Terima Kasih, Nak, Selalu Kaugenggam Kejujuran Itu

Juni 13, 2017

Aku sedang di dapur siang itu saat sulungku pulang sekolah. Tanpa berganti baju terlebih dulu dia menyusul ke dapur dan menyergapku dengan rentetan ceritanya sepanjang sekolah. Seperti biasa begitu. Namun lain dengan cerita siang itu.

***

Utit menyeka keringat di dahinya. Udara Temanggung yang biasanya sejuk mendadak membuat seisi kelas kegerahan. Utit menatap erat lembar soal di depannya, lalu menulis jawaban yang diyakininya benar. Ulangan IPS di jam terakhir itu memaksa otaknya mengingat bacaan tentang perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dari penjajah.

Kasak kusuk dari teman-temannya mulai terdengar. Sebuah bisikan meminta jawaban tajam menuju telinganya. Utit berusaha mengabaikan. Dia sendiri masih belum berhasil menyelesaikan seluruh soalnya. Utit melirik pak Joko yang duduk tenang di kursi guru, seakan tidak melihat beberapa muridnya yang saling tengok mencari jawaban.

Bisikan-bisikan itu berubah menjadi gumaman yang mendengung saat pak Joko beranjak keluar kelas. Entah akan ke ruang guru atau ke kamar kecil. Yang pasti pak Joko keluar begitu saja setelah berpesan pada anak-anak untuk tetap tenang. Namun yang terjadi sebaliknya.

Beberapa anak perempuan dengan sigap menarik buku catatan dan menulis dengan cepat di lembar jawab. Anak laki-laki yang tidak membawa atau malah tidak punya catatan pun tak kalah tangkas, melihat lembar jawab temannya lalu menulis di lembar jawabnya sendiri. Ruang kelas V yang hanya berisi duapuluhan anak itu mendadak gaduh.

Utit terperanjat dengan pemandangan di depannya itu. Sepanjang pengalamannya bersekolah dia belum pernah melihat ada drama pencontekan yang dilakukan oleh seisi kelas. Baru kali ini, di sekolah yang baru beberapa bulan dia menjadi muridnya dia menemui peristiwa yang sangat mengejutkan hatinya.

Ria teman sebangkunya mencolek, "Sudah buka saja bukumu cepat." Utit menggeleng bimbang. Dia tak mau berbuat curang seperti temannya, hatinya melarang keras. Tapi melihat beberapa soal yang pasti tidak akan terjawab, Utit merasa sayang. Tapi kembali batinnya melarang, sekelebat bayangan wajah ibu dan kata-kata yang selalu diulang ibu "kerjakan sebisamu, yang penting kamu jangan sampai mencontek. ibu mau anak ibu jujur. itu saja," mengiang di lubang telinganya.  Namun demi melihat teman-temannya sudah mulai menyelesaikan tugasnya, entah dorongan dari mana tangan Utit menarik dan membuka buku catatannya dan menyelesaikan dengan cepat soal ulangannya.

"Sudah selesai?" suara pak Joko saat melangkah masuk kelas. "Sudah, Pak..." jawab seisi kelas serempak. Lalu pak Joko mengajak anak-anak mengoreksi jawaban dengan saling menukarkan lembar jawaban denga teman sebelahnya.

Utit berhasil menuntaskan pekerjaannya. Tapi dia merasa ada yang hilang dari dirinya. Hatinya gelisah selama mengoreksi jawaban temannya. Setelah selesai mengoreksi, pak Joko memanggil satu per satu anak ke mejanya untuk diberi nilai.

Teman-teman Utit yang telah menerima kembali kertas ulangan yang sudah dibubuhi nilai saling senyum karena nilai yang lumayan bagus. Sebaliknya Utit hanya membelas dengan senyum kecut. Keringat dingin mulai menyembul di setiap pori-pori tubuhnya. Jantungnya berdegup semakin kencang, hingga akhirnya giliran dia maju ke meja pak Joko.

Utit menyerahkan kertasnya. Pak Joko mengamati sebentar lalu tangan kanannya yang menggenggam bolpen merah siap menggoreskan angka di kertas itu. Sejurus kemudian, "Pak, beri saja saya nilai nol."
Kalimat lirih Utit menghentikan gerakan tangan pak Joko. Setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya, mata pak Joko menatap lekat wajah bulat Utit seakan bertanya kenapa.

"Beri saja saya nilai nol, Pak, karena tadi saya sudah mencontek dari buku ..." Utit mengulang kembali ucapannya. Pak Joko terdiam, matanya berkaca-kaca  mendengar pengakuan anak muridnya yang tak diduganya itu. Selama ini beliau tahu bahwa muridnya sering mencontek saat ulangan namun dia hanya menegurnya sekali dua kali. Dan tak pernah sekali pun mendapati mereka mau mengakui kesalahannya. Tapi ini, si anak baru yang bertubuh kurus lemah ini, begitu berani mengakui kesalahannya dan malah minta hukuman dengan nilai nol. Pak Joko tertegun, lalu memberi angka seratus bulat di kertas ulangan Utit. Lalu tersenyum manis pada Utit. "Terima kasih, ya," Pak Joko menyerahkan kembali kertas ulangan pada Utit.  

***

"Malah pak Joko bilang makasih sama aku, Buk," kata Utit menutup ceritanya. Ada kelegaan luar biasa dalam suaranya. Aku tak bisa berkata-kata. Dadaku penuh segala rasa. Khawatir, lega, bangga juga haru teraduk menyatu. "Alhamdulillah, Nduk, kamu masih kuat menjaga kejujuran itu. Makasih, ya, Kak Utit." kupeluk erat tubuh kurus anakku.

