Langsung ke konten utama

Dead Poets Society, Sebuah Film dan Cara Pandang

   Carpe diem. Seize the day. Make your lives extraordinary. (John Keating)
Kalimat sederhana yang keluar dari bibir John Keating, seorang guru pengganti Bahasa Inggris di Akademi Walton, sanggup membius dan memikat murid-muridnya. Terkhusus bagi tujuh murid istimewanya, kalimat-kalimat Pak Guru Keating pun memengaruhi pemikiran dan perilaku mereka.

Akademi Walton, sebuah sekolah berasrama khusus laki-laki di Vermont (sebuah negara bagian Amerika Serikat) yang terkenal dengan prestasinya memang menganut prinsip: Tradisi, Kehormatan, Disiplin dan Prestasi, adalah sekolah unggulan yang menjadi incaran para orang tua calon murid. Sebagai sekolah yang bergengsi tentunya akan menjadi katrol pengangkat prestise orang tua jika anaknya berhasil menjadi siswa di sana.


Namun ternyata prinsip sekolah yang bagus dan aturan yang sangat ketat tidak serta merta meningkatkan kebanggan dan prestasi semua muridnya. Ditambah tekanan dari orang tua untuk menjadikan mereka seperti keinginan orang tua makin membuat si anak kehilangan diri mereka sendiri.

Kehadiran sang guru pengganti di awal semester membawa  pandangan baru bagi siswa Akademi Walton. Dia mendobrak cara mengajar yang penuh disiplin kaku demi menegakkan prinsip sekolah. Pada pertemuan pertama, seorang siswa bertugas membaca kata pengantar sebuah buku tentang sastra puisi, yang menyebutkan bagaimana mengukur kualitas sebuah puisi yang dapat diukur dan dinilai dengan skala, dimana proses ini sudah umum berlaku dalam literatur klasik waktu itu. Namun Keating justru menyuruh semua siswa merobek halaman pengantar tersebut. Keating memberi pandangan baru  kepada siswanya untuk mencari ide sendiri dan meraih kesempatan selagi bisa. Berkali kali Keating berseru, "Carpe diem, seize the day, make your lives extraordinary" Raihlah kesempatan, isi hari-harimu dan buatlah hidupmu luar biasa!

Dead Poets Society

Cerita di atas adalah cuplikan adegan dalam film Dead Poets Society, sebuah film produksi Amerika yang mengambil setting pertengahan tahun 1950an. John Keating diperankan dengan sangat apik oleh Robin Wiliams. Dan tujuh cowok ganteng yaitu Neil Perry (Robert Sean Leonard), Todd Anderson (Ethan Hawke),  Knox Overstreet (Josh Charles), Charlie Dalton (Gale Hansen), Richard Cameron (Dylan Kussman), Steven Meeks (Allelon Ruggiero) dan Gerard Pitts (James Waterston) menjadi murid sang Guru Keating.

Melihat cerita anak-anak muda ini seakan melihat diri saya di masa lalu. Usia sekolah yang penuh rasa ingin tahu dan pencarian jati diri dengan mencoba eksis menjadi diri sendiri namun terkadang harus terhadang oleh tembok aturan yang malah membenamkan dan menghilangkan kreativitas.

Guru Keating dengan pemikiran bebasnya langsung menjadi panutan murid-muridnya. Banyak quote positif keluar pada dialog sang guru. Selain quote di atas, dia juga sering menekankan pada muridnya untuk tidak peduli apa kata orang lain, karena hanya ide dan kata yang daat mengubah dunia.

Banyak tingkah guru ini saat mengajar yang tidak disetujui oleh pihak sekolah. Namun justru pola belajar yang nyleneh itu yang membuat muridnya semangat. Termasuk ketika Keating berhasil membuat salah satu muridnya yang sangat pendiam dan pemalu menjadi anak yang ekspresif dan terbuka.

Guru Keating pun menginspirasi muridnya dalam memandang puisi dari persektif yang berbeda dari segi keilmuan dan keaslian rasa. Namun semua menjadi masalah saat salah satu muridnya, Neil, lebih memilih belajar drama daripada kedokteran seperti harapan orang tuanya. Dan Neil bunuh diri di ruang kerja ayahnya setelah penampilan perdananya di drama sekolah yang gagal menyenangkan orang tuanya.


Perspektif dan Kutipan

Secara keseluruhan film ini memberi penyadaran, bahwa institusi sekolah selalu berupaya dan berperan menjadi pengarah, namun siapa kita dan akan menjadi apa nantinya hanya diri kita sendiri yang tahu.
Dan saat saya menonton film ini lagi sekarang, saya melihatnya dalam perspektif lain, melihat dalam kacamata sebagai orang tua. Dari film ini pula saya belajar untuk bisa menerima cara belajar Dio my son, dan melepaskan dia mengejar mimpinya.

Saking asiknya film ini, saya mencatat beberapa kutipan (quote) yang bagus dan berpengaruh positif. Antara lain:
  • I stand on my desk to remind myself that we must constantly look at things on a different way. (ini dikatakan Pak Keating saat dia mengajar sambil naik ke atas mejanya. tengil banget, ya)
  • Seize the day. Because, beliveve it or not, each and every one of us in this room is one dayt going to stop breathing, turn cold and die.
  • No matter what anybody tells you, words and ideas can change the world.
  • Medicine, law, bussiness, engineering: these are noble ursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance and love: these are what we stay alive for.
  • We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are member of the human race. And the huan race is filled with passion.
Dan kutipan yang paling terkenal dari film ini ada di awal tulisan di atas. Carpe diem. Raihlah kesempatan.
Selama hayat masih dikandung badan, teruslah isi harimu dan jadilah manusia yang luar biasa. Kira-kira demikian pesan yang ingin disampaikan film ini.

Film yang diproduksi tahun 1989 ini telah memenangkan Piala Oscar untuk kategori Skenario Asli, dan juga nominasi Pemeran Utama Pria untuk Robin William, Sutradara Terbaik dan Film Terbaik. Dan pastinya, meskipun telah nonton berkali-kali, saya tidak pernah merasa bosan.

Tulisan ini saya buat sebagai catatan pengingat diri dan juga menjawab tantangan menulis #arisanbloggandjelrel periode 8 dengan tema 'film favorit' yang digagas sang penarik arisan yaitu mba Untari Bunda Aito dan Isul si lajang cantik.

Semoga tulisan yang jauh dari sempurna ini bisa memberi manfaat meski hanya seujung kuku. Oya, jangan sungkan cerita film favorit kalian di komen, ya. Terima kasih 😊🙏

Komentar

  1. aku belum pernah liat filem nih mbak...sayang ya si robbi meninggal bunuh diri pdhl aku suka banget ma aktingnya yg ciamik

    BalasHapus
  2. Aku suka film ini, kalo tayang ulang di TV suka nonton lagi

    BalasHapus
  3. Rasanya pernah lihat. Apa jangan2 film ini yang bikin aku memberontak ky gini ya. Haha. Sebenernya ortu pengen anaknya ini jd pns tp aq ndableg. Malah ngeblog aja hobinya

    BalasHapus
  4. Aw aw aw, Isul si Lajang Cantik.

    Makasih mba dini, Kecup boleh ya.. hihi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya.
Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri.
Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku.
Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut.

KLEPON
Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi tersendiri saat menyeplus si…

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini.
Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari, ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema yang pas…

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)
Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 
Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 
Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka k…