Langsung ke konten utama

DOES University, Dendam Masa Lalu yang Membuka Jalan Masa Depan

Dulu tidak ada yang mendengar dan mengerti passion saya, maka sekarang saya harus mendengar dan mewadahi mimpi adik-adik saya. (Erix Soekamti)

Saya rasa sebagian besar manusia di belahan bumi mana pun di Indonesia ini mengenal nama tersebut. Erix Soekamti adalah vokalis dan bassist grup band beraliran punk asal Yogya, Endank Soekamti.

Sejak dua tahun lalu Erix Soekamti (akrab dipanggil Mas Erix)  membuka sebuah sekolah animasi gratis untuk anak-anak berbakat di Indonesia, DOES University. Nama DOES sendiri diambil dari vlog kesehariannya yang diunggah di youtube, Diary Of Erix Soekamti. 

Sekolah Animasi DOES University menerapkan sistem karantina bagi muridnya dengan harapan supaya siswa lebih fokus belajar tanpa terkontaminasi hal lainnya. Seluruh biaya sekolahnya gratis, yang ada hanya biaya patungan untuk makan para siswa.

Lama belajar di sini pada awalnya adalah satu tahun meliputi 6 bulan belajar lalu 6 bulan mengajar adik kelasnya. Setelah itu dibebaskan kepada para lulusan untuk memilih lahan kerjanya sendiri. Boleh terus bekerja di sini atau di perusahaan animasi lainnya. Atau malah membuka perusahaan sendiri, dan itu sangat bagus.
Namun menyesuaikan dengan makin meningkatnya siswa dan lakunya lulusan sebelumnya yang banyak dipinang perusahaan animasi lain,  pada penerimaan generasi terakhir ini, maka lama kontrak belajar yang harus dilalui siswa lebih panjang, yaitu 18 bulan. Namun sepertinya malah banyak yang senang dengan kebijakan ini. 

Generasi pertama hanya menerima 10 murid, lalu meningkat 40 murid, hingga pada generasi keempat ini menerima 100 murid. Jurusan baru pun ditambah pada generasi keempat ini. Jika sebelumnya hanya ada jurusan animator, maka sekarang dibuka jurusan modeller dan compositor.
Mas Erix menyambut orang tua dan siswa DOES Gen 4

Sebagai gambaran, modeller adalah orang yang membuat figur awal sebuah tokoh. Lalu animator memberi nyawa, sehingga bisa bergerak sesuai cerita yang dikehendaki. Dan supaya bisa menjadi sebuah hasil yang utuh untuk dinikmati, seorang compositor bertugas menyempurnakan dengan memberi sentuhan akhir (efek, dsb).

Syarat utama mendaftar DOES University adalah mempunyai passion yang kuat, atas kemauan sendiri dan mendapat ijin dari orang tua. Sekolah ini menerima semua anak berbakat dari seluruh pelosok negeri tanpa batasan umur dan strata sekolah. Pada generasi keempat ini ada siswa termuda, 14 tahun dan ada juga yang sudah sarjana S1. 

Ketika ditanya mengapa mas Erix mau menerima anak umur 14 tahun, inilah jawabannya "Karena waktu saya seusia itu dulu tidak ada yang mau mendengar dan menerima passion saya, makanya sekarang saya harus mendengar dia."

Saya ingin menumbuhkan kesadaran yang tinggi pada mereka sehingga tidak perlu lagi ada aturan. Karena aturan hanya akan membatasi kreativitas. (Erix Soekamti)

Hidup dalam asrama yang mengharuskan anak-anak berpisah dengan orang tuanya tak jarang membuat sebagian besar orang tua khawatir. Bagaimana nanti makannya, cuci bajunya, pergaulannya, hingga bagaimana ibadahnya. Apalagi melihat tampilan Mas Erix yang gahar penuh tato dan tindikan. Udah pasti banyak ortu yang jiper, haha. 

Tapi justru di sinilah orang tua lalu belajar memberi kepercayaan pada anaknya. Asalkan anak-anak sudah dibekali pendidikan akhlak yang baik dari dalam keluarganya, maka mereka akan bisa menjaga dirinya dan luwes menyesuaikan dengan keadaan. 

Jadwal belajar yang padat dengan sistem target harian, suasana berkarya yang tinggi dan aura persaudaraan yang kental dan menyenangkan, itu cukup menjaga kewarasan anak-anak hingga tidak sempat melakukan hal-hal negatif.

Untuk bisa mewujudkan itu semua, pihak sekolahan berusaha menumbuhkan kesadaran positif para siswa sehingga meminimalkan aturan. Hingga pada akhirnya tidak ada aturan sama sekali karena kesadaran itu sudah tertanam dalam diri masing-masing. 