Kisah nyata ini sudah berlalu hampir lima tahun lalu. Namun kami masih selalu mengenangya. Dan harus mengenangnya sebagai pelajaran bagiku sendiri. Supaya tak mudah goyah dengan segala macam rayuan kemudahan yang hanya akan menggulingkan tembok kejujuran.

Fakta yang terjadi saat itu menurut pengakuan anakku, teman-temannya sering berbuat curang seperti itu. Pak guru bukannya tidak mengetahui, tapi ya sebatas hanya mengingatkan tanpa sanksi. Jadilah mereka anak-anak yang longgar, merasa perbuatan salahnya itu adalah hal biasa. Dan jadilah aku satu-satunya orang tua murid yang 'lebay', sering usul sering protes. Tapi syukurlah guru-guru lain bisa mengerti keberatanku. Dan yang kutahu kemudian, saat kenaikan kelas pak Joko pindah mengajar di SD lain. Aku mengerti, pak Joko sebenarnya bukanlah guru yang tidak bertanggung jawab, namun mungkin saat itu beliau sedang banyak pekerjaan lain sehingga kurang konsen mendampingi  anak-anak.

Doaku selalu bagi anak-anakku dan juga seluruh anak di muka bumi ini, semoga kalian selalu berani menjadi anak yang jujur.


You Might Also Like

22 komentar

  1. Bener itu kejujuran itu mahal harganya, dan harus ditanamkan dari sejak kecil 😊

    BalasHapus
  2. Keren banget Kak utit..kejujuran bekal untuk sukses ya..

    BalasHapus
  3. Berarti aku guru yang lebay juga donk mbak...aku paling benci kalau anak2 ga jujur termasuk kalau pada nyontek begitu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku selalu rindu guru kek Bu Chela. dulu aku sering banget ke sekolahan cuma bilang makasih ke pak dan bu guru. juga sering kasih usul saran dan masukan. nah itu sering dibilang lebay sama wali murid lain. hehe...

      Hapus
  4. Mba, aku terharu nangis deh.. Salam sayang (Rizka)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak Rizka, salam sayang selalu :)

      Hapus
  5. Sulungku pernah curhat waktu kelas 3 SMP. Disuruh gurunya ngasih tahu jawaban sama temen sekelas waktu UN. Dia dg berat hati ngasih tapi cuma dikit. Sedih waktu dengar ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh, itu malah gurunya ya yang nyuruh. sedih banget mbak dengernya..

      Hapus
  6. Sama seperti yang aku pesenkan ke anak2ku, lebih baik bangga dg hasil sendiri meskipun jelek daripada nilai bagus dr hasil nyontek.

    BalasHapus
  7. Mbaaa anaknya jos beneran deh :")

    BalasHapus
  8. Ya ampun Mbak, baru aja ki dicritani Mbakku. Anaknya teman ponakan juga dari asrama gitu. Matematikanya smp lulus sempurna 100 kabeh. Anaknya rajin pinter. Eh smanya sekolah negeri keren. Takjub lihat teman2nya (cerita persis utit Mbak). tapi dia di bully Mbak, akhirnya minder. Nilainya berantakan sampai lulus sma dengan biasa2 saja. ALhamdulillah, saat teman2na yang katanya pinter masih pusing nyari kuliahan, dia sudah ketrima di negeri. Allah maha hebat ya Mbak. Peluk Utit

    BalasHapus
  9. Utit keren. Salut dengan emaknya yang membentuk karakter jujur pada diri si anak. Jempol banyak

    BalasHapus
  10. Memang ya mbak. Orang mukmin merasa gelisah,cemas, sedih saat melakukan dosa/kecurangan. Ya krena merasa diawasi Allah.dicatat malaikat. Meski 'hanya' mencontek yg sdh dianggap sbg sebuah kewajaran. Hiks. Salut kak utit.

    BalasHapus
  11. Masya Allah.... Utit hebat. Semoga akan selalu menjadi pribadi yang jujur, ya. Sekarang lumayan sulit menemukan yang begini. Tak jarang, yang berbuat tak jujur malah dielu-elukan... :( Salam buat Utit, ya, Mbak Dini.

    BalasHapus
  12. Utit luar biasa, semoga saya juga bisa menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak-anak saya

    BalasHapus
  13. Luar biasa, Mbak. :D Apa pun hasilnya, yang penting jujur.

    BalasHapus
  14. Dijaman sekarang ini nggak ada yg lebih berharga dari anak2 kita kecuali kejujuran. Waktu anakku UN, dia cerita ttg teman2nya yg beli kunci jawaban. Saya bilang, jikapun nanti kamu kalah nilai dg mereka, mamah akan tetap bangga.

    BalasHapus
  15. Masyaallah mbak kerennya anakmu. Kalao aku jd gurunya tak peluj langsung deh. Anak yg langka ini

    BalasHapus
  16. peluk utit :* udah jamak ya, jujur itu mahal di negeri ini, banyak orang jujur bernasib tidak mujur, miris, terbiasa jujur dari kecil akan terbawa sampai dewasa nanti dan insya allah sukses

    BalasHapus
  17. Kerennya adik utit..
    Love u dik 😍😍😘😘❤❤❤❤❤

    BalasHapus