Sambel Tempe, antara Kesenangan dan Kenangan

Januari 10, 2019

Ada banyak hal yang bisa membangkitkan kenangan kita pada seseorang yang dicinta. Salah satunya adalah makanan.

Jika sedang mengulek cabe, bawang, garam dan sedikit kencur, maka ingatan akan almarhum bapak segera mengambang. Apalagi jika setelahnya  ditambahkan tempe semangit goreng dan dipenyet kasar bercampur ulekan bumbu tadi, maka jadilah sambel tempe kesukaan bapak yang juga jadi favorit anak anak kami. Makan nasi hangat lauk sambel tempe saja bahagianya sudah menyentuh langit-langit. Debar di dada menahan pedas berpagut dengan rindu.


Selain memang jadi lauk yang sangat nglawuhi, di keluarga kami sambel tempe juga penolong pertama pada saat senja bulan dan dompet menyerupai jeruk. Nipis. Yes, sambel tempe menduduki puncak keanggunannya di meja makan.

Apakah anak anak tidak protes? Seperti yang tertulis di atas, alhamdulilah anak-anak malah semua sukacita menyambut dengan riang ria.
Mereka itu ya, kalau sama tempe seperti lihat idola. Jangankan dimasak. Saat tempe mentah dipotong potong mau dimasak saja sudah dicomot masuk mulut. Kadang dicocol kecap.

Ada cerita lain juga tentang si sambel tempe ini.
Ketika itu, siang di akhir Desember 2010. Bapak yang lapar dan tak mau mengganggu ibu yang sedang istirahat, mengulek sendiri cabe, bawang, garam, kencur dan tempe goreng.
Siapa pun kami yang ingin membantu dilarangnya. "Wis, kana kancani wae anakmu."

Setelah itu bapak dhahar bersayur lodeh dan sambel tempe diiringi teriakan pada cucu yang sedang ngumpul di rumah beliau. Selesai bapak makan, masih tersisa cukup banyak sambel tempe di cobek yang tertudungi tutup saji.

Setelah makan bapak kembali ke kamar kerja beliau melanjutkan mengetik laporan. Tidak lama bapak keluar lagi. Mencari empat cucu dan mengajak mereka ke warung Bu Titin. Keempat bocah mendapat jatah jajan dari Yangkung.
Kebahagiaan bapak sederhana. Cukuplah melihat senyum tawa di mata para cucu.

Sore menjelang. Bapak yang berada di kamar kerjanya memanggil ibu. Sesak napasnya kembali menyerang. Semprotan oksigen sebagai pertolongan pertama tak banyak membantu.
"Iki wis entek.... Tukua meneh...," pinta bapak dalam lemah.

Ibu heran. Padahal ini semprotan masih baru. Meski begitu kami belikan lagi satu tabung kecil yang baru. Dan ketika dihirup bapak, lagi lagi bapak bilang itu sudah habis.

Apakah ini firasat? Entahlah. Kami pikir tidak.
Kami bujuk bapak ke RSU. Beliau menggeleng.
Bapak bertahan dalam kepayahan. Kupijit pelan kakinya. Kami bersitatap. Pandangan bapak saat itu terasa jauh. Mulutnya sedikit terbuka, berusaha mencari udara untuk dimasukkan ke tubuhnya. Aku berusaha menahan tangis.
"Bapak kuat, nggih." Harapku.

Keadaan sepertinya membaik. Bapak tenang. Tapi tak bisa tidur. Sebuah bantal kursi didekapnya erat dengan tangan kiri.

Malam menjelang. Ibu selalu menemani. Aku dan adikku mengurus anak kami di lantai dua rumah bapak.
Bocah-bocah ini mulai menyurut energinya.

Tengah malam, ketika aku hampir ikut terlelap menyusul anak anak, ibu memanggil.
Bapak berkenan dibawa ke RSU. Dengan bantuan tetangga kami yang perawat RSU, ambulans datang membawa bapak disertai ibu dan adik. Sedangkan aku tetap di rumah menjaga anak-anak dan ponakan.

Semoga bapak baik-baik saja. Tadi saja beliau naik ambulans sendiri, tidak mau dibantu, meski kepayahan.

Sekitar satu jam kemudian adik pulang. Mengabarkan kalau bapak sudah dapat kamar. Ibu berjaga di sana. Nanti subuh adik akan ke RS lagi membawa kebutuhan ibu.

Aku kabarkan kondisi ini ke semua kakak dan suami yang di luar kota. Doa doa tak lepas dari hati kami.  Semoga Tuhan memberi kekuatan dan memulihkan kesehatan bapak.
Malam itu sangat hening. Anjing tetangga yang kadang malam malam melolong tak terdengar. Burung malam yang biasanya terbang dan mengaok lalu hilang di kebun barat juga tak terdengar. Mungkin alam sedang khusyuk dalam zikirnya.

Selepas subuh.
Telepon rumah berdering. Aku melompat dari kasur lalu lari menuruni tangga.
Kusambar gagang telpon berwarna hijau tua itu.
"Halo, betul rumah bapak Kardi?" Sebuah suara lelaki dari seberang.
"Iya, betul, Pak." Jawabku.
"Ini dari Koramil, mbak. Memberitahukan bahwa Pak Kardi sudah tidak ada baru saja."

Entah apa yang ada di pikiranku saat itu. "Bohooongg!!!" Teriakku tak percaya.

Bagaimana bisa bapak sedang di RSU dan malah orang Koramil yang menelpon kami?

Kutarik napas satu satu. Adik dan tetangga yang mendengar teriakanku mulai mendekat. Kukatakan apa yang kudengar barusan. Mereka menghibur kalau itu pasti tak benar.

Tapi pikiran warasku mengatakan, Koramil kan tidak jauh dari RSU. Kalau ke RSU pasti melewati kantor Koramil. Lalu jangan jangan.... Ibu!
Aku teringat ibu tidak membawa HP saat itu. Uang pun beliau bawa sekadarnya.
Aku bergegas ke luar pintu. Begitu sampai di jalan depan rumah, kulihat ibu berjalan lunglai di ujung gang. Kusongsong beliau dengan tangisan.
"Tulung kae bapak ndang diurus, ya." Tenang sekali suara ibu dalam dekapanku.

Rupanya ketika para perawat sedang mengurusi jenazah bapak yang wafat sebelum subuh, ibu yang kebingungan memutuskan untuk pulang berjalan kaki dan mampir ke Koramil minta tolong memberi kabar orang rumah.
Untung saja jarak RSU-rumah tidak begitu jauh, dan ibu tidak kenapa-kenapa.

Pagi itu, 29 Desember 2010, bapak berpulang menuju keabadian. Orang-orang berdatangan membantu kami. Ada yang ke rumah sakit mengurus administrasi dan kepulangan jenazah bapak. Ada yang menyiapkan tempat untuk memandikan jenazah. Ada yang menyiapkan tenda dan kursi. Ada yang menenangkan dan menemani ibu. Ada yang menyiapkan dapur dan keperluannya. Ada yang memberi kabar saudara dan kerabat.

Sedang aku....
Aku terduduk di samping meja makan. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Sambil menatap sesuatu melalui sela lubang tudung saji. Sesuatu yang aromanya makin kuat namun bentuknya makin kabur terhalang air mata yang berderai derai.
Sambel tempe bikinan bapak kemarin siang itu masih tersisa.

#1pekan1tulisan
#empiser
#empisempistemanggung
#belajarnulis

You Might Also Like

1 komentar