Langsung ke konten utama

Ikut Rapid Test Meyakinkan Kondisi Kesehatan Diri

Wabah virus corona menyebar luas tidak pandang bulu. Termasuk kabupaten kecil tempat tinggal kami, Temanggung. Pada pertengahan bulan Juni kemarin angka positif terpapar virus corona meningkat tajam hingga mencapai angka positif total 202 orang. Tentunya ini mengejutkan dan tidak terbayangkan sebelumnya.


Sejak covid-19 mulai melanda, pemerintah kabupaten melalui gugus tugas melakukan berbagai tindakan pencegahan maupun penanganan. Beberapa hal yang dilakukan adalah pembatasan kegiatan masyarakat, operasi wajib masker di pasar-pasar dan juga rapid test masal secara gratis.

Rapid test masal dilakukan di berbagai titik keramaian seperti pasar tradisional dan pasar swalayan, karena di lokasi-lokasi tersebut ditengarai sebagai titik penyebaran virus. Sebelumnya memang sudah ada pasien positif dengan penularan lokal. Oleh sebab itu rapid test masal dilakukan sebagai langkah penyaringan awal untuk mengetahui kondisi medis masyarakat.

Sebagai orang dengan aktivitas tinggi, sering tugas keluar rumah dan berinteraksi dengan banyak orang, saya merasa ada pada kondisi beresiko. Jadi saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut rapid test yang dilaksanakan di halaman balai desa samping pasar dekat rumah. Meski tak ayal ada juga rasa ragu di dada, takut hasilnya reaktif.

Apa itu Rapid Test? 

Rapid test adalah istilah medis yang digunakan untuk tes diagnostik medis yang dilakukan dengan sederhana, mudah, dan cepat. Rapid test ini digunakan sebagai langkah screening medis awal dalam keadaan darurat pada kondisi tertentu seperti serangan wabah.

Rapid test Corona ini menggunakan metode untuk mendeteksi antibodi Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG) yaitu jenis antibodi yang diproduksi tubuh untuk melawan virus. Singkatnya, apabila antibodi tersebut aktif dalam tubuh maka tubuh tersebut telah atau pernah terpapar virus. Bisa jadi virus itu corona ataupun tidak.

Tujuan dari rapid test bukan sebagai pemeriksaan valid COVID-19, namun sebagai screening untuk membantu mengidentifikasi atau screening diagnosis bila tubuh seseorang terinfeksi virus.

Bagaimana prosedurnya?

Rapid test yang saya ikuti menggunakan spesimen darah yang diambil dari sampel darah di ujung jari. Sampel darah tersebut segera diteteskan ke alat rapid test untuk mengetahui apakah ada jenis antibodi Imunoglobulin yang diproduksi tubuh untuk melawan virus Corona. 


Rapid test ini dilakukan dalam 10-15 menit saja, kemudian hasilnya akan muncul pada alat tes tersebut dengan indikator garis yang menunjukan positif atau negatif.


Hasil tes darah saya menunjukkan negatif atau non reaktif. Alhamdulillah. 

Apa yang dilakukan setelah tahu hasilnya?

Menurut dr. Sari Savitri kepala Puskesmas Kranggan yang ikut terjun melaksanakan rapid test di sini, jika hasil rapid positif atau reaktif, maka disarankan untuk isolasi mandiri dengan pantauan oleh tenaga medis dan akan dilakukan tes swab.


Saya, meskipun hasilnya non reaktif tetap disarankan untuk selalu melakukan protokol kesehatan, termasuk memakai masker dan jaga jarak dengan orang lain.

Halodoc

Saya merasa beruntung tinggal di dekat pusat pelayanan kesehatan seperti Puskesmas. Namun tetap saja jika di hari libur atau malam hari mengalami gangguan kesehatan akan kebingungan jika ingin periksa atau sekadar konsultasi dengan dokter.

Tapi kendala itu kini berkurang sejak ada aplikasi Halodoc di gawai. Aplikasi ini sangat membantu mengurangi keresahan karena tersedia layanan konsultasi atau chat dokter 24 jam. Selain itu ada juga fitur konsultasi kesehatan jiwa, toko kesehatan dan buat janji dengan rumah sakit.

Keren lagi sekarang ada fitur tes rapid dan PCR dengan membuat janji terlebih dahulu dengan penyedia layanan ini hanya dengan klik di gawai.
Meskipun beberapa layanan di halodoc seperti toko kesehatan, tes covid-19 dan buat janji rumah sakit sementara ini baru ada di kota-kota besar, tapi layanan chat dengan dokter 24 jam dari halodoc ini sangat membantu dan bisa diakses oleh semua masyarakat di wilayah mana pun.