Terbukti di generasi sebelumnya, anak-anak yang mendapat kepercayaan penuh dari orang tuanya mampu beradaptasi dengan baik dan berusaha menyelesaikan masalah mereka sendiri. Saya mendapat cerita dari seorang ibu yang dua putranya belajar di sini, "Kalau ada anak yang merasa kesulitan tidak bisa menyelesaikan tugasnya maka teman-temannya yang lain mendukung supaya dia semangat kembali. Dan itu berhasil." 
Kampus DOES University di Ungaran

Bidang animasi adalah sebuah lahan dimana dibutuhkan kekuatan kerja kelompok yang solid. Jadi di sekolah ini hampir tidak ada kompetisi pribadi yang cenderung negatif, melainkan aura berkarya positif yang saling dukung.

Kenapa butuh kerja kelompok yang solid? Karena untuk membuat sebuah tayangan animasi berdurasi 15 detik saja butuh waktu produksi seharian. Bayangin kalau itu sebuah animasi berdurasi 30 menit, maka butuh waktu 4 bulan penggarapan. Itu sebabnya makin banyak animator yang terlibat maka makin cepat pula sebuah karya dihasilkan.

Dan tuntutan kebutuhan inilah yang ditangkap secara cerdas oleh seorang Erix. Di saat animasi sangat dibutuhkan oleh pasar, namun industri animasi tidak siap dan SDM tidak tersedia. That's why Mas Erix membuka sekolah ini.

Lalu kalau belajar di sekolah ini gratis, dari mana biaya operasional sekolah berasal? Dari pemberdayaan komunitas massa yang mereka miliki. Contohnya dengan menjual merchandise dengan harga yang layak. Jadi para pembeli tidak hanya membeli kesenangan untuk dirinya sendiri, namun juga telah berkontribusi memberi napas kehidupan DOES University. Juga dari para donatur yang peduli.

Sekolah ini juga merupakan perwujudan dendam masa lalunya dimana dia dipaksa belajar sesuatu yang bukan passionnya dan hanya membuatnya berontak.  Itu sebabnya DOES University berusaha mewadahi orang-orang yang punya passion dan sudah memilih jalan hidupnya sendiri, dengan hanya mengajarkan apa yang mereka sukai sesuai bakatnya. 

Dengan demikian makin dekat dengan tujuan dasarnya yaitu membuat orang yang tidak bisa menjadi hidup mandiri. Sesuai dengan slogan mereka,

"Mandiri dalam bekerja, Merdeka dalam berkarya"

Penasaran dengan siswa termuda DOES University? Tunggu tulisan berikutnya.

Komentar

  1. Kutunggu lanjutannya, senang quotenya 😊

    BalasHapus
  2. Wah...ternyata gitu toh cerita asal musal DOES University. Kereeen euy... Layak dpt acungan jempol nih.

    BalasHapus
  3. Ralat mbak , DOES itu bukan Diary Of endank soekamti ,tapi yang betul Diary Of Erix Soekamti . matur nuwun (:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas.. Iya maksud saya gitu. Hehe, saya ralat deh

      Hapus
    2. Siaaap . ditunggu Update selanjutnya

      Hapus
  4. Quote awalnyaaaa bikin terharuuu

    BalasHapus
  5. Komen lagi setelah baca lengkap hihi, salut bangett sama mas Erix, suamiku sering nonton video yutubnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. low profile dan peduli dengan pendidikan anak bangsa. salut bangett

      Hapus
  6. Bun Diniii peluk cium untuk dek Dio, semoga berhasil.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin... doakan dio istiqomah ya bundir...

      Hapus
  7. Keren ne.,(Y) karena passion Mas Erix mampu membuka Universitas, gratis lagi. Jika semua orang di bumi ini bekerja karena passionnya, pasti tidak ada yang mengeluhkan pekerjaannya dan tingkat stres pun berkurang.

    BalasHapus
  8. Baru tahu ada DOES University, keren ya Mas Erick dari vakilis band yg terkenal masih memikirkan pendidikab orang lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa mbak, belajar dari pengalaman beliau sendiri

      Hapus
  9. Nggak banyak orang yang berpikiran sama dg mas Erix, salut banget deh. Semoga mas Dio sukses dibawah bimbingan mas Erix ya mb Din

    BalasHapus
  10. Wah baru tau ada sekolah ini..keren mudah mudahan makin banyak juga animasi anak indonesia

    BalasHapus
  11. Sangat menginspirasi dan dendam masa lalu yg tertuntaskan Mbak. Suka ulasanmu Mbak. Ditunggu kisah Dio na dong :)

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah Selamat ya putranya mba Dini lulus masuk Does, tempat belajarnya di Ungaran Cantik, Mbak? Mampir2 yaa kalau ke Ungaran..

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaallah mampir ke mak Dew deh kalau ke sana lagi..

      Hapus
  13. Sumbangsihnya mulia sekali ya mba, memajukan bgs,smg makin byk animator Indonesia berbakat nelur dari sini

    BalasHapus
  14. Aku jiga baru tau ada DOES university ini. Keren

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya.
Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri.
Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku.
Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut.

KLEPON
Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi tersendiri saat menyeplus si…

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini.
Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari, ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema yang pas…

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)
Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 
Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 
Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka k…