Langsung ke konten utama

Semarang; Bayangan vs Kenyataan


Tak pernah ada dalam rencana untuk tinggal dan menetap di Semarang. Namun di usia 27 tahun dan sudah menyandang status ibu beranak 2, akhirnya saya resmi menjadi penduduk Semarang.

Sebelumnya ada kira-kira satu tahun untuk meyakinkan diri untuk ikut suami pindah ke kota ini. Selain memang ibu dan bapak ingin saya dan anak-anak tinggal bersama mereka di Ambarawa, juga ada semacam kekhawatiran dalam hati tentang kota Semarang ini sendiri.



Ya, sih, sebagai wong ndeso saya memang sering punya ketakutan ketakutan tak beralasan tentang kota dan atmosfernya, termasuk masyarakatnya. Bukan karena Semarang asing bagi saya, tapi justru sudah sedemikian lekatnya Semarang sejak saya kecil. Dan sayangnya, justru banyak cerita cerita negatif tentang kota ini yang mampir ke telinga sejak lama. Ini pula yang bikin saya maju mundur untuk bermukim di Semarang.

Lalu cerita apa saja sih yang pernah bikin saya keder? Apakah ketakutan saya terbukti?

Berikut bayangan dan kenyataan sesungguhnya yang akhirnya saya temui.

1. Bayangan: orang Semarang kasar.
Menurut cerita yang saya dengar, orang Semarang tuh istilahnya wani getakane. Maksudnya kalau bicara keras, ngeyelan dan gak mau kalah.

Kenyataan: yaampun, ternyata mereka ramah tamah dan baik, loh. Blas gak seperti yang saya bayangkan.
Waktu pertama kali pindah ke Semarang, kami kontrak di perumahan Bumi Wanamukti, Sambiroto. Nah pas baru lihat-lihat rumahnya saja, itu calon tetangga sudah ada yang datang menyapa dan memberi info yang sangat kami butuhkan, misalnya di mana tempat belanja. Dan beliau orang Semarang asli. Dan alusan banget orangnya. Maka yakinlah saya untuk tinggal di sana.

Ya kali, tinggal di mana-mana tuh sama saja, kembali dan tergantung ke pribadi orangnya. Ada memang yang logat bicaranya cenderung blak-blakan, tapi hatinya sangat baik. Ada yang tampak ramah di depan, tapi ternyata busuk di belakang. Jadi kota atau desa ga bisa jadi patokan baik buruknya sifat orang.
Kesimpulannya: bayangan kekhawatiran saya salah besar.

2. Bayangan: biaya hidup mahal.
Gimana ya, biasa tinggal di kampung apalagi dulu masih jadi satu sama bapak ibu jadi belum terasa beratnya mengatur keuangan. Lalu kalau pindah ke Semarang, kira-kira biaya hidupnya mahal gak ya? Apalagi anak dua dengan gaji suami yang tidak besar.

Kenyataan: untuk kebutuhan harian, sama aja tuh, ga jauh beda dengan asal dulu. Dan saat hidup mandiri seperti ini baru terasa, bahwa rejeki bukan semata gaji suami.
Alhamdulillah semua kebutuhan bisa tercukupi, anak-anak sehat, tidak kelaparan, bisa sekolah, bahkan kami diberi bonus Allah nambah anak lagi. Asik kan?

Fix, kekhawatiran kedua saya juga terpatahkan. Alhamdulillah.

3. Bayangan: tidak punya teman.
Duh, nanti di sana gimana ya? Belum kenal siapa siapa. Ada gak ya yang mau temenan sama aku?
Dih, norak banget deh waktu itu. Wkk

Kenyataan: bersyukur saya diberi anugerah Allah yaitu hobi senyum. Heheh. Ternyata dengan modal senyum ini bikin saya punya banyak teman. Dari yang satu gang, meluas satu RT, lalu ke RT sebelah, lalu di sekolahan si sulung, lalu dari warung ke warung, lalu di Posyandu, di Kantor Kelurahan, di jalan jalan, dan di mana mana. Alhamdulillah.
Kalau sekarang mengingat lagi kejadian belasan tahun lalu ini saya sering tertawa sendiri. Yaampun, noraknya ya saya dulu..hihi.