 


Jadi begitulah pengalaman saya ikut rapid test. Meskipun awalnya was-was tapi lega mengetahui hasilnya. Meski demikian, jika pun hasilnya reaktif juga tidak apa-apa. Karena lebih baik mengetahui kondisi sebenarnya hingga kita bisa melakukan penanganan yang tepat terhadap kesehatan sendiri.

Terima kasih sudah membaca. Adakah yang sudah ikut rapid test juga? Ataukah ingin rapid test tapi masih ragu? Sharing yuk.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeprat Jepret Bikin Baper

Selain keluarga, apa yang bisa membuatmu rindu rumah? Kalau aku jawabnya: makanan! Ya, makanan kampung halaman selalu menempati ruang tersendiri di hati. Dan lidah tentunya.
Satu hal yang amat aku syukuri adalah aku tidak perlu pergi jauh-jauh pulang kampung jika kangen merasakan kuliner tradisionalnya. Tahu kenapa? Ya kan sekarang aku tinggal di kampung... :) Meski Temanggung adalah kampung halaman suami, tapi sudah seperti tumpah darahku sendiri.
Hal lain yang membuatku bahagia adalah letak pasar yang berhadapan dengan rumah. Serasa surga.. hehe.  Tinggal nyebrang dan pilih mana yang disuka. Ini pula yang sering bikin kakak ipar cemburu. Karena dia harus menunggu libur lebaran untuk bisa njajan sepertiku.
Dan sepertinya dia akan semakin baper kalau lihat jajan pasar dalam foto-foto berikut.

KLEPON
Dibuat dari tepung ketan yang diuleni dengan air dan sedikit garam. Dibentuk bola, diisi gula merah lalu direbus. Disajikan dalam baluran kelapa parut. Ada sensasi tersendiri saat menyeplus si…

Icip-icip Bakso Jimat Temanggung

Hai..., Februari masih sering turun hujan aja nih, ya? Ya iyalah, namanya juga masih tetanggaan sama Januari yang hujannya sehari-hari :)
Hujan-hujan enaknya ngapain? makaann!!! (eh, siapa yang teriak paling kenceng tuh?) oh, ternyata suaraku dewe :)) Jadi gitu, deh, kalau lagi ngumpul dan suasana dingin dingin mesrah pasti lebih komplet kalau sambil makan bareng. Ngobrol jadi lebih seru. Apalagi kalau santapan itu cocok sama lidah anak-anak, mereka jadi lebih seru juga ceritanya. 
Kata bapak guruku dulu, kalau kita akan menyampaikan sebuah nasehat ke anak kita, salah satu waktu yang efektif adalah saat mereka merasa kenyang dan santai. Coba anak diajak jajan bakso (kalau dia suka bakso, ya), nah saat dia merasa keenakan dengan baksonya itu kita masukkan pesan yang ingin kita sampaikan. Secara lahir dia mungkin tidak begitu serius menanggapi, tapi otaknya insyaallah menyimpan pesan itu. 
Dan berhubung diriku adalah anggota IIDB (ibu ibu doyan bakso) *lalu digetok teh Indari Mastuti, maka k…

Most Wanted di Meja Makan saat Ramadhan

Alhamdulillah bertemu lagi dengan Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh keberkahan dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita lebih semangat ya, di Ramadhan ini.
Beberapa hari lalu di grup blogger embak emak kece dari Semarang dirandom kocokan #arisanbloggandjelrel putaran kedua. Dan yang keluar namanya adalah Mbak Hidayah Sulistyowati atau sering dipanggil mbak Wati, seorang ibu dua putra yang sudah remaja. Mbak Wati termasuk blogger senior yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka, juga teman ngobrol yang asyik. Blog mbak Wati isinya macam-macam, tapi yang paling aku suka kalau baca tulisan mbak Wati tentang kuliner dan jalan-jalannya. Nama kedua yang keluar adalah Ika Hardiyan Aksari, ibu satu balita yang bernama Kak Ghifa, seorang guru honorer yang sabar dan selalu semangat mendidik muridnya dengan cinta. Meski dari segi umur dia jauh di bawahku, namun aku banyak belajar tentang kesabaran dan ketulusan dari membaca blognya. Pada arisan kali ini duo emak kece itu melempar tema yang pas…