleh lampu hijau.
 
Persahabatan kami begitu bahagia, meski tidak melulu cerita bahagia yang kami rasakan. Sering pula kami berbagi cerita duka. Dan untunglah kami masing-masing punya pundak yang kuat untuk saling bersandar.

Septin dan aku kini, meski jarak dan kesibukan masing-masing telah memisahkan kami, namun hati kami tetap saling terpaut. Bagaikan saudara kembar yang memiliki ikatan batin sedemikian kuat, tak jarang aku tiba-tiba kepikiran tentang dia, dan ternyata pada saat yang sama dia sedang dalam keadaan yang kurang baik.

Aku sangat bersyukur telah mengenalnya dan mempunyai dia di sebagian hidupku. Banyak hal yang kami bisa pelajari bersama. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang cita-cita dan kesetiaan. Dan tentang apa saja. Malam ini yang ku ingin bilang, aku rindu kamu, Sep. Semoga Allah selalu melindungi kamu dan lelaki kecilmu.

Duh, dengerin lagu Oppie Andaresta yang ini jadi inget kamu banget deh Sep...

 Apakah kabar kawan lamaku
Masihkah seperti yang dulu
Mari sini peluklah aku
Lepaskan semua rindumu
Banyak kisah yang terlewatkan
Tanpa kehadiran dirimu
Duduk sini dekat denganku
Habiskan waktu bersamaku
Sampai dimana jalanmu
Masihkah mengejar mimpimu
Jangan pernah lupakan aku
Karena asik kumpulkan batumu
Satu persatu tumpukan batumu
Kan menjelma jadi rumahmu
Yang suatu saat jadi pelabuhanmu
Dan aku singgah jadi tamumu
Mari mainkan lagu kesukaan kita
Ceritakan cerita kesenangan kita
Mari mainkan lagu kesukaan kita
Ceritakan cerita kesenangan kita

Nah, kan, tadi bilangnya susah nulis tentang sahabat. Ternyata malah jadi panjang dan baper sendiri kan.. hihi
Kalau kamu, apa cerita tentang sahabatmu?
 

You Might Also Like

20 komentar

  1. dii kasih inisial, tapi namanya disebutin juga yak hahahaha

    BalasHapus
  2. Memori sahabat tuh bikin susah berhenti nulis, Kakak Din .. hihi

    BalasHapus
  3. Duh, jadi ikutan baper.. aku setipe2 niy sm mb.dini, dibilang punya sahabat ya enggak, dibilang nggak punya tapi temenny banyak 😊

    BalasHapus
  4. Langgeng selalu yaa dengan sahabatnya mba diin..

    BalasHapus
  5. duh membaca ini bikin aku kangen 2 sahabatku waktu masih sekolah, yg satu udah lama pindah ke Kalimantan, yg satu lagi tinggal sama neneknya di lampung

    BalasHapus
    Balasan
    1. lama ga jumpa ya? pasti kangen banget tuh

      Hapus
  6. MasyaAllah so sweet bener deh mb..duh seneng nya punya teman sedekat itu :) semoga akan sll terjaga selamanya mb..Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah Cha, ini udah ga dekat lagi, tapi nempel hehe

      Hapus
  7. Balasan
    1. alhamdulillah aku pernah muda juga Wur

      Hapus
  8. Mohon maaf lahir batin mbak Dinn, baru bisa BW arisan hehe..

    Saya juga pernah loh mbak makan cemilan sambil tertidur tanpa sengaja, heran ya sudah ngantuk masih makan aja, hahaha..

    Wah itu nggak enak banget waktu motornya berhenti dilampu merah, maksudnya mau caper malah nginjak kaki cowoknya, nggak jadi kenalan dong ya.. :)

    Semoga persahabatan mbak Din dengan mbak inisial S itu akan abadi meskipun jarak memisahkan ya.. *Hiks, ikutan baper..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sami sami mbak Anjar, maaf lahir batin juga nggih... iya tuh mbak gagal dehmau tebar pesona, hahaa

      Hapus
  9. Woowww ndog e ngglundhuuunggg... Marai ngakak tenan pas iki ���� mbok aq kenalke to mba karo Septin iki ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbok iyo tak kenalke mbak, wonge yo domisili semarang owk.. :)

      Hapus
  10. aku jadi kangen ma sobatku pas kuliah dulu..yuni..hiks jauh banget kita juga sama2 temen seperjuangan pas ngekos

    BalasHapus
  11. wah jadi ingat jaman kuliah dan ngekost nih :D

    BalasHapus