Dan lagi lagi kekhawatiran saya ternyata cuma mitos. :)
Nyatanya? Ya nyatanya akhirnya saya betah tinggal di Semarang sampai lebih dari tujuh tahun.

Menurut saya, Semarang termasuk kota yang nyaman untuk dihuni. Udaranya yang panas sih sudah pasti karena termasuk kota pesisir.

Tapi masyarakat yang majemuk namun menjunjung tinggi toleransi dan masih kental dengan kegotongroyongan membuat Semarang selalu jadi alasan untuk kembali lagi.

Apalagi banyaknya lembaga pendidikan yang berkualitas, pusat pelayanan kesehatan yang mumpuni, pusat perbelanjaan dan hotel, fasilitas umum dan transportasi publik yang sangat memadai, menjadikan Semarang layak jadi pilihan.

Dan satu lagi yang membuat saya makin cinta dengan kota ini, yaitu komunitas blogger Gandjel Rel. Komunitas yang mampu menjawab semua kekhawatiran saya tadi. Di sini saya mendapat banyak teman wanita yang hebat. Mereka sangat ramah, baik, produktif, saling membantu dan menginspirasi. Terus terang saya menemukan kepercayaan diri untuk terus menulis ya di sini. Dan dari komunitas ini pula banyak mengalirkan energi positif dan tentu saja rezeki.

Jadi meski sekarang saya tidak tinggal di Semarang lagi, kedekatan dan hubungan batin ini tetap ada. Semarang selalu bikin rindu untuk dihampiri.

Tahun ini Gandjel Rel akan memasuki usia ke-4. Semoga komunitas ini berumur panjang dan makin luas menebar manfaat.

Tak lupa pula doa bagi para founder yang telah membentuk dan menyatukan para blogger perempuan Semarang dan sekitarnya, semoga berkah melimpah untuk mbak mbak semua.

Dan untuk kita semua, semoga selalu diberi kesehatan sehingga bisa terus berbagi kebaikan melalui blog. Ngeblog ben rak nggandjel.

SELAMAT ULANG TAHUN GANDJEL REL.

Tulisan ini dibuat dalam rangka #roadto4thgandjelrel dan diikutsertakan dalam #blogchallengegandjelrel

Komentar

  1. Aku ngebandingin Semarang sm kota lain yg ibu kota, termasuknya Semarang masih terjangkau mbak harga2nya. Hihi. Semoga semakin betah di Semarang ya :)

    BalasHapus
  2. Semarang masih murah kalo belanja, jajan juga nggak mahal kalo pinter milih warungnya ya mba. Aku tuh sampai krasan dan nggak mau ninggalin Semarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Wati, kalau ga karena keharusan aku juga ga mau ninggalin Semarang. Udah cinta.

      Hapus
  3. Aku jadi ingat, pertama kali kenal dan ketemu mbak Dini waktu acaranya pak Edi di Gedung Wanita. Aaaak, jadi kangen mbak Diiiin

    BalasHapus
  4. Semarang mempertemukanku dengan mas bojo

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya. Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri. Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku. Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut. KLEPON Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini. Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari , ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema

ABATA, Pesantren Tuna Rungu Gratis di Temanggung

Di antara riuh deras hujan yang mengguyur Temanggung menjelang petang, ada sebuah dunia sunyi di salah satu sudut kotanya. Dunia tanpa suara yang tersembunyi dalam sebuah rumah kontrakan sederhana. Meski sunyi, namun tak membuat hati anak anak itu lantas sepi. Lantunan zikir terlahir dari mulut mulut mungil. Meski dalam pengucapan yang kurang jelas, tapi mereka tak pernah lelah